Genre: Romance Drama
"Cinta seharusnya membuatmu merasa bahagia dan dihargai... bukan merasa terkurung dan tak berdaya."
Nara, gadis berusia 19 tahun yang penuh semangat dalam mengejar impian jadi desainer, merasa telah menemukan cinta sejatinya saat bertemu Reza – pria tampan dan cerdas yang selalu bisa membuatnya merasa spesial. Awalnya, hubungan mereka seperti dongeng yang indah: pelukan hangat, ucapan manis, dan janji-janji tentang masa depan yang indah.
Namun perlahan-lahan, warna indah itu mulai memudar. Reza mulai menunjukkan sisi lain yang tak pernah dilihat Nara: dia melarangnya bertemu teman-teman lama, mengontrol setiap langkah yang dia lakukan, bahkan menyalahkan Nara setiap kali ada hal yang tidak berjalan sesuai keinginannya. Setiap kali Nara merasa ingin menyerah, Reza akan datang dengan wajah menyesal dan meminta maaf, membuatnya berpikir bahwa semuanya akan baik2 saja.
Hingga saatnya Dito – teman masa kecil yang baru kembali setelah lama pergi – muncul dal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gitagracia Gea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melindungi Kreasi Yang Berharga
Berita tentang hilangnya karya seni berharga membuat suasana menjadi tegang. Hanya seminggu lagi Festival Kreativitas Dunia akan dimulai, dan seluruh tim bekerja keras untuk menangani masalah ini sambil tetap menyelesaikan persiapan akhir.
Di ruang operasional keamanan festival, Nara berkumpul dengan pihak kepolisian, intelijen, dan tim keamanan internasional. Layar besar menunjukkan peta lintasan pengiriman karya seni yang hilang dan data tentang jaringan perdagangan seni ilegal yang sedang diselidiki.
"Karya seni tersebut kemungkinan masih berada di dalam negeri," ucap Komisaris Jenderal Sudarto yang memimpin penyelidikan. "Kita telah mengidentifikasi beberapa lokasi yang menjadi sasaran utama jaringan ini di Jawa Barat dan Bali. Tim khusus sedang dalam perjalanan untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut."
Nara merasa sangat khawatir tapi tetap tenang. "Kita harus menemukan karya-karya tersebut tidak hanya karena nilainya yang tinggi, tapi juga karena itu adalah karya seni yang dibuat dengan hati oleh seniman dari seluruh dunia. Mereka mempercayakan kita untuk menjaga karya mereka dengan baik."
DI JAWA BARAT – PABRIK TERTUTUP YANG MENJADI SARANG PENYIMPANAN
Tim kepolisian bersama dengan Reza dan Dito yang bersedia membantu melakukan penyergapan ke lokasi yang dicurigai. Pabrik tua yang sudah tidak digunakan tersebut terlihat sepi dari luar, tapi ada tanda-tanda aktivitas yang mencurigakan di dalamnya.
Setelah mendapatkan izin untuk melakukan pencarian, mereka masuk ke dalam pabrik dan menemukan ruangan bawah tanah yang penuh dengan karya seni berharga – termasuk karya-karya yang hilang dari persediaan festival. Di samping itu, mereka juga menemukan bukti yang menghubungkan jaringan ini dengan kelompok yang dulu pernah mencoba menghancurkan program Bumi Kreatif Indonesia.
"Sangat jelas bahwa mereka melakukan ini bukan hanya untuk mendapatkan keuntungan finansial," ucap Reza saat melihat dokumen yang ditemukan. "Mereka ingin membuat festival gagal dan merusak nama baik Indonesia di mata dunia."
Tim kepolisian berhasil menangkap beberapa anggota jaringan tersebut, namun kepala mereka berhasil kabur. Dari keterangan yang diberikan oleh mereka yang ditangkap, ternyata mereka bekerja sama dengan orang yang memiliki dendam pribadi terhadap program Bumi Kreatif Indonesia – salah satu mantan pesaing bisnis yang tidak puas karena program mereka kalah bersaing.
DI KAMPUS BUMI KREATIF INDONESIA
Seluruh karya seni yang berhasil ditemukan segera dikembalikan dan diperiksa kondisi nya. Untungnya, tidak ada karya yang mengalami kerusakan parah dan semua masih bisa ditampilkan di festival. Namun ancaman terhadap keamanan festival masih tetap ada.
Tim keamanan segera meningkatkan langkah-langkah keamanan di semua venue festival – mulai dari penambahan petugas keamanan, pemasangan kamera CCTV yang lebih banyak, hingga pemeriksaan ketat untuk semua pengunjung dan peserta.
Sementara itu, Sari sedang mengalami kesulitan dengan persiapan pidato pembukaan nya. Meskipun dia sudah bisa berbahasa Inggris dengan cukup baik, dia merasa sangat gugup untuk berbicara di depan ribuan orang dari seluruh dunia.
"Aku takut akan salah bicara atau melupakan kata-kata yang akan aku ucapkan," ucap Sari dengan suara yang sedih saat sedang berlatih bersama Nara dan Zaki.
Nara memeluknya dengan lembut. "Kamu tidak perlu takut, sayang. Kamu hanya perlu berbicara dari hati dan menceritakan cerita yang sebenarnya kamu rasakan. Dunia ingin mendengar cerita kamu dan bagaimana pendidikan kreatif mengubah hidupmu."
Zaki yang sudah berpengalaman menjadi pembicara juga memberikan dukungan. "Saya juga pernah merasa sangat gugup saat pertama kali berbicara di depan banyak orang. Tapi percayalah, ketika kamu mulai berbicara dan melihat wajah-wajah orang yang mendengarmu dengan penuh perhatian, rasa gugup itu akan hilang dengan sendirinya."
Mereka mulai berlatih bersama setiap hari – dari mengatur kata-kata hingga cara berdiri dan berbicara dengan percaya diri. Malik juga datang membantu dengan membawa teman-teman.Dia melihat ke arah Dito, Reza, dan Rendra yang sedang berdiri di barisan depan dengan wajah yang penuh bangga.
"Lima tahun yang lalu, kita hanya sekelompok orang yang ingin membantu beberapa anak-anak di taman kota," lanjut Nara dengan suara yang jelas dan penuh emosi. "Sekarang kita telah membangun sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri – sebuah gerakan pendidikan kreatif yang telah menyentuh kehidupan ribuan anak-anak di seluruh Indonesia dan kini mulai menyebar ke seluruh dunia."
Setelah pidatonya selesai, seluruh peserta berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah selama beberapa menit. Banyak yang menangis haru melihat betapa jauh perjalanan yang telah mereka tempuh bersama.