NovelToon NovelToon
Titisan Dewi Sri Yang Dibuang Ayahnya

Titisan Dewi Sri Yang Dibuang Ayahnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Kontras Takdir / Anak Genius / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Mata Batin / Fantasi Wanita
Popularitas:16.8k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Dibuang karena bukan anak laki-laki, Sulastri dicap aib keluarga, lemah, sakit-sakitan, tak diinginkan.

Tak seorang pun tahu, dalam nadinya berdenyut kuasa Dewi Sri, sang Dewi Kehidupan. Setiap air matanya melayukan keserakahan, setiap langkah kecilnya menghidupkan tanah yang mati.

Saat ayahnya memilih ambisi dan menyingkirkan darah dagingnya sendiri, roda takdir pun mulai berputar.

Karena siapa pun yang membuang berkah, tak akan luput dari kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mereka Menumbalkan Anakku

Kang Jaka menatap tumpukan ikan yang menggelepar di tanah becek itu. Matanya berbinar, seolah melihat tumpukan uang merah, bukan sekadar ikan mas dan mujair.

Tanpa banyak bicara, lelaki itu menyambar cangkul kecil. Dengan cekatan, ia menggali lubang di tanah gembur pinggir sungai, mengalirkan sedikit air parit, dan voila! Kolam penampungan darurat pun jadi.

"Tapi Kang, ikan segini banyaknya mana kuat kita panggul pulang semua?" Mira Utami, istrinya, memandang empat bakul besar yang penuh sesak dengan wajah cemas campur takjub.

"Ini ada kali setengah kuintal."

"Kita gelar lapak di sini saja, Mir. Jual murah, asal laku. Sisain satu bakul saja buat lauk di rumah," sahut Kang Jaka santai sambil menyeka keringat.

Logikanya sederhana: daripada punggung patah, mending kantong tebal.

"Ide bagus! Ayo pindahin ke kubangan biar tetap hidup," ajak Mira semangat.

Kinar Hidayat, yang sejak tadi diam terharu, segera ikut membantu. Namun, sebelum orang dewasa berteriak, suara kecil nan merdu sudah lebih dulu memecah udara sore.

"Bapak-bapak! Ibu-ibu! Ayo beli ikannya! Ikan segar, baru mentas dari kali! Dijamin manis dagingnya!"

Itu suara Sulastri. Gadis kecil itu berdiri di atas batu kali, tangannya membentuk corong di depan mulut.

Aneh. Suaranya tidak keras, tapi gemanya seolah terbawa angin, terdengar jernih sampai ke telinga para petani di sawah seberang.

Saat Sulastri berteriak, air di kubangan beriak tenang, seolah ikan-ikan itu menari menyambut suaranya.

Rumput liar yang terinjak kakinya perlahan tegak kembali dan menghijau segar, sebuah detail kecil yang luput dari pandangan mata orang biasa.

Warga desa berbondong-bondong datang.

"Walah, itu kan suaranya cucu Abah Kosasih? Kok bisa dapat ikan segunung gitu?"

"Buset, itu ikan apa batu kali? Banyak amat!"

Dalam hitungan menit, pinggir kali itu berubah jadi pasar kaget. Kang Jaka tersenyum lebar sampai gusi kering.

"Sepuluh ribu ambil satu ekor yang gede, Mas! Murah meriah, ini beratnya lebih dari sekilo!"

Rezeki memang tak ke mana. Tiga bakul penuh, ratusan ekor ludes secepat kilat.

Anehnya, warga lain yang iri mencoba ikut menjala di hilir, tapi jala mereka kosong melompong.

Ikan-ikan itu sepertinya hanya mau berkumpul di titik tempat Sulastri berdiri tadi.

"Kang, itu yang di ember dekat Si Nduk Lastri dijual nggak?" tanya seorang warga yang kehabisan.

Kang Jaka menggeleng tegas, melindungi ember terakhir. "Wah, kalau itu jatah dapur, Pak. Buat dimasak nanti malam!"

Matahari mulai tergelincir turun, menyisakan semburat jingga di langit desa saat rombongan kecil itu berjalan pulang.

Kinar menggendong Sulastri yang tertidur pulas di punggungnya. Di belakang mereka, sisa-sisa warga masih bergunjing.

"Gila ya, hoki banget keluarga Abah Kosasih. Kayaknya ikan se-bendungan pindah ke jala mereka semua."

"Katanya si Kinar itu diusir suaminya karena bawa sial. Kok dilihat-lihat malah bawa hoki?"

"Halah, siapa tahu justru si Kinar itu 'jimat' yang dibuang. Tuh lihat, mantan suaminya yang pejabat itu, dulu sebelum nikah sama Kinar kan cuma kroco."

"Begitu sukses, istri tua ditendang. Kualat itu nanti."

Sesampainya di rumah panggung kayu milik Abah Kosasih, suasana langsung riuh. Sulastri terbangun saat aroma bawang putih, kunyit, dan ketumbar yang digoreng menyapa hidungnya.

"Lastri, Nduk. Bantuin Budhe Mira nyicipin yuyu goreng ya. Kalau enak, suapin Pakdhe Jaka," goda Kang Jaka yang sedang membersihkan sisik ikan di halaman belakang.

Abah Kosasih yang sedang mengasah pisau dapur tertawa kekeh. "Halah, bilang aja kamu yang mau disuapin, Jak. Pakai alasan nyuruh anak kecil."

Malam itu, meja makan sederhana beralaskan tikar pandan itu penuh dengan hidangan istimewa. Ikan mas bumbu kuning, yuyu goreng kriuk, dan sambal terasi dadakan.

Sulastri dengan telaten menyuapi keluarganya satu per satu dengan potongan yuyu goreng.

"Mbah Uti, aaaa..."

"Abah Kung, aaaa..."

"Budhe Mira, aaaa..."

Abah Kosasih mengunyah pelan, lalu meringis jenaka. "Waduh, gigiku yang ompong nyerah, Nduk. Keras bener."

Kang Jaka langsung menyambar, "Sini buat Pakdhe aja! Gigi Pakdhe setajam silet!" Gelak tawa pecah di ruang tengah itu, hangat dan tulus.

Kinar menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca. Di rumah gedongan suaminya dulu, makan malam adalah ritual kaku yang penuh aturan.

Di sini, makan malam adalah perayaan.

"Ibu, masakan Ibu paling enak sedunia," celetuk Sulastri dengan mulut belepotan kuah kuning.

"Kalau Lastri suka, Ibu masakin tiap hari," jawab Kinar lembut.

Setelah makan malam, Kang Jaka menumpahkan uang hasil penjualan ikan di atas tikar. Recehan dan uang kertas kumal berhamburan.

"Mak, ini hasil hari ini. Hampir empat ratus ribu!" lapor Kang Jaka tak percaya. Cuma modal bubu seadanya dan tenaga, dapat uang segitu dalam dua jam.

Ia menyodorkan uang itu pada Kinar. "Ini rezeki Lastri dan Teh Kinar."

"Nggak usah, Kang. Aku kan cuma nonton," tolak Kinar.

"Nggak bisa gitu, Kinar!" potong Mira tegas. "Kalau nggak ada kamu sama Lastri, mana mungkin kita dapat segini? Biasanya paling cuma dapat sekilo."

"Oh iya! Aku baru ingat. Tadi siang Lastri bilang 'nggak usah beli ikan'. Kirain dia nggak doyan, ternyata maksudnya dia tahu kita bakal dapat ikan gratis!"

Tiba-tiba, tawa di ruangan itu senyap.

"Tunggu sebentar," suara bariton Abah Kosasih memotong.

Wajah tua yang penuh guratan itu kini serius. Suasana mendadak hening. Abah menatap putrinya lekat.

"Kinar... dulu waktu masih di kota, sering kejadian begini?"

Kinar terdiam, wajahnya memucat. Ia mengangguk pelan. "Sering, Bah. Setiap Lastri ngomong sesuatu yang baik, besoknya bisnis Mas Suryo lancar jaya."

"Atau kalau dia bilang 'jangan', dan dilanggar, pasti rugi. Mas Suryo dan ibunya selalu memaksa Lastri ngucapin doa-doa keberuntungan."

Abah Kosasih menghela napas panjang, asap rokok klobotnya mengepul berat.

"Orang tua dulu bilang," suara Abah merendah, "Anak seperti Lastri ini titisan. Dia bawa sawab besar, imbalan spiritual."

"Tapi Gusti Allah itu Maha Adil. Rezeki nomplok yang datang tiba-tiba itu nggak gratis. Itu narik energi."

"Kalau dipaksa terus mengeluarkan keberuntungan buat orang lain, nyawanya yang kegerus."

Deg.

Jantung Kinar serasa berhenti. Ia teringat betapa seringnya Sulastri sakit demam tinggi tanpa sebab setiap kali Suryo mendapatkan proyek besar setelah "meminta doa" pada anaknya.

"Pantesan..." Kinar menutup mulutnya, menahan isak tangis. "Pantesan Lastri sering sakit-sakitan di sana. Mereka... mereka menumbalkan anakku."

Sulastri yang duduk di pojokan menatap wajah-wajah cemas itu. Ia merasakan aura kesedihan yang pekat.

Padahal ia baik-baik saja sekarang. Sejak menginjakkan kaki di tanah desa leluhur ibunya, ia merasa bumi memberinya tenaga, bukan menyedotnya.

"Mulai sekarang," titah Abah Kosasih tegas, matanya menatap tajam ke setiap anggota keluarga, "Jangan pernah minta Lastri meramal atau mendoakan kekayaan."

"Biarkan dia jadi anak kecil biasa. Kita kerja pakai otot dan keringat sendiri."

"Rezeki yang berkah itu yang dicari sendiri, bukan yang diperas dari darah daging sendiri."

Kang Jaka dan Mira mengangguk takzim. Ada rasa malu menyelinap di hati Mira.

"Maaf ya, Lastri," Mira memeluk keponakannya itu erat, matanya basah. "Budhe kemarin sempet minta didoain punya anak. Budhe nggak tahu kalau itu bahaya buat kamu..."

Saat Mira memeluk Sulastri, gadis kecil itu merasakan kehangatan di perut tantenya. Ada denyut kehidupan yang sangat lemah di sana, baru saja bersemi.

Tanpa sadar, tangan mungil Sulastri mengusap punggung tantenya. Seketika, tanaman pot di pojok ruangan yang sudah kering kerontang, mendadak memunculkan kuncup hijau kecil.

"Budhe jangan nangis," bisik Sulastri polos. "Budhe kan emang bakal punya dedek bayi. Lastri nggak capek kok. Lastri sayang Budhe."

"Udah, udah," potong Kinar, menghapus air matanya. "Yang penting sekarang kita tahu. Kita jaga Lastri sama-sama."

Malam semakin larut. Sulastri mulai menguap, matanya berat sekali. Ia tertidur di pangkuan ibunya dengan hati hangat.

Keesokan harinya, matahari bersinar cerah.

Ikan asin yang dijemur di tampah bambu menebarkan aroma khas desa. Kinar dan Mira duduk di balai-balai, sedang menjahit baju bekas agar pas dipakai Sulastri.

Sulastri sendiri sedang jongkok di tanah, bermain dengan semut.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan di pintu pagar bambu membuyarkan ketenangan pagi.

Kinar bangkit membuka pintu. Seorang gadis muda dengan dandanan agak menor untuk ukuran desa berdiri di sana.

Bedaknya tebal, alisnya digambar tinggi melengkung.

"Cari siapa, Mbak?" tanya Kinar sopan.

Gadis itu, Siska, sepupu jauh Mira dari kampung sebelah, menatap Kinar dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Tatapan matanya seperti kalkulator yang sedang menghitung harga baju yang dipakai Kinar.

"Lho, ini rumah Kang Jaka kan? Kamu siapa?" Siska bertanya ketus, lalu matanya membelalak curiga.

"Jangan-jangan kamu istri muda Kang Jaka ya?"

Kinar mengernyit. Belum sempat menjawab, Mira sudah muncul dari belakang.

"Eh, Siska. Tumben main pagi-pagi," sapa Mira datar. Ia tahu tabiat sepupunya ini: datang kalau ada maunya, atau kalau mencium bau uang.

"Mbak Mira!" Siska langsung nyelonong masuk, mengapit lengan Mira sok akrab. "Kangen nih aku. Eh, ini siapa sih Mbak? Cantik bener, tapi kok kayak orang susah?"

"Ini Kinar, adik iparku. Adiknya Kang Jaka," jelas Mira.

Mata Siska langsung berbinar licik. "Oh... Mbak Kinar yang janda kaya raya dari kota itu ya? Yang katanya dapat gono-gini ratusan juta?"

Desas-desus memang cepat menyebar. Siska menatap Kinar seolah melihat brankas berjalan.

"Panggil aja Mbak Kinar," jawab Kinar singkat, tak nyaman dengan tatapan lapar gadis itu.

Mata Siska kemudian beralih ke pojokan halaman, tempat Sulastri jongkok. "Itu anaknya ya? Kurus banget. Tapi denger-denger..."

Siska memelankan suara, "...katanya dia punya 'pegangan' ya? Kemarin warga heboh soal ikan."

Kinar dan Mira saling pandang. Naluri mereka langsung waspada. Tamu tak diundang ini membawa masalah.

Sulastri menoleh, menatap Siska dengan tatapan polos namun tajam. Angin mendadak bertiup dingin, membuat Siska merinding seketika.

1
mom SRA
mengikuti alur nya dr awal upah segitu untuk buruh tani kemahalan Thor..itu upah buruh tani di desaku sekarang
Lala Kusumah
😭😭😭😭😭😭
Enah Siti
suami edan pngen ku baco tu suryo 😡😡😡😡😡😡😡
gina altira
untung Abahnya Tari itu pinter, cerdas dan bijaksana
gina altira
dibikin lumpuh aja si suryo ini
gina altira
Suryo pengecut
Ebhot Dinni
ayo semangat kinar
Allea
ka Author aku boleh titip nanya ga ma Tari tolong terawang anting2 dan gelang aku keselip apa ada yg ambil soalnya raib dari tempatnya 😁
Allea: paham ka
ke 1 9,900
ke 2 99.000
ke 3 999.000 kan y 🤭
total 2 replies
Kusii Yaati
kasian keluarga kinar, mantan suami tak tahu diri itu ngusik terus.nggak ada yang belain.kirimkan pahlawan yang bisa membantu dan melindungi kinar dan keluarganya Thor 😟
Sribundanya Gifran
lanjut
Aretha Shanum
bingung ko ga kelar2 tuh si suryo ma antek2, pdhal karna udah jalan y tpi ga sadar2, malsh makin jadi, jangan stak alurnya nanti bosen🙏
Pawon Ana
pada masa lampau banyak orang2 yang Waskita karena hati mereka bersih,sekarang mencari orang benar2 berhati bersih seperti mencari jarum ditumpukan jerami 😔
Sribundanya Gifran
lanjut thor
mom SRA
baru mampir..bagus bgt ini...
Lili Aksara
Bagus sekali cerita ini, suka banget deh, udah gitu sering update.
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Pawon Ana
membaca ceritamu sambil flashback kenangan masa lampau, dulu dibelakang rumah bapak jug nanam buah juwet yng rasnya asem2 sepet tapi kadang juga ada rasa manisnya,ada juga buah salam.✌️🤭
Pawon Ana: wayang kakak bukan walang kekek🤭
ditempatku ada yng namanya suket teki,suketnya panjang cuma satu tangkai,sama anak2 biasanya dibentuk serupa wayang buat mainn🤭✌️
total 4 replies
🌸nofa🌸
Asli ketawa ngakak🤣🤣
Lili Aksara
Tari, ancurin aja lah tuh pak Halim, udah salah juga, tapi masih bilang tapi kan dia nggak tahu rumah kita.
Lala Kusumah
lanjuuuuuuuuut, tambah seruuuuu nih, semangat sehat ya 💪💪🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!