Senja selalu identik dengan keindahan, tetapi bagi mereka yang pernah kehilangan, senja justru menjadi pengingat akan luka yang belum sembuh.
Seorang lelaki yang tumbuh tanpa orang tua dan seorang perempuan yang patah oleh cinta, dipertemukan di kota kecil yang sepi, tepat di bawah langit jingga yang sama. Keduanya sama-sama membawa masa lalu yang belum selesai, trauma yang tidak pernah benar-benar hilang.
Dalam pertemuan yang sederhana, tumbuh perasaan yang pelan—bukan untuk saling menyelamatkan, melainkan untuk saling menemani di tengah rasa hampa.
Sisi Tergelap Senja adalah kisah tentang cinta yang lahir dari luka, tentang kehilangan yang tidak selalu bisa disembuhkan, dan tentang dua manusia yang belajar menerima bahwa tidak semua yang indah berarti bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sifatori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hal Yang Tidak Pernah Selsai
Senja kali ini datang tanpa suara.
Langit perlahan berubah warna, dari biru pucat menjadi jingga yang terlalu tenang untuk sebuah hati yang masih berisik.
Aku duduk di tempat yang sama seperti kemarin. Bangku kayu di sudut taman yang catnya mulai mengelupas, dingin saat disentuh. Di sekelilingku, suara kendaraan terdengar samar, bercampur dengan tawa anak-anak kecil yang berlarian tanpa peduli dunia. Daun-daun kering bergesekan tertiup angin, menciptakan suara kecil yang anehnya terdengar lebih keras dari pikiranku sendiri.
Aku pernah berpikir, waktu bisa menyembuhkan segalanya.
Ternyata tidak. Waktu hanya mengajarkan kita cara menyimpan luka agar terlihat baik-baik saja di depan orang lain. Kita belajar tersenyum di tempat umum, tertawa di depan teman, lalu menangis sendirian saat malam datang.
Ada banyak hal yang ingin aku katakan padanya dulu.
Kalimat sederhana seperti “aku capek”, atau “tolong jangan pergi”. Tapi semuanya selalu berhenti di tenggorokan, berubah menjadi diam yang panjang dan canggung. Aku selalu memilih menunggu, berharap dia peka, berharap dia mengerti tanpa perlu dijelaskan.
Bukan karena aku tidak berani.
Tapi karena aku takut, kalau semua itu diucapkan, justru tidak ada lagi alasan untuk berharap. Kadang berharap memang melelahkan, tapi kehilangan harapan jauh lebih menakutkan.
Aku ingat sore itu.
Kami duduk berdampingan, menatap langit yang hampir sama warnanya dengan hari ini. Dia tersenyum, tapi matanya tidak. Seolah ada sesuatu yang ingin ia sampaikan, tapi memilih untuk menyimpannya sendiri.
“Kalau suatu hari aku berubah, kamu masih mau di sini?” katanya waktu itu.
Aku hanya tertawa kecil dan menjawab, “Kamu nggak akan berubah sejauh itu.”
Ternyata aku salah.
Sekarang aku paham, perubahan tidak selalu datang dengan suara keras.
Kadang ia datang perlahan, lewat sikap yang makin dingin, balasan pesan yang makin singkat, dan jarak yang tiba-tiba terasa terlalu luas untuk dijelaskan.
Angin sore menyentuh wajahku, dingin, membawa aroma tanah yang lembap. Rasanya seperti sentuhan halus yang mengingatkan bahwa ada jarak yang tidak bisa didekatkan hanya dengan perasaan.
Seorang anak kecil berhenti di depanku, menatap sepatuku yang kotor. Ibunya memanggil dari jauh, lalu tersenyum canggung padaku sebelum menarik tangan anak itu pergi. Aku membalas senyum itu, meski rasanya kaku. Aku iri pada hal-hal sederhana seperti itu—panggilan, genggaman tangan, dan kepastian bahwa seseorang akan menunggumu.
Aku tersenyum kecil.
Bukan karena bahagia, tapi karena akhirnya sadar…
Kadang yang paling menyakitkan bukan ditinggalkan,
tapi menyadari bahwa kita terlalu lama bertahan pada sesuatu yang sebenarnya sudah selesai.
Seorang penjual minuman lewat di depanku, menawarkan teh hangat. Aku menggeleng pelan. Bukan karena tidak haus, tapi karena ada rasa kosong yang tidak bisa diisi dengan apa pun. Bahkan minuman hangat pun tidak cukup untuk menenangkan dingin yang datang dari dalam dada.
Di kejauhan, sepasang orang berjalan berdampingan. Mereka tertawa pelan, saling bercerita, seolah dunia tidak pernah mengenal kata kehilangan. Tanganku refleks menggenggam ujung jaket sendiri, merasakan dingin yang entah datang dari udara atau dari dalam pikiranku sendiri.
Aku menatap mereka sebentar, lalu menunduk.
Mungkin bukan aku yang tidak cukup kuat.
Mungkin memang ada cerita yang tidak ditakdirkan untuk memiliki akhir yang bahagia—
hanya pelajaran yang harus diterima dengan hati yang perlahan belajar ikhlas.
Lampu taman mulai menyala satu per satu. Orang-orang pulang, langit makin gelap, dan aku masih duduk di sini, bersama pikiran yang belum benar-benar selesai. Aku sadar, selama ini aku bukan hanya merindukan dia, tapi juga merindukan versi diriku yang dulu—yang masih percaya bahwa cinta selalu punya jawaban.
Aku bertanya pada diriku sendiri,
apakah aku merindukan dia…
atau hanya merindukan perasaan dimiliki?
Karena mungkin, yang sebenarnya hilang bukan dia.
Tapi harapan yang pernah aku titipkan terlalu banyak padanya.
Dan senja pun tenggelam,
membawa satu pertanyaan yang masih menggantung di kepalaku:
Kalau memang semua ini sudah selesai…
kenapa rasanya aku masih belum benar-benar sembuh?