Kabar Jerri kembali terdengar sampai ketelinga Zahira,mereka pernah berteman namun harus terpisah oleh jarak dan keyakinan,kabarnya Jerri sudah mualaf saat ini.
Apa ada kemungkinan mereka bertemu lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone pak Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Setelah Arya merasa lebih tenang,Jerri meninggalkannya karena harus kembali kekantor,dia khawatir Zahira menunggunya apalagi sekarang Aira bekerja ditempat yang sama meski dilantai berbeda.
Jerri masuk kedalam ruangan disambut Celine sekertarisnya,Martin masih sibuk dengan dengan tumpukan dokumen,sebentar lagi jam istirahat jadi dia sedikit mengejar karena berencana mengajak Safi makan diluar.
Jerri memanggil Zahira dengan menggunakan sambungan telepon,dia meminta untuk keruangannya.
"Iya Pak."sapa Zahira
"Keruanganku sekarang."kata Jerri
Zahira melihat arloji dipergelangan tangannya,karena waktu istirahat sebentar lagi dia membereskan mejanya,dan membuang sebagian sampah.
"Buru-buru amat,dapat panggilan ya?"tanya Safi
"Safi,ikut aku."ajak Martin
"Gak bisa,aku sibuk."kata Safi tetap fokus
"Ayo cepat."ajak Martin
"Ra,mejaku tolong beresin."kata Safi
Zahira menatap keduanya yang langsung menghilang dibalik tembok,dia membantu membereskan meja Safi meski ponselnya berdering beberapa kali,dia mencari waktu yang pas saat Celine keluar istirahat,baru dia masuk kedalam ruangan Jerri.
"Ngapain aja sih,lama banget."kata Jerri
"Aku sibuk Mas,ada apa sih?"tanya Zahira
"Pulang yuk."ajak Jerri
"Pulang?kamu sakit?"tanya Zahira
Jerri hanya mengangguk,hari ini rasanya ingin merebahkan tubuhnya dikamarnya tanpa diganggu,apalagi setelah mendengar Mamanya harus segera membayar utang dalam dua hari ini.
"Mas,kamu istirahat aja biar aku cari makan siang."kata Zahira
"Tidak,aku rasa kita pulang saja aku mau bicara sama Mama."kata Jerri
Zahira hanya mengikuti kata Jerri,karena melihat Jerri sedikit lelah dia memutuskan untuk menyetir mobil dan meminta Jerri duduk manis disampingnya.
Aira melihat keluar dari area parkir langsung menghadangnya,dia merentangkan kedua tangannya membuat beberapa orang yang berada didekatnya teriak.
"Eh,kamu jangan main-main!"bentak petugas keamanan
"Apa sih,itu mobil tunanganku gak mungkin dia menabrakku."kata Aira
"Tunangan!,jangan ngaco kamu jelas-jelas itu mobil Bos besar!"kata petugas yang lain
Karena melihat Aira sudah diamankan,Zahira kembali melaju dengan kecepatan sedang,namun setelah berbelok dia melaju lebih cepat,jujur dia merasa geram dengan tingkah Aira,jika saja Jerri benar-benar menikah dengannya maka Zahira sangat yakin dia akan semena-mena terhadap yang lain.
"Mas,kamu tidur?"tanya Zahira
"He hem."jawab Jerri
Melihat Jerri yang sedikit tidak memiliki semangat hari ini membuat Zahira mencari tempat untuk berhenti,sekedar ngobrol atau makan sesuatu mungkin akan membuat Jerri kembali semangat seperti sebelumnya.
"Mas,kita turun yuk."ajak Zahira
"Enggak sayang ,kita pulang saja aku mau ngomong langsung sama Mama."kata Jerri
Akhirnya Zahira kembali menghidupkan mesin dan melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah Jerri,suasana sepi karena jam kerja membuat pengamanan kembali diperketat.
Mobil berhenti digarasi dengan sempurna membuat Jerri membuka mata dan melepas sit belt yang melingkar,dia keluar dari mobil melangkah dengan gontai masuk kedalam rumah.
"Jerri,kamu pulang?"tanya Papa
"Mama mana Pa?"tanya Jerri
"Dibelakang."jawab Papa
Jerri berjalan menuju taman belakang rumah,terlihat Mama sedang duduk melamun didekat kolam ikan miliknya.Mama terlihat tidak mengurus dirinya kali ini,dia hanya memakai daster dan mengikat rambutnya keatas dengan berantakan.
"Mama,jangan melamun."kata Jerri duduk disebelahnya
"Kamu sudah pulang?"tanya Mama
"Bagaimana Mama akan mengatasinya?"tanya Jerri
"Kamu ini,gak bisa basa-basi sedikit."jawab Mama
Jerri tidak bertanya dua kali,pandangannya jauh kedermaga didepannya,banyak speedboat yang mengantri untuk sekedar keluar atau juga masuk area.
Lintang merasa anaknya sedang mengujinya,satu pertanyaan yang tidak bisa dia selesaikan dengan cepat.
"Perhiasan Mama masih kurang untuk bayar hutangnya."kata Lintang
"Apa Mama tahu berapa hutang kartu kerditku?"tanya Jerri
"Jerri,Mama harus gimana dong?"tanya Lintang
"Aku belum pernah memberikan apa-apa kepada Zahira,sementara orang lain berfoya-foya mempermainkan keuanganku."jawab Jerri
Jerri berdiri dia berjalan menuju jalan yang terbuat dari papan,masuk kedalam rumah kayu dan keluar dengan kostum yang berbeda.
Power boat menjadi pilihan saat ini karena pikirannya sedang suntuk,dia hanya butuh sedikit penyegaran pikiran,dan satu-satunya yang bisa membuatnya terhibur adalah wahana air.
Mama langsung masuk kembali kedalam rumah,dia khawatir dengan Jerri dan meminta Zahira menahannya.
"Zahira."panggil Mama
"Apa Ma?"tanya Zahira
"Jerri mau main kelaut,ayo cegah dia."jawab Lintang
"Biarin aja Ra,satu-satunya yang membuatnya terhibur hanya power boat."kata Papa
Zahira berlari kebelakang,melihat Jerri sudah berada diatas air hanya membuatnya terdiam apalagi Papa juga mendukungnya.Zahira hanya duduk ditepian jalan yang terbuat dari papan.
Didalam rumah Lintang justru merasa gelisah karena anak satu-satunya kembali main power boat setelah sekian lama meninggalkaan hobinya,bisa jadi balap mobil juga akan dia tekuni lagi.
"Pa,ayolah bujuk Jerri."kata Lintang
"Biarin aja,sudah ada Zahira disana."kata Papa
Setelah lelah menjelajahi air Jerri kembali dengan wajah lebih fresh,wajahnya memasang senyum kepada Zahira,setelah membereskan semua Jerri duduk dekat Zahira,meski sempat hening namun Jerri akhirnya angkat bicara.
"Ra,ada dua berita buruk.Apa kamu siap mendengarnya?"tanya Jerri
"Apa saja."jawab Zahira
"Tentang Arya dan Mama."kata Jerri.
"Langsung saja,jangan bertele-tele."kata Jerri
"Arya meninggalkan rumah karena menentang perjodohan,namun dia siap memulainya dari nol."kata Jerri
"Apa semua karena aku?"tanya Zahira
Jerri tidak menjawab karena dia juga merasa bersalah kepada Zahira,dia terlalu lama bersembunyi karena takut dengan perasaannya.Takut Zahira menolak karena perbedaan keyakinan sebelumnya,Jerri lebih dulu mendalami sebelum kembali bertemu dengan Zahira.
"Diammu sudah cukup menjadi jawaban Mas."kata Zahira
"Itu sebabnya aku siap membantunya jika dia membutuhkan dan nominalnya tidak sedikit."kata Jerri
"Apa orang tuanya terjerat hutang sebelumnya?"tanya Zahira
Jerri hanya mengangguk sambil berdiri kembali mengajak Zahira masuk kedalam rumah karena angin mulai kencang,Jerri masuk kedalam rumah kayu dan keluar lagi dengan membawa baju yang sebelumnya dia pakai.
"Biar aku yang bawa."kata Zahira menawarkan diri
"Mama juga terjerat hutang,sepertinya kita belum bisa pindah kerumah baru."kata Jerri
"Sudahlah,tinggal disini juga tidak apa-apa."kata Zahira
"Kamu benar,kita juga bisa sesekali menginap dirumahmu."kata Jerri
"Aku gak mau."kata Zahira
"Kenapa?bukan Ayah dan Bunda mengijinkan?"tanya Jerri
"Suara jeritan malammu itu cukup menganggu mereka tahu."kata Zahira sambil berjalan meninggalkan Jerri
Jerri tersenyum melihat Zahira malu-malu,wajahnya bertambah ayu saat kedua pipinya memerah.Jerri mengejar Zahira,dia sedikit berlari namun Zahira keburu masuk kedalam kamar.