Bagaimana jika ada wanita kaya yang mempermainkan cinta tulus pria miskin? Apakah wanita itu akan menyesal atau malah bangga melepaskan pria yang tulus mencintainya karena tidak "setara"? Riko Dermanto, anak pemulung dari desa yang pintar sampai mendapatkan beasiswa kuliah di kampus ternama Jakarta. Bertemu dengan wanita kaya yang membuatnya jatuh cinta dan rela melakukan apapun yang wanita itu inginkan. Di malam guntur dengan hujan deras dan sambaran petir, wanita itu ternyata memilih bersama pria lain. Berciuman didepan mata Riko. Membangkitkan amarah serta jiwa pemberontaknya. Dirinya benar benar dimanfaatkan tanpa ampun oleh wanita itu hingga sadar cintanya bertepuk sebelah tangan. Tidak berhenti disitu, Riko melakukan pembalasan yang mampu disebut CINTA MATI BERDARAH! Ia rela bertaruh darah untuk membuktikan cintanya. Ini cinta atau obsesi? Baca novel ini dan dukung yaaa!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SariRani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SERANGAN JANTUNG
Dirumah lain, Maya menikmati makan malamnya bersama keluarga sang kakak.
"Tante Maya berapa hari disini?" tanya Isabel.
"Hmmm...sampek Isabel bosen lihat tante gimana? Gapapa?" sahut Maya menggoda.
"Bisa bisa tante 10 tahun disini sampek Isabel remaja" celetuk Baim.
"Boleh boleeeeh" sahut Isabel kegirangan.
"Hahahahaha, kalian ini memanfaatkan tante buat nemenin kalian sampek bosen terus ditinggal" ujar Maya dengan nada bercanda.
"Hihi kami suka ada tante bersama kamu dari pada bersama Om.." belum juga Isabel selesai menyebut nama suami Maya, suara ibunya sudah menyela.
"Isabel, jangan ikut abang mu yaaa..gak boleh mencela orang lain apalagi masih saudara" tegur Hania.
Suasana jadi hening sesaat. Namun kembali ramai ketika mereka sudah selesai makan malam dan bersantai di ruang keluarga.
Maya yang tadinya berniat istirahat, malah ikut menemani 2 keponakannya menonton kartun sebelum tidur.
Sedangkan Lingga dan Hania masuk kamar.
"Kamu harus bicara sama orang tuamu soal Maya, Mas" ucap Hania.
"Iya aku pasti bicara tapi gak sekarang juga. Nunggu beberapa hari sampai Maya bener bener pulih" sahut Lingga.
"Gimana kalau daddi sama mommi tau duluan?" ujar Hania dengan raut khawatir.
Belum juga Lingga sempat menyahuti sang istri, ponselnya berbunyi dari Juli, salah satu asisten keluarganya.
"Malam Mbak Jul, ada apa malam malam telepon?" tanya Lingga to the point, tapi perasaanya sudah tidak enak.
"Tuan besar, den. Tuan Erlan masuk rumah sakit..ini tadi jantungnya kambuh dan dibawa ambulance" ujar Juli.
Deg!
Apa yang ditakutkan istrinya benar benar terjadi.
"Hah? Kenapa? Rumah sakit mana?" tanya beruntun Lingga.
Hania yang melihat kepanikan suaminya sudah merasakan hal buruk terjadi.
"Rumah sakit keluarga bersama milik Mbak Hania, Den. Tadi saya telepon ambulance dari sana" jawab Juli dengan suara ketakutan.
"Terima kasih infonya. Tolong jaga rumah" ucap Lingga lalu panggilan ditutup.
"Ada apa, Mas? Dari rumah utama?" tanya Hania.
"Apa yang kita takutkan terjadi. Daddi ambruk kena serangan jantung lagi. Pasti ada seseorang yang memberitaunya sesuatu" jawab Lingga.
"Tentang Maya? Siapa dia? Kenapa dia ikut campur masalah keluarga kita?" tanya Hania keheranan.
"Kita bahas nanti. Ayo kita ke rumah sakit dulu. Kamu hubungi anak buahmu yang piket di rumah sakit keluarga bersama. Daddi dibawa kesana" jawab Lingga dan Hania mengangguk, keduanya langsung turun dari lantai 2 dimana kamar mereka berada.
"Kak, mau kemana?" tanya Maya saat melihat Lingga dan Hania turun cepat cepat hendak keluar rumah.
"Jaga Isabel sama Baim ya, May. Kita ada urusan. Kalau udah jam 9 malam, mereka harus masuk kamar, oke" sahut Lingga.
"Kakak titip anak anak ya, May" tambah Hania.
"Iya kak,hati hati" sahut Maya.
"Hati hati mami papi..." ujar Baim dan Isabel bersamaan, terdengar mereka sudah sering mengatakan itu karena bisa dilihat ketenangan saat ditinggal orang tua malam malam.
Lingga dan Hania melambaikan tangan kearah ruang keluarga lalu pergi dari rumah.
"Kalian kok santai gitu ditinggal mami papi?" tanya Maya penasaran.
"Udah biasa. Aku sama Isabel udah sering ditinggal malam malam begini sama papi dan mami karena urusan mendadak" jawab Baim santai.
"Betul, tante. Tapi bagian serunya, mereka kalau pulang langsung tidur bareng kita. Jadi seneng seneng aja" sahut Isabel.
"Ya, mami papi meskipun sibuk tetep meluangkan banyak waktu untuk kita, jadi gak ada protes" tambah Baim.
Maya tersenyum mendengarnya. Wajah saja kedua ponakannya ini terkesan sangat pintar dan bahagia, karena kakak kakaknya memang mengajarkan mandiri serta independen dari kecil tapi tidak mengabaikan perhatian serta kasih sayang.
"Kalian emang pinter dan nurut" puji Maya.
"Harus karena kalau gak gitu, mami mengamuk bagaikan singa betina lalu ditambah suara papi sedingin beruang kutub" celetuk Baim.
Maya dan Isabel tertawa. Mereka melanjutkan nonton kartun sambil menyemil snack.
Didalam mobil, Hania menelpon kerumah sakit milik keluarganya dan memang benar ayah mertuanya baru saja datang dalam kondisi pingsan.
Sudah dilakukan penanganan cepat oleh dokter spesialis jantung. Hania mengintrusikan kepala dokter jaga yang sedang piket untuk memantau keadaan Erlan sampai dia datang.
"Serangan jantung daddi bener kambuh, Mas. Pasti daddi syok kalau Maya dianinaya sama suaminya dari info gak jelas bukan dari keluarganya sendiri" ujar Hania.
Lingga masih diam mendengarkan penjelasan istrinya sambil fokus menyetir. Rahangnya sudah mengeras sebagai bentuk menahan amarahnya.
"Kalau aku menemukan siapa yang ngasih info ke daddi sama mommi soal Maya, aku benar benar akan ngasih pelajaran ke dia karena ikut campur dalam urusan keluarga ini" ucap pria itu kemudian.
Hania terdiam. Jika dia bilang kondiis Erlan yang terbilang tidak baik, suaminya itu semakin panik dan tidak tenang.
Sekitar 45 menit mengendarai mobil, akhirnya keduanya pun sampai rumah sakit. Mereka berlari menuju kamar VVIP kelas super dimana memang fasilitas mewah selayaknya hotel.
Ceklek.
Lingga membuka pintu lalu masuk diikuti istrinya. Mereka melihat Ayu duduk sendu sambil memegang tangan suaminya.
"Mom" panggil Lingga yang langsung memeluk ibunya itu.
"Daddi gimana keadaannya?" tanyanya kemudian.
"Daddi mu sudah lebih baik. Dokter tadi langsung melakukan tindakan antisipasi pasca serangan jantung. Sekarang tinggal menunggu sadarnya tapi tidak boleh dikejutkan dengan sesuatu lagi" jawab Ayu yang wajahnya sudah sembab meskipun air nata sudah tak keluar.
"Maafkan aku, mom. Apa yang terjadi pada daddi sebenarnya? Apa yang membuatnya kena serangan jantung lagi?" tanya Lingga lagi tanpa menebak apa dugaannya.
"Lingga" panggil Ayu sambil melepaskan pelukan putranya itu.
Mereka saling pandang. Hania hanya bisa memandang interaksi suami dan ibu mertuanya serta mengecek keadaan Erlan sendiri dengan kemampuan medisnya.
"Apa kamu tau apa yang terjadi pada adikmu?" tanya Ayu to the point.
Deg!
Lidah Lingga langsung membeku. Dugaannya memang benar. Ayahnya syok karena mendapatkan berita tentang Maya.
Begitu juga dengan Hania yang membeku di tempatnya berdiri.
Ayu bisa mendapatkan jawaban dari diamnya sang putra ditambah lagi saat melihat raut wajah menantunya.
"Kamu juga Hania sayang, apa tau kalau Maya mengalami kekerasan dalam rumah tangganya?" tanya Ayu kepada sang menantu dengan memperjelas apa yang terjadi.
Hania langsung memeluk ibu mertuanya.
"Maafkan aku, mom...aku hanyaa.." ucapnya dengan rasa bersalah.
Tubuh Hania didorong lembut oleh Ayu dan menatap wajah sang menantu yang tercetak jelas jawaban dari apa yang ia tanyakan.
"Kalian sudah tau rupanya" lirih Ayu.
"Maafkan kami, mom" ucap Lingga.
"Maya bersama kalian sekarang?" tanya Ayu tanpa menyahuti permintaan maaf putranya.
Lingga mengangguk.
"Ya, Maya saat ini berada dirumah kami bersama anak anak" jawabnya.
Ayu menghela nafas.
"Kalian sangat salah menyembunyikan hal ini dari kami. Aku ibu dari putriku dan suamiku adalah ayah dari putriku, kenapa kalian menutupi apa yang terjadi padanya dan membuat kami menjadi orang tua yang mengabaikan penderitaan putrinya?" luapan hati Ayu yang mulai meneteskan air mata juga.
Lingga dan Hania tak bisa membela diri.