Agas berstatus duda setelah istrinya Tara yang telah berselingkuh dengan sahabatnya Damar mengguggat cerainya.
Dihianati, ditinggalkan dan dihina membuatnya ingin membuktikan kalau dirinya lebih hebat. Ia pun bertekad ingin sukses lagi.
Agas berubah menjadi duda nackal dengan pergaulan kelas atas. Menikmati hidupnya dan menyepelekan arti pernikahan.
Sampai Agas mengenal Tari, cewek polos yang memintanya untuk dinikahi hanya agar Agas menolongnya. Mampukah Tari membuat Agas kembali ke jalannya yang benar?
Mampukah Tari membuat Agas melupakan Tara dan membuka hatinya untuk cinta yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa Ingin Tahu Tara
Mungkin ini yang dinamakan cobaan sebelum menikah. Mama tak setuju, alasan Mama karena status Tari yang tak jelas bibit, bebet dan bobotnya.
Aku heran, apakah bibit, bebet dan bobot seseorang menjadi sebuat jaminan dalam menentukan pernikahan? Kayaknya enggak deh.
Tara buktinya, terlahir dari keluarga baik-baik. Berpendidikan. Pekerjaannya mapan. Apa yang kurang?
Endingnya adalah Tara menyelingkuhiku. Padahal dulu Mama setuju dan mendukung sekali hubunganku dengan Tara. Membanggakan Tara di depan teman-temannya kalau Tara adalah menantu idaman setiap orang.
Tapi justru menantu yang dibangga-banggakan malah membuat anaknya terpuruk dan mengkhianati cinta yang tulus anaknya berikan. Kenapa Mama tak belajar dari pengalaman sebelumnya?
"Papa tolong bujuk Mama dong. Nanti aku juga akan menelepon Mama. Waktunya sudah mepet nih, Pa. Kalau kita menunda terus, bisa-bisa Bapak tirinya Tari menuntut aku sebagai tukang bawa kabur anak orang! Bisa berat urusannya nanti!"
Tari sejak tadi mendengarkan pembicaraanku dengan Papa tanpa banyak berkomentar. Ia diam saja dan mengerti sendiri masalah apa yang sedang kami hadapi.
Aku mengakhiri panggilan telepon setelah Papa berjanji akan membujuk Mama kembali. Yang pasti, pernikahanku akan tetap terlaksana dengan atau tanpa kehadiran Mama.
"Kita pulang sekarang!" ajakku.
Tari mengikutiku dalam diam. Aku juga tak berniat membahas isi percakapanku di telepon dengannya.
Pikiranku mumet. Meski pernikahan ini bukan dilandasi dengan cinta, setidaknya aku mau Mama hadir dan menyaksikan pernikahan anak semata wayangnya.
Kulirik ke arah Tari yang sedang menatap jalanan dari kaca mobil. Alunan musik yang mengalun dari mobilku yang membuat suasana tidak terlalu dingin.
Kami pun sampai di rumahku. Kumasukkan mobilku di garasi rumah. Tari membuka sendiri pintu mobil, aku tak membukakan pintu untuknya. Kayaknya aku memang setidakpeduli itu. Beda saat dengan Tara...
Bak pucuk dicinta ulam pun tiba. Baru saja aku kepikiran tentang Tara eh orang yang kumaksud sedang berjalan ke rumahku.
"Agas!" panggilnya.
Aku yang sedang sibuk mengeluarkan barang belanjaan pun berhenti sejenak. Tari sudah membawa sebagian barang belanjaan dan kembali ke luar untuk membantuku.
Tara dan Tari saling melihat satu sama lain. Kening Tara berkerut melihat ada seorang cewek yang datang ke rumahku. Cewek yang berbeda dengan yang sebelumnya.
"Baru lagi?" tanya Tara dengan nada sinis.
"Bukan urusan kamu!" Aku menyerahkan paper bag pada Tari.
"Bawa ke dalam dulu ya. Aku mau bicara sebentar!" pesanku pada Tari.
Tari mengangguk patuh dan masuk ke dalam rumah.
"Ada apa?" tanyaku sambil melipat kedua tanganku di dada.
"Itu baru lagi?" Tara mengulangi pertanyaannya.
"Aku udah bilang itu bukan urusan kamu! Kalau enggak ada yang mau dibicarakan, aku masuk. Udah malam!" kataku dengan dingin.
"Ini." Tara menyerahkan sebuah surat. "Tadi Pak RT datang dan memberikan surat untuk kamu tapi rumah kamu kosong. Aku bilang aja kalau aku yang akan kasih ke kamu."
"Ok. Terima kasih!" jawabku, mengambil surat yang Tara beri dan berniat langsung masuk ke dalam rumah.
"Sudah berapa cewek yang menginap di rumah kamu? Gonta ganti terus!" cibirnya.
Aku yang baru satu langkah hendak masuk ke dalam rumah lalu berhenti dan berbalik badan.
"Jangan ngurusin urusan yang bukan urusan kamu. Urusi saja rumah tangga kamu yang sangat bahagia itu!" sindirku.
"Iyalah. Aku bahagia. Punya suami yang sangat mencintai aku dan begitu memuaskanku di ranjang. Apalagi yang kurang? Harta cukup. Aku bukan mengurusi urusan rumah tangga kamu, hanya tak baik saja untuk kesehatan kalau sering gonta-ganti pasangan!" sindirnya.
Aku tertawa mendengarnya. "Kamu nasehatin aku tentang masalah kesehatan karena gonta-ganti pasangan? Enggak salah? Kamu enggak inget siapa yang tukang selingkuh dulu? Habis tidur sama aku lalu tidur sama Damar. Kamu juga enggak tau kan, sebelum sama kamu Damar main dengan siapa? Ha...Ha... Ha..."
Tara mengepal tangannya menahan emosinya. "Tapi sekarang rumah tangga kami baik-baik saja! Artinya Damar benar-benar mencintaiku dong!"
"So what gitu? Kamu pikir aku bakalan iri? Maaf ya! Aku juga mau menikah. Wanita yang kamu lihat tadi adalah calon istri aku! Sama seperti kamu dan Damar yang selingkuh sebelum menikah, aku sudah tinggal bareng dengan calon istriku. Sudah ya, kasihan cintaku menungguku dibawah pancuran air. Kami biasanya mandi dulu sih sebelum memulai saling memuaskan!" aku mengedipkan sebelah mataku sambil tersenyum pada Tara lalu masuk ke dalam rumah.
Kutinggalkan Tara yang berwajah kesal karena pasti banyak pertanyaan dalam dirinya yang tak aku jawab.
"Siapa dia, Om? Mantan istri Om dulu?" aku kaget, baru saja masuk ke dalam rumah sudah diberi pertanyaan macam itu.
"Kamu ngangetin aja!" omelku. Tari sudah memasukkan barang belanjaan hari ini ke kamarnya. "Iya, tadi Tara mantan istriku."
"Om masih cinta sama mantan istri Om?" tanya Tari yang mengikutiku sampai masuk ke dalam kamarku.
Kulepas jaket yang kukenakan lalu menaruhnya di keranjang baju kotor. "Kamu mau ngapain ngikutin aku sampai ke dalam kamar? Mau melihat aku enggak pakai baju?"
"Mau mendengar jawaban dari Om dulu biar enggak penasaran!" ujar Tari keras kepala.
Timbul rasa jahil dalam diriku. Aku sengaja melepas kaos yang kukenakan dan hanya tinggal celana jeans saja. Tubuhku yang setengah telanjang pasti yang membuat Tari menutup matanya dan wajahnya kini bersemu merah.
Yang begini mau menawariku service seperti yang Cici lakukan? Melihatku tanpa kaos saja sudah membuat dia malu apalagi melihatku tanpa sehelai benang sama sekali?
Tari menunduk dan tetap menutupi matanya. Ia masih keras kepala menunggu jawabanku sampai rela terus menunduk.
Aku jadi ingin menggodanya lagi. Kudekati dia dan terus membuatnya mundur sampai tersudutkan ke tembok.
"Jawab dong, Om! Om masih cinta enggak sama mantan istri Om?" Ia masih menginginkan aku untuk menjawab pertanyaannya.
Kutarik tangannya dan kuletakkan di dadaku yang bidang. "Om mau ngapain?" Ia menutup matanya dengan tangannya yang lain. Pokoknya jangan sampai melihatku.
"Kamu deg-degan enggak Tari?" Ia hendak menarik tangannya namun aku tahan. "Biasanya cewek-cewek lain suka mengelus lembut aku loh. Mereka biasa bermanja-manja ria padaku."
"Ih Om apaan sih? Nanti Tari manja-manjanya kalau sudah nikah!"
Aku menahan tawaku. Anak ini kebanyakan gaya, bilang boleh untuk melampiaskan gairahku tapi malu-malu seperti ini!
"Nanti kamu bakalan suka ngelus-ngelus aku kayak gini enggak?" menggodanya makin seru saja. Kupegang tangannya dan sengaja aku membuatnya menelusuri dadaku.
Tari menariknya dan berlari keluar dari kamarku. "Enggak usah dijawab enggak apa-apa Om!" teriaknya lalu menutup pintu kamarku dengan kencang.
Aku tertawa puas melihat sikap polosnya. Ah..... Jadi ada mainan baru aku jadinya di rumah. Tari... Tari...
****
Keesokan paginya aku terbangun saat mencium bau masakan dari dapur. Pasti Tara sudah memasak untukku.
Aku berjalan menuju dapur dan melihatnya sedang memasak. Kudekati dia dan memeluknya erat, kucium pipinya dan mengucap: "Selamat pagi, Sayang!"
Tara seakan membeku, tak menjawab salamku. Tunggu, kok parfum Tara beda ya?
"Om? Om? Kayaknya Om masih mimpi deh!"
Suaranya juga beda!
Aku membuka mataku lebih lebar dan mendapati Tari yang sedang aku peluk. Reflek kulepaskan pelukanku.
"Maaf, aku suka tidur sambil berjalan! Aku... Aku mau mandi dulu!" kataku dengan kikuk. Dengan langkah seribu aku berlari ke kamar. Malu... aku malu...
****