Salsabillah Khairunnisa Kirani, 25 tahun. Terpaksa harus menikah dengan Adrian Mangku Kusumo, 25 tahun. Karena perjodohan orang tua mereka, padahal mereka sama-sama memiliki kekasih.
Sabillah tak tahu mengapa Adrian selalu menuduhnya menjadi penyebab kehancuran Ajeng, kekasih Adrian.
Hingga di tujuh bulan pernikahan mereka, Sabillah melihat Adrian bersama wanita yang tengah hamil tua, dan wanita itu, kekasih Adrian.
Apakah Adrian sudah mengkhianati pernikahan mereka? Meski mereka sepakat untuk berpisah setelah dua tahun pernikahan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isma Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semakin Nekat
Mendengar keributan papanya dan Adrian diluar, Sabillah meletakkan anaknya di dalam box bayi bekas pakaian anak pertama mereka dulu. Untung bayi berusia dua hari itu sudah tidur pulas.
"Kakak Eka, sama Arial tunggu disini dulu ya, Umak keluar dulu." Katanya pada kedua anaknya. Keduanya mengangguk.
Kaluar dari kamar, Sabillah menghela nafas lelah melihat papanya kembali berdebat dengan Adrian.
"Pa, Papa masuk dulu, Papa pasti kecapean," ujarnya. Membuat dua laki-laki itu menoleh kearahnya. "Biar Sabill yang bicara denganya."
Yes, bisa berduaan lagi. Mendengar itu, Adrian bersorak riang dalam hati.
Meski berat, pak Sofyan mengiyakan, dia juga lelah sebenarnya. "Jangan lama-lama," pesan pak Sofyan sebelum meninggalkan Adrian dan Sabillah berduaan.
"Mama nggak usah kasih dia air minum, anaknya sudah Papa usir." Bicara pada sang istri saat berpapasan dengan Sintya yang membawakan kopi untuk Adrian dari dapur.
"Papa kok gitu?"
"Sudah buat Papa aja kopinya." Mengambil kopi dari tangan sang istri. Membawanya ke ruang keluarga yang menyatu dengan ruang tamu. Sintya mengikuti dibelakangnya.
"Kan Papa udah nggak ngopi."
"Sesekali gak papa."
* * *
"Adrian, aku harap kamu bisa mengerti keadaan aku sekarang. Kita bukan siapa-siapa lagi, jangan pernah menampakkan wajah kamu. Aku mohon, jangan buat papa aku darah tinggi," ucap Sabillah memohon.
Kali ini Sabillah benar-benar berharap Adrian mengerti. Tidak tega juga melihat papanya terus bersitegang dengan mantan suami pertamanya ini.
"Aku sudah melupakan semuanya. Aku juga memaafkan kamu atas masa lalu kita, jadi tidak perlu lagi kamu merasa bersalah dan berniat menebus semuanya." Lanjutnya.
Sabillah tak bisa menahan diri lagi, dengan kata lain dia tahu Adrian mengharapkan kesempatan kedua darinya, tapi Sabillah tidak bisa segamblang itu mengatakanya. Dia bukan wanita polos, tahu sekali niat Adrian.
Laki-laki itu tertunduk, sadar jika wanita yang dia hadapi ini wanita pintar, bukan wanita polos yang mudah ditindas dan diatur sesuka hatinya.
"Sayang sekali ya, niat ku mudah terbaca, Sabill." Adrian melampirkan wajah memelas seperti dimarahi pujaan hati. "Tapi aku manusia biasa yang mengharapkan maaf dari orang yang pernah disakitinya, gimana donk?" Adrian menatap manik bulat wanita dihadapanya.
"Aku sudah memaafkan kamu."
"Tapi aku ingin dimaafkan dengan kamu menerima keberadaan ku."
"Keberadaan apa maksud kamu?" tanya Sabillah dengan kening berlipat.
"Sebagai teman, atau kakak, atau apa terserah kamu. Yang penting terima keberadaan aku."
Benar kan? Ada niat terselubung.
"Nggak bisa, aku nggak bisa ada kamu disekitar aku."
"Kenapa nggak bisa? Apa kamu sebenarnya ada rasa sama aku?" Menatap Sabill yang menatapnya tajam sambil menaik turunkan alisnya. "Iya Sabill? Makannya kamu nggak bisa?"
Adrian ingin tahu, kenapa mereka menolaknya sedemikian rupa. Namun dia patut merutuki kelancangan bibirnya mengatakan itu, bagaimana bisa dia dengan percaya diri mengatakan itu pada mantan istrinya?
Dimana Sabillah malah mentertawakanya. "Nggak tahu mallu."
"Iyakan kamu ada rasa? Kalau kamu memang udah maafin aku, seharusnya kamu nggak masalah ada aku disekitar kamu. Yakin saja jika keberadaan ku tidak mempengaruhi apa-apa. Atau kamu justru takut takdir mempersatukan kita lagi?" Adrian harus mengubur rasa malunya, yang terpenting dia bisa dekat dengan Sabillah.
Dia sudah merasa cocok dengan Arial.
Tidak, Adrian tidak gentar mendapat penolakan dari sana sini, dia Adrian. Yang mana dia tidak mau dilarang oleh siapapun.
Sabillah menghela nafas. Sial sekali dia, niatnya untuk mengusir Adrian dengan cara yang tegas, agar lelaki itu mengerti dan tidak mengganggunya, tetapi lelaki itu malah lebih nekat. Sabill memang tidak mengenal siapa laki-laki itu.
Sabillah pusing.
"Terserah kamu deh, Adrian. Tapi aku nggak akan nerima kedatangan kamu. Aku setia sama mendiang suami aku."
Adrian terkekeh, semakin Sabillah coba menghindar, semakin dia bisa menggoda Sabillah. Adrian yang tadinya buntu dengan cara apa agar bisa dekat dengan Sabillah, tapi justru Sabillah malah membukakan celah untuknya.
"Cieee ada yang baper ada aku." Goda Adrian yang mana membuat Sabillah aneh dengan laki-laki ini. "Sabill, Arjuna itu teman masa ⛌ aku. Niat aku cuma buat bahagiain anak-anaknya. Kami baru bertemu beberapa kali, dan aku nggak tega lihat anak kalian kehilangan sosok ayahnya. Anggap_"
"Anakku tidak akan kehilangan sosok itu," potong Sabillah, "aku bisa memberikan semuanya," tegas Sabillah. "Udah Adrian, aku mau istirahat. Pulanglah." Sabillah menutup pintu dengan sedikit membantingnya, membuat Adrian mundur satu langkah.
"Arial, Om pulang ya. Besok Om datang lagi kesini buat jengukin kamu." Adrian berteriak berpamitan pada Arial, berharap anak itu mendengar suaranya.
Yang mana Arial memang mendengar ucapanya, anak itu berlari keluar.
"Jangan keluar, orang itu sudah pergi."
Sintya ingin membela lagi, karena menurutnya Sabillah tidak boleh melakukan itu pada Arial yang belum tahu apa-apa. Tapi ditahan oleh pak Sofyan.
* * *
Hari-hari berikutnya Adrian selalu datang kerumah Sabillah demi mengantarkan mainan atau makanan, dan bertemu dengan Arial. Meski hanya sebentar, tapi itu cukup bagi Adrian. Yang penting rutin, sampai Arial bilang begini.
"Alial senang Om datang kesini setiap hali, kalau Om tidak datang, Alial yindu."
"Om usahakan akan menemui Arial setiap hari." Janjinya pada bocah itu mengusak rambut lebat Arial.
Sabillah dan pak Sofyan sebenarnya melarang Arial menemui Adrian, tapi Arial malah menangis jika dilarang. Jadi Sabillah hanya pasrah saja untuk sekarang, pelan-pelan dia akan memberi pengertian pada anaknya agar tidak bergantung pada laki-laki itu.
Lima menit waktu yang diberikan Sabillah untuk Adrian bertemu Arial.
Malam ini, pak Sofyan, Sintya mengajak Sabillah mengobrol.
"Sabill, Mama sama Papa mau pulang ke Jakarta. Papa harus melihat kondisi kantor Papa yang sudah lama ditinggal." Mama Sintya memberi tahu.
"Nggak papa, Ma. Mama sama Papa pulang aja."
"Maksud Mama, kamu ikut pulang ke Jakarta."
"Untuk sekarang Sabillah belum bisa, Ma. Sabillah belum bisa meninggalkan rumah ini." Terlalu banyak kenangan dirumah yang sudah ia tempati bersama Arjuna. Meninggalkan rumah ini, sama saja dia meninggalkan Arjuna.
"Sabill, Papa mengerti keadaan kamu. Untuk sekarang, nggak papa kamu disini. Tapi kamu anak Papa satu-satunya, Papa sudah tua. Siapa yang akan meneruskan perusahaan Papa?" Pak Sofyan berkata. "Papa tahu ada uang pensiunan suami kamu, tapi apa cukup? Jadi kamu harus meneruskan usaha Papa untuk menghidupi anak-anak kamu. Mereka masih butuh banyak biaya."
Sabill menghela nafasnya. Benar apa yang dikatakan papanya. Gaji Arjuna yang diwariskan kepadanya tidak sebesar gaji saat suaminya masih ada. Gaji itu paling cukup untuk susu dan jajan anaknya saja, apalagi mereka tinggal dikota yang bisa dibilang biaya hidupnya besar.
"Sabill butuh waktu, Pa. Setidaknya satu bulan kedepan," jawab Sabillah. Tidak mudah meninggalkan rumah yang penuh kenangan ini.
"Iya, Papa paham. Tapi jangan tidak ya, Nak. Papa sangat berharap pada mu." Sabillah mengangguk. Sedih sebenarnya harus ditinggalkan orang tuanya. Memang ada yang membantu pekerjaan dan mengurusi anaknya.
Tapi hidup Sabillah kini terasa sepi. Biasanya ada sosok yang selalu mengerti dirinya, melayaninya, dan sosok itu juga bergantung padanya. Kini telah hilang. Kembalinya kedua orangtuanya ke ibu kota, menambah kesepian Sabillah. Tapi hidup harus berjalan.
"Maaf, Sabill nggak bisa anterin Mama sama Papa kebandara." Sabillah cicilan, cipiki pada mamanya, dan berpelukan.
"Nggak papa sayang. Kabari Mama jika kamu butuh sesuatu, terus mikirnya jangan lama-lama, kasihan Papa kamu." Melerai pelukan.
"Eka, Arial. Jaga Umak sama Adek bayi ya. Oma sama Opa pulang dulu, nanti bilang sama Umak untuk nyusul ke Jakarta."
"Iya Oma. Oma hati-hati dijalan." Sintya memeluk cucunya dengan mata berlinang. Sedih harus meninggalkan anaknya bersama ketiga cucunya yang masih kecil-kecil.
"Kamu paksa Umak kalau Umak nggak mau, ya." Ujar Sintya mengajari Eka. Bocah cantik itu mengangguk patuh.
"Papa pulang, Sabill. Ingat, kamu pewaris Papa satu-satunya. Pikirkan baik-baik, sedih boleh, kehilangan wajar. Tapi jangan meratapi, lihat anak-anak kamu butuh biaya besar, agar jadi orang besar. Buat suami kamu bangga sama kamu." Pesan Pak Sofyan sebelum masuk kedalam mobil yang akan membawa mereka ke bandara.
Juga tak lupa berpesan pada Eka. "Kalau orang itu datang lagi, Eka usir saja ya. Jangan biarkan dia masuk." Yang diangguki dan diacungi jempol oleh cucunya. "Pinter," pak Sofyan bangga pada cucu pertamanya yang tegas dan tidak cengeng itu.
Sabillah hanya dapat menatap kepergian mobil itu dengan perasaan hampa. Dia menggandeng kedua anaknya untuk masuk, membawa hatinya yang terasa hampa.
Tit, titt.
Suara klakson mobil membuat ketiga orang itu menoleh. Sabillah tahu siapa yang datang, dia hapal sekali pemilik mobil itu.
"Umak, Umak masuk saja. Biar Eka yang tutup pintu," gadis kecil itu mendorong pantat Sabillah untuk masuk, juga pundak adiknya.
"Tapi itu Om Adlian, Kak. Alial mau ketemu Om Adlian."
"Nggak boleh." Ucap gadis itu melarang. Kemudian mendorong pintu tertutup.
Adrian hanya terkekeh melihat itu, wajah jutek Eka terlihat menggemaskan. Adrian turun dari mobilnya.
Tok, tok.
"Arial, Om datang."
"Tidak ada orang dirumah." Suara Eka menyahut, yang mana membuat Adrian semakin terkekeh. Lucu-lucu sekali anak Sabillah.