Menceritakan seorang pemuda bernama Darren yang kehidupannya tampak bahagia, namun terkadang menyedihkan dimana dia dibenci oleh ayah dan kakak-kakaknya karena sebuah pengakuan palsu dari seseorang.
Seseorang itu mengatakan bahwa dirinya sebagai pelaku atas kecelakaan yang menimpa ibunya dan neneknya
Namun bagi Darren hal itu tidak penting baginya. Dia tidak peduli akan kebencian ayah dan kakak-kakaknya. Bagi Darren, tanpa mereka dirinya masih bisa hidup bahagia. Dia memiliki apa yang telah menjadi tonggak kehidupannya.
Bagaimana kisah kehidupan Darren selanjutnya?
Yuk, baca saja kisahnya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandra Yandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Darren, ketujuh sahabat-sahabatnya beserta anggota keluarganya sudah berada di rumahnya masing-masing. Mereka telah selesai melakukan pekerjaannya diluar rumah.
Di lokasi berbeda-beda namun di waktu yang sama terlihat tiga keluarga yaitu keluarga Dustine, keluarga Antonius dan keluarga Dominic tengah berkumpul di ruang tengah. Para putra keduanya sudah menceritakan tentang apa yang diminta oleh Darren padanya kepada anggota keluarganya.
Mendengar cerita dari putra keduanya, dan ditambah dengan cerita dari putra bungsunya membuat anggota keluarganya terutama kedua orang tuanya dan kakak sulungnya terkejut.
***
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Danar dengan tatapan matanya menatap kedua orang tuanya dan kakaknya.
"Kamu sendiri bagaimana?" tanya David kepada putra keduanya itu.
"Aku percaya dengan sahabatku, Pa! Dia tidak mungkin melakukan hal itu," jawab Danar.
"Jadi kakak meragukan Darren? Kakak tidak mempercayai Darren, begitu?" Willy langsung bertanya kepada kakak keduanya itu setelah mendengar jawabannya.
"Bukan begitu, Wil." Danar menjawab pertanyaan dari adiknya itu dengan tatapan bersalahnya. "Kakak disini bingung. Kakak tidak tahu harus mengambil keputusan yang mana."
Tak jauh beda dengan Danar. Di tempat lain, Satria dan Rama juga merasakan hal yang sama seperti Danar. Mereka bingung harus melakukan apa. Mereka tidak tahu keputusan apa yang akan mereka ambil.
Ketika Danar dan keluarganya sedang memikirkan perkataan Darren, tiba-tiba ponsel milik David berdering menandakan panggilan masuk.
Mendengar dering ponselnya, David langsung mengambil ponselnya di saku celananya. Setelah ponselnya di tangannya, dia melihat di layar ponselnya panggilan video dari sahabat-sahabatnya.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, David pun menjawab panggilan dari sahabat-sahabatnya itu.
"Ada apa?" tanya David langsung.
"Apa Danar sudah bercerita padamu tentang Darren yang meminta dia untuk membatalkan penandatanganan kontrak tersebut?" tanya Eric.
"Sudah."
"Apa keputusan Danar?" tanya Dellano.
"Bingung. Tidak tahu mau mengambil keputusan apa," jawab David.
Mendengar jawaban dari David membuat Dellano serta yang lainnya hanya bisa diam.
"Bagaimana dengan Rama dan Satria?" tanya David.
"Sama seperti Danar. Mereka juga bingung!" Dellano dan Eric menjawab bersamaan.
"Aku ada saran untuk masalah kalian!" seru Dario.
"Apa?" ketiga sahabatnya yang anaknya dalam keadaan bingung menjawab bersamaan.
"Biar sama-sama enak, dan tidak ada yang terluka. Ditambah lagi, Erland adalah sahabat kita. Bukan itu saja, para putra bungsu kita juga bersahabat dengan putra bungsunya Erland. Ada baiknya kita mendatangi kediaman Erland. Sesampainya disana, kita tanyakan langsung kepada Darren. Sekalian kita mengunjungi sahabat kita itu," usul Dario.
Mendengar usulan dari sahabatnya membuat David, Dellano dan Eric langsung menganggukkan kepalanya. Begitu juga dengan putra-putranya.
"Baiklah."
***
Cklek..
Pintu kamar dibuka. Dan keluarlah seorang pemuda tampan dan bergigi kelinci dari dalam kamar tersebut.
Pemuda itu adalah Darrendra Smith.
Blam..
Bunyi pintu yang ditutup dari luar.
Darren melangkah menuruni anak tangga. Dia hendak ke bawah karena ingin mengambil sesuatu di dapur.
^^^
Kini Darren sudah di dapur. Kemudian dia melangkah mendekati lemari pendingin. Setelah berdiri di depan lemari pendingin, tangannya pun membuka pintu lemari pendingin tersebut.
Detik itu juga, keluarlah aura dingin dari dalam lemari pendingin itu. Namun ketika Darren hendak meraih minuman kesukaannya yaitu susu pisang, tiba-tiba dia merasakan kehadiran seseorang.
Tanpa merubah posisi tubuhnya, Darren masih bersikap seolah-olah tidak mengetahui seseorang itu. Dia seketika bersikap waspada.
Yah! Apa yang dirasakan Darren benar-benar terjadi karena memang ada seseorang yang sejak tadi memperhatikan dirinya. Setelah puas melihat Darren, orang itu pun menghampiri Darren.
Orang itu adalah Riyo.
"Minumlah sepuasmu susu pisang kesukaanmu itu, Darren! Setelah itu, ucapkan selamat tinggal pada dunia ini. Aku sudah menyuntikkan sesuatu ke dalam semua susu pisang milikmu itu." Riyo berucap di dalam hatinya.
Darren yang posisinya masih membungkuk di lemari pendingin seketika membelalakkan matanya ketika mendengar isi hati Riyo.
"Kau tidak pantas berada di dunia ini, Darren! Kau itu sama seperti ibumu yang mana terlalu sombong, bahkan kalau berbicara terlalu menyakitkan."
"Karena kesombongannya itu, makanya ibumu menemui ajalnya. Ach, lebih tepatnya. Akulah yang telah membunuh ibumu itu. Begitu juga dengan si nenek peyot itu."
Darren seketika terkejut ketika mendengar isi hati Riyo yang mengatakan bahwa meninggalnya ibunya dan Omanya adalah ulahnya.
Seketika tersirat kemarahan di manik coklatnya. Tatapan matanya menatap tajam.
Detik kemudian..
Darren memposisikan tubuhnya berdiri tegak bersamaan tangannya menutup pintu lemari pendingin tersebut.
Darren memutar kepalanya menatap kearah Riyo yang saat ini tersenyum menyeringai menatap dirinya. Baik Darren maupun Riyo saling memberikan tatapan tajamnya.
Berlahan Darren melangkah mendekati Riyo. Tatapan matanya semakin tajam menatap kearah Riyo.
Kini Darren telah berdiri di depan Riyo. Keduanya sama-sama saling memberikan tatapan mematikannya.
Tanpa disadari oleh Darren dan Riyo. Erland dan keenam putranya keluar dari kamar masing-masing. Mereka hendak menuju ruang tengah dan duduk disana.
Namun ketika mereka tiba di ruang tengah, tatapan mata mereka tak sengaja melihat kearah Darren dan Riyo yang berada di dapur.
Antara ruang tengah dan dapur jaraknya hanya beberapa meter saja. Jadi jika berada di ruang tengah, namun masih bisa melihat kearah dapur.
Ketika Gilang dan Darka hendak menghampiri Darren, tangan keduanya langsung dicekal oleh Davin dan Andra.
^^^
"Kak."
"Kita lihat dulu apa yang terjadi," ucap Andra.
"Kakak ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh Riyo kali ini kepada Darren," sela Davin.
"Maksud kak Davin?" Gilang dan Darka bertanya bersamaan. Tatapan matanya menatap kearah kakak sulungnya itu.
"Tadi siang ketika Darren pulang. Lebih tepatnya ketika Darren menaiki anak tangga, Riyo ingin memukul kepala Darren dari belakang pakai vas milik Mama," jawab Davin.
Gilang dan Darka seketika membelalakkan matanya ketika mendengar jawaban dari kakak sulungnya. Begitu juga dengan Erland dan ketiga putranya yang lain.
Mereka semua melihat kearah Darren dan Riyo dengan tatapan khawatir kearah Darren.
^^^
"Sekarang gue sudah tahu siapa yang menjadi dalang kecelakaan yang menimpa ibu dan Oma gue." Darren berucap dengan sorot matanya yang begitu tajam.
Deg..
Erland dan keenam putranya seketika terkejut ketika mendengar ucapan dari Darren.
Sementara Riyo, dia seketika tersenyum ketika mendengar ucapan dari Darren.
"Terus kau mau apa, hum?" ejek Riyo.
"Membunuh pelaku itu," jawab Darren.
Riyo seketika tersenyum. "Memangnya apa yang bisa kau lakukan? Apa kau yakin bisa membunuh pelaku tersebut? Apa ayah dan kakak-kakakmu akan percaya jika bukan kau pelaku sebenarnya sehingga ingin membuktikan kepada mereka bahwa kau tidak bersalah," ucap Riyo.
Mendengar ucapan dari Riyo membuat Gilang dan Darka mengepal kuat tangannya. Begitu juga dengan ayah dan kakak-kakaknya.
"Oh iya, satu lagi. Jika kau ingin membunuh pelaku tersebut, berarti kan harus mengetahui seperti apa wajahnya. Apa kau sudah tahu seperti apa wajahnya, hah?!"
Darren seketika tersenyum di sudut bibirnya dengan tatapan matanya menatap semakin tajam kearah Riyo.
"Apa lo barusan meremehkan gue, hum?" tanya Darren.
"Bukan meremehkan, tapi ini kenyataannya. Sampai kapan pun kau tidak akan tahu siapa dalang kecelakaan yang menimpa dua wanita busuk itu," jawab Riyo.
Hening..
Baik Darren maupun Riyo saat ini tidak mengeluarkan suaranya. Hanya tatapan matanya yang saling memberikan tatapan tajamnya.
Beberapa detik kemudian..
Duagh..
"Aakkhhh!"
Bruukkk..
Darren tiba-tiba memberikan tendangan keras di perut Riyo sehingga tubuh Riyo tersungkur di lantai.
"Itulah hal pertama yang gue lakukan. Bagaimana rasanya?" Darren berucap dengan sorot mata yang begitu mengerikan.
Darren berlahan melangkah mendekati Riyo. Setelah berdiri di dekat Riyo, seketika kakinya langsung menendang perut Riyo dengan keras sehingga membuat teriakan yang cukup keras.
Duagh.
"Ini yang kedua."
Darren memegang baju bagian leher Riyo, lalu menariknya berdiri.
"Lo sudah salah mencari masalah dengan gue, Riyo! Lo nggak tahu siapa gue yang sebenarnya."
Gedebug..
Bruukkk..
"Aakkhhh!"
Darren melempar tubuh Riyo hingga membentur sudut meja.
Melihat apa yang dilakukan oleh Darren membuat Erland dan keenam putranya terkejut dan syok. Mereka tidak menyangka bahwa Darren akan melakukan hal itu.
Ketika Darren kembali menyerang Riyo, tiba-tiba Gilang dan Darka datang dan langsung memeluk tubuh adiknya itu.
"Ren, cukup!"
"Kakak mohon."
Gilang dan Darka membawa tubuh adiknya menjauh dari Riyo.
"Paman Jo!" panggil Andra.
Jonathan pun datang ketika mendengar panggilan dari tuan muda keduanya.
"Iya, tuan muda Andra."
"Bawa Riyo ke kamarnya."
"Bai..." ucapan Jonathan seketika terpotong.
"Bawa dia ke gudang. Kurung dia disana. " Darren seketika berucap dengan tatapan matanya menatap tajam kearah Riyo.
"Ba-baik, tuan muda Darren."
Jonathan pun langsung membawa Riyo ke gudang dan mengurungnya disana.
"Kamu duduk dulu ya," ucap Darka sembari memapah tubuh adiknya menuju kursi meja makan, dibantu oleh Gilang.
"Kak, panggilkan bibi Lani!"
"Baiklah."
Ketika Gilang hendak pergi mencari pelayannya, Dzaky sudah langsung bertindak.
Detik kemudian..
"Ada apa, tuan muda Darren?"
"Tolong buang semua susu pisang milik saya yang ada di kulkas itu."
"Kenapa dibuang, tuan muda? Jika tuan muda tidak menyukainya lagi, berikan pada bibi saja."
"Apa kau tidak dengar perkataanku barusan?" tanya Darren dengan sorot matanya yang tajam.
"Ma-maaf, tuan muda. Baiklah, tuan muda. Bibi akan buang semua susu pisang milik tuan muda."
"Ingat! Harus dibuang. Jangan coba-coba menyimpannya apalagi sampai meminumnya. Jika sampai terjadi sesuatu, aku tidak akan bertanggung jawab."
"Ba-baik, tuan muda."
Setelah itu, pelayan yang bernama Lani itu pun pergi untuk menjalankan perintah dari Darren.
penasaran kelanjutannya
semangat
up lagi ya
kasian Darren
semangat trus kak