Alvin Moor seorang menantu laki - laki yang tidak berguna.
Alvin yang harusnya menjadi tulang punggung, dia malah menjadi tulang rusuk.
Istrinya Jeni Su merupakan seorang Wanita karir.
Mereka berdua menikah karena saling mencintai, tapi karena Alvin tidak bekerja layaknya seorang suami pada umumnya, dia dihina terus menerus oleh mertuanya.
Cacian dan Makian sudah menjadi makanan sehari - hari Alvin.
dia tetap bertahan karena dia sangat mencintai Jeni Su.
Tapi ada kalanya Jeni juga merasa jengah dengan Alvin akibat omongan keluarganya yang selalu membanding - bandingkan Alvin dengan menantu yanga lainnya.
Karena pendidikan Alvin sangat rendah, dia tidak bisa mencari pekerjaan yang memiliki gaji tinggi.
Akibatnya Jeni hampir saja menceraikan Alvin karena tergiur dengan ucapan orang tuanya yang mengenalkan dia dengan seorang taipan.
Tapi pada saat Alvin berada di titik terendah, tiba - tiba anugrah System Cek in masuk dalam tubuhnya.
Akankah Jeni menceraikan Alvin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alveandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mendengarkan Cerita Latisa
Alvin membawa Latisa ke Mansionnya, karena dia ingin banyak bercerita tentang kehidupannya setelah lama tidak bertemu.
Ketika Mobil sampai di Mansion Gran Luv, betapa terkejutnya Latisa. Ia menutup mulutnya tidak percaya jika Mansion terbesar di kota Andalas merupakan milik Alvin.
Mobil berhenti ketika sudah ada didepan pintu Mansion. Alvin, Jeni dan Latisa turun dari Mobil.
" Astaga Alvin !, i..ini Rumah kamu ?" Latisa sangat tidak menyangka jika Alvin pemilik Mansion Grand Luv. Pasalnya ia mengira jika taipan luar negeri lah pemiliknya.
Alvin tersenyum " begitulah, Ayo masuk !"
Jeni terus menerus merangkul lengan Alvin. Ia seolah ingin menekankan jika dirinyalah pemilik Alvin.
Latisa hanya bisa menghela napas panjang. Ia tidak menyangka jika Alvin punya istri yang Posesif. Padahal istri Alvin sangat cantik.
Mereka bertiga kemudian memasuki Mansion, belanjaan mereka di bawa masuk oleh Wiliam. Sementara belanjaan Latisa di tengteng di tangannya.
" Selamat datang tuan Moor !" Rudi yang kebetulan sedang berjalan di Aula berpappasan dengan Alvin.
Alvin mengangguk " Rudi, bikinkan minuman untuk tamuku !"
" Baik Tuan !" Rudi membungkuk hormat dan pergi.
Alvin mengajak Latisa untuk ke ruang tamu, Latisa sangat kagum dengan Mansion milik Alvin. Ia tidak henti - hentinya melontarkan pujian pada Alvin.
Mereka bertiga kemudian duduk di sofa ruang tamu, Jeni terus saja merangkul Alvin. Ia seperti Bayi Monyet saja yang terus menempel pada induknya.
Alvin merasa ada yang aneh dengan istrinya, karena semenjak pulang di supermarket, Jeni terus merangkul lengannya hingga sekarang.
" Sayang lepas dulu, tidak enak ada tamu " Alvin berusaha melepaskan rangkulan Jeni.
Jeni menggembungkan pipinya dan menjawab dengan ketus " kenapa ?, kamu tidak mau ya aku terlihat mesra di hadapannya !"
Awalnya Jeni ingin bersabar, tapi dia tidak tahan. Pasalnya Latisa begitu Montok takutnya Alvin akan terpesona dengannya.
Alvin mengerutkan keningnya " apa maksudmu sayang ?, aku sudah menganggap Latisa seperti saudaraku sendiri, aku dan dia tidak mungkin saling menyukai, benarkan Latisa ?"
Latisa tersenyum " Alvin benar, kami hanya teman saja Nona Su "
Jeni masih tidak percaya dengan Latisa, Tapi dia akhirnya mau melepaskan rangkualannya pada Alvin.
Pelayan datang membawa minuman dan Camilan untuk mereka bertiga. Setelah pelayan pergi mereka lanjut mengobrol.
" Latisa, sekarang kamu kerja dimana ?, atau sudah memiliki usaha sendiri ?" tanya Alvin lembut.
Wajah Latisa tiba - tiba berubah menjadi sedih ketika Alvin menanyakan pekerjaannya, dia menghela napas berat dan menjawab " aku sudah tidak kerja selama tiga bulan, gara - gara Bosku yang dulu memasukkan aku dalam daftar hitam jadi aku susah mencari pekerjaan. Ini saja aku lagi nyari kerja tapi selalu di Tolak "
Alasan Latisa di pecat karena hal sepele, karena dia tidak mau melayani Bosnya di kamar. Ia langsung di pecat dan masuk dalam daftar hitam.
Latisa yang Notabenya hanya Wanita kelas menengah, Ia tidak bisa apa - apa, teman - temannya juga tidak ada yang bisa membantunya. Karena mereka tidak mau bernasib sama dengan Latisa.
Alvin mengerutkan keningnya " Masuk daftar hitam, apa maksud kamu ?"
Jeni yang dari tadi diam buka suara " mungkin dia telah melakukan kesalahan fatal sayang "
" Tidak mungkin sayang, aku tahu Latisa seperti apa, dia orang yang profesional !, pekerjaannya juga bagus !, Latisa ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi dan siapa yang berani memasukkan kamu ke daftar hitam !" Alvin berbicara dengan serius.
Jeni semakin merajuk karena Alvin terus membela Latisa. Ia menyilangkan tangannya di depan dada dan bersender di sofa sambil menggembungkan pipinya.
Latisa ragu untuk berbicara. Tapi melihat wajah serius Alvin, dia ingin bercerita karena siapa tahu Alvin dapat membantunya.
Latisa menarik napas dalam - dalam dan membuangnya, dia kemudian bercerita " Aku dulu bekerja di perusahaan Cabang Matrix Capital, Disana aku sebagai manajer umum. Selama dua tahun aku bekerja disana semuanya baik - baik saja. Masalah timbul ketika anak CEO perusahaan datang kesana "
Latisa dia sebentar, kemudian melanjutkan " pertemuanku dengannya aku kira biasa - biasa saja. Aku pikir anak CEO tidak memperhatikanku. Akhirnya hari dimana anak CEO itu mulai mengutarakan maksudnya, dia ingin membawaku berkencan dan menyuruhku untuk tidur bersamanya. Tentu saja aku menolak, Tapi nasib orang - orang sepertiku memang tidak ada yang peduli. Anak CEO langsung melaporkan kejadian itu pada Ayahnya dan akhirnya aku jadi seperti ini !"
Air mata Latisa mulai menetes keluar, tapi ia lekas menghapusnya, karena Latisa tidak mau membuat Alvin terlibat.
Tapi sayannya Alvin sudah terlanjur marah ketika mendengar ceritanya. Wajahnya menggelap seolah ingin membunuh orang saja.
" Siapa nama CEO itu ?!" tanya Alvin dengan dingin.
Latisa menggeleng " sudahlah Alvin, aku tidak apa - apa, lebih baik kamu jangan terlibat dengannya. Dia pria yang berbahaya !"
Alvin mendengus kesal " beritahu saja !, akan kuberi pelajaran orang yang berani menyentuh saudaraku !".
Melihat keseriusan Alvin, Latisa akhirnya buka suara " George Weah pemilik weah grup. Anaknya bernama Joaquin Weah, Mereka yang membuat aku seperti sekarang ini.
Alvin menggertakkan giginya " Kamu tenang saja akan kubereskan mereka berdua. ngomong - ngomong apa kamu mau kerja di perusahaan ku gak ?"
" Perusahaan kamu ?" Tanya Latisa penasaran.
Alvin menganggukkan kepalanya " iyah diperusahaanku, aku akan menjamin semua kebutuhanmu akan terpenuhi dan yang lebih penting disana tidak ada yang akan mengganggumu lagi "
Alvin sebenarnya sangat marah. Dia ingin secepatnya membuang orang brengsek di perusahaannya tersebut.
Ia sudah tidak mau lagi menjadi orang yang naif. Jika orang - orang terdekatnya ada yang mengusik. Alvin akan lanfsung memberikan mereka pelajaran !.
kesya katanya org system, kok ketakutan?