Kevin sanjaya adalah seorang pemuda pekerja keras yang berasal dari keluarga miskin. Demi menyambung hidup, ia bekerja sebagai kurir pengantar makanan untuk sebuah perusahaan Ojol Indonesia.
Suatu hari, dalam salah satu pengantaran malamnya, ia mengalami kejutan pahit. Kamar hotel yang menjadi tujuan pesanannya ternyata adalah kamar yang dipesan oleh pacarnya sendiri—bersama pria lain—untuk menghabiskan malam.
Tertangkap basah, sang pacar justru memutuskan hubungan mereka di tempat itu juga. Dengan dingin, ia mengatakan bahwa Kevin sanjaya terlalu miskin dan tidak mampu memberinya kehidupan yang diinginkan.
Saat amarah dan penghinaan hampir meluap, sebuah notifikasi tiba-tiba terdengar dari ponselnya:
“Pengantaran selesai. Hadiah sistem telah diperoleh!”
Berkat kebiasaannya membaca novel, Kevin sanjaya langsung menyadari satu hal,
ia telah mendapatkan sebuah sistem cheat.
Sistem ini memberinya hadiah luar biasa setiap kali ia menyelesaikan misi pengantaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenjiro Dominic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 – Aku Punya Uang, Tapi Tetap Rendah Hati
Di luar Vila Laut Kuning, kerumunan sudah terbentuk tanpa disadari.
Sebuah Rolls-Royce klasik terparkir anggun di depan pintu, aura kemewahannya membuat siapa pun yang melihat tanpa sadar menahan napas.
“Itu bukan Rolls-Royce biasa,” ujar seorang pria paruh baya dengan suara kagum.
“Itu edisi klasik kustom. Harganya bisa berkali-kali lipat dari versi standar. Pemesanannya saja minimal dua tahun. Nilainya setidaknya… dua ratus Miliar.”
“Apa?! Dua ratus Miliar cuma buat mobil?”
“Orang seperti itu… pasti bukan orang sembarangan.”
Beberapa orang saling berbisik.
“Aku dengar cuma ada satu mobil seperti ini di seluruh kota.”
“Katanya milik CEO Imperial Entertainment. Biasanya hanya dipakai untuk menjamu tamu super VIP.”
Semua mata tertuju pada satu sosok.
Kevin Sanjaya.
Langkahnya tenang, Dan tidak terburu-buru. Tidak pula menunjukkan kesombongan sedikit pun.
Saat pintu Rolls-Royce terbuka dan ia duduk di kursi belakang.
Kerumunan terdiam.
Christian Karamoy, Megan, dan para alumni lainnya berdiri kaku di tempat. Mereka menatap pemandangan itu seolah-olah sedang melihat mimpi.
Mobil itu…
Benar-benar datang untuk Kevin Sanjaya.
“Jadi… selama ini…”
“Dia serius?”
Tak ada satu pun yang berani tertawa lagi.
Baru sekarang mereka mengerti.
Tidak heran Kevin Sanjaya sejak awal tidak tersinggung oleh ejekan mereka. Bukan karena ia tidak mampu membalas, melainkan karena ia memilih untuk merendah.
Christian mengepalkan tangannya pelan. Wajahnya memerah, bukan karena marah, melainkan malu.
Ia teringat bagaimana tadi ia dengan bangga memamerkan BMW miliknya. Mobil yang ia beli dengan susah payah di depan Kevin Sanjaya.
Sekarang ia sadar.
Di mata Kevin Sanjaya, mobil itu mungkin tak lebih dari mainan anak-anak.
Namun Kevin, Tidak pernah sekalipun merendahkannya.
“Kevin…” gumam Christian pelan.
“Dia benar-benar orang besar.”
Ia menoleh ke Megan.
“Kita seharusnya berhenti menjadikan Kevin bahan bercandaan. Levelnya sudah jauh di atas kita.”
Megan mengangguk, tenggorokannya terasa kering.
“Orang yang bisa memanggil Rolls-Royce hanya dengan satu telepon… siapa yang berani meremehkannya?”
Perlahan, mereka kembali ke ruang privat.
Namun kejutan belum berakhir.
Beberapa staf vila masuk, mendorong troli demi troli berisi anggur premium.
Botol-botol mahal berjajar rapi, kilau kaca dan label emasnya langsung membuat ruangan hening.
“Maaf,” Christian berdiri gugup.
“Kami tidak memesan minuman sebanyak ini.”
Ia dan Megan saling pandang. Sebagai panitia, mereka tahu betul anggaran malam ini. Kalau biaya membengkak, merekalah yang harus bertanggung jawab.
Christian memang berpenghasilan lumayan.
Menambah sepuluh atau dua puluh juta masih sanggup.
Tapi ini?
Nilainya jelas ratusan juta.
Manajer vila tersenyum sopan.
“Tenang, Pak.”
“Seluruh anggur ini, nilai totalnya 8,9 Miliar rupiah, dan sudah dibayar oleh Tuan Kevin Sanjaya.”
Ruangan seketika membeku.
“Termasuk biaya ruang privat malam ini sebesar 400 Juta,” lanjutnya.
“Selain itu, Tuan Kevin juga meminta kami menyiapkan buah segar dan layanan sopir pengganti untuk semua tamu.”
“Semua sudah diatur.”
Beberapa orang menelan ludah.
Delapan Miliar…
Bagi mereka, itu angka yang hanya ada di berita.
Namun Kevin membayarnya tanpa ragu, tanpa pamer, bahkan tanpa mengatakan apa pun.
Ia pergi begitu saja, dan meninggalkan hadiah sebesar itu.
“Dia…”
“Dia benar-benar sudah mencapai puncak.”
Beberapa mahasiswi tak bisa menyembunyikan ekspresi penyesalan.
“Kalau saja dulu aku tahu…”
“Aku pasti tidak akan mengabaikannya.”
“Kesempatan seperti itu… hilang begitu saja.”
Tanpa banyak bicara, beberapa dari mereka diam-diam membuka ponsel dan mengirim permintaan pertemanan Whatsapp ke Kevin Sanjaya.
Namun di luar sana, Rolls-Royce telah melaju perlahan, membawa Kevin menuju misi berikutnya.
Dan tak satu pun dari mereka tahu, Malam ini, hanyalah awal dari perubahan besar yang akan mengguncang hidup mereka semua.
aku kasih kopi deh biar semngat trus😁