Ketika cinta harus diakhiri karena syarat dari kedua orang tuanya yang mendambakan seorang menantu hafiz Al'quran.
Dan aku terpaksa menikah dengan perempuan lain yang tidak aku cintai karena hutang jasa.
Bagai mana kelanjutannya simak ceritanya di novel. CINTA TERHALANG 30 JUZ AL'QURAN.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pelangi senja11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19. Hujan
"Kenapa tidak aktif, apa mungkin sesuatu terjadi, ya Allah lindungi Fira dari segala mara bahaya." Mohon Ariel, walaupun dia belum kenal sama sekali dengan gadis itu.
Ariel memutuskan menunggu beberapa menit lagi dengan harapan semoga aja tidak hujan.
Tidak lama kemudian, sebuah bus berhenti tepat didepannya. Hati Ariel merasa tenang walaupun dia belum tau apakah bus itu yang Fira tumpangi.
Ariel melihat menatap satu persatu orang yang turun dari bus itu, hingga matanya berhenti pada seorang gadis yang memakai cadar persis seperti yang dia lihat difoto dikamar Ariel.
Gadis bercadar itu menghampiri Ariel yang juga sedang menatapnya.
"Mas Nazriel ?" tanya gadis bercadar itu yang tidak lain adalah Fira.
Ariel tidak menjawab, dia hanya mengangguk saja. "Maaf mas, terlambat, tadi jalan macet." Ujar Fira.
"Tidak apa-apa, Mas juga baru sampai." Bohong Ariel agar Fira tidak merasa bersalah.
"Kenapa Hpnya tidak aktif?" tanya Ariel karena tadi nomor Fira tidak bisa dihubungi.
"Oh, maaf mas, tadi hpnya kehabisan baterai, Fira lupa cas tadi." Jawab Fira.
"Ayo, kita pulang sekarang, takut sebentar lagi hujan." Ajak Ariel langsung mengangkat koper Fira dan meletakkannya di depan motor.
Fira langsung naik di belakang motor, setelah memastikan Fira duduk dengan nyaman, Ariel langsung menjalankan motornya.
***
Diruang besar dan mewah, seseorang mengetuk pintu. Deril yang sedang berada diruang tamu dia langsung membuka pintu.
Deril terkejut saat melihat siapa yang datang. "Ada apa, kenapa kamu kesini, ini udah malam." Ujar Deril dengan muka dinginnya.
"Siapa Nak, kenapa gak disuruh masuk ?" Tanya Nyonya Rita ikut menyusul karena melihat Deril tidak menyuruh tamunya masuk.
"Maya," Lirih Nyonya Rita dengan wajah tidak sukanya pada gadis itu.
Maya tersenyum pada Deril dan juga Nyonya Rita. "Malam Tante, mas Deril." Ucap Maya ramah.
Bukannya menjawab, Nyonya Rita malah bertanya. "Ngapain kamu kesini, masih punya muka juga kamu." Ujar Nyonya Rita dengan wajah tidak suka.
Maya tidak marah, dia masih menunjukkan wajah ramahnya pada Nyonya Rita dan juga Deril.
"Boleh saya masuk, Tante ?" tanya Maya sedikitpun tidak merasa bersalah.
"Tidak perlu, katakan saja, ngapain kamu kesini ?" tanya Nyonya Rita sedikit keras.
"Saya hanya ingin bertemu dengan Ariel," Ujar Maya.
"Ariel tidak dirumah, ngapain kamu ingin bertemu dengannya, apa belum cukup kamu menguras uang Anak ku, setelah itu kau campakkan pula dia hanya demi lelaki lain." Nyonya Rita sangat marah, dia sangat muak melihat wajah Maya.
Sedangkan Deril hanya diam saja, dia hanya menyaksikan Mamanya dan mantan kekasih Adiknya beradu mulut.
Pantas saja Nyonya Rita sangat marah, ternyata Maya mantan kekasih Ariel, dia sudah banyak menguras Ariel, dan yang lebih parahnya lagi, Maya meninggalkan Ariel dan memilih Bobi.
"Tapi Tante--" ucapan Maya terhenti karena Nyonya Rita segera menyahut.
"Tidak ada tapi-tapi, sekarang cepat pergi, jangan pernah bertemu dengan Anakku lagi, Deril tutup pintunya!" Ujar Nyonya Rita tegas.
Deril yang mendapat perintah dari Mamanya dia langsung menutup pintu, tidak peduli Maya masih berdiri didepan pintu.
Nafas nyonya Rita tersengal-sengal, sepertinya emosinya masih meluap. Deril mengusap kedua bahu Mamanya untuk menenangkan agar emosi Mamanya tidak meluap lagi.
Sementara dikampung, Ariel dan Fira masih dijalan, namun sudah dekat dengan kampungnya.
Angin berhembus sangat kencang, petir pun terdengar begitu menggema. Hujan tiba-tiba turun dengan begitu deras.
"Mas, hujannya sangat deras, petir juga, Fira takut petir, mas." Ujar Fira dengan suara terdengar sedang ketakutan.
Ariel tidak menjawab, dia langsung menepikan motornya di kios yang sudah tidak terpakai, karena kios itu tidak ada penjualnya lagi.
Ariel dan Fira duduk dikursi yang hampir roboh, karena tidak ada kursi lain, Ariel dan Fira duduk dikursi yang hampir roboh itu, kebetulan kursi itu muat dua orang.
Cahaya kilat masih bisa menerangi walaupun hujan begitu lebat, petir juga terdengar begitu menggema.
Disaat petir selanjutnya, Fira reflek langsung memeluk Ariel yang duduk disampingnya.
Kebetulan Empat motor juga menepi disana dengan 6 orang yang sedang pulang dari kebun.
"Apa yang kalian lakukan disini, kalian berbuat mesum ya?" teriak seseorang yang melihat Ariel dan Fira sedang berpelukan.
"Tidak Bang, kami hanya berteduh, ini Adik saya Bang, Saya baru saja menjemputnya pulang dari pondok pesantren." Ucap Ariel berkata yang sebenarnya.
"Kurang ajar, kalian mengotori kampung kamu." Ujar satu orang lagi sudah mengangkat tangan ingin menghajar Ariel.
"Jangan Bang, ini Kakak saya, kami disini hanya berteduh, kami tidak melakukan seperti yang Abang tuduhkan." Ujar Fira menahan tangan orang yang ingin memukul Ariel.
"Mana ada Adik Kakak berpelukan ditempat gelap seperti ini, kalian ingin membodohi kami." Ujar orang yang pertama kalau melihat Ariel dan Fira berpelukan.
"Benar Bang, kami tidak berbuat apa-apa, Adik saya takut petir, dia tadi reflek memeluk saya saat petir." Ariel mencoba menjelaskan pada Enam orang itu agar tidak salah faham.
"Kalau kalian Adik Kakak, coba tunjukkan KTP kalian!" ujar orang itu lagi.
Fira langsung mengeluarkan KTP nya, tangannya sudah gemetar Karen ketakutan.
Sudah takut pad petir, ditambah lagi dia dituduh berbuat mesum dengan Ariel.
"Mana KTP mu ?" tanya orang itu karena melihat Ariel tidak menunjukkan KTP nya.
"Saya tidak punya KTP Bang, KTP saya hilang." Ariel mencoba membohongi ke Enam orang itu.
KTP Ariel hilang pada saat dia dibunuh oleh kedua anak buah Bobi, dan saat Pak Imran menemukannya, Ariel sudah tidak punya identitas apapun.
"Alasan, meraka bukan Adik Kakak, dia mencoba membohongi kita, mereka pasti berbuat zina." Arak aja mereka keliling kampung." Ujar beberapa orang dari mereka.
"Benar, mereka sudah mengotori kampung kita, Arak aja, lagi pula hujan juga sudah reda." Ujar orang yang tadi ingin memukul Ariel.
Mendengar itu, Fira sudah gemetar, dia ketakutan kalau sampai di arak keliling kampung.
Fitra dengan ketakutan dia bersembunyi dibelakang Ariel, kedua tangannya sangat gemetar ketika memegang baju Ariel.
Ariel bisa merasakan ketakutan Fira, Ariel merasakan gemetarnya kedua tangan Fira saat memegang bajunya.
"Bang, sumpah, kami tidak melakukan apa yang kalian tuduhkan, kami hanya berteduh disini." Ariel mencoba menjelaskan lagi, berharap ke Enam orang itu percaya dan melepaskan mereka.
"Sudah tidak usah dengarkan mereka, mereka hanya beralasan agar tidak tertangkap, cepat arak mereka." Kelima orang itu sudah tidak sabar ingin mengarak Ariel dan Deril keliling kampung.
Orang yang sedang mengintimidasi Ariel dan Fira langsung meminta Ariel dan Fira keluar.
"Mas, aku takut, aku tidak mau diarak." Ujar Fira sudah menangis.
Ariel kasihan melihat Fira menangis dan ketakutan. " Kamu tenang saja, mas akan mencoba menjelaskan pada mereka." Ariel coba menenangkan Fira.
"Tarik aja mereka kalau tidak mau keluar!" titah seseorang diantara mereka.
Orang yang mengintimidasi Ariel dan Fira tadi hendak menarik tangan Ariel, namun terhenti karena suara seseorang.
"Berhenti..."
Bersambung.
Jdi g' sabar liat si ustad itu bungkam,,
Tpi g' pa" jga sich lo mereka nikah kn mereka bkan saudara kandung
Semoga cepat ktmu y kesel aq ma ustad sombong itu..Apa ariel y pemilik kebun yg baru itu..