"Kau benar-benar anak tidak tahu diuntung! Bisa-bisanya kau mengandung anak yang tak jelas siapa ayah biologisnya. Sejak saat ini kau bukan lagi bagian dari keluarga ini! Pergilah dari kehidupan kami!"
Liana Adelia, harus menelan kepahitan saat diusir oleh keluarganya sendiri. Ia tak menyangka kecerobohannya satu malam bisa mendatangkan petaka bagi dirinya sendiri. Tak ingin aibnya diketahui oleh masyarakat luas, pihak keluarga dengan tega langsung mengusirnya.
Bagaimana kehidupan Liana setelah terusir dari rumah? Mungkinkah dia masih bisa bertahan hidup dengan segala kekurangannya?
Yuk simak kisahnya hanya tersedia di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Cari Papa Baru
"Mommy, akhirnya mommy pulang juga. Kami sudah sangat lapar!"
Dua bocah kembar itu berlari menyambut ibunya yang baru pulang dari tempat kerja. Mereka menunjukkan muka lesunya dengan memegangi perutnya yang tengah keroncongan.
"Ya ampun..., kalian sudah lapar ya? Maafin mommy ya sayang? Apakah makanan tadi pagi udah habis?" tanya Liana dengan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
Kenzo berdecak. "Ck, ya udah lah mom! Emangnya berapa banyak yang mommy masak? Bahkan untuk makan siang aja kurang!"
Liana terkekeh. "Benarkah...? Mommy pikir tadi masaknya cukup banyak, ternyata nggak cukup buat makan sampai sore ya? Yaudah, kalian tunggu sebentar ya, mommy buatin telur dadar dulu. Kalian tunggu sebentar ya?"
"Baik mom!"
Dua bocah itu kembali duduk di sofa menonton cartoon. Sedangkan Liana melemparkan tasnya secara asal dan bergegas menuju dapur untuk membuatkan dadar telur buat si kembar.
"Bang Ken, kita kasih tahu mommy kalau tadi sepulang sekolah kita hampir diculik."
Kenzie masih trauma atas kejadian yang menimpanya siang itu. Dia berniat untuk menceritakan pada ibunya, namun ia juga harus meminta pendapat dari kembarannya.
"Kurasa kita nggak perlu memberitahu mommy mengenai kejadian tadi. Kalau sampai mommy tahu yang ada mommy bakalan sedih dan nggak bisa bekerja dengan tenang. Kasihan mommy, beliau sudah bekerja keras buat kita, jangan sampai kita membuatnya lebih sedih lagi. Lagi pula kita kan udah selamat dari penculikan."
Berbeda lagi dengan Kenzo. Ia tak ingin membuat ibunya sedih. Ia ingin mengajak kembarannya untuk bisa belajar mandiri dan menghilangkan rasa takut yang berlebihan. Terlahir sebagai laki-laki harus bermental baja, tidak mudah untuk menyerah apalagi kalah.
Tidak menunggu waktu lama, Liana datang dari arah dapur dengan membawa piring berisi telur dadar. Dia menuju ruang makan sembari memanggil kedua anaknya.
"Kenzo! Kenzie, ayo sini. Katanya mau makan? Ini mommy buatin telur dadar."
"Baik mom!" Mereka berdua berlari menuju ruang makan.
"Hm..., aroma telur dadar buatan mommy harum," puji kenzie.
"Ck, kayak orang nggak pernah makan telur dadar aja! Di mana-mana yang namanya telur dadar baunya ya seperti ini. Bego banget jadi orang," desis Kenzo.
Liana memutar bola matanya. Dua bocah itu watak dan pemikirannya sangatlah berbeda, padahal mereka keluar dari rahim yang sama dan jam yang sama. Entah kenapa sikap Kenzo begitu dingin dan mudah menindas dengan kata-kata kasarnya, atau mungkin itu gen dari ayahnya? Pikir Liana.
"Kalian buruan makan, nggak usah berdebat," tegur Liana dengan mengambilkan nasi untuk mereka.
Liana ikut duduk bersama mereka. Di saat lelah dengan banyaknya pekerjaan ia masih bisa tersenyum melihat tumbuh kembang kedua putranya. Dulu ia sempat bingung, apa mungkin bisa hidup tanpa keluarga, apalagi dengan kehamilannya. Ternyata ketakutannya tak beralasan untuk tetap menjalani kehidupan hingga detik ini, dan sampai saat ini ia baik-baik saja meskipun masih terbilang kurang mampu.
"Bagaimana dengan sekolah baru kalian? Apakah menyenangkan?"
Kedua bocah itu mengangguk. "Iya lumayan mom, daripada nggak sekolah."
"Hah? Maksudnya gimana sih? Nggak nyaman di sana? Apa ada yang punya niatan jahat pada kalian? Guru-guru di sana baik, kan?"
Bukannya senang meninggalkan mereka yang masih terlalu kecil di tempat baru, tapi mau bagaimana lagi? Ia sendiri juga harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Rasa khawatir jelas ada, hanya saja ia tak mampu menyewa orang untuk menjaga anak-anaknya.
"Udah, mommy tenang saja. Bu guru baik kok, cuma beberapa teman baru saja yang rese' asal mereka nggak main tangan aku juga bisa diam, tapi kalau sampai mereka ada yang main tangan aku nggak bakalan diam lagi."
"Sayang..., semua masalah bisa diselesaikan dengan kepala dingin, nggak harus berantem apalagi menggunakan kekerasan. Kita masih baru tinggal di sini, jangan membuat ulah dengan orang lain. Lebih baik diam mengalah. Kalau sampai kalian terbukti melakukan kesalahan di sekolah dan dikeluarkan terus mau pindah ke mana lagi? Mommy minta tolong kendalikan amarahmu."
Sebelumnya Kenzo pernah melakukan pemukulan terhadap temannya ketika masih tinggal di luar negeri, dan dia langsung dikeluarkan dari sekolah. Liana memutuskan untuk mengajaknya kembali ke tanah kelahirannya agar anaknya bisa berbaur dengan orang-orang disekitarnya. Mungkin dengan mengenalkan mereka dengan orang-orang di sekitarnya akan membantunya memahami pentingnya beradaptasi.
"Mommy! Kalau kita ditindas tapi diam saja yang ada kita bakalan diremehkan. Aku nggak mau seperti itu. Aku nggak peduli kalaupun nggak punya teman. Kalau ada yang pukul ya harus dipukul balik, bukan malah diam saja. Saran mommy sangatlah buruk. Memangnya mommy senang melihat kami selalu ditindas? Mommy aja nggak pernah ada waktu buat temani kami. Memangnya kami mau minta perlindungan kepada siapa?
Liana terdiam. Ia sadar akan kesalahannya. Diusia mereka yang masih dini harus belajar mandiri. Pulang sekolah sendiri, makan sendiri, mandi pun sendiri. Mungkin anak-anak seusia mereka masih tergantung pada orang tuanya. Jika saja ayah mereka tahu keberadaannya apa mungkin ada kepedulian untuk membantunya? Tapi sayangnya, sampai detik ini ia tak pernah mengetahui siapa ayah biologisnya.
"Sayang..., maafin mommy ya? Bukannya mommy nggak mau temani kalian. Mommy sebenarnya ingin selalu ada di samping kalian, menemani kalian, tapi~~ tapi mommy juga nggak bisa diam diri tanpa harus bekerja. Kalau mommy nggak kerja lalu kita makan apa? Terus bagaimana dengan sekolah kalian? Bukannya mommy terlalu egois, tapi lihatlah kondisi perekonomian kita. Doakan mommy nak, mommy sedang berjuang untuk masa depan kalian. Mommy ingin kalian memiliki masa depan yang cerah, punya rumah sendiri, punya kendaraan sendiri, dan punya banyak uang agar bisa mencukupi kebutuhan kalian. Maafin mommy yang sudah mengajari kalian untuk belajar mandiri sejak dini."
Kedua bocah itu beranjak dari tempat duduknya dan berlari memeluk ibunya. Mereka sedih membiarkan ibunya bekerja sendirian, tentu akan sangat melelahkan.
"Maafin kami ya mom? Kami sudah membuat mommy sedih. Tidak seharusnya aku bicara seperti itu," celetuk Kenzo.
Liana menepuk pundaknya. "Kalian nggak salah nak, kalian anak baik. Kalian peduli sama mommy aja udah buat mommy bersyukur. Mudah-mudahan kelak kalian menjadi orang sukses, bisa buat mommy bangga."
Liana menyeka air matanya yang berjatuhan. Sebenarnya ia tak ingin menunjukkan kesedihannya di depan anak-anaknya, tapi air matanya tak bisa dibendung dan menetes begitu saja.
"Ayo kalian lanjut makan, mommy akan ambilkan air minum dulu buat kalian. Kalau makan nggak boleh banyak bicara, nanti nggak jadi kenyang."
"Hm..., baik mom." Kedua bocah itu mengangguk dan kembali duduk di tempat semula.
Setelah kepergian ibunya kedua bocah itu berbisik pelan. "Bang Ken, bagaimana kalau kita cari Papa baru? Kalau kita punya Papa mungkin bisa bantuin mommy, biar mommy nggak capek sendirian. Setuju nggak?"