NovelToon NovelToon
Harmoni Lembah Biru "Kazumi Flora"

Harmoni Lembah Biru "Kazumi Flora"

Status: tamat
Genre:Romansa / Fantasi Wanita / Tamat
Popularitas:46
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Namaku Kazumi Flora. Dengan tinggi 154 cm, aku mungkin tampak mungil di tengah megahnya Lembah Biru, namun jiwaku seluas dan sedalam danau ini. Sejak kecil, alam adalah rumahku, dan bunga-bunga adalah sahabatku. Setiap helai kelopak, setiap hembusan angin, dan setiap riak air danau menyimpan cerita yang tak pernah usai aku dengarkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 18

Aku tersenyum kecil melihat bayangan Kaelen yang perlahan menghilang di balik keremangan malam, lalu berbalik menyeret koperku menuju lift asrama. Namun, baru saja aku melangkah di lorong lantai tiga, seseorang menepuk bahuku dengan ceria.

​"Hay! Kamu mahasiswa baru ya? Kenalin, nama aku Salsa!"

​Aku terlonjak sedikit karena kaget. Di depanku berdiri seorang gadis dengan rambut dikuncir kuda dan senyum yang sangat lebar. Ia membawa beberapa kantong camilan dan tampak sangat energik.

​"Eh, iya. Aku Kazumi," jawabku sambil menjabat tangannya yang terasa hangat.

​"Wah, kita sepertinya searah! Kamar kamu nomor berapa? Aku di 305," cerocosnya tanpa henti.

​"Aku di 304. Bertetangga ternyata," balasku mulai merasa nyaman. Salsa ini tipikal orang yang sangat mudah bergaul, berbanding terbalik denganku yang sedikit pendiam.

​Salsa memperhatikanku dari atas ke bawah, lalu matanya tertuju pada jaket bomber hitam besar yang masih tersampir di bahuku. Ia menyenggol lenganku dengan jahil. "Ciee, jaket siapa tuh? Gede banget, pasti punya cowok ganteng yang tadi nganterin di gerbang ya? Aku sempat lihat dari jendela atas, lho!"

​Wajahku seketika memerah panas. "Ah, ini... cuma pinjaman. Teman lama kok."

​"Teman lama apa teman rasa baru nih? Hahaha!" Salsa tertawa renyah sambil membantuku mendorong koper ke depan pintu kamar. "Besok ospek jurusan Botani kan? Bareng ya ke fakultasnya! Kudengar asisten dosennya ganteng-ganteng, terutama yang baru masuk tahun ini. Namanya siapa ya... Kael? Kaelan? Pokoknya itu deh!"

​Aku hanya bisa tersenyum kaku. Oh Salsa, kamu tidak tahu saja kalau 'Kael' yang kamu bicarakan itu baru saja mencium keningku sepuluh menit yang lalu.

"Eh, kamu kok senyam-senyum sendiri sih Kazumi? Apa jangan-jangan cowok yang barusan nganter kamu itu pacar kamu ya?" todong Salsa dengan mata yang menyipit penuh selidik, wajahnya maju beberapa senti di depan wajahku.

​Aku tersentak, mencoba menetralkan ekspresi wajahku yang pasti sudah terlihat sangat konyol. "Eh? Enggak kok! Bukan pacar... maksudnya, belum... eh, aduh!" aku malah jadi gagap sendiri.

​Salsa tertawa keras sampai bahunya terguncang.

"Aduh, Kazumi! Mukamu merah banget kayak tomat rebus! Kalau reaksimu kayak gitu sih, fiks dia bukan cuma 'teman lama' biasa. Mana jaketnya wangi banget lagi, aku bisa cium dari sini!"

​Aku segera menarik kerah jaket Kaelen lebih tinggi untuk menutupi wajahku yang semakin panas. "Udah ah, Salsa! Katanya mau bantu dorong koper, kok malah jadi sesi interogasi gini?"

​"Hahaha, oke-oke! Tapi besok aku harus ketemu cowok itu ya. Aku mau lihat seberapa ganteng sih orang yang bisa bikin mahasiswi botani kita ini melayang ke langit ketujuh," goda Salsa sambil mendorong koperku menuju kamar 304.

Saat tiba di depan pintu lift, Salsa masih saja tidak mau berhenti menggoda. Begitu pintu lift terbuka dan kami masuk ke dalam, Salsa menekan tombol lantai tiga sambil terus memandangi jaket besar yang menyelimuti tubuh mungilku.

​"Tapi beneran lho, Zu. Di kota ini jarang ada cowok yang perhatiannya sampai minjemin jaket sekeren itu. Biasanya kalau nggak buaya, ya emang beneran sayang," Salsa mengedipkan sebelah matanya saat lift mulai bergerak naik.

​"Dia emang orangnya... peduli," jawabku pendek, berusaha menahan detak jantungku yang masih saja kencang. "Dan dia bukan buaya, Salsa. Dia lebih mirip... gunung es yang kaku."

​"Gunung es?" Salsa tertawa kecil. "Berarti kamu dong matahari yang bisa mencairkan dia? Wah, makin penasaran aku sama tampangnya besok!"

​Ting!

​Pintu lift terbuka di lantai tiga. Kami menyeret koper kearah kamar. Begitu sampai di depan pintu kamar 304, Salsa membantuku sekali lagi sebelum ia berpamitan ke kamarnya sendiri yang tepat di sebelahku.

​"Istirahat ya, calon pacarnya si Gunung Es! Jangan sampai besok pas ospek malah melamun mikirin dia," Salsa melambaikan tangan dengan riang sebelum masuk ke kamarnya.

Aku masuk ke dalam kamar asrama bernomor 304 itu dengan perasaan lega sekaligus campur aduk. Ternyata, aku memang tinggal sendiri di sini; sebuah kamar mungil yang tenang dan menjadi ruang pribadiku di tengah hiruk-pikuk kota yang asing.

Aku segera menutup pintu, menyandarkan koperku di sudut ruangan, lalu perlahan melepas jaket bomber milik Kaelen. Begitu jaket itu lepas, udara dingin AC kamar langsung terasa, membuatku merindukan kehangatan yang tadi menyelimutiku. Aku duduk di tepi tempat tidur, memandangi jaket hitam besar itu yang tergeletak di sampingku.

"Gunung es, ya?" bisikku pelan, mengingat sebutan yang kuberikan pada Kaelen di depan Salsa tadi.

Tanganku meraba liontin biru di leherku. Di dalam kesunyian kamar ini, aku baru benar-benar menyadari bahwa hidupku telah berubah total. Tidak ada lagi ancaman Raja Malakor, tidak ada lagi pertempuran berdarah. Yang ada hanyalah aku, seorang mahasiswi baru, dan pria dari masa laluku yang kini menjadi asisten peneliti.

Aku merebahkan diri, memeluk bantal sambil menghirup sisa aroma kayu cendana yang tertinggal di jaket Kaelen. Rasa lelah karena perjalanan jauh akhirnya mengambil alih, dan aku pun terlelap dengan senyum tipis yang tak kunjung hilang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!