Arga Maheswara, mengira bahwa kepindahannya ke rumah tua peninggalan keluarga, akan menyembuhkan luka akibat pengkhianatan istri. Namun sejak malam pertama, sosok wanita cantik bergaun putih selalu muncul di bawah sinar bulan tersenyum sendu, seolah telah lama menunggunya.
Safira Aluna. Kehadirannya yang lembut perlahan mengobati hati Arga yang hancur. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta yang tulus. Tapi ketika kebenaran terungkap, Arga terkejut Safira bukan manusia. Ia adalah jin muslimah yang terikat kutukan masa lalu, menunggu puluhan tahun untuk menemukan cinta sejatinya.
Meski menakutkan, Arga tak sanggup melepaskan Safira. Mereka menikah dalam ikatan dua alam yang terlarang. Namun cinta mereka adalah kutukan itu sendiri semakin dalam Arga mencintai Safira, semakin cepat nyawanya terkikis.
Akankah cinta mereka bertahan melawan takdir?
Atau salah satu harus berkorban untuk yang lain?
Selamat menyaksikan kisah cinta beda alam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar Mengejutkan
Pagi itu Safira terbangun dengan sensasi aneh di perutnya. Bukan sakit. Tapi... hangat. Seperti ada sesuatu yang bergerak di dalam sana, padahal dia tahu itu mustahil karena dia jin.
Jin tidak merasakan sensasi seperti ini.
Dia duduk di tepi ranjang dengan tangan memegang perutnya yang rata. Arga masih tidur di sampingnya dengan napas yang berat, wajah pucat seperti mayat.
"Apa ini?" gumam Safira pelan sambil terus memegang perutnya. Rasa hangat itu semakin kuat, menyebar ke seluruh tubuhnya yang biasanya dingin.
Lalu tiba-tiba dia merasakan mual.
Mual yang sangat kuat sampai dia harus berlari ke kamar mandi, muntah di wastafel dengan keras. Tapi yang keluar bukan makanan karena dia tidak pernah makan, yang keluar cuma cairan bening yang rasanya pahit di tenggorokan.
"Sial, apa yang terjadi sama aku?" Safira mengusap mulutnya dengan tangan gemetar, menatap pantulan dirinya di cermin.
Wajahnya yang biasanya pucat sekarang terlihat berbeda. Ada semburat merah muda di pipinya. Bibirnya tidak sepucat biasa. Dan matanya bercahaya tapi bukan cahaya biru seperti saat dia marah, tapi cahaya emas yang lembut.
Safira merasakan jantungnya berdebar kencang. Atau, apa dia bahkan punya jantung? Dia jin. Dia tidak seharusnya merasakan detak jantung. Tapi sekarang dia merasakan sesuatu berdegup di dadanya. Nyata. Sangat nyata.
"Tidak mungkin," bisiknya sambil memegang dadanya sendiri. "Ini tidak mungkin."
Dia harus menemui Nenek Aminah lagi. Secepatnya.
***
Siang itu, saat Arga masih tertidur karena obat yang Bagas beri tadi pagi, Safira menyelinap keluar rumah. Dia berlari ke hutan di belakang desa, tempat Nenek Aminah biasa bersemayam.
Hutan itu gelap walau matahari terik di luar, pohon-pohonnya rapat dan tinggi sampai cahaya matahari hampir tidak bisa menembus. Udara dingin dan lembab. Suara burung hantu terdengar walau ini siang hari, yang harusnya burung hantu tidur.
Safira berjalan cepat sambil terus memegang perutnya yang terasa semakin hangat. Kakinya tersandung akar pohon beberapa kali tapi dia tidak peduli.
"Nenek Aminah!" teriaknya dengan suara yang bergema di antara pepohonan. "Nenek! Hamba butuh nenek!"
Tidak ada jawaban.
Hanya suara angin yang berbisik di antara daun-daunan.
Safira berhenti di tengah hutan, napasnya tersengal walau seharusnya dia tidak perlu bernapas. "Nenek kumohon! Ini penting!"
Lalu tiba-tiba udara di sekitarnya berubah, dingin sekali sampai napasnya keluar seperti kabut walau tadi tidak begitu. Kabut tebal mulai muncul dari tanah, naik perlahan menutupi kaki Safira.
Dan dari dalam kabut itu, muncul sosok-sosok gelap.
Banyak.
Puluhan sosok.
Jin-jin lain yang tinggal di hutan ini.
Mereka berdiri diam menatap Safira dengan mata yang bercahaya merah, tidak ada yang bicara tapi aura mereka mengancam, membuat bulu kuduk Safira berdiri.
"Kenapa kalian di sini?" tanya Safira dengan suara gemetar.
Salah satu sosok melangkah maju, tubuhnya tinggi besar dengan tanduk di kepala. Suaranya dalam dan bergema seperti guntur. "Kau yang menikahi manusia itu kan? Kau yang melanggar aturan?"
Safira mundur selangkah. "A-aku menikah secara sah. Dengan ijab kabul. Allah menyaksikan."
"ALLAH TIDAK MERIDHAI PERNIKAHAN ANTARA DUA ALAM!" sosok itu berteriak dengan suara yang membuat tanah bergetar. "Kau membawa aib pada kami semua! Kau membuat manusia tahu keberadaan kami!"
Sosok-sosok lain mulai mendekat, melingkari Safira dengan tatapan marah. Safira merasakan ketakutan yang luar biasa, tangannya refleks melindungi perutnya.
"Kumohon jangan sakiti aku," bisiknya dengan gemetar.
"Kenapa kami tidak boleh menyakitimu?!" sosok lain berteriak. "Kau yang membawa masalah! Kau yang membuat manusia mulai takut pada kami! Seharusnya kau dihukum!"
Mereka mulai mendekat lebih dekat, tangan-tangan mereka yang panjang dengan kuku tajam terulur mau meraih Safira.
"BERHENTI!"
Suara Nenek Aminah menggelegar di seluruh hutan, membuat semua sosok itu membeku di tempat.
Kabut tiba-tiba menyibak dan Nenek Aminah muncul dengan tongkatnya, wajahnya sangat marah. "Kalian semua berani sekali mengancam anak yang sudah aku lindungi!"
Sosok-sosok itu langsung mundur dengan takut. "Tapi Nenek, dia melanggar aturan. Dia..."
"Diamlah!" Nenek Aminah membentak dengan nada yang tidak bisa dibantah. "Pergi sebelum aku mengutuk kalian semua!"
Sosok-sosok itu langsung menghilang satu per satu, menyatu dengan kabut yang mulai menipis.
Nenek Aminah menghampiri Safira yang jatuh terduduk di tanah dengan tubuh gemetar hebat. "Nak, kau tidak apa-apa?"
"Ne-nenek," Safira memeluk kaki Nenek Aminah sambil menangis. "Mereka mau menyakiti hamba."
"Aku tahu, nak. Makanya aku datang," Nenek Aminah membantu Safira berdiri. "Tapi kenapa kau ke sini lagi? Bukannya kau sudah memutuskan mau jadi manusia?"
"Hamba merasakan sesuatu yang aneh, Nek," Safira memegang perutnya lagi. "Di sini. Rasanya hangat. Dan... dan hamba muntah tadi pagi padahal hamba tidak pernah makan."
Nenek Aminah terdiam. Matanya melebar, menatap perut Safira dengan tatapan tidak percaya. "Kau merasakan kehangatan di perutmu?"
"Ya, Nek. Sejak tadi pagi. Dan hamba juga merasakan jantung hamba berdegup padahal jin tidak punya jantung yang berdegup seperti manusia."
Nenek Aminah menjatuhkan tongkatnya.
Tangan tuanya yang keriput terulur, menyentuh perut Safira dengan pelan. Matanya terpejam, bibirnya bergumam membaca sesuatu dalam bahasa yang Safira tidak mengerti.
Lalu matanya terbuka. Dan air mata jatuh dari mata tua itu.
"Subhanallah," bisiknya dengan suara gemetar. "Subhanallah walhamdulillah."
"Nek? Kenapa nenek menangis? Ada apa dengan hamba?"
Nenek Aminah menatap Safira dengan tatapan yang penuh ketakjuban. "Kau mengandung, nak."
Dunia Safira berhenti berputar.
"A-apa?"
"Kau mengandung," Nenek Aminah mengulangi sambil tersenyum di antara air matanya. "Ada kehidupan baru di dalam rahimmu. Kehidupan yang seharusnya tidak mungkin ada."
Safira merasakan kakinya lemas. Dia jatuh terduduk lagi dengan tangan yang masih memegang perutnya. "Ti-tidak mungkin. Hamba jin. Jin tidak bisa hamil dari manusia. Ini mustahil."
"Tapi itu yang terjadi," Nenek Aminah berlutut di samping Safira, menggenggam tangan gadis itu dengan erat. "Ini mukjizat, nak. Mukjizat dari Allah. Jin yang menikah dengan manusia sangat jarang bisa hamil. Bahkan dalam sejarah panjang kami, hanya ada beberapa kasus. Dan semua kasus itu... semua itu adalah pertanda bahwa Allah meridhai cinta itu."
Safira tidak bisa bicara. Mulutnya terbuka tapi tidak ada suara yang keluar. Air matanya mengalir deras membasahi pipi.
"A-Allah, meridhai?" bisiknya akhirnya dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
"Ya," Nenek Aminah mengangguk sambil menangis bahagia. "Kalau Allah tidak meridhai, tidak mungkin kau bisa mengandung. Ini pertanda bahwa cintamu dan Arga, cinta itu diberkahi-nya."
Safira menangis dengan sangat keras. Tangannya memeluk perutnya sendiri, tubuhnya membungkuk sampai dahinya menyentuh tanah. "Ya Allah, terima kasih. Terima kasih."
Dia menangis sejadi-jadinya di tanah hutan itu. Menangis bahagia. Menangis lega. Menangis karena merasa dosanya diampuni.
Nenek Aminah membiarkan Safira menangis sampai puas. Lalu setelah tangisan mereda, dia membantu Safira duduk dengan lembut.
"Tapi, nak," kata Nenek Aminah dengan nada serius. "Kau harus tahu. Kehamilan ini akan sangat berat. Kau mengandung anak setengah jin setengah manusia. Tubuhmu akan mengalami perubahan yang sangat menyakitkan. Dan ada kemungkinan kau tidak selamat saat melahirkan."
Safira menatap Nenek Aminah dengan mata yang masih basah. "Hamba tidak peduli. Yang penting anak hamba selamat."
"Dan ada hal lain yang lebih serius," Nenek Aminah melanjutkan dengan tatapan yang sangat dalam. "Kehamilan ini akan menguras energi Arga lebih cepat. Kalau tadi kau menguras energinya untuk bertahan di dunia manusia, sekarang bayi di perutmu juga ikut menguras energi itu untuk tumbuh."
Safira membeku. "Maksud nenek?"
"Arga tidak akan bertahan tiga bulan lagi," jawab Nenek Aminah dengan berat. "Mungkin hanya satu bulan. Atau bahkan kurang. Tergantung seberapa cepat bayi itu tumbuh."
Safira merasakan dunianya runtuh lagi.
Bahagia yang tadi dia rasakan langsung sirna, digantikan ketakutan yang mencekik.
"Ti-tidak," bisiknya sambil gemetar. "Tidak tidak tidak. Hamba tidak mau Arga mati. Hamba tidak mau."
"Makanya kau harus memilih, nak," Nenek Aminah menatap Safira dengan tatapan yang penuh belas kasihan. "Antara bayimu atau Arga. Kau tidak bisa menyelamatkan keduanya."
"TIDAK!" Safira berteriak dengan histeris. "Hamba harus bisa! Pasti ada cara! Pasti!"
"Tidak ada cara, nak," Nenek Aminah menggeleng sedih. "Kalau kau ingin Arga hidup, kau harus menggugurkan kandunganmu. Sekarang. Sebelum terlambat."
"Tidak! Hamba tidak akan menggugurkan anak hamba!" Safira memeluk perutnya dengan erat. "Ini anugerah Allah. Hamba tidak boleh membunuhnya."
"Tapi Arga akan mati!"
"Lalu apa yang harus hamba lakukan?!" Safira berteriak dengan frustasi, air matanya mengalir seperti air terjun. "Membunuh anak hamba sendiri untuk menyelamatkan suami hamba? Atau membiarkan suami hamba mati untuk menyelamatkan anak hamba? INI TIDAK ADIL! INI TIDAK ADIL, NENEK!"
Nenek Aminah memeluk Safira yang menangis histeris. "Aku tahu, nak. Aku tahu ini tidak adil. Tapi ini pilihan yang harus kau ambil."
"Hamba tidak mau memilih," Safira menangis di pelukan Nenek Aminah. "Hamba tidak mau kehilangan Arga. Tapi hamba juga tidak mau kehilangan anak hamba. Kenapa harus begini?"
Mereka terdiam lama. Hanya suara isak tangis Safira yang memecah keheningan hutan.
Lalu Nenek Aminah berbisik pelan di telinga Safira. "Ada satu cara lagi. Tapi sangat berbahaya."
Safira mengangkat wajahnya yang basah. "Apa, Nek? Apapun. Hamba akan lakukan apapun."
"Kau bisa memberikan sebagian jiwamu untuk memperkuat Arga," jawab Nenek Aminah dengan serius. "Dengan begitu, dia bisa bertahan sampai bayimu lahir. Tapi konsekuensinya, kau akan sangat lemah. Mungkin kau yang mati duluan sebelum sempat melahirkan."
Safira terdiam.
Lalu dia tersenyum. Senyum yang sangat sedih tapi penuh tekad.
"Kalau memang itu satu-satunya cara..." katanya pelan. "Hamba rela."
"Nak."
"Hamba rela mati asal Arga dan anak hamba selamat," Safira melanjutkan dengan suara yang gemetar tapi penuh keyakinan. "Hamba sudah hidup lima puluh tahun lebih. Cukup. Tapi Arga dan anak hamba, mereka masih panjang hidupnya. Mereka layak hidup."
Nenek Aminah menangis mendengar itu. Dia memeluk Safira dengan sangat erat. "Kau jin paling mulia yang pernah aku temui, nak."
"Hamba cuma mencintai mereka, Nek," Safira membalas pelukan sambil menangis. "Dan karena cinta itu, hamba rela memberikan apapun. Bahkan nyawa hamba."
***
Safira pulang ke rumah dengan perasaan yang sangat campur aduk. Bahagia karena dia mengandung. Takut karena Arga dalam bahaya. Dan sudah pasrah karena dia tahu dia mungkin tidak akan bertahan lama lagi.
Saat masuk rumah, dia melihat Arga sudah bangun, duduk di sofa dengan wajah yang sangat pucat. Bagas ada di sampingnya, sedang menyuapi Arga bubur tapi Arga terus menolak.
"Ga, kumohon makan sedikit aja. Lo udah kurus banget," Bagas memohon dengan frustasi.
"Gue nggak nafsu makan, Gas. Rasanya kayak makan pasir."
"Tapi lo harus makan! Kalau nggak, lo bisa."
"Arga."
Suara Safira membuat keduanya menoleh. Safira berdiri di pintu dengan wajah yang sangat pucat tapi ada cahaya berbeda di matanya.
"Safira? Kamu kemana? Aku bangun tadi kamu nggak ada," Arga berusaha berdiri tapi tubuhnya langsung limbung, Bagas menopangnya dengan panik.
Safira menghampiri dengan langkah pelan. Lalu dia berlutut di depan Arga, menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca.
"Arga." bisiknya dengan suara gemetar. "Hamba punya kabar."
"Kabar apa?" Arga bertanya sambil mengusap pipi Safira dengan lembut.
Safira menarik napas dalam. Tangannya meraih tangan Arga, meletakkannya di perutnya yang masih rata.
"Aku mengandung."
Hening.
Hening yang sangat panjang.
Arga membeku dengan tangan masih di perut Safira. Matanya melebar, mulutnya terbuka tapi tidak ada suara.
Bagas yang mendengar itu langsung berdiri dengan wajah shock total. "A-apa? Lo hamil? Tapi lo kan jin? Gimana bisa?"
"Ini mukjizat," Safira menjawab sambil menangis bahagia. "Nenek Aminah bilang ini mukjizat dari Allah. Pertanda bahwa Dia meridhai cinta kami."
Arga masih tidak bergerak. Tangannya masih di perut Safira, merasakan kehangatan yang tidak pernah ada sebelumnya di tubuh istrinya yang selalu dingin.
Lalu tiba-tiba dia menangis.
Menangis dengan sangat keras sampai tubuhnya gemetar.
"Kita punya anak?" tanyanya di antara tangisnya. "Kita benar-benar punya anak?"
"Ya," Safira mengangguk sambil ikut menangis. "Kita punya anak, Arga. Anak kita."
Arga memeluk Safira dengan sangat erat, menangis di bahu istrinya. "Terima kasih, Safira. Terima kasih sudah memberiku kebahagiaan ini."
Tapi di dalam pelukan itu, Safira menangis lebih keras.
Karena dia tahu.
Dia tahu kebahagiaan ini tidak akan bertahan lama.
Dia tahu dia harus membayar harga yang sangat mahal untuk kebahagiaan ini.
Dan dia tahu, dia mungkin tidak akan sempat melihat anaknya lahir.
Tapi dia tidak bilang itu pada Arga.
Tidak sekarang.
Biarkan Arga bahagia dulu.
Walau hanya sebentar.
Sebelum semuanya berakhir.