Dunia terlalu kejam untuk dia yang hanya terus menangis.
Bumi ini sangat jahat untuk wanita yang hanya mengandalkan dirinya sendiri, berbekalkan keberanian dan tekad untuk bisa bertahan hidup di tengah tengah gempuran kesulitan.
Haeyla Seraphine layak mendapatkan kemenangan atas hidup nya, cinta dan ketulusan layak untuk dia menangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pupybear, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 29.
Mungkin memang bukan cinta. Tapi apa kalau begitu? Hanya sebuah rasa yang ada tanpa arti?.
Pukul 06:00. Aku terbangun dari tidurku. Mama sudah bangun lebih dulu. Bahkan mama sudah tidak ada di tempat tidur. Aku yakin pasti mama sedang memasak di dapur. Aku bangun dari tempat tidurku. Bersiap untuk mandi dan sarapan. Benar saja dugaan ku. Mama sudah menyiapkan makanan di meja makan. Rasanya senang sekali. Sudah lama aku tidak merasa di manja seperti ini oleh mama.
" Morning sayang. Ayo mandi. Habis itu kita langsung sarapan " Mama masih bergelut dengan peralatan masak nya.
" Morning ma. Aku mandi dulu ya " Aku langsung menuju kamar mandi. Karena sepertinya hari ini aku akan pergi sedikit lebih cepat ke sekolah.
Mansion Sekala.
Ringgo mengizinkan Lilian untuk pergi dengan alasan perjalanan bisnis. Lilian sengaja berbohong padanya. Lilian bekerja sama dengan seseorang dan melakukan misi ini. Karena jika tidak. Sampai kapan pun Lilian tidak akan pernah bisa bertemu dengan putrinya Haeyla.
" Momi kemana pa? " Ucap anak perempuan Ringgo.
" Momi kamu sedang menjalani perjalanan bisnis selama seminggu. Jadi dia gak kelihatan di mansion " Jawab Ringgo sembari memainkan ponsel miliknya. Laki laki ini adalah laki laki yang sangat egois. Dia hanya mau Lilian mengurus anak perempuan nya dan melupakan Haeyla. Namun sebagai seorang ibu. Tentu saja Lilian tidak akan pernah membiarkan itu terjadi.
Kembali di kediaman Haeyla.
Lilian menyiapkan sarapan yang biasa dia siapkan sejak dulu untuk Haeyla. Dia tahu kalau putri nya selalu suka dengan masakan nya.
" Wah. Mama masak banyak lagi. Ini makanan kesukaan aku semua ma " Aku melihat semua makanan yang tersedia adalah makanan yang aku suka.
" Mama udah lama banget gak masakin kamu seperti ini sayang. Mama tahu. Pasti kamu rindu makan makanan rumahan begini " Lilian berkata sambil menahan air mata di mata nya.
" Gapapa ma. Aku ngerti situasi mama. Mama gak perlu merasa bersalah atau apapun itu. Dengan mama masih sempatin waktu ada disinu sama aku. Itu udah buat aku happy ma " Aku mencoba membuat mama untuk tidak berlarut dengan rasa bersalah nya.
Bohong kalau aku bilang aku tidak rindu dengan masakan mama. Bertahun tahun ini aku selalu menantikan mama ada disini. Masak masakan yang sama sama kita suka. Aku rindu semua ma. Segala hal tentang mama dan juga papa. Aku selalu berharap dan berdoa. Agar keluarga kecil kita akan kembali utuh seperti dulu.
Setelah selesai makan dan berbincang dengan mama nya. Haeyla berangkat menuju sekolah dengan berjalan kaki. Pagi ini tidak ada yang datang ke rumah Haeyla untuk menjemput nya. Baik Bumi ataupun Arbian.
Gerbang sekolah pukul 06:45. Hampir saja Haeyla terlambat. Ini karena dia keasyikan mengobrol dengan mama nya.
" Hai haiii. Tumben lama banget lo dateng La " Cila sudah datang lebih dulu daripada aku.
" Biasa Cil. Kesiangan hehe " Jawabku asal.
" Bumi belum datang? Tumben " Aku melihat kursi di sebelah ku masih kosong.
" Oh Bumi. Dia sakit La. Tadi ada yang nyampein ke sekretaris kelas " Aku kaget mendengar jawaban Cila barusan.
' Bumi sakit. Pasti karena kami hujan hujanan kemarin. Aku jadi ga enak sama Bumi. Gimana keadaan Bumi sekarang ya? '
Pesan masuk.
Seraphine mengirim pesan.
* Bumi. Kamu sakit? Aku dengar dari teman teman. Gimana keadaan kamu? *
Bumi membaca pesan masuk dari Haeyla dan tersenyum senang.
* Aku oke Haeyla. Cuma sedikit flu dan meriang *
* Kamu udah minum obat? Jangan di tunda kalau belum. Bumi. Makan yang teratur. Cepat sembuh Bumi. Nanti aku kabarin kamu lagi soalnya kelas udah mau di mulai. Bye Bumi * Bumi benar benar merasa sangat bahagia karena Haeyla mulai memberikan perhatian kecil nya untuk Bumi.
' Kalau tau begini. Sering sering aja gue sakit ya. Tapi gak bagus juga sih. Bisa bisa gak ketemu ketemu sama Haeyla '
Sebenarnya bukan ada maksud apa apa. Haeyla khawatir karena Bumi adalah teman nya. Terlebih lagi Bumi sakit karena hujan hujanan bersama dengan dirinya kemarin. Perasaan Haeyla tidak bisa di tebak. Apakah dia simpati, tertarik, atau memang perhatian.
Akhir akhir ini sekolah tidak melangsungkan pembelajaran seperti biasa. Di karenakan para guru sedang sibuk menyusun nilai untuk hasil ujian nanti. Semua siswa hanya datang untuk mengisi absensi dan menambah catatan bagi yang belum memenuhinya.
" Arbian! Lo kenapa diam mulu? " Cila bertanya karena Arbian kebanyakan diam hari ini.
" Gapapa. Cuma lagi malas bicara aja " Aku melihat Arbian. Dari tatapan nya sepertinya dia sedang ada masalah.
" Kalau kamu ada masalah. Kamu bisa cerita kok Ar. Jangan sungkan " Aku meyakinkan nya agar berbagi cerita. Karena Arbian adalah orang yang baik dan suka mendengar cerita orang lain tanpa menghakimi.
Namun dia masih diam. Seperti banyak beban di kepalanya. Cila dan aku menyadari itu. Arbian bukan tipe orang yang murung. Namun kali ini benar benar berbeda. Tidak lama bel istirahat berbunyi.
" Ke kantin yuk La " Cila mengajak ku. Tapi aku menolaknya, karena ada yang perlu aku lakukan.
" Duluan deh Cil. Aku ada urusan bentar"
" Oke. Nyusul ya " Begitu Cila pergi. Aku langsung duduk di dekat Arbian duduk.
" Berat ya? Kamu bisa bagi itu kalau kamu mau " Aku harap dia mau berbagi masalah nya denganku.
" Ya Haeyla. Aku gak tau harus mulai darimana " Benar. Arbian ternyata memang sedang di hujam masalah.
" Its oke. Pelan pelan aja. Mulai dari awal pelan pelan Ar "
" Mama. Dia jadi simpenan suami orang Haeyla " Tidak. Rasanya aku salah mendengar.
" Gimana? Aku gak salah dengar kan Ar?"
" Engga. Itu fakta nya Haeyla. Kamu pasti gak nyangka. Sama aku juga. Tapi itulah faktanya Haeyla " Aku terdiam sejenak mencerna apa yang baru saja di katakan Arbian.
" Gimana bisa Ar? Kamu udah tanya sama mama kamu apa alasan dia lakuin itu "
" Karena dia nyaman. Dan dia merasa hidup lagi bersama orang itu " Wajah Arbian terlihat menahan malu menceritakan semua itu.
" Gapapa. Ini bukan salah kamu. Pelan pelan kita jauhin mama kamu dari laki laki itu. Arbian. Menjadi orang ketiga diantara hubungan orang lain itu tidak baik. Apapun nanti yang terjadi. Kita harus buat mama kamu sadar akan hal itu " Aku memegang pundak Arbian sembari meyakinkan dirinya untuk tidak stuck karena masalah ini saja.
Aku tahu. Kami semua punya masalah yang berbeda beda. Aku dengan masalahku. Dan mereka dengan masalah nya. Hidup menjadi remaja yang akan beranjak dewasa seperti kami ini memang sangat sulit. Tidak sedikit juga yang sudah memilih mengakhiri hidupnya karena tidak sanggup lagi. Namun inilah kehidupan. Semua punya peran masing masing di dalamnya.
Bersambung.