NovelToon NovelToon
Boba

Boba

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Keluarga / Balas Dendam
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: Reza Ashari

Novel ini bercerita tentang intrik bisnis toko manisan dari keluarga Wijaya dengan toko manisan lainnya yang ada di kota Sagara. Toko keluarga Wijaya ini hancur karena fitnah dan anaknya mencari informasi yang dibantu oleh wartawan, polisi dan hakim umtuk memcari sumber fitnah tersebut

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Ashari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 Aliran dana mencurigakan

Hujan deras mengguyur Kota Sagara ketika Kirana menerima pesan singkat dari Mira: Kita menemukan sesuatu. Datang sekarang.

Bima dan Kirana segera melaju ke sebuah apartemen kecil di pinggiran kota, tempat Mira tinggal sementara. Lampu-lampu jalan memantul di genangan air, menciptakan bayangan berlapis yang terasa seperti simbol dari apa yang tengah mereka hadapi, lapisan demi lapisan kebohongan.

Di dalam apartemen, Mira sudah menunggu di depan tiga layar monitor. Wajahnya tampak tegang, matanya merah karena kurang tidur. Di layar, grafik dan tabel keuangan saling bertumpuk, membentuk pola yang rumit.

“Ini bukan transaksi biasa,” ujar Mira tanpa basa-basi. “Aku menelusuri beberapa rekening yang kita curigai, dan menemukan jaringan transfer berlapis. Uang berpindah dari satu rekening ke rekening lain, lintas kota, bahkan lintas negara.”

Bima mendekat, menatap angka-angka yang bergerak di layar. “Tujuannya?”

“Untuk menyamarkan sumber. Tapi kalau kita ikuti jejaknya, semua bermuara ke tiga rekening utama.”

Kirana memperbesar tampilan. Nama-nama perusahaan cangkang muncul, diikuti kode transaksi yang berulang. Jumlahnya fantastis, jauh melampaui nilai kerugian satu toko manisan.

“Ini bukan cuma soal menjatuhkan ayahmu,” kata Mira. “Ini skema besar.”

Mereka bekerja hingga larut malam, menelusuri setiap jalur dana. Perlahan, potongan-potongan itu menyatu. Uang suap mengalir ke beberapa pejabat, aparat, dan pihak media tertentu. Di sisi lain, dana besar dialirkan ke perusahaan yang berkaitan dengan pemilik toko saingan dengan membiayai ekspansi, kampanye politik, dan operasi fitnah.

“Ini mesin,” gumam Bima. “Mesin uang kotor yang menggerakkan semuanya.”

Di tengah analisis itu, muncul satu transaksi aneh: sejumlah besar dana masuk ke rekening pribadi Arman Darsana, lalu menghilang dalam hitungan jam.

“Kita perlu tahu ke mana uang ini pergi,” ujar Kirana.

Mira mengangguk. “Aku punya kontak di unit intelijen perbankan. Tapi ini berisiko. Kalau mereka tahu aku melacak sampai sejauh ini, posisiku terancam.”

“Kita semua sudah dalam risiko,” sahut Bima pelan. “Tapi tanpa ini, puzzle kita tidak lengkap.”

Dua hari berikutnya penuh ketegangan. Setiap notifikasi ponsel membuat jantung berdegup lebih kencang. Hingga akhirnya, kabar itu datang: dana tersebut dialihkan ke sebuah rekening luar negeri atas nama yayasan pendidikan. Di baliknya, tersembunyi perusahaan investasi gelap yang kerap digunakan untuk pencucian uang.

“Ini bom,” kata Kirana lirih. “Kalau ini meledak, dampaknya nasional.”

Namun, sebelum mereka sempat bernapas lega, tekanan kembali datang.

Sebuah surat panggilan dari kepolisian mendarat di rumah kontrakan. Bima diminta hadir sebagai saksi dalam dugaan penyebaran informasi palsu. Tuduhan yang jelas mengada-ada.

“Ini cara mereka mengalihkan perhatian,” ujar ayah Bima dengan suara getir.

Kirana mengepalkan tangan. “Dan juga menekan kita.”

Meski demikian, Bima memutuskan untuk datang. Dengan persiapan matang dan pendampingan pengacara yang direkomendasikan Hakim Pratama, ia memasuki kantor polisi dengan kepala tegak.

Pemeriksaan berlangsung berjam-jam. Pertanyaan berulang, nada menyudutkan, dan sindiran halus bertebaran. Namun, Bima menjawab dengan tenang, memegang prinsip yaitu jujur, singkat, dan tidak berlebihan.

Keluar dari ruangan itu, ia merasa terkuras, namun juga semakin yakin bahwa mereka berada di jalur yang benar. Setiap tekanan adalah tanda bahwa kebenaran makin dekat.

Malam itu, tim kecil berkumpul kembali. Di meja, aliran dana mencurigakan dipetakan dalam diagram besar. Garis-garis merah menghubungkan nama, rekening, dan peristiwa, membentuk jejaring yang menakutkan sekaligus memukau.

“Ini saatnya kita bersiap untuk fase akhir,” ujar Kirana.

Bima menatap diagram itu, merasakan campuran takut dan harap. Ia tahu, langkah selanjutnya akan menentukan segalanya bukan hanya bagi keluarganya, tapi bagi Kota Sagara, bahkan lebih luas.

Dan di balik aliran dana yang mencurigakan itu, mereka melihat wajah asli kekuasaan: dingin, rakus, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang menghalangi. Namun, di hadapan wajah itu, mereka memilih berdiri dam membawa kebenaran sebagai satu-satunya senjata.

Bima menatap layar laptop dengan mata yang mulai memerah. Puluhan baris transaksi terpampang jelas, mengalir dari rekening perusahaan cangkang menuju sejumlah akun pribadi milik pejabat tinggi Kota Sagara. Angkanya fantastis. Transfer dilakukan bertahap, rapi, dan terselubung, seolah disusun oleh tangan-tangan profesional yang memahami celah hukum dan sistem perbankan.

“Ada pola,” gumam Sinta, jari-jarinya bergerak cepat di atas papan ketik. “Dana masuk setiap kali proyek pembangunan diumumkan. Tapi proyeknya tak pernah selesai.”

Raka menghela napas panjang. “Artinya, mereka tidak hanya mencuri. Mereka membangun sistem penjarahan.”

Ruangan kecil itu terasa semakin sempit. Udara penuh ketegangan. Setiap data yang muncul bukan hanya bukti kejahatan, tapi juga ancaman bagi nyawa mereka sendiri. Di Kota Sagara, kebenaran sering kali berumur pendek.

Malam semakin larut ketika pintu diketuk pelan. Semua refleks menegang.

Bima memberi isyarat diam. Sinta segera menutup laptop, sementara Raka mengambil tongkat besi yang selalu disimpan di sudut ruangan.

Ketukan terdengar lagi, kali ini disertai suara berbisik, “Ini aku.”

Bima membuka pintu perlahan. Naya berdiri di ambang, wajahnya pucat, jaketnya basah oleh hujan.

“Ada yang mengikuti aku,” katanya terburu-buru. “Mobil hitam. Tanpa plat depan.”

Raka memaki pelan. “Mereka sudah mulai bergerak.”

Naya masuk dan menutup pintu rapat-rapat. Ia mengeluarkan flashdisk kecil dari saku jaketnya. “Aku dapat ini dari sumber dalam di bank. Rekaman CCTV ruang server dan log akses internal. Ada nama yang muncul berkali-kali.”

“Siapa?” tanya Sinta.

Naya menarik napas dalam. “Kepala dinas keuangan kota. Dan satu lagi… orang kepercayaan wali kota.”

Keheningan jatuh seperti palu godam. Semua saling menatap, menyadari betapa besar risiko yang kini mereka hadapi.

Bima memijat pelipisnya. “Kalau ini terbongkar, mereka akan menyeret semua orang yang terlibat. Termasuk aparat, pengusaha, bahkan media.”

“Dan kita,” sambung Raka pelan.

Namun tak satu pun terlihat gentar. Ketakutan ada, tapi tekad lebih kuat.

Mereka bekerja hingga dini hari, menyusun kronologi, menghubungkan aliran dana dengan proyek-proyek fiktif, dan menyiapkan laporan lengkap. Sinta memetakan jejaring transaksi seperti jaring laba-laba raksasa yang menjebak seluruh kota.

Ketika fajar menyingsing, Bima berdiri di depan papan tulis penuh coretan. “Kita tidak bisa menyerahkan ini ke polisi. Tidak sekarang.”

“Pengadilan?” tanya Naya.

“Masih terlalu berbahaya. Dokumen bisa menghilang. Saksi bisa lenyap,” jawab Raka.

Sinta terdiam sejenak, lalu berkata, “Kita sebar ke publik. Media nasional. Lembaga antikorupsi. Organisasi masyarakat sipil. Semuanya sekaligus.”

Langkah itu berisiko tinggi, tapi memberi satu keunggulan dengan kekuatan massa dan sorotan publik.

Namun sebelum rencana itu dijalankan, ancaman datang lebih cepat dari dugaan.

Sore harinya, ketika Bima hendak pulang untuk mengambil beberapa pakaian, sebuah motor besar berhenti mendadak di depannya. Dua pria berhelm hitam turun. Salah satu memukul perut Bima dengan keras, membuatnya terhuyung. Yang lain berbisik di telinganya, “Berhenti. Atau semua yang kau sayangi akan menghilang.”

Mereka pergi secepat datangnya.

Bima terkapar beberapa detik di trotoar sebelum bangkit dengan susah payah. Darah mengalir dari sudut bibirnya. Tapi matanya menyala oleh kemarahan.

Malam itu, tim kembali berkumpul. Ketika melihat kondisi Bima, suasana berubah muram.

“Mereka sudah melewati batas,” ujar Naya dengan suara bergetar.

“Justru itu,” kata Bima, suaranya tegas. “Artinya, kita berada di jalur yang benar.”

Raka mengepalkan tangan. “Kalau kita mundur sekarang, semua pengorbanan sia-sia.”

Keputusan diambil: laporan akan disebar besok pagi. Mereka membagi tugas. Naya menghubungi jaringan jurnalis nasional. Sinta menyiapkan paket data terenkripsi. Raka mengamankan salinan di beberapa server luar negeri. Bima menyusun narasi yang mudah dipahami publik.

Di luar, hujan kembali turun. Kota Sagara terlelap, tak menyadari badai besar yang akan mengguncangnya.

Tepat pukul enam pagi, rilis pertama dikirim.

Dalam hitungan jam, berita meledak. Media nasional mengangkat skandal aliran dana miliaran. Nama-nama besar disebut. Bukti-bukti mengalir deras. Media sosial riuh. Tagar keadilan untuk Kota Sagara menjadi trending.

Tekanan publik memaksa lembaga pusat turun tangan.

Namun kemenangan itu tidak datang tanpa harga.

Telepon Bima berdering tanpa henti. Ancaman, makian, bahkan rayuan bercampur jadi satu. Rumah Sinta dilempari batu. Raka dibuntuti. Naya menerima pesan berisi foto ibunya.

Ketegangan mencapai puncak.

Di tengah kekacauan itu, Bima berdiri di depan jendela, menatap langit kelabu. Ia sadar, perjuangan baru saja dimulai. Lawan mereka tidak akan menyerah begitu saja.

Namun untuk pertama kalinya, ia merasa tidak sendirian.

Kebenaran telah keluar dari persembunyiannya. Dan ketika cahaya mulai menembus kegelapan, tak ada kekuasaan yang benar-benar mampu memadamkannya.

Di balik ancaman dan ketakutan, mereka melangkah maju dan meyakini bahwa setiap risiko yang diambil adalah harga yang pantas demi masa depan Kota Sagara yang lebih adil.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!