Maya Anita, seorang gadis berusia 16 tahun, harus menelan pahitnya kenyataan bahwa cinta remaja tidak selamanya indah. Di usia yang seharusnya dihabiskan di bangku sekolah, ia justru terjebak dalam pernikahan dini akibat hamil di luar nikah.
Demi menyambung hidup, Maya dipaksa bekerja keras di sisa-sisa tenaga kehamilannya yang sudah tua. Namun, takdir berkata lain. Sebuah insiden tragis membuatnya kehilangan bayi yang ia kandung di usia 9 bulan.
Dr. Arkan, seorang dokter spesialis kandungan yang tampan namun penyendiri, diam-diam memperhatikan penderitaan Maya melalui laporan perawat. Arkan adalah seorang duda yang menyimpan luka serupa. Istrinya meninggal saat melahirkan, meninggalkan seorang putra kecil yang sangat haus akan ASI.
“Aku mohon, bantu anakku. Tubuhmu memproduksi apa yang sangat dibutuhkan putraku untuk bertahan hidup,” pinta Arkan dengan nada penuh permohonan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Bukti yang Menyakitkan
😡Bukti yang mengejutkan.😡
Kedua pria itu duduk berhadapan dalam kesunyian yang mencekam di ruang tengah rumah Gavin yang terisolasi. Hanya cahaya biru dari layar laptop yang menerangi wajah keras mereka. Bola mata Arkan bergerak cepat, mengikuti baris demi baris kalimat yang tertera di sana. Detik berikutnya, mata itu membulat sempurna.
“Apa ini? Kenapa ini sungguh buruk?” celetuk Arkan dengan suara bergetar. Wajahnya tampak bingung, seolah otaknya menolak menerima informasi yang terpampang di depan matanya.
“Maya adalah gadis yang cukup menyedihkan, bukan?” sahut Gavin pelan, menatap Arkan dengan tatapan prihatin.
“Kenapa kau baru memberitahu ini kepadaku, Gavin!” teriak Arkan kalap. Ia merangsek maju dan mencengkeram kuat singlet yang dikenakan Gavin hingga tubuh detektif itu tertarik ke depan.
“Tenang, coba tenangkan dulu dirimu, Arkan. Inilah alasanku tidak memberitahumu,” balas Gavin berusaha tetap tenang meski cengkeraman Arkan terasa mencekik.
Arkan melepaskan cengkeramannya dengan kasar. Ia berdiri, lalu mengacak rambutnya dengan frustasi.
Informasi di layar laptop itu terpampang nyata, menghancurkan sisa-sisa ketenangan Arkan. Gavin telah menggali hingga ke akar paling dasar dari penderitaan gadis itu.
Maya adalah anak dari sebuah keluarga yang hancur berkeping-keping. Dunia kecilnya runtuh saat orang tuanya berpisah di usia tujuh tahun. Tiga tahun kemudian, ia kehilangan satu-satunya tempat bersandar ketika ibunya meninggal dunia. Karena ibunya anak tunggal dan kakek nenek atau kedua orang tua ibunya telah meninggal dunia, Maya tidak memiliki kerabat untuk meminta pertolongan.
Ia terpaksa tinggal bersama ayah dan ibu tirinya dalam kesederhanaan yang mencekik. Sejak umur 10 tahun, usia di mana seharusnya anak-anak bermain, Maya sudah memanggul bakul, berjalan dari gang ke gang untuk berjualan pecel keliling demi membiayai sekolahnya sendiri. Kerja keras itu ia lakukan hingga usia 15 tahun, tepat saat ia baru saja menginjak bangku kelas 1 SMA.
Namun, kekejaman sesungguhnya baru dimulai. Di usia yang masih sangat belia, Maya diam-diam “diju*al” oleh ibu tirinya kepada pria-pria hidung belang, dengan dalih uangnya digunakan untuk biaya operasi batu empedu sang ayah. Tragisnya, di usianya memasuki 16 tahun, ayahnya tetap meninggal dunia, meninggalkan Maya sendirian dalam jeratan utang dan trauma.
Sedangkan pertemuannya dengan Rian terjadi di sebuah warnet saat Maya sedang berjuang mengerjakan tugas sekolah, satu-satunya hal yang ia harap bisa mengubah nasibnya. Namun, karena kata-kata manis dan merasa hanya Rian yang peduli padanya. Maya kembali terjerumus ke lubang yang salah.
Dokumen itu disusun Gavin dengan sangat rapi, setiap detilnya disiapkan sebagai barang bukti untuk menjebloskan ibu tiri Maya, dan suaminya, Rian ke penjara.
“AAARRRRGGHH!”
Arkan berteriak histeris, sebuah raungan penuh luka dan amarah yang mengguncang ruangan itu. Ia memukul meja kayu di depannya hingga buku-buku jarinya memerah.
Gavin hanya terdiam, membiarkan sahabatnya meluapkan emosi. Ada rasa kecewa dan sesak yang sama di dada Gavin, mereka berdua merasa sangat terlambat menyadari betapa hancurnya hidup gadis yang kini sedang mendekap bayi Leon di rumah itu.
“Gavin, a-apa kau tidak bisa menjebloskan wanita iblis dan mantan suaminya itu sekarang juga?!” perintah Arkan, telunjuknya gemetar menujuk ke arah layar laptop. Suaranya pecah oleh amarah yang tertahan di tenggorokan.
“Bisa saja, Arkan. Tapi saat ini dia sedang berada di kota yang berbeda. Informasi terakhir, dia bekerja di salah satu tempat hiburan malam di sana. Sedangkan mantan suaminya, kita harus memakai bukti yang diberikan oleh Maya,” jawab Gavin tenang, meski matanya memancarkan rasa jijik yang sama.
“Wanita iblis, ternyata hidupnya memang hanya bisa mengancurkan kehidupan orang lain,” desis Arkan. Napasnya memburu, bayangan Maya yang berjualan pecel keliling di usia sepuluh tahun terus hal menjijikkan lainnya menghantui benaknya.
Gavin menghela napas, ia menyandarkan punggungnya ke kursi. “Aku tidak bisa menjebloskannya secara instan tanpa prosedur. Tapi, kalau kau ingin seseorang membalaskan dendam dengan cara yang lebih langsung, mungkin ada seseorang yang bisa melakukannya. Ini kontaknya.”
Gavin menyodorkan secarik kertas kecil. “Dia mantan detektif yang sedikit gila. Saking gilanya, dia keluar dari kepolisian dan mengembangkan bisnis bawah tanah peninggalan orang tuanya. Namanya Zavier. Aku dengar, saat ini dia sedang melakukan misi gila di Yayasan milik Vanya.”
Arkan menyambar kertas itu tanpa ragu.
“Saranku, sebaiknya kau serahkan saja tugas ini pada hukum, Arkan. Paling tidak mereka akan membusuk di penjara,” saran Gavin.
Namun, Arkan tidak mendengarkan lagi. Telinganya sudah tertutup oleh suara detak jantungnya yang menuntut pembalasan. Arkan langsung menekan nomor tersebut.
****
Drrrt…drrrttt
📱 “Halo! Siapa di sana?” suara berat dan serak menyahut dari balik telepon.
Pria itu, Zavier, berdiri tegak di tengah ruangan yang gelap dan pengap. Pakaian di tubuhnya compang-camping, robek terkena sabetan benda tajam.
Melalui sobekan kain di punggungnya yang lebar, terlihat sebuah tato besar yang mengerikan, sayap malaikat mau yang mengalirkan darah, melilit sebuah pedang yang patah. Luka-luka baru yang masih basah dan berdarah menyilang di antara tato itu, namun ia tampak tak merasakannya. Di sekeliling kakinya, belasan orang bergelimpangan, bersimbah darah dan mengerang kesakitan.
Zavier berdiri seperti penguasa kegelapan yang tak tertandingi, menggenggam ponselnya dengan tangan yang berlumuran darah segar.
📱 “Aku Arkan. Aku ingin bertemu denganmu,” ucap Arkan dingin di seberang sana.
Zavier menyeringai, memperlihatkan deretan giginya yang putih di tengah wajahnya yang tercoreng noda merah. Ia menginjak dada salah satu lawannya yang masih mencoba bergerak. 📱 “Arkan? Nama yang mahal. Katakan, siapa yang ingin kau buat menghilang dari muka bumi ini?”
****
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah malam yang cukup menyakitkan. Pagi menyapa dengan ketenangan yang semu di kediaman rumah Arkan. Sesuai kebiasannya, Maya sudah bangun sebelum fajar menyingsing. Setelah menyiapkan sarapan dan membersihkan diri, ia segera bergegas ke kamar Leon, ruangan yang kini telah diubah Arkan menjadi tempat yang sangat nyaman dengan ranjang besar yang empuk.
Di sudut ranjang, Maya duduk membelakangi pintu. Ia sedang menunaikan tugas utamanya, memberikan nutrisi terbaik dari tubuhnya untuk Leon yang kelaparan. Suasana begitu damai, suara gumaman lembut Maya yang mengajak Leon bicara bersahut-sahutan dengan bunyi kepuasan kecil dari bibir bayi mungil itu.
Di ambang pintu, Arkan berdiri mematung. Ia baru saja tiba dari rumah Gavin dengan penampilan yang benar-benar berantakan. Kemejanya kusut, matanya merah karena kurang tidur, dan rahangnya mengeras menahan amarah yang tersisa dari semalam.
Melihat punggung Maya yang bergerak pelan mengikuti napasnya, Arkan merasakan kelegaan yang luar biasa. Gadis itu aman. Kaki kanannya sempat melangkah satu, tangannya ingin sekali merengkuh Maya dari belakang, memeluknya kuat alih-alih ingin memberikan perlindungan. Namun, Arkan tersadar akan kondisinya yang kotor dan penuh aura negatif.
Ia berbalik dengan cepat, melangkah menuju kamarnya sendiri.
Di bawah guyuran air pancuran yang sangat dingin, Arkan membiarkan air membasahi seluruh tubuhnya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Namun, dinginnya air tak mampu memadamkan api di kepalanya. Setiap baris dokumen penyelidikan Gavin terus berputar.
BUGH! BUGH!
Arkan memukul dinding marmer kamar mandinya berkali-kali. Ia tidak peduli pada rasa sakit yang menjalar di buku jarinya yang kini memar dan memerah. Baginya, rasa sakit ini tidak sebanding dengan apa yang dirasakan Maya selama bertahun-tahun.
“Tidak perlu kau minta, May. Aku sendiri yang akan membalaskan semuanya,” desis Arkan di sela gemericik air. Matanya berkilat penuh dendam.
...❌ Bersambung ❌...
Akaaaaaaaaaak Sariiiiiiiiiii, aku eamosis sama dua perempuan ituuuuuuhhhhhh.....