Dua ego yang bersinggungan. Dua imperium yang beradu. Satu perasaan yang dilarang.
Every adalah sang penguasa kampus, River adalah sang pemberontak yang ingin menggulingkannya. Mereka menyebutnya rivalitas, dunia menyebutnya kebencian.
"...semua yang terjadi di gubuk ini, jangan pernah lo anggap sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar cara lo membayar utang.."
River hanya menyeringai, "... gue tetap orang yang tahu persis gimana rasanya lo gemetar ketakutan di pelukan gue semalam."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Tanpa Nama #Flashback1
Enam Bulan sebelum Masa Orientasi Siswa Baru
Lampu-lampu kristal di ballroom salah satu 3 mewah di Bangkok memantulkan kemilau yang menyesakkan.
Malam itu adalah perayaan aliansi bisnis tekstil Asia, namun bagi Every, ini adalah arena eksekusi mental.
Emily berdiri dengan gaun emerald yang memeluk tubuhnya sempurna, terlihat seperti berlian yang tak terjangkau.
Di sampingnya, Every tampak anggun dengan gaun satin perak, namun ia terus-menerus merasa seperti bayangan.
"Lihat Emily," bisik seorang kerabat jauh dengan suara yang cukup keras untuk didengar. "Menikahi bankir Eropa, mengelola lini bisnis sendiri. Dia definisi sempurna pewaris Riana. Sedangkan Every? Dia cantik, tapi hanya sebatas itu. Dia terlalu... lembut. Tidak punya taring seperti kakaknya."
Every berdiri di sudut ruangan, menggenggam gelas sampanye hingga jemarinya memutih.
Emily, yang tampak mempesona dengan gaun sutra merah merona, menyadari tatapan-tatapan meremehkan itu.
Emily mendekat, bukan untuk menenangkan, tapi untuk memberi "pelajaran" keras.
"Jangan menunduk, Every," desis Emily tajam. "Jika kamu menunjukkan kelemahanmu di sini, mereka akan menguliti kamu hidup-hidup. Kamu seorang Riana, berlakulah seperti itu meskipun hatimu sedang hancur karena dibanding-bandingkan."
"Every, ini Axel Ammerson, putra rekan bisnis Papa." ucap Dean tiba-tiba saja ketika berpapasan dengan kedua putrinya, "Dia cerdas, taktis, dan Papa rasa dia bisa membimbingmu, Every akan kuliah di kampusmu, Axel."
Kata-kata itu seperti vonis. Di depan kolega Asia, Every dipasangkan dengan Axel seolah-olah dia adalah aset tekstil yang butuh manajemen baru.
--- dua jam sebelumnya ---
Dengan langkah cepat dan tangan mencoba memasang antingnya, Every menggeram. "nih anting maunya apasih?! Gue udah telat".
Namun, ia salah berbelok ke arah koridor staf yang sepi. Di sana, ia terhenti secara mendadak.
Di balik pintu darurat yang setengah terbuka, Every melihat pria tampan, berjas abu-abu sangat licin—pria yang baru saja dijodohkan dengannya—sedang menghimpit seorang petugas kebersihan hotel ke dinding.
Tidak ada keromantisan di sana; hanya ada nafsu yang kasar dan transaksi yang menjijikkan.
Axel menyelipkan beberapa lembar uang ratusan Dollar ke dalam saku petugas itu sambil terus melakukan aksi panasnya tanpa rasa malu. "ini tak mungkin kurang untuk menutup mulutmu. Lagipula aku tidak akan memakai orang sembarangan, kamu cuma perlu menuntaskan ini."
Every menutup mulutnya, menahan mual. Pria itu, yang disebut Papa-nya sebagai "pembimbing yang baik", ternyata hanyalah sampah yang membeli kepuasan di sudut gelap hotel.
Napas Every terasa dicekik, satu udara dengan pria brengsek, bukan gayanya.
Ia berbalik dan lari sekuat tenaga. Ia tidak kembali ke pesta.
Every melangkah masuk ke dalam bar yang terletak di lantai dasar hotel mewah itu dengan langkah yang sedikit limbung.
Ia tidak peduli lagi pada gaun satin peraknya yang tersingkap saat ia melintasi pintu kaca, atau pada tatanan rambutnya yang mulai berantakan. Di kepalanya, suara ayahnya dan tawa menjijikkan Axel Ammerson di lorong tadi terus berputar seperti kaset rusak.
“Axel adalah pria yang taktis, Every. Dia bisa membimbingmu.”
"Membimbing?" Every membatin sinis. "Membimbing ke neraka yang sama dengan yang dia beli dari petugas hotel tadi?"
Ia mendudukkan diri di kursi bar yang tinggi, menjauh dari kerumunan orang-orang berjas yang mungkin mengenalnya sebagai 'adik Emily Riana'.
Di sini, di bawah sorot lampu neon yang remang dan kepulan asap tipis, Every merasa untuk pertama kalinya ia bisa bernapas tanpa harus diatur oleh protokol keluarga.
Ia menatap deretan botol kaca di depan barista dengan bingung. Every tidak pernah benar-benar minum.
Di pesta-pesta keluarga, ia hanya memegang segelas champagne sebagai aksesori, menyesapnya sedikit agar tidak dianggap tidak sopan. Ia tidak tahu apa yang kuat, apa yang manis, atau apa yang bisa membuatnya lupa dengan cepat.
"Berikan aku... apa saja," ucap Every pada barista, suaranya sedikit gemetar. "Yang paling kuat. Yang bisa membuat kepalaku berhenti bicara."
Barista itu menyajikan segelas cairan berwarna amber gelap tanpa es.
Every menatap gelas itu. Ia tidak tahu itu whiskey murah atau bourbon mahal. Ia hanya meraihnya dengan tangan yang sedikit gemetar, menghirup aroma alkohol yang tajam dan menusuk hidung—aroma yang biasanya ia benci, namun malam ini terasa seperti pelarian yang manis.
Ia mencoba menyesapnya sedikit. Cairan itu membakar tenggorokannya seketika, membuatnya terbatuk kecil dan matanya berair.
"Sial," bisiknya pada diri sendiri.
Ia memaksakan diri untuk menelan sisa cairan di gelas itu dalam sekali tegukan besar.
Rasa panas itu menjalar dari kerongkongan hingga ke dadanya, menciptakan sensasi terbakar yang anehnya menenangkan.
Setidaknya, rasa sakit fisik ini mengalihkan rasa muak di hatinya.
Every menyandarkan kepalanya di atas meja bar yang dingin, memejamkan mata. Aku hanya ingin menghilang, pikirnya dalam monolog yang sunyi. Aku tidak ingin menjadi Riana. Aku tidak ingin menjadi pengantin Axel. Aku hanya ingin menjadi siapa saja yang tidak memiliki beban ini.
Ia memesan gelas kedua, tangannya kini lebih mantap meraih gelas itu.
Di saat itulah, ia merasakan kehadiran seseorang di kursi sebelahnya. Seseorang dengan aroma parfum maskulin yang tajam, bercampur bau logam dan kemarahan yang bisa dirasakan melalui udara.
Every menoleh sedikit, melalui sudut matanya yang sayu karena mulai mabuk.
Ia melihat seorang pria yang baru saja menenggak whiskey-nya seolah itu hanyalah air mineral.
Pria itu tampak hancur dengan cara yang sangat maskulin, dan Every merasa, untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak sendirian dalam penderitaannya.
"Minuman itu nggak cocok buat cewek yang kelihatannya baru pertama kali mau mabuk," suara berat pria itu memecah keheningan Every.
Every tidak tersinggung. Ia justru tersenyum miris, menatap gelasnya yang kembali kosong. "Kalau begitu, ajarin gue cara minum yang benar biar gue bisa berhenti memikirkan monster-monster di atas sana."