"Lin Suyin mewarisi gelang giok dari neneknya—sebuah portal menuju dimensi ajaib tempat waktu berjalan 10x lebih cepat dan semua tanaman tumbuh sempurna. Tapi keajaiban ini membawa bahaya: ada yang memburu gelang tersebut. Bersama Xiao Zhen, CEO misterius dengan rahasia masa lalu, Suyin harus melindungi ruang ajaibnya sambil mengungkap konspirasi kuno yang menghubungkan keluarganya dengan dunia kultivator."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Kencan Pertama dan Kejutan Besar
Tiga puluh menit kemudian, Suyin turun dengan dress putih bermotif bunga kecil-kecil—casual tapi tetap manis. Rambutnya dia biarkan terurai dengan sedikit ikal di ujung, makeup natural yang menonjolkan mata.
Xiao Zhen sudah menunggu di bawah dengan kemeja lengan panjang biru muda yang digulung sampai siku dan celana kain hitam—terlihat lebih santai dari biasanya tapi tetap tampan.
Saat melihat Suyin turun, matanya berbinar. "Kamu cantik sekali."
Suyin merasa pipinya memanas. "Terima kasih. Kamu juga sangat tampan."
"Ayo." Xiao Zhen mengulurkan tangan—dan kali ini bukan untuk latihan kultivasi atau untuk melindungi dari bahaya. Ini hanya gestur sederhana dari seorang pria yang mengajak wanita yang dicintainya kencan.
Suyin meraih tangan itu dengan senyum lebar.
Mereka naik mobil—kali ini Xiao Zhen sendiri yang menyetir, bukan sopir. Lebih pribadi, lebih intim.
"Kita mau ke mana?" tanya Suyin penasaran saat mobil melaju keluar dari gerbang villa.
"Kejutan," jawab Xiao Zhen dengan senyum misterius. "Tapi aku jamin kamu akan suka."
Perjalanan memakan waktu sekitar empat puluh lima menit—keluar dari Jakarta menuju kawasan Bogor. Pemandangan berubah dari gedung-gedung tinggi menjadi pepohonan hijau dan udara yang lebih sejuk.
Mereka sampai di sebuah tempat yang membuat mata Suyin melebar—kebun teh di lereng gunung dengan pemandangan yang luar biasa indah.
"Kebun teh!" seru Suyin excited. "Aku belum pernah ke kebun teh!"
"Aku tahu." Xiao Zhen tersenyum. "Kamu pernah bilang waktu sarapan minggu lalu—waktu kita ngobrol tentang tempat yang ingin dikunjungi tapi belum sempat."
Suyin terkejut—dia bahkan lupa pernah bilang itu. Tapi Xiao Zhen ingat.
"Kamu ingat..." bisiknya terharu.
"Aku ingat semua yang kamu katakan." Xiao Zhen turun dari mobil, membuka pintu untuk Suyin. "Ayo. Aku sudah booking tur pribadi."
Mereka berjalan di antara perkebunan teh yang hijau membentang luas—pemandangan yang sangat berbeda dari kehidupan kota yang sibuk. Udara sejuk dan segar, aroma daun teh yang khas menguar di mana-mana.
Pemandu tur—seorang bapak paruh baya yang ramah—menjelaskan proses penanaman teh, cara memetik daun yang benar, hingga proses pengolahannya.
Suyin mendengarkan dengan serius—ini berhubungan dengan dunia pertanian yang sekarang jadi passionnya. Dia bahkan bertanya banyak hal yang membuat pemandu tur terkesan dengan antusiasmenya.
"Anda sepertinya sangat tertarik dengan pertanian, Nona," ucap sang pemandu.
"Iya, saya punya kebun organik sendiri," jawab Suyin bangga. "Masih kecil sih, tapi saya sedang kembangkan."
"Wah, bagus sekali! Generasi muda yang tertarik pertanian makin langka sekarang."
Setelah tur selesai, mereka diajak ke sebuah gazebo kayu di puncak bukit dengan pemandangan seluruh perkebunan teh membentang di bawah. Di sana sudah disiapkan meja dengan teko teh, beberapa jenis kue tradisional, dan buah-buahan segar.
"Ini... indah sekali," bisik Suyin sambil duduk, menatap pemandangan yang seperti lukisan.
"Aku pikir kamu butuh ketenangan setelah minggu yang penuh drama," ucap Xiao Zhen sambil menuangkan teh untuk mereka berdua. "Tempat ini selalu membuatku merasa damai."
"Kamu sering ke sini?"
"Dulu, saat aku masih belajar mengendalikan emosi setelah kehilangan Xiu Lan. Aku sering datang ke sini sendirian, duduk berjam-jam sambil meditasi." Xiao Zhen menatap cangkir tehnya. "Tapi ini pertama kalinya aku datang dengan seseorang."
Suyin meraih tangan Xiao Zhen yang ada di atas meja. "Terima kasih sudah membawa aku ke tempat yang spesial untukmu."
"Kamu adalah orang yang spesial bagiku. Jadi wajar kalau aku bawa ke tempat yang spesial juga." Xiao Zhen membalas genggaman tangan Suyin.
Mereka menghabiskan dua jam di gazebo itu—berbincang tentang berbagai hal. Suyin bercerita tentang mimpinya untuk membuat bisnis pertanian organik yang besar, tentang inginnya suatu hari nanti bisa membantu petani kecil dengan berbagi ilmu dari ruang dimensinya—tentunya tanpa membuka rahasia ruang itu.
Xiao Zhen bercerita tentang rencana perusahaannya, tentang visinya untuk membuat sistem pertanian yang lebih berkelanjutan di Indonesia, tentang bagaimana pertemuan dengan Suyin sebenarnya juga membantunya melihat bisnis dari perspektif yang berbeda.
"Sebelum bertemu kamu, aku hanya fokus pada profit dan ekspansi," akui Xiao Zhen. "Tapi kamu mengingatkanku bahwa pertanian bukan hanya bisnis—tapi juga tentang memberikan makanan sehat untuk orang banyak, tentang menjaga tanah dan alam."
"Aku senang bisa memberimu perspektif itu," ucap Suyin sambil tersenyum.
Saat matahari mulai condong ke barat, mereka turun dari bukit—tapi tidak langsung pulang.
Xiao Zhen membawa Suyin ke restoran kecil di pinggir jalan—warung sederhana tapi terkenal dengan masakan Sunda yang enak.
"Aku tahu ini bukan restoran mewah," ucap Xiao Zhen sambil membuka pintu warung untuk Suyin. "Tapi makanannya luar biasa enak. Dan aku pikir kamu akan lebih suka tempat yang authentic daripada tempat yang fancy."
"Kamu benar!" Suyin tertawa. "Aku lebih suka begini."
Mereka makan dengan lahap—ikan bakar, ayam goreng, sayur asem, sambal yang pedas tapi enak. Suyin bahkan sampai menambah nasi dua kali karena terlalu enak.
"Lihat," ucap Xiao Zhen sambil menunjuk bibir Suyin. "Ada sambal."
"Di mana?" Suyin mengusap bibirnya dengan serbet.
"Masih ada." Xiao Zhen mengulurkan tangan, mengusap sudut bibir Suyin dengan ibu jarinya—gestur yang sangat intim dan membuat jantung Suyin berdebar keras.
"Sudah hilang sekarang," bisik Xiao Zhen, tatapannya tidak lepas dari mata Suyin.
Di sekitar mereka, beberapa pengunjung warung lain tersenyum melihat pasangan muda yang jelas sedang jatuh cinta.
Di perjalanan pulang, Suyin tertidur di kursi penumpang—kelelahan setelah seharian jalan-jalan tapi kelelahan yang menyenangkan.
Xiao Zhen sesekali melirik ke arah Suyin yang tidur dengan damai, senyum kecil tidak lepas dari wajahnya. Dia bahkan memperlambat laju mobil agar tidak terlalu bergoyang dan membangunkan Suyin.
Saat sampai di villa, Xiao Zhen tidak tega membangunkan Suyin. Dia membuka pintu dengan perlahan, lalu menggendong Suyin dengan hati-hati keluar dari mobil.
Suyin terbangun setengah sadar. "Xiao Zhen...?"
"Shhh, tidur lagi. Aku antar ke kamar," bisik Xiao Zhen.
Suyin melingkarkan tangannya di leher Xiao Zhen, wajahnya bersandar di dada pria itu—mendengar detak jantung yang teratur dan menenangkan.
Xiao Zhen membawa Suyin naik tangga dengan sangat hati-hati, membuka pintu kamar dengan siku, lalu meletakkan Suyin di tempat tidur dengan lembut.
Dia menarik selimut sampai ke dagu Suyin, menyingkirkan helai rambut yang menutupi wajahnya.
"Terima kasih untuk hari ini," bisik Suyin dengan mata masih tertutup, setengah tidur.
"Sama-sama. Selamat malam, Suyin."
Xiao Zhen mencium kening Suyin dengan lembut—lalu keluar dari kamar, menutup pintu dengan perlahan.
Di luar, dia bersandar pada pintu dengan senyum yang sangat jarang orang lain lihat—senyum pria yang benar-benar bahagia.
Selasa pagi, Suyin bangun dengan perasaan yang luar biasa baik.
Kemarin adalah kencan terbaik yang pernah dia alami—bahkan lebih baik dari kencan-kencan dengan mantan tunangannya dulu. Karena kemarin terasa tulus, natural, tidak ada yang dipaksakan.
Dia mandi dan bersiap untuk hari yang sibuk—hari ini dia harus mulai produksi massal untuk stok awal bisnis dengan Xiao Zhen.
Setelah sarapan cepat, Suyin masuk ke ruang dimensi.
WUSH!
Dan matanya langsung melebar.
Ada yang berbeda.
Sangat berbeda.
Di area yang biasanya kosong di ujung ruang dimensi—sekarang berdiri sebuah bangunan baru!
Bukan paviliun kecil seperti Aula Penyembuhan. Ini adalah rumah kaca besar bergaya modern—dindingnya dari kaca tembus pandang, atapnya tinggi dengan struktur besi yang indah.
"Apa ini?!" Suyin berlari mendekat dengan excited.
Di depan pintu rumah kaca, ada papan kayu dengan tulisan yang berkilauan:
"RUMAH KACA BUDIDAYA - FASILITAS LEVEL 2"
Suyin mendorong pintu—terbuka dengan mulus.
Di dalam, pemandangannya luar biasa.
Rumah kaca ini jauh lebih besar dari yang terlihat dari luar—entah bagaimana ada magic dimensi yang membuat interior lebih luas. Ada puluhan rak bertingkat dengan sistem hidroponik otomatis, lampu tumbuh yang bisa diatur intensitasnya, sistem irigasi canggih yang terhubung langsung ke mata air utama, bahkan ada area khusus dengan suhu dan kelembaban yang bisa dikontrol terpisah.
"Ini... ini surga buat petani..." bisik Suyin takjub.
Dia berjalan berkeliling, menyentuh semua peralatan dengan tangan gemetar karena excited. Ada meja kerja dengan alat-alat untuk grafting dan perbanyakan tanaman, rak benih dengan label yang sudah tersusun rapi (kosong, menunggu diisi), bahkan ada komputer tablet yang tertanam di dinding dengan interface yang menunjukkan data suhu, kelembaban, dan kondisi tanaman.
Di tengah ruang kaca, ada sebuah panel kontrol besar dengan layar sentuh. Suyin mendekatinya dengan hati-hati.
Begitu jarinya menyentuh layar, tulisan muncul:
"Selamat datang di Rumah Kaca Budidaya, Pemilik Ruang.
Fasilitas ini memungkinkan kamu untuk:
Menanam tanaman dengan sistem hidroponik (pertumbuhan 20% lebih cepat dari tanaman di tanah biasa)
Mengontrol iklim untuk setiap zona (bisa simulasi iklim tropis, subtropis, bahkan gurun)
Melakukan eksperimen cross-breeding tanaman dengan tingkat keberhasilan lebih tinggi
Memperbanyak tanaman langka dengan teknik kultur jaringan (tersedia peralatan laboratorium mini di ruangan samping)
Catatan: Rumah kaca ini adalah hadiah tambahan karena kamu mencapai Level 2 lebih cepat dari estimasi. Gunakan dengan bijak."
Suyin membaca tulisan itu tiga kali untuk memastikan dia tidak salah baca.
Rumah kaca dengan teknologi canggih. Sistem hidroponik. Kontrol iklim. Cross-breeding. Kultur jaringan.
Ini bukan lagi sekadar ruang dimensi untuk berkebun sederhana.
Ini adalah fasilitas penelitian dan produksi tingkat profesional!
"Pohon Kehidupan!" panggil Suyin sambil berlari keluar dari rumah kaca. "POHON KEHIDUPAN!"
"Aku di sini, Pemilik Ruang. Aku tahu kamu excited." Suara pohon terdengar geli.
"Rumah kaca itu! Dari mana datangnya?!"
"Itu adalah evolusi natural dari ruang dimensi yang berkembang dengan baik. Setiap level membuka fasilitas baru—kamu sudah tahu Aula Penyembuhan di Level 2. Rumah Kaca Budidaya adalah bonus karena kamu mengembangkan ruang dengan sangat produktif dan penuh kasih sayang pada tanaman."
"Bonus?!" Suyin hampir berteriak. "Ini bonus yang luar biasa!"
"Kamu layak mendapatkannya. Dan dengan fasilitas ini, produksi untuk bisnis kamu akan jauh lebih mudah dan lebih berkualitas."
Suyin duduk di rumput, mencoba menenangkan diri. Terlalu banyak kebahagiaan dalam dua hari terakhir—kemarin kencan pertama yang sempurna, hari ini dapat fasilitas luar biasa.
"Apa yang harus kulakukan untuk mencapai Level 3?" tanya Suyin penasaran.
"Level 3 membutuhkan kamu menanam 500 jenis tanaman berbeda dan panen total 10.000 kilogram hasil. Jauh lebih sulit dari Level 2."
"Berapa lama kira-kira?"
"Dengan produksi normal, mungkin enam bulan sampai setahun. Tapi kalau kamu serius dengan bisnis dan menggunakan Rumah Kaca Budidaya secara optimal... mungkin tiga sampai empat bulan."
Suyin tersenyum lebar. Challenge accepted.
"Oke. Aku akan serius. Aku akan buat ruang dimensi ini berkembang sampai level tertinggi—apapun itu."
"Aku tidak ragu kamu akan berhasil. Tapi ingat—jangan sampai obsesi dengan level membuat kamu lupa menikmati prosesnya. Dan jangan lupa orang-orang di sekitarmu yang peduli padamu."
Suyin mengangguk. "Aku mengerti. Keseimbangan itu penting."
Dia menghabiskan sisa pagi itu—yang di luar baru dua jam tapi di dalam hampir tiga puluh jam—untuk eksplorasi semua fitur Rumah Kaca Budidaya.
Dia belajar cara mengoperasikan sistem hidroponik, mengatur zona iklim, bahkan mulai eksperimen kecil dengan menanam tomat cherry di sistem hidroponik untuk membandingkan dengan yang di tanah.
Saat keluar dari ruang dimensi, Suyin langsung berlari mencari Xiao Zhen—ingin berbagi kabar gembira ini.
Dia menemukannya di ruang kerja, sedang video call dengan klien.
Suyin menunggu di luar dengan sabar—walau hampir melompat-lompat karena excited.
Begitu pintu ruang kerja terbuka dan Xiao Zhen keluar, Suyin langsung menyerangnya dengan pelukan.
"Woah!" Xiao Zhen hampir kehilangan keseimbangan tapi langsung stabil dan membalas pelukan. "Ada apa? Kamu terlihat sangat senang."
"Ruang dimensiku dapat fasilitas baru! Rumah kaca budidaya dengan teknologi canggih! Sistem hidroponik! Kontrol iklim! Ini luar biasa!" Suyin berbicara dengan cepat, matanya berbinar.
Xiao Zhen tertawa—tawa yang hangat dan tulus. "Pelan-pelan. Cerita dari awal."
Suyin menceritakan semuanya dengan detail—Rumah Kaca Budidaya, semua fitur yang ada, potensi untuk meningkatkan produksi.
Xiao Zhen mendengarkan dengan serius, sesekali bertanya detail teknis.
"Ini... ini game changer untuk bisnis kita," ucap Xiao Zhen akhirnya. "Dengan fasilitas seperti itu, kamu bisa produksi sayuran eksotis yang sulit tumbuh di Indonesia—seperti strawberry kualitas Jepang, asparagus premium, bahkan truffle kalau kamu mau."
"Truffle?!" Suyin tidak pernah berpikir sejauh itu.
"Kenapa tidak? Ruang dimensimu bisa kontrol iklim dan kelembaban. Truffle butuh kondisi sangat spesifik yang hampir tidak mungkin diciptakan di Indonesia—tapi kalau di ruang dimensimu bisa simulasi iklim Eropa..."
Mata Suyin makin berbinar. "Kamu benar! Aku bisa tanam apapun! Tidak terbatas pada tanaman tropis!"
"Tepat sekali." Xiao Zhen tersenyum melihat excitement Suyin. "Tapi satu-satu dulu. Master yang sudah ada dulu, baru expand ke yang lebih eksotis."
"Iya, aku tahu." Suyin mengangguk. "Oh ya, aku sudah siapkan stok awal yang kamu minta. Lima puluh kilogram berbagai jenis sayuran. Semua sudah dikemas rapi di gudang ruang dimensi. Mau aku keluarkan sekarang?"
"Bagus! Aku sudah atur meeting dengan klien pertama besok pagi. Mereka akan sampling produk kita." Xiao Zhen melirik jam. "Keluarkan sore ini saja, biar kita bisa cek kualitas sekali lagi sebelum besok."
"Oke!"
Sore itu, mereka berdua menghabiskan waktu di dapur villa yang luas—menyortir dan mengemas ulang sayuran untuk presentasi besok.
Xiao Zhen yang biasanya serius dan formal terlihat sangat berbeda—lengan baju digulung, rambut sedikit berantakan, fokus pada pekerjaan tapi sesekali melirik Suyin dengan senyum.
Suyin juga menikmati momen ini—bekerja bersama untuk sesuatu yang mereka berdua peduli.
"Kita tim yang bagus," ucap Suyin sambil merapikan label di salah satu box.
"Tim terbaik," balas Xiao Zhen sambil menyentuh tangan Suyin sebentar—sentuhan kecil yang membuat keduanya tersenyum.
Saat semua selesai dikemas, mereka berdiri menatap hasil kerja mereka—dua puluh box berisi sayuran organik premium, siap untuk dipresentasikan ke klien pertama.
"Besok adalah awal dari sesuatu yang besar," ucap Xiao Zhen.
"Aku siap," jawab Suyin dengan penuh percaya diri.
Dan dia benar-benar siap.
Dengan ruang dimensi yang terus berkembang, dengan Xiao Zhen di sampingnya, dengan tim yang solid dan mimpi yang besar—Suyin tahu bahwa masa depannya akan penuh dengan kemungkinan yang tak terbatas.
Petualangannya baru saja dimulai.
Dan dia tidak sabar untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.