Kenji Arashi terbangun di dunia One Piece setelah kematian yang tak masuk akal.
Tanpa sistem, tanpa takdir istimewa, ia justru mendapatkan Buah Iblis Web Web no Mi—kekuatan jaring laba-laba yang memberinya refleks, insting, dan mobilitas layaknya Spiderman.
Di lautan penuh monster, bajak laut, dan pemerintah dunia, Kenji memilih jalan berbahaya: bergabung sebagai kru resmi Topi Jerami, bertarung di garis depan, dan tumbuh bersama Luffy dari awal hingga akhir perjalanan.
Di antara jaring, Haki, dan takdir laut, satu hal pasti—
legenda baru saja di mulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Akhir dan Awal
Mata tuaku yang redup menatap langit malam yang gelap. Tubuhku yang rapuh terbaring di ranjang rumah sakit, dikelilingi mesin-mesin medis yang berbunyi monoton. Usiaku sudah 87 tahun, dan aku tahu ini adalah akhir.
"Seandainya... seandainya aku bisa hidup sekali lagi..." gumamku pelan, suaraku serak dan hampir tak terdengar.
Aku menghabiskan seluruh hidupku sebagai penggemar One Piece. Setiap episode, setiap chapter manga, setiap teori—aku menelan semuanya dengan rakus. Bahkan di hari-hari terakhirku ini, tablet di samping tempat tidurku masih menampilkan halaman wiki One Piece.
Nafasku semakin berat. Pandanganku mulai kabur.
Dan kemudian... kegelapan.
Sensasi aneh menyelimutiku. Seperti jatuh, tapi juga seperti terbang. Kesadaranku melayang-layang dalam kehampaan yang tak berujung. Berapa lama? Detik? Tahun? Aku tak tahu.
Tiba-tiba, cahaya terang menyilaukan mataku.
"Nghh!" Aku membuka mata, terkejut merasakan kekuatan di tubuhku. Tanganku—tanganku muda! Kulitnya mulus tanpa keriput, berotot tapi ramping.
Aku langsung bangkit dan melihat sekelilingku. Aku berada di pantai berpasir putih. Pohon kelapa bergoyang tertiup angin. Suara ombak memecah di karang. Dan yang paling mengejutkan—aku mengenakan celana compang-camping dan tidak memakai baju.
"Apa... apa yang terjadi?" Aku memeriksa tubuhku. Ini bukan tubuh tua berusia 87 tahun. Ini tubuh remaja! Kulitku kecoklatan, ototku kencang, dan yang paling penting—aku bisa merasakan energi mengalir di seluruh tubuhku.
Aku berlari ke tepi pantai dan melihat pantulanku di air yang jernih. Wajah muda menatapku kembali. Rambut hitam berantakan, mata tajam, dan wajah yang asing tapi entah kenapa terasa familiar.
"Aku... berusia berapa?" Aku menyentuh wajahku sendiri. Berdasarkan penampilanku, aku sepertinya berusia sekitar 15 tahun.
Tiba-tiba, memori asing mengalir ke kepalaku. Bukan memoriku yang lama—ini memori baru. Memori dari tubuh ini.
Namaku Kenji. Aku tinggal sendirian di pulau terpencil ini sejak orang tuaku meninggal setahun yang lalu karena penyakit. Pulau ini bernama Pulau Kumo, sebuah pulau kecil yang jarang dikunjungi kapal dagang. Penduduknya hanya sekitar 50 orang, kebanyakan nelayan dan petani.
"Jadi... aku benar-benar direinkarnasi?" Aku tersenyum lebar. "Ke dunia One Piece?"
Hatiku berdebar kencang. Ini mimpi yang menjadi kenyataan! Tapi tunggu—di timeline mana aku berada sekarang? Apakah Luffy sudah berlayar? Apakah Ace sudah...
Aku menggeleng. Tidak ada gunanya panik. Yang penting sekarang adalah mencari tahu lebih banyak tentang situasiku.
Aku berjalan menyusuri pantai, menikmati sensasi pasir hangat di kakiku. Tubuh mudaku terasa luar biasa. Tidak ada rasa sakit, tidak ada kelelahan kronis. Aku bisa berlari, melompat, bergerak dengan bebas.
Saat melewati hutan kecil di tepi pantai, aku melihat sesuatu yang aneh. Sebuah buah dengan pola pusaran spiral berwarna ungu gelap dengan bintik-bintik putih seperti mata laba-laba tergeletak di bawah pohon.
Langkahku terhenti.
"Tidak mungkin..."
Aku pernah melihat buku bergambar Buah Iblis di memoriku yang lama. Dan buah ini... polanya sangat khas.
Dengan tangan gemetar, aku mengambil buah itu. Teksturnya aneh, seperti kulit yang bersisik halus. Aromanya... tidak sedap.
"Ini benar-benar Buah Iblis?" Aku memutar buah itu di tanganku. "Tapi jenis apa?"
Pengetahuanku tentang One Piece mengatakan bahwa tidak ada cara pasti untuk mengetahui jenis Buah Iblis kecuali memakannya atau mencocokkannya dengan ensiklopedia Buah Iblis.
Aku menatap buah itu lama. Ini keputusan besar. Jika aku memakannya, aku akan mendapatkan kekuatan tapi tidak bisa berenang selamanya. Di dunia yang 90% terdiri dari lautan, itu kerugian besar.
Tapi... jika aku ingin bertahan hidup, jika aku ingin berpetualang, jika aku ingin bergabung dengan Kru Topi Jerami suatu hari nanti—aku butuh kekuatan.
"Yosh!" Aku menggigit buah itu dengan mantap.
Rasa terburuk yang pernah aku alami meledak di mulutku. Seperti memakan sampah busuk yang dicampur dengan lumpur dan ditaburi garam berlebihan. Aku hampir muntah, tapi aku memaksakan diri menelannya.
Satu gigitan sudah cukup untuk mendapatkan kekuatan Buah Iblis, tapi entah kenapa aku merasa harus menghabiskannya. Mungkin karena rasa hormat terhadap kekuatan yang akan aku terima.
Setelah gigitan terakhir, aku langsung berlutut, mencoba menahan rasa mual.
Dan kemudian... itu terjadi.
Sensasi aneh menjalar dari perutku ke seluruh tubuh. Seperti ada sesuatu yang bangun di dalam diriku. Energi asing tapi entah kenapa terasa alami mengalir di pembuluh darahku.
Aku mengangkat tanganku dan secara instingtif, aku merasakan sesuatu. Dengan gerakan spontan, aku mengarahkan pergelangan tanganku ke pohon terdekat.
THWIP!
Jaring putih keperakan melesat dari pergelangan tanganku dan menempel di pohon!
"WHOA!" Aku terkejut dan refleks menarik tangan. Jaringnya mengikuti gerakanku, mengencang dan hampir menarikku ke depan.
Aku melepaskan jaring itu dan menatap tanganku dengan mata terbelalak. "Ini... ini Spider Fruit!"
Kegembiraan meluap di dadaku. Dari semua Buah Iblis yang mungkin kudapat, aku mendapatkan yang satu ini! Buah yang memberikan kekuatan laba-laba!
Aku langsung bereksperimen. Aku menembakkan jaring ke berbagai arah. Ke pohon, ke batu, ke udara. Jaringnya keluar tanpa henti, tidak ada batasan seperti yang aku khawatirkan. Dan yang lebih menakjubkan—aku bisa merasakan jaring yang sudah aku tembakkan, seperti perpanjangan dari tubuhku sendiri.
"Luar biasa!" Aku tertawa. "Ini seperti Spider-Man tapi versi One Piece!"
Aku mencoba hal lain. Aku menembakkan jaring ke cabang pohon tinggi, lalu menarik diriku ke atas. Tubuhku melayang dan mendarat dengan sempurna di cabang. Keseimbanganku luar biasa—aku bisa berdiri di cabang tipis tanpa goyah.
Tapi ada yang lebih dari itu. Saat aku berdiri di cabang pohon, tiba-tiba aku merasakan sensasi aneh—seperti peringatan di bagian belakang kepalaku.
WUSH!
Aku refleks melompat ke samping. Seekor burung besar terbang melewati tempat aku berdiri barusan, cakarnya yang tajam hampir mengenai kepalaku.
"Spider Sense!" Aku mendarat di cabang lain dengan sempurna. "Aku punya Spider Sense!"
Ini lebih dari yang aku harapkan. Tidak hanya jaring dan kemampuan fisik laba-laba, tapi juga insting bahaya yang legendaris itu!
Aku menghabiskan beberapa jam berikutnya berlatih. Aku melompat dari pohon ke pohon, menembakkan jaring untuk berayun, menciptakan jaring penangkap, bahkan membuat jembatan jaring sederhana.
Kekuatan fisikku juga meningkat drastis. Aku bisa mengangkat batu seberat mungkin 200 kilogram dengan satu tangan. Kecepatanku luar biasa—aku bisa berlari lebih cepat dari kuda. Dan refleksku... bahkan sebelum bahaya datang, tubuhku sudah memberi peringatan.
Saat matahari mulai terbenam, aku duduk di tepi pantai, menatap cakrawala. Hatiku penuh dengan tekad.
"Aku direinkarnasi ke dunia One Piece dengan kekuatan Spider Fruit," gumamku. "Ini bukan kebetulan. Ini kesempatan kedua."
Aku sudah tahu apa yang harus kulakukan. Aku harus menjadi lebih kuat. Aku harus berlatih menguasai kekuatanku. Dan yang paling penting—aku harus menemukan Monkey D. Luffy dan bergabung dengan Kru Topi Jerami.
Tapi itu nanti. Sekarang, aku harus fokus pada hal yang paling mendasar: bertahan hidup dan menguasai kekuatanku.
Aku berdiri dan merentangkan tangan. Jaring melesat dari kedua pergelangan tanganku, membentuk pola seperti jaring laba-laba raksasa di antara dua pohon kelapa.
"Spider Fruit.." Aku tersenyum. "Mari kita lihat seberapa jauh kau bisa membawaku."