NovelToon NovelToon
One Piece: Legenda Spider Fruit

One Piece: Legenda Spider Fruit

Status: sedang berlangsung
Genre:One Piece / Kelahiran kembali menjadi kuat / Fantasi Isekai / Time Travel / Reinkarnasi / Transmigrasi
Popularitas:539
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Kenji Arashi terbangun di dunia One Piece setelah kematian yang tak masuk akal.
Tanpa sistem, tanpa takdir istimewa, ia justru mendapatkan Buah Iblis Web Web no Mi—kekuatan jaring laba-laba yang memberinya refleks, insting, dan mobilitas layaknya Spiderman.
Di lautan penuh monster, bajak laut, dan pemerintah dunia, Kenji memilih jalan berbahaya: bergabung sebagai kru resmi Topi Jerami, bertarung di garis depan, dan tumbuh bersama Luffy dari awal hingga akhir perjalanan.
Di antara jaring, Haki, dan takdir laut, satu hal pasti—
legenda baru saja di mulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 Pertarungan Pertama

Kapten Kuro menatapku dengan tatapan membunuh. Bekas luka di wajahnya tampak semakin mengerikan saat dia mengertakkan giginya.

"Buah Iblis...?" gumamnya sambil mengamati jaring yang masih terhubung ke tanganku. "Jadi bocah ini pengguna Buah Iblis."

Dia mengangkat tangannya, memberi isyarat pada anak buahnya yang tersisa. Sembilan bajak laut langsung mengepungku dari segala arah, senjata mereka teracung.

"Kalian semua serang bersamaan!" perintah Kapten Kuro. "Dia cuma bocah satu! Bunuh dia!"

Spider Sense ku berdering keras. Aku bisa merasakan niat membunuh dari semua arah. Ini berbeda dari latihan—ini pertarungan hidup dan mati yang sesungguhnya.

Tapi anehnya... aku tidak takut. Malah, adrenalin mengalir deras di pembuluh darahku. Tubuhku terasa ringan, siap bergerak kapan saja.

"Datanglah," kataku dengan tenang.

Mereka menyerang bersamaan. Pedang, pisau, dan kapak melesat dari semua arah. Tapi bagiku, gerakan mereka terlihat jelas—Spider Sense menunjukkan setiap jalur serangan.

Aku menunduk menghindari sabetan pedang, berputar menghindari tusukan pisau, melompat ke belakang menghindari ayunan kapak. Semua serangan meleset, tidak ada yang menyentuhku.

"Apa—kenapa dia bisa menghindari semuanya?!" teriak salah satu bajak laut.

Saat aku mendarat, aku langsung melakukan serangan balik. Jaring melesat dari kedua tanganku, mengikat dua bajak laut terdekat. Aku menarik mereka dan membuat kepala mereka saling bertabrakan.

BONK!

Keduanya pingsan seketika.

"Tujuh tersisa," gumamku.

Bajak laut lainnya semakin panik. Mereka menyerang dengan lebih brutal, lebih sembarangan. Tapi itu justru membuat mereka lebih mudah dibaca.

Seorang bajak laut mengayunkan pedangnya dari atas. Aku melompat ke samping, menembakkan jaring ke pedangnya, dan menariknya lepas dari genggamannya. Pedang itu melayang di udara, dan aku menangkapnya.

"Terima kasih atas pinjamannya," kataku sambil memutar pedang.

Aku tidak pernah dilatih menggunakan pedang, tapi tubuh muda Kenji memiliki memori dasar tentang bertarung dengan senjata tajam—orang tuanya dulu mengajarinya berburu.

Dengan kecepatan tinggi, aku menyerang balik. Bukan untuk membunuh—aku menggunakan sisi tumpul pedang untuk memukul. WHAM! Satu bajak laut terjatuh. WHAM! Satu lagi pingsan.

"Lima tersisa," kataku sambil melempar pedang itu.

Kapten Kuro tampak semakin marah. "Dasar tidak berguna! Aku akan melakukannya sendiri!"

Dia mengeluarkan senjatanya—sepasang cakar logam yang dipasang di kedua tangannya. Cakar-cakar itu panjang, tajam, berkilauan di bawah sinar matahari.

"Bocah," Kapten Kuro merendahkan tubuhnya ke posisi siaga. "Aku akan menunjukkan padamu perbedaan antara amatir dan bajak laut berpengalaman!"

Dia menghilang.

Tidak—bukan menghilang. Dia bergerak sangat cepat! Spider Sense ku berdering keras, dan aku refleks melompat ke samping.

SLASH!

Cakar Kapten Kuro melewati tempat aku berdiri, menciptakan tiga goresan dalam di tanah.

"Cepat!" pikirku sambil berguling dan bangkit.

Kapten Kuro menyerang lagi, cakarnya melesat dalam pola zigzag yang membingungkan. Aku menghindari dengan web-swing, berayun ke atap rumah terdekat.

"Lari, eh?" Kapten Kuro melompat mengikutiku. "Kau tidak bisa lari dariku!"

Dia menyerang dengan kombinasi cepat. Slash dari kanan, slash dari kiri, tusukan dari depan. Aku menghindari semuanya berkat Spider Sense, tapi ini lebih sulit dari melawan anak buahnya—Kapten Kuro jauh lebih cepat dan terlatih.

"Teknik Kucing: Serangan Berpola!" Kapten Kuro berputar sambil mencakar, menciptakan pola serangan yang menutupi area luas.

Aku tidak bisa menghindari sepenuhnya. Salah satu cakarnya menggores lenganku.

"Argh!" Darah mengalir dari luka goresan.

"Hahaha! Akhirnya kena juga!" Kapten Kuro menyeringai. "Sekarang rasakan ini—"

Tapi aku sudah bergerak. Saat dia menyerang, aku menembakkan jaring ke wajahnya.

THWIP!

Jaring menutupi matanya!

"APA?! Sial!" Kapten Kuro mencoba merobek jaring, tapi itu memberinya kesempatan.

Aku menembakkan jaring ke kedua tangannya yang memegang cakar, lalu ke kakinya, lalu ke tubuhnya. Dalam hitungan detik, Kapten Kuro terbungkus jaring seperti kepompong.

"Lepaskan! LEPASKAN AKU!" teriaknya sambil meronta.

Aku menarik jaring itu keras, membuat dia kehilangan keseimbangan dan jatuh dari atap. Sebelum dia menghantam tanah, aku menembakkan jaring lagi dan menggantungnya terbalik di pohon terdekat.

"Pertarungan selesai," kataku sambil turun dari atap.

Lima bajak laut yang tersisa menatapku dengan mata terbelalak. Kapten mereka—orang yang mereka takuti—sekarang tergantung tidak berdaya.

"Ka-Kapten..." salah satu dari mereka bergumam.

"Sekarang giliran kalian," aku menatap mereka dengan tajam. "Mau melawan atau menyerah?"

Mereka saling pandang, lalu—

"MAAF! KAMI MENYERAH!"

"JANGAN BUNUH KAMI!"

Mereka semua langsung berlutut, memohon ampun.

Aku menghela napas. "Kumpulkan semua temanmu yang pingsan. Bawa mereka kembali ke kapal. Dan jangan pernah kembali ke pulau ini."

"BA-BAIK!"

Mereka dengan cepat mengumpulkan rekan-rekan mereka yang tidak sadarkan diri, menyeret mereka ke kapal. Kapten Kuro masih tergantung di pohon, berteriak-teriak memaki anak buahnya.

"DASAR PENGECUT! LEPASKAN AKU DULU! AKU KAPTEN KALIAN!"

Tapi anak buahnya mengabaikannya. Mereka terlalu takut padaku untuk peduli.

Aku berjalan ke pohon tempat Kapten Kuro tergantung. Dia menatapku dengan penuh kebencian.

"Bocah sialan... suatu hari nanti aku akan kembali dan membunuhmu..."

"Tidak akan ada hari itu," jawabku sambil menatapnya. "Karena aku akan menjadi lebih kuat. Jauh lebih kuat. Dan saat kau kembali—jika kau cukup bodoh untuk kembali—kau akan menghadapi seseorang yang jauh berbeda."

Aku memotong jaring yang menggantungnya. Kapten Kuro jatuh ke tanah dengan keras.

"Argh! Sial!"

"Pergi. Sekarang."

Kapten Kuro menatapku penuh dendam, tapi dia tahu dia kalah. Dengan tubuh masih terbungkus jaring, dia terseret oleh anak buahnya ke kapal.

Kapal bajak laut itu perlahan berlayar meninggalkan pulau. Aku berdiri di pantai, memastikan mereka benar-benar pergi.

Saat kapal itu menghilang di cakrawala, aku mendengar suara langkah kaki di belakangku. Para penduduk desa berkumpul—pria, wanita, anak-anak, lansia. Mereka semua menatapku.

Untuk sesaat, aku khawatir. Apakah mereka takut padaku? Takut pada kekuatan Buah Iblis?

Tapi kemudian—

"TERIMA KASIH!"

"KAU MENYELAMATKAN KAMI!"

"TERIMA KASIH, KENJI!"

Mereka semua berteriak bersamaan, beberapa bahkan menangis lega.

Seorang pria tua—Pak Yamada, ketua desa—berjalan mendekati dengan tongkatnya. Dia menatapku dengan mata berkaca-kaca.

"Kenji," katanya dengan suara bergetar. "Kau... kau menyelamatkan kami semua. Bagaimana kami bisa membalasmu?"

Aku tersenyum dan menggeleng. "Tidak perlu, Pak Yamada. Kalian semua sudah baik padaku sejak orang tuaku meninggal. Ini yang bisa kulakukan sebagai balasannya."

Wanita tua yang hampir dipukul tadi berjalan mendekat bersama cucunya. "Nak Kenji, terima kasih sudah melindungi cucu saya."

Anak kecil itu menatapku dengan mata berbinar. "Kak Kenji! Tadi keren sekali! Jaringnya kayak laba-laba raksasa!"

Aku mengacak rambutnya. "Haha, terima kasih."

"Nak Kenji," Pak Yamada menatapku serius. "Kekuatan yang kau miliki... itu Buah Iblis, kan?"

Aku mengangguk. "Ya. Aku tidak sengaja menemukannya beberapa hari lalu."

"Dengan kekuatan seperti itu," Pak Yamada tersenyum lembut. "Kau tidak akan tinggal di pulau kecil ini selamanya, kan?"

Pertanyaan itu membuat dadaku sesak. Pak Yamada benar. Dengan kekuatan Spider Fruit, aku ditakdirkan untuk hal yang lebih besar. Aku harus mencari Luffy, bergabung dengan Kru Topi Jerami, dan berpetualang melintasi Grand Line.

"Aku..." aku bergumam. "Aku memang berencana untuk berlayar suatu hari nanti."

Pak Yamada mengangguk paham. "Aku sudah menduganya. Anak muda dengan impian selalu tertarik pada lautan luas." Dia meletakkan tangannya di bahuku. "Tapi ingat, Kenji. Tidak peduli seberapa jauh kau pergi, Pulau Kumo akan selalu menjadi rumahmu. Kami akan selalu menunggumu kembali."

Air mata hampir keluar dari mataku. Ini adalah kehangatan yang tidak pernah kurasakan di kehidupan lamaku—kehangatan keluarga, komunitas, tempat di mana kau benar-benar diterima.

"Terima kasih," kataku dengan tulus. "Aku akan selalu ingat pulau ini."

Malam itu, desa mengadakan pesta kecil untuk merayakan keselamatan mereka. Makanan sederhana—ikan bakar, nasi, sayuran—tapi rasanya luar biasa karena dimakan bersama dengan orang-orang yang peduli.

Anak-anak mengerumuiku, meminta aku menunjukkan jaring lagi. Aku membuat jaring kecil untuk mereka bermain, dan mereka tertawa girang saat mengayun-ayunkan jaring seperti ayunan.

Tapi di tengah kegembiraan itu, pikiranku melayang jauh.

Pertarungan hari ini membuatku menyadari sesuatu penting: aku masih lemah. Kapten Kuro bukan musuh yang kuat menurut standar One Piece—dia bahkan bukan masuk dalam kategori musuh berbahaya. Tapi dia hampir melukaiku dengan serius.

Jika aku ingin bertahan di dunia ini, jika aku ingin bergabung dengan Luffy dan melawan musuh-musuh seperti Crocodile, Doflamingo, atau bahkan Kaido... aku harus jauh lebih kuat.

Aku menatap tanganku. Jaring Spider Fruit memang kuat, tapi itu tidak cukup. Aku butuh menguasai Haki—Observation Haki, Armament Haki, dan jika mungkin, Conqueror's Haki.

Tapi bagaimana? Tidak ada yang di pulau ini yang bisa mengajari Haki. Aku harus mencarinya sendiri.

"Kenji?" suara Pak Yamada membuatku tersadar. "Kau melamun?"

"Ah, maaf Pak," aku tersenyum. "Aku hanya berpikir tentang latihan."

"Latihan itu penting," Pak Yamada mengangguk. "Tapi jangan lupa untuk beristirahat. Kekuatan tanpa istirahat akan membuatmu hancur."

Aku mengangguk. "Baik, Pak."

Tapi dalam hatiku, aku sudah membuat keputusan. Mulai besok, aku akan melatih diriku dengan lebih keras. Aku akan menguasai Spider Fruit hingga batas maksimal. Dan aku akan mencari cara untuk membangkitkan Haki.

Karena suatu hari nanti—mungkin beberapa bulan, mungkin setahun—aku harus meninggalkan pulau ini. Aku harus mencari Monkey D. Luffy.

Dan saat itu tiba, aku harus siap untuk berlayar bersama raja bajak laut masa depan.

1
Wahyu🐊
Semoga Kalian Suka Sama Karya ku ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!