Kisah cinta dan peliknya kehidupan Nadia Mark Wijaya. Menjadi anak 'brokend home' bukanlah bagian mimpinya.
Saat suami menghianati istrinya..
Papa yang melukai anaknya..
Dan, kekasih yang mematahkan kepercayaan atas cinta!
Hidup Nadia benar-benar berantakan, mulai dari perceraian kedua orang tuanya karena perselingkuhan papanya. Ditambah kenyataan sang kekasih bermain api dengan kakak tirinya.
Berbagai pengkhianatan dari orang-orang terdekatnya membuat Nadia tidak lagi mempercayai cinta. Hanya kebencian yang kini menyelimuti hati wanita itu.
"Aku adalah pemeran utama dalam sandiwara kecil berjudul KITA, namun kau bawa dia dan mengubah alur cerita."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiya Corlyningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecemburuan Ferra
Ardika mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit tempat Pevita dirawat. Dari pesan yang Ferra kirimkan padanya, anaknya akan keluar dari rumah sakit hari ini setelah dokter yang menangani Pevita memberikan izin untuk kepulangan Pevita.
Mata Ardika berkaca-kaca, lelaki itu bukan tidak senang mendengar kabar bahwa Pevita akan keluar dari rumah sakit. Hanya saja, air mata itu bukan untuk Pevita maupun Ferra. Air mata yang keluar dari mata lelaki itu karena perasaannya yang terluka mendengar Nadia tidak mengakuinya sebagai papanya lagi.
Segala macam cara sudah Ardika lakukan, tapi nampaknya lelaki itu tidak memiliki kesempatan lagi untuk memperbaiki kesalahannya dengan Nadia. Baiklah, Ardika mengakui jika dirinya gagal menjadi suami yang setia, tapi Ardika adalah suami yang baik dari segi yang berbeda. Ardika juga menjadi ayah yang sangat baik untuk Nadia meskipun lelaki itu terkadang tidak bisa menemani Nadia dalam beberapa acara penting Nadia.
“Papa,“ pekik Pevita bahagia melihat papanya sudah datang menjemputnya.
Ferra yang tengah melipat baju milik Pevita sontak saja menoleh kearah Ardika. Lelaki itu menunjukkan senyumnya yang merekah dihadapan Pevita.
“Princess papa akan pulang sekarang?” tanya Ardika duduk di tepi ranjang Pevita.
Lelaki itu mengelus puncak kepala Pevita, wanita itu memeluk papanya dengan erat.
Pevita mengangguk antusias, kemudian mendongak menatap papanya.
“Papa ke mana saja? Kita dari tadi menunggu Papa di sini,“ ucap Pevita dijawab kekehan dari lelaki itu.
“Papa tadi mengantar Nadia ke rumah sakit. Mama Sonia masuk rumah sakit, ada kecelakaan kerja,“ jelas Ardika.
Ferra menoleh ke arah suaminya, karena itukah telepon dan pesannya tidak digubris sama sekali oleh lelaki itu? Karena mantan istrinya masuk rumah sakit?
“Bagaimana keadaan Mama Sonia, Pa?” tanya Pevita turut khawatir akan kondisi mantan istri papanya. Nyonya Wijaya yang sebenarnya sebelum negara api menyerangnya.
“Alhamdulillah, sudah ditangani dengan baik,” jawab Ardika tersenyum, kilatan bahagia tercetak jelas di mata lelaki itu yang membuat dada Ferra terasa sakit.
Ferra meletakkan tas berisi baju kotor Pevita dengan kasar, membuat Ardika menoleh sekilas kepada wanita itu.
“Ganti bajumu, setelah itu kita pulang Sayang,“ ucap Ferra dengan senyuman yang wanita itu paksakan.
Pevita mengangguk, dengan perlahan dia turun dari ranjang rumah sakit dibantu papanya untuk menuju kamar mandi.
“Mau Papa gantikan bajumu sekalian Sayang?” goda Ardika mengingatkan Pevita jika semasa kecil anaknya suka sekali meminta Ardika menggantikan bajunya.
Sampai-sampai, Pevita pernah menangis saat menunggu Ardika yang tidak kunjung sampai di rumah mereka hanya untuk menunggu papanya menggantikan bajunya setelah dirinya dimandikan mamanya.
“Papaaa! Pevita kan udah besar!“ keluh Pevita malu.
Ardika terkekeh. “Putri papa sudah besar rupanya,“ ucap Ardika tersenyum.
Mungkin tidak lama lagi dirinya akan menikahkan putri-putrinya, menyerahkan tanggung-jawabnya kepada para lelaki yang suatu nanti akan meminang Nadia dan juga Pevita.
Pintu kamar mandi tertutup, Ardika berjalan kearah pintu untuk mengurus biaya perawatan putrinya selama dirawat di sana.
“Kamu mau ke mana?” tanya Ferra menghentikan langkah Ardika.
“Mengurus biaya administrasi Pevita,“ jawab Ardika menatap Ferra terheran-heran.
“Sudah aku bayarkan,“ jawab Ferra menatap sinis ke arah Ardika.
Lelaki itu hanya mengangguk, kemudian menatap Ferra sejenak.
“Maaf aku tidak menjawab panggilanmu,“ ucap Ardika yang merasa tidak enak kepada istrinya.
“Kenapa?” tanya Ferra dengan sinis.
“Kamu tahu, di sana aku menemani Nadia. Dia panik Ferra, mamanya masuk rumah sakit.“
“Aku bukan lagi simpananmu, kamu malu mengangkat teleponku di depan mereka?” tanya Ferra dengan suara meninggi yang tidak bisa dia tahan lagi.
Apa salahnya untuk menerima panggilannya dan mendengarkan apa yang dia katakan, atau setidaknya membalas pesannya. Apakah dirinya sehina itu sampai suaminya malu mengangkat panggilannya didepan mereka.
“Pelankan suaramu, Pevita nanti bisa mendengarnya,“ pinta Ardi mengelus punggung Ferra, menenangkan emosi istrinya yang sepertinya siap meledak tanpa menunggu waktu lebih lama lagi.
Ferra menatap suaminya dengan sorot matanya tajam, seandainya saja lelaki itu tidak segera menenangkan Ferra mungkin saja keduanya bisa bertengkar di sana karena kemarahan Ferra kepadanya.
Padahal tidak sulit untuk menerima panggilan dari dirinya. Ferra juga tidak akan melarang Ardika untuk menemani Nadia dalam kondisi seperti sekarang ini. Tapi bisakah Ardika berhenti untuk membuatnya nampak seperti wanita simpanan sampai detik ini?
Ferra ingin diperkenalkan kepada dunia dengan senyuman merekah pada bibir suaminya. Ataukah memang Ardika tidak merasa bangga dan beruntung karena memiliki dirinya dan juga Pevita? Apa selama ini ruang di kehidupan Ardika hanya untuk Nadia dan Sonia seorang? Tanpa memikirkan bagaimana perasaannya dan sang putri.