Pernikahan kontrak atau karena tekanan keluarga. Mereka tinggal serumah tapi seperti orang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Pesan di Balik Napas yang Tersengau
Pagi di rumah sakit selalu membawa suasana yang ganjil, perpaduan antara harapan tipis yang baru lahir dan sisa-sisa kecemasan yang masih menggantung dari malam sebelumnya. Cahaya matahari yang masuk melalui celah gorden ruang VIP itu tampak pucat, menerangi debu-debu yang menari di udara. Ayah Kiki akhirnya siuman. Meskipun selang oksigen masih setia melingkar di hidungnya dan bunyi mesin monitor jantung berdetak beraturan di latar belakang, pria tua itu tampak jauh lebih baik daripada semalam.
Saat Fikar dan Kiki melangkah masuk ke ruang perawatan, Ayah Kiki menoleh perlahan. Sebuah senyum lemah terukir di bibirnya yang kering. Dengan isyarat tangan yang gemetar, ia meminta Fikar untuk mendekat. Kemudian, dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia meraih tangan Fikar dan tangan Kiki, menyatukannya tepat di atas dadanya yang naik, turun dengan napas yang masih pendek, pendek.
“Fikar...” suara Ayah Kiki terdengar sangat parau, nyaris seperti bisikan yang pecah. “Terima kasih... sudah menjaga putriku. Aku tahu... aku sudah memberikan beban yang sangat berat padamu dengan pernikahan ini. Tapi melihat bagaimana kamu sigap menjaganya semalam... aku merasa bisa pergi dengan tenang.”
Kalimat itu menghantam jantung Kiki seperti petir di siang bolong. Dadanya terasa sesak oleh rasa bersalah yang luar biasa. Ia ingin sekali berteriak, mengatakan pada ayahnya bahwa semua kemesraan semalam hanyalah akting belaka, sebuah sandiwara demi menjaga kesehatan jantung pria itu. Namun, melihat sorot mata ayahnya yang begitu damai dan penuh syukur, lidah Kiki mendadak kelu. Ia hanya bisa membisu dengan air mata yang mulai merembes jatuh ke pipinya.
Ia melirik Fikar melalui sudut matanya, bersiap mendengar jawaban formal yang dingin atau gumaman sekedar untuk menyenangkan orang tua. Namun, apa yang keluar dari bibir Fikar justru membuat Kiki mematung di tempatnya berdiri.
“Jangan bicara soal pergi, Yah. Kiki masih sangat butuh Ayah, dan aku...” Fikar menjeda kalimatnya, suaranya terdengar sangat rendah namun penuh dengan getaran yang terasa nyata. “Aku masih butuh banyak belajar dari Ayah tentang bagaimana caranya menjadi suami yang baik. Aku tidak ingin mengecewakan kepercayaan Ayah.”
Tidak ada nada sarkasme. Tidak ada ekspresi kaku yang biasanya ia tunjukkan. Fikar justru menggenggam tangan Kiki lebih erat di atas dada ayah mertuanya, seolah ia sedang memberikan sebuah sumpah yang tak terlihat. Untuk sesaat, Kiki merasa seolah-olah dunia berhenti berputar.
Setelah Ayah Kiki kembali tertidur karena pengaruh obat bius dan rasa lelah, keheningan yang menyesakkan kembali menyelimuti mereka berdua. Kiki segera menarik tangannya dari genggaman Fikar, seolah-olah tangan suaminya itu adalah bara api yang membakar kulitnya. Ia mundur satu langkah, menatap Fikar dengan tatapan yang sarat akan luka dan kebingungan.
“Kenapa kamu berbohong padanya, Mas? Kenapa kamu memberi harapan setinggi itu pada pria yang sedang bertaruh nyawa?” bisik Kiki pedih. Suaranya bergetar menahan tangis yang kembali membuncah.
Fikar tidak langsung menjawab. Ia bangkit dari kursinya, berjalan menuju jendela besar yang menampilkan kesibukan kota Jakarta di bawah sana. Ia berdiri membelakangi Kiki cukup lama, membiarkan keheningan itu merambat di antara mereka.
“Siapa bilang aku berbohong?” Fikar akhirnya bersuara tanpa menoleh. “Aku memang perlu banyak belajar, Kiki. Semalam, saat aku melihatmu gemetar ketakutan karena takut kehilangan ayahmu... aku mendadak merasa seperti orang paling bodoh sedunia. Aku terlalu sibuk meratapi masa laluku dengan Clara, sampai, sampai aku buta. Aku hampir kehilangan wanita yang sebenarnya selalu ada untukku, bahkan saat aku memperlakukannya seperti orang asing.”
Fikar berbalik. Di bawah cahaya lampu neon yang putih dan steril, wajahnya tampak sangat lelah namun matanya menunjukkan kejujuran yang belum pernah Kiki lihat selama tiga bulan pernikahan mereka. Tatapan itu penuh penyesalan, sebuah keinginan untuk memperbaiki apa yang sudah ia hancurkan sendiri.
“Aku tidak ingin pernikahan ini gagal karena keegoisanku lagi. Aku tidak bisa menjanjikan cinta instan yang meledak, ledak, tapi aku ingin kita berhenti bersandiwara. Bisakah kita... benar-benar mulai dari awal? Sebagai sepasang suami istri yang nyata?”
Kiki tertegun. Di ruangan yang didominasi warna putih itu, ia merasa seolah sebuah pintu baru yang tadinya tertutup rapat kini mulai terbuka sedikit. Harapan kecil yang hampir mati di hatinya kembali berdenyut. Namun, tepat saat ia hendak membuka mulut untuk menjawab, sebuah getaran dari atas meja nakas memecah suasana.
Ponsel Fikar menyala. Sebuah notifikasi pesan muncul di layar kunci, dan karena jarak mereka yang dekat, Kiki bisa membacanya dengan sangat jelas.
“Aku menunggumu di tempat biasa, Fikar. Jangan biarkan aku menunggu terlalu lama. Aku tahu kamu tidak bisa mengabaikanku selamanya.”, Clara.
Seketika, binar harapan di mata Kiki padam. Ia tersenyum getir, sebuah tawa tanpa suara yang lebih menyakitkan daripada tangisan. Ternyata benar, meskipun Fikar mengatakan ingin memulai dari awal, bayang-bayang masa lalu itu adalah monster yang tidak akan pernah membiarkan mereka melangkah dengan mudah.
Fikar mematung menatap layar ponselnya yang masih menyala. Nama Clara di sana seolah menjadi kutukan yang datang di waktu yang paling salah. Ia bisa merasakan suasana di ruangan itu berubah drastis dalam hitungan detik. Kehangatan yang sempat tercipta mendadak menguap, digantikan oleh hawa dingin yang lebih menusuk daripada pendingin ruangan rumah sakit.
“Pergilah, Mas,” ucap Kiki pelan. Suaranya kini terdengar sangat datar, seolah ia baru saja mematikan semua emosinya. Ia memalingkan wajah, kembali memfokuskan pandangannya pada jemari ayahnya yang keriput. “Tempat biasa itu pasti jauh lebih penting daripada ruang tunggu rumah sakit yang membosankan ini. Jangan buat dia menunggu, bukankah kamu paling benci melihat wanita yang kamu ‘cintai’ itu merasa kecewa?”
Fikar menyambar ponselnya dengan gerakan kasar, langsung mematikannya hingga layar menjadi hitam pekat. Ia melangkah mendekati Kiki, mencoba meraih bahu istrinya, namun Kiki menghindar dengan gerakan halus yang terasa sangat menyakitkan bagi Fikar.
“Kiki, dengarkan aku dulu. Itu hanya pesan. Aku tidak akan pergi ke mana pun. Aku di sini, bersamamu, di samping ayahmu,” tegas Fikar, mencoba meyakinkan Kiki.
“Kamu di sini secara fisik, tapi pikiranmu?” Kiki menoleh, menatap Fikar dengan mata yang kembali merah karena air mata. “Setiap kali ponselmu bergetar karena namanya, kamu berubah menjadi pria lain. Kamu menjadi pria yang penuh rahasia dan dinding pembatas. Aku lelah, Mas. Aku sangat lelah harus terus bersaing dengan bayangan wanita yang bahkan tidak ada di ruangan ini, tapi selalu memenangkan perhatianmu.”
Fikar menghela napas panjang, rasa frustrasi dan kemarahan pada dirinya sendiri mulai merayap di wajahnya. Ia menyadari sepenuhnya bahwa kepercayaan yang sudah ia hancurkan berkali, kali tidak akan bisa direkatkan kembali hanya dengan satu kalimat manis di samping tempat tidur rumah sakit. Apalagi saat masa lalu terus mengetuk pintunya tanpa tahu malu.
Namun, saat ia menatap wajah Kiki yang sembab, ia melihat kerapuhan yang luar biasa. Wanita ini telah memberikan segalanya, kesabaran, waktu, bahkan mengorbankan perasaannya demi membantu ekonomi keluarganya melalui kontrak ini. Kiki adalah satu-satunya orang yang tetap berdiri kokoh di sampingnya, meski ia telah memberikan seribu alasan untuk pergi meninggalkannya.
“Aku akan mengakhirinya malam ini juga,” ujar Fikar dengan nada suara yang penuh keyakinan baru. Ia menatap Kiki tepat di matanya, mencoba menyalurkan keberanian yang ia miliki. “Aku akan memastikan Clara tidak akan pernah mengirim pesan seperti itu lagi. Bukan karena aku ingin kembali atau membencinya, tapi karena aku ingin benar-benar memberimu ruang yang luas di hidupku tanpa ada bayang-bayang siapa pun lagi.”
Kiki menatap Fikar dengan ragu yang masih sangat kental. Ada ketakutan besar di matanya, ketakutan bahwa ini hanyalah janji manis sesaat untuk menenangkan situasi di depan ayahnya. Namun, genggaman tangan Fikar yang kini kembali meraih jemarinya terasa jauh lebih hangat, lebih posesif, dan lebih jujur daripada sebelumnya.
Di antara aroma obat-obatan yang tajam dan bunyi beraturan mesin detak jantung, sebuah babak baru yang lebih jujur mulai tertulis di antara mereka. Meski mereka tahu, di luar sana badai yang sesungguhnya mungkin baru saja akan dimulai, Kiki memutuskan untuk memberikan satu kesempatan terakhir, bukan untuk Fikar, tapi untuk hatinya sendiri yang masih ingin berjuang.
aku kok bingung bacanya...
ntar giliran kewajiban nuntut, tp hak sbagai suami ga d jalankan.
ku doain semoga arini ketemu laki laki lain yang memperlakukan dia dgn baik, biar aris ini menyesal seumur hidup
Sedih
Tapi maaf sebelum nya, apa narasi nya ke copy dua kali🙏🙏 Soal nya ada bagian yg sama pas ngebahas perjanjian pernikahan mereka.