Semua yang terjadi dalam kehidupan ini tidak pernah luput dari pengalaman masa lalu. Angin bertiup dan musim pun berganti, Andhra telah mencari jati diri yang entah dimana akan dia temui.
Kehidupan suram di masa lalu membuat hatinya dipenuhi oleh dendam.
Ozan yang selalu menemani, juga ada
keluarga yang selalu memberi, adik tiri yang berselimut mendung derita. Andhra mendapatkan semuanya bukan tanpa alasan.
Hingga masanya cinta masa lalu hadir dan membuat hidup Andhra berwarna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nafi', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 27 Menu
Dengan cekatan Rossi meracik rempah rempah untuk memasak makanan. Dia hendak memasak becek sapi dan gudek, makanan khas Indonesia yang melegenda. Sesuai pesanan sang wakil presdir.
'Tolong buatkan menu makanan nusantara seperti becek sapi dan gudek, lalu kirimkan ke ruang presdir.' Titah Ozan saat itu lewat sambungan telepon.
"Tapi kenapa becek sapi dengan gudek?" Perpaduan menu yang lucu menurut Rossi. Di sudut lain ada seorang perempuan paruh baya dan anaknya memeriksa pembukuan. Biasanya yang memasak adalah pamannya, tapi kali ini, dia ingin memberi kesempatan kepada Rossi untuk memperlihatkan kelihaiannya memasak. Selain itu, dia cukup lelah karna pengunjung sangat ramai seharian ini.
"Kau yang masak siang ini, paman harus mengambil barang di pasar."
"Apa kau yakin bisa memasaknya Ros?" Suara sepupunya, Dion, mampu menolehkan kepala cheff cantik itu.
"Kau ini ya kebiasaan sekali meremehkan kemampuannya." Mak Ijah menampol kepala anaknya.
"Hai, kau meragukan kemampuanku ya. Jangan salah, selain rajin kuliah, aku juga rajin les privat tataboga."
Iyalah, pamannya yang ngajarin, gratis lagi.
"Oke, aku percaya kepadamu. Aku berharap pak Ozan tidak akan keracunan karna makan masakanmu itu, kalau tidak, kita pasti akan memiliki status gelandangan besok." Dion masih fokus memeriksa pembukuan di hadapannya.
"Aku yakin itu tidak akan terjadi, bahkan aku pastikan dia akan memesan lagi besok." Seru Rossi bersemangat, ini adalah menu andalan ibunya di kampung yang rasanya sudah di pastikan tiada tara.
"Dia itu pak Ozan!" Sambung Dion lagi. "Bukan pak Ozan yang aku takuti, tapi raja dari gedung ini yang terkenal dingin itu. Rumornya dia tidak akan berbelas kasih terhadap siapapun."
"Lalu, apa masalahnya, toh dia juga manusia sama seperti kita kan!" Rossi masih sibuk dengan alat alat masak di hadapannya. Dia mulai membuka pressure cooker dan mengeluarkan daging dari sana. Menumis bumbu lalu memasukkan beberapa daun jeruk dan juga bumbu lain yang di perlukan, terakhir daging lalu mengaduknya perlahan hingga masak.
"Oke, semua sudah selesai, ayo kita plating." Rossi nampak sumringah, menatap hasil jerih payahnya yang nampak menggoda selera. Dia mengibaskan tangan saat hidung mancungnya menghirup aroma masakannya dalam dalam.
Mengapa aku seperti tidak asing dengan perpaduan aneh dua makanan ini ya?
"Baiklah, kau antarkan sana dan aku akan beres beres di sini." Ucap sepupunya. Beberapa pelayan memang sudah pulang karna hari sudah menjelang malam. Restoran tempatnya mencari nafkah ini berada di lokasi perkantoran, bahkan lebih tepat jika di sebut kantin. Walau beberapa orang luar juga terkadang makan di sana.
"Entah kenapa bos besar di sini tiba tiba memesan makanan di malam hari. Tidak biasanya. Lagian dia itukan bos harusnya dia bisa dong beli makanan yang lebih enak di restoran lain." Rossi bergumam sambil tetap berjalan menuju lift. Dia melirik jam di dinding menunjukkan pukul sembilan belas lebih lima belas menit.
"Ah maaf apa saya boleh bertanya? Di mana letak ruang kerja bapak direktur?" Tanya Rossi kepada salah satu pegawai yang di jumpainya.
"Ada di lantai sembilan, nona!"
"Terima kasih!" Rossi pun menekan angka sesuai tujuannya.
Setelah beberapa lama lift berhenti dan terbuka sempurna. Seorang gadis dengan rambut acak acakan menerobos masuk ke dalam lift. Saat Rossi keluar. Tanpa sengaja tas yang di pegang gadis itu terjatuh. Dia memungutnya cepat dan
memasukkan handphone miliknya. Sesekali terdengar isakan di sela sela aktivitasnya. Rossi sampai memiringkan kepalanya berusaha mengenali wajah gadis itu, tapi lift sudah menutup kembali.
Akhirnya hanya mengidikkan bahu dan melanjutkan tugasnya mengantar makanan.
*Tapi kenapa aku merasa pernah bertemu dengan dia ya.* Batin Rossi
Di dalam ruangan, ada Ozan dan Andhra yang tengah berdebat.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi denganmu, tapi aku tidak bisa membiarkan dia berbuat semaunya terhadapmu. Aku ingin kau tegas dengan nya, Dhra!" Kekhawatiran Andhra bertambah saja sejak Mella bekerja di gedung itu.
"Kau akan tahu nanti apa alasannya kenapa, aku berbuat demikian, Zan. Permainan belum selesai. Wanita itu masih bermain main dengan kita."
"Apa maksudmu? bahkan aku sudah mengirimkan bukti itu kepadamu." Ozan mulai jengah karna Andhra tidak bertindak tegas terhadap perempuan yang dimaksud.
"Kau akan tahu jika sudah saatnya. Mana pesananku kenapa belum sampai juga." Andhra mengalihkan pembicaraan.
"Apa kau begitu merindukannya sampai kau ingin makan makanan yang sama dimana hari perpisahan itu terjadi?" Ozan seperti menemukan harta karun, bahwa kemungkinan mengapa Andhra sangat sulit menjalin hubungan dengan lawan jenis.
"Jangan sok tahu."
"Memang aku tahu, iya kan!"
"Hai, aku hanya pesan makanan tapi kau...!" Heran kenapa Ozan bisa menebak pikirannya yang mengingat makanan terakhir yang dia makan bersama seorang gadis kecil di masa lalu.
"Ya ..makanan yang mengandung kenangan." Ucap Ozan sambil melakukan pekerjaan yang tertunda karena kondisi Andhra tadi siang.
"Terima kasih, Zan." Andhra merasa beruntung memiliki teman sebaik dan setia seperti Ozan, yang selalu berada di sampingnya dalam suka maupun duka. Bahkan hingga membeli rumah di dekat rumah Andhra hanya karena khawatir terhadap teman juga atasannya itu.
"Aku juga terima kasih, karenamu aku menjadi orang yang sukses seperti sekarang."
"Siapa bilang luh sukses!" Ledekan yang mampu membuat Ozan melotot dan nyolot.
"Buktinya gue sudah punya semuanya. Dari pada luh kaya tapi tidak punya pasangan itu namanya bukan sukses." Jawab Ozan.
"Kan gua nggak pernah bilang kalau udah sukses!" Kalah telak. Keduanya hening beberapa menit.
"Jadi bagaimana tentang Mella? apa yang akan kau perbuat terhadapnya?" Ozan masih saja mempermasalahkan itu.
"Sudah aku bilang. Biarkan dia untuk saat ini, tapi jika sudah waktunya aku akan menyuruh Kau bertindak."
"Kapan? Aku sudah terlalu jengah dengan sikap sok polosnya itu." Ozan mengepalkan tangannya.
"Akan aku beritahu nanti, jika sudah waktunya, kau hanya perlu bertindak nanti sesuai instruksi dariku." Andhra meletakkan satu map lalu mengambil map lainnya. Karna kondisinya tadi siang, membuat pekerjaannya tertunda hingga membuatnya harus lembur malam ini.
"Baiklah, tapi ingat jika ada apa apa kau harus cerita sama aku." Menepuk dadanya yang membusung. Diacungi jempol oleh Andhra.
"Dhra, gua sudah kirim orang untuk membantu Farid di desa. Dan gua juga sudah mengirimkan dana untuk menutupi kerugian kita di PT Indochik." Ozan berhenti sejenak sambil merenggangkan otot ototnya yang kaku.
"Pulanglah, kalau, kau lelah."
"Ini tinggal sedikit lagi kok. Sambil menunggu makanan kita."
"Apa kau tidak di telpon sama Arini?" Goda Andhra.
"Kau mengusirku hah! Tapi enak juga sehh capek capek gini di pijitin sama istri." memanas manasi bos nya.
Andhra berdecih. "Paling juga kebalik." Ledek Andhra.
"Lumayanlah, habis itu pijit plus-plus kalek!" Hening sesaat tapi setelah itu ada yang mengetuk pintu. Ozan membukakan pintu lalu menyuruh orang itu masuk. Andhra masih fokus pada laptopnya.
"Makanan kita sudah datang, aku akan ambil piring sebentar."
"Kau!"
Ucapan seseorang mampu mendongakkan kepala Andhra.
"Kauuu..!"
"Kalau jodoh memang tidak kemana? Upsss .....
Aku harus segera kabur dari tempat ini. Mulut ember ini, kenapa selalu saja merepotkan aku. Rossi malah keluar lagi.
"Hai.... Mau kemana kamu?"
To be continued....
ozan dilema donk,mw nolong yg mana dulu...
aq agak amnesia😊😊😊
abis malam jumatan khan
Salam dari
SI OYEN PACARKU BUKAN MANUSIA
🙏🙏🙏
salam dari jodohku Cinta Pertamaku 🙏🙏 by. Sri Ghina Fithri