Pertemuan Elina dengan Alex seorang mafia kejam yang dikenal dengan julukan "Raja Iblis" memiliki kekuasaan diberbagai wilayah, Alex yang memiliki masa lalu kelam dan telah melakukan banyak kekejaman dalam mencapai kekuasaannya, tetapi ia memiliki prinsip untuk melindungi yang lemah dan tidak berdaya.
Ketika seorang wanita muda bernama Elina dikejar oleh geng rival, ia berlari menuju klub malam mewah yang terkenal dan ternyata merupakan milik Alex, untuk menghindari kejaran geng rival dan mencari perlindungan Elina pun memasuki klub malam tersebut.
Di dalam klub tersebut Elina tak sengaja bertabrakan dengan Alex, Alex yang terkejut mencoba untuk mencerna apa yang terjadi pada wanita yang menabraknya. Elina yang tak tau siapa itu Alex, langsung meminta pertolongan padanya. Pertemuan ini pun menjadi awal dari cerita yang akan penuh dengan aksi, romansa dan intrik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MY QUEEN ATRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji di Atas Luka
Perlahan butiran air hujan jatuh di kaca jendela besar ruang kerja Alex, mengisi keheningan malam itu, lampu ruangan yang redup membuat bayangan mereka berdua memanjang di lantai kayu, Alex dan Elina masih berdiri saling berhadapan, kata-kata Alex barusan membuat Elina terdiam.
"Sudah terlambat… bagiku kau sudah menjadi segalanya" ucap Alex
Elina merasakan dadanya kembali sesak, ia tidak pernah membayangkan pria sepertinya...... seorang mafia yang ditakuti banyak orang, akan mengatakan sesuatu yang begitu lantang keluar dari mulutnya.
Sejenak Elina menunduk untuk mencoba mengendalikan perasaannya, namun Alex tidak membiarkannya terus tenggelam dalam pikirannya sendiri. Tangan Alex perlahan menyentuh dagu Elina, mengangkat wajah wanita itu agar menatapnya kembali.
"Apa kau menyesal datang di kehidupanku ?" tanya Alex pelan.
Pertanyaan itu membuat Elina terpaku dan terdiam, terasa seperti pisau yang perlahan menekan hatinya.
"Aku… Aku tidak menyesal sama sekali" Elina berhenti sejenak, lalu menggelengkan wajahnya pelan. Jawaban itu membuat tatapan Alex sedikit melembut.
"Tapi aku takut" ucap Elina.
"Takut pada apa?" tanya Alex.
Elina menatap luka kecil di pelipis Alex yang mulai mengering, ia mengambil kotak P3K yang berada di atas meja dan menarik Alex untuk duduk di sofa.
"Kau bahkan belum membersihkan lukamu" ucap Elina.
Alex sebenarnya ingin menjawab bahwa luka seperti ini bukan apa-apa baginya, tapi ia memilih diam. Ia membiarkan Elina merawat lukanya, ntuk pertama kalinya dalam hidupnya, Alex merasa aneh.
Di dunia tempat ia hidup, luka biasanya dibersihkan dengan tergesa-gesa oleh dokter atau anak buahnya, tidak ada yang pernah merawatnya dengan tangan yang begitu hati-hati.
Elina duduk di depan Alex sambil membersihkan luka kecil di pelipisnya dengan kapas yang sudah dia basahi dengan antiseptik.
"Ini mungkin sedikit perih" ucap Elina pelan.
"Tidak masalah" ucap Alex.
Namun saat kapas menyentuh lukanya, Alex sedikit mengernyit dan Elina yang menyadari itu langsung berhenti.
"Apakah rasanya...... Sakit?" tanya Elina
"Tidak" ucap Alex menggelengkan kepalanya.
"Kau berbohong lagi" ucap Elina menatap Alex curiga.
Alex menghela napas dengan suara kecil, lalu berkata dengan nada santai "Iya, Sedikit sakit".
Elina menggeleng pelan sambil tersenyum tipis "Hemm.... kau benar-benar buruk dalam berbohong".
Beberapa detik mereka hanya terdiam, suara hujan di luar menjadi latar yang menenangkan, setelah selesai membersihkan luka, Elina menempelkan plester luka berukuran kecil di pelipis Alex.
"Sudah" ucap Elina merasa bahagia telah mengobati luka Alex.
Namun saat ia hendak menarik tangannya, Alex menahannya, tangannya menggenggam pergelangan tangan Elina dengan lembut.
"Elina" ucap Alex, nada suaranya kali ini berbeda, terasa lebih serius, Elina kemudian menatapnya.
"Ada sesuatu yang belum kukatakan tadi" ucap Alex.
"Apa?" tanya Elina.
Alex terdiam sejenak, ia bukan pria yang terbiasa menjelaskan dirinya kepada orang lain, namun di depan Elina ia merasa ingin jujur.
"Rehan tidak akan berhenti" ucap Alex, mendengar itu Elina mengernyit.
"Maksudmu?" tanya Elina.
"Pelabuhan hanyalah satu bagian kecil dari permainan ini. Ada orang lain di belakangnya" jawab Alex.
Elina mulai memahami perkataan Alex "Musuh yang lebih besar?" tanya Elina.
Alex mengangguk pelan dan berkata "Elina… mulai malam ini, semuanya akan menjadi lebih berbahaya"
Kata-kata itu membuat wajah Elina sedikit menegang, namun bukannya mundur, ia justru menatap Alex dengan lebih serius "Lalu kenapa kau memberitahuku?" tanya Elina.
"Karena aku tidak ingin berbohong padamu" jawab Alex yang tersenyum tipis.
Hening kembali menyelimuti mereka, Elina menarik napas dalam dan berkata "Kalau begitu aku juga harus jujur." Alex mengangkat alisnya sedikit.
"Sejak aku bertemu denganmu… hidupku berubah" ucap Elina, ia menunduk sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.
"Awalnya aku hanya ingin bertahan hidup, aku pikir jika aku menjauh dari masalah dan ikut bersama mu, semuanya akan baik-baik saja" Elina tersenyum pahit "Tapi sekarang aku sadar sesuatu"
"Apa itu?" tanya Alex.
Elina menatap Alex langsung ke matanya dan berkata "Selama aku bersamamu… aku tidak akan pernah benar-benar jauh dari bahaya"
Alex tidak membantah karena itu memang kenyataan, namun Elina melanjutkan kalimatnya "Tapi anehnya… aku tidak ingin pergi menjauh darimu" Alex sedikit terkejut.
"Kenapa?" tanya Alex.
Elina menghela napas pelan "Karena setiap kali aku mencoba menjauh… aku justru lebih takut kehilanganmu" ucap Elina.
Kata-kata itu membuat ruangan terasa semakin sunyi Alex menatap Elina lama, sesuatu di dadanya terasa hangat, ia berdiri perlahan dari sofa dan Elina pun ikut berdiri tanpa ia sadari, kini mereka kembali berdiri sangat dekat.
"Kalau begitu dengarkan aku" ucap Alex, suaranya rendah namun tegas.
"Aku tidak akan memaksamu tinggal di dunia ini" ucap Alex. Elina menatapnya heran.
"Tapi selama kau ada di sisiku… aku akan memastikan tidak ada yang menyentuhmu" ucap Alex.
Elina tersenyum kecil dan berkata "Itu terdengar seperti janji mafia"
Alex sedikit menyeringai "Memang"
Alex mengangkat tangan Elina perlahan dan berkata "Dan aku tidak pernah melanggar janjiku"
Elina menatap tangan mereka yang saling menggenggam lalu berkata pelan "Kalau begitu aku juga punya satu janji"
"Apa?" tanya Alex.
Elina menatap Alex dengan mata yang jernih dan sendu "Aku tidak akan menjadi kelemahanmu" ucap Elina.
"Bagaimana caranya?" tanya Alex yang sedikit mengernyit.
"Aku akan belajar" jawab Elina yang tersenyum kecil.
"Belajar?" tanya Alex heran.
"Bertahan....... Belajar menghadapi dunia yang kau jalani" jawab Elina.
Alex menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca "Dunia ini tidak seindah yang kau bayangkan" ucap Alex
"Aku tahu" ucap Elina.
"Dan dunia ini juga tidak adil" ucap Alex.
Elina mengangguk dan berkata "Tapi jika aku ingin tetap di sisimu… aku harus cukup kuat."
Beberapa detik Alex tidak berkata apa-apa lagi, lalu menghela napas pelan "Aku sebenarnya tidak ingin kau terlibat lebih jauh" ucap Alex.
"Sepertinya sudah terlambat" ucap Elina tertawa kecil.
Alex tidak bisa membantah dan akhirnya ia berkata "Kalau begitu aku akan mengajarimu"
"Mengajariku?" ucap Elina sedikit terkejut.
"Ya" jawab Alex.
"Seperti latihan bela diri waktu itu?" tanya Elina.
Alex mengangguk dan berkata "Tapi kali ini sedikit lebih serius"
Elina menatapnya dengan mata sedikit berbinar.
"Baik" ucap Elina menatapnya dengan mata sedikit berbinar.
"Kau tidak takut?" tanya Alex yang menatapnya heran.
"Takut" ucap Elina tersenyum.
"Lalu kenapa kau setuju?" tanya Alex, Elina mendekat sedikit.
"Karena aku percaya padamu" jawab Elina.
Kalimat itu membuat Alex terdiam, di dunia yang penuh pengkhianatan ini kepercayaan adalah sesuatu yang sangat langka, namun Elina memberikannya begitu saja.
Alex menghela napas pelan lalu berkata "Baiklah."
Ia menggenggam tangan Elina lebih erat "Tapi kau harus berjanji satu hal lagi" ucap Alex serius.
"Apa?" tanya Elina.
"Jika suatu hari nanti situasi menjadi terlalu berbahaya…" ucap Alex menatap Elina dalam-dalam.
"Kau harus pergi" lanjutnya, Elina langsung menggeleng.
"Tidakkkkk" ucap Elina dengan wajah kesal.
"Dengarkan aku dulu..... Aku bisa menghadapi musuhku. Tapi aku tidak bisa bertarung dengan tenang jika ada kamu ditengahnya" ucap Alex.
Nada suara Alex membuat Elina terdiam, ia tahu Alex serius. Akhirnya Elina berkata pelan "Baik!!!"
Alex mengangkat alisnya "Kau setuju?"
"Tapi dengan satu syarat" ucap Elina.
"Syarat?" tanya Alex.
Elina menatap Alex tajam, kemudian berkata "Kalau begitu kau harus tetap hidup sampai aku kembali"
Mendengar ucapan Elina, Alex tertawa pelan. Mungkin itu permintaan paling sederhana sekaligus paling sulit, namun ia tetap menjawab "Baik."
Di luar jendela hujan turun semakin deras, di dalam ruangan itu, dua orang yang berasal dari dunia berbeda akhirnya membuat janji yang sama, janji yang lahir di atas luka. Tanpa mereka sadari di tempat lain seseorang sedang memandang foto Alex dengan senyum tipis.
"Jadi… akhirnya kau menemukan kelemahanmu, Alex!!!"
Pria itu mematikan rokoknya perlahan "Hm… ini akan menjadi permainan yang menarik."
kak lanjut epsd 3 dong 🔥🔥