"Om Ganteng, kerjanya cuma duduk doang? Kok nggak lari-lari kayak Mami? Om pemalas ya?"
Cayvion Alger, seorang CEO dingin, terkejut saat bocah 4 tahun yang mengatainya "pemalas" ternyata adalah anak kembarnya sendiri—hasil "kesalahan satu malam" empat tahun lalu dengan asisten pribadinya, Hara.
Rahasia ini terbongkar saat Hara terpaksa membawa anak-anaknya ke kantor karena pengasuh sakit.
Demi hak asuh dan citra perusahaan, Cayvion mengajukan pernikahan kontrak dengan syarat dilarang jatuh cinta. Hara menyetujuinya, namun menegaskan bahwa kekuasaan Cayvion sebagai bos tidak berlaku di rumah.
Kini, Cayvion harus menghadapi tantangan baru: mengurus kekacauan anak-anak dan menahan hatinya yang perlahan luluh pada istri kontraknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Interview Pengasuh yang Gagal
"Mata kamu sudah mirip panda kurang tidur, Hara. Lingkaran hitamnya bisa buat main hula hoop."
Cayvion meletakkan cangkir kopinya di meja ruang tamu, menatap istrinya yang sedang melipat baju anak-anak dengan gerakan lambat seperti zombie.
"Terima kasih atas pujiannya, Pak. Ini tren make-up terbaru. Namanya 'Lelah Mengurus Dua Tuyul dan Satu Bos Besar'," jawab Hara sarkas, melempar kaos kaki Elio ke keranjang.
"Aku serius. Kamu butuh bantuan," Cayvion menjentikkan jarinya. "Itulah kenapa aku memanggil agen penyalur pengasuh paling mahal di kota ini. Royal Nanny. Lulusan luar negeri, sertifikat psikologi anak, dan bisa bela diri."
"Bapak mau sewa pengasuh atau mau rekrut Power Ranger?" cibir Hara. "Anak-anak Bapak itu spesial. Nggak mempan dikasih teori buku."
"Kita lihat saja. Masukkan kandidat pertama!" perintah Cayvion pada Bu Marta.
Seorang wanita berkacamata tebal dengan setelan jas rapi masuk. Dia membawa map tebal berisi ijazah.
"Selamat pagi, Pak Cayvion. Nama saya Rina. Saya lulusan S2 Pendidikan Anak Usia Dini dari Australia. Metode saya adalah disiplin ketat dan stimulasi otak kanan," ucapnya dengan dagu terangkat.
Cayvion mengangguk puas. "Bagus. Elio, sini. Tante ini mau ngobrol."
Elio keluar dari balik sofa, memegang tabletnya. Dia menatap Rina datar.
"Tante lulusan S2?" tanya Elio.
"Benar, Sayang."
"Tante tahu nggak kalau Piramida Mesir itu sebenarnya dibangun pakai teknologi anti-gravitasi alien dari Planet Nibiru? Soalnya koordinat Giza itu sejajar sama sabuk Orion kalau dilihat dari spektrum infra merah."
Elio bicara dengan gaya sangat meyakinkan.
Rina melongo. Mulutnya terbuka lebar. "Hah? A-apa? Alien?"
"Yah... Tante nggak update," Elio menggeleng kecewa. "Terus Tante tahu nggak cara menetralkan racun kalau kita digigit laba-laba mutan? Pakai cuka apel atau pakai baking soda?"
"Laba-laba mutan?" wajah Rina memucat. "Dik, laba-laba mutan itu nggak ada..."
"Ada. Di bawah kasur Papa ada satu. Kemarin Elio lihat matanya merah," bohong Elio dengan wajah super serius.
Rina langsung berdiri, menyambar tasnya. "Maaf Pak Cayvion, saya tidak bisa bekerja di sini. Anak Bapak... auranya seram. Permisi!"
Wanita itu kabur tanpa menoleh lagi.
Cayvion memijat pelipisnya. "Satu gugur. Masukkan kandidat kedua!"
Masuklah wanita muda dengan senyum manis yang kelewat lebar. Bajunya warna-warni cerah, make-up nya tebal lengkap dengan bulu mata anti badai.
"Halo adik manisss! Nama Tante Siska! Tante suka menyanyi dan menari lho!" sapanya dengan suara dibuat-buat seperti karakter kartun. Dia mendekati Elia yang sedang main boneka.
"Ih," Elia mundur selangkah, menatap wajah Siska dengan tatapan jijik.
"Kenapa sayang? Tante cantik kan?" Siska mengedipkan matanya.
"Tante, bedaknya tebal banget," komentar Elia jujur dan sadis. "Pipi Tante merah kayak pantat monyet di kebun binatang. Terus alisnya kayak ulat bulu. Tante mau ngelawak ya? Kayak badut Ancol?"
Senyum Siska retak seketika. Bibirnya bergetar.
"Elia, sopan santun!" tegur Hara, meski dia menahan tawa.
"Tapi beneran, Mi! Mukanya kayak topeng!" Elia menunjuk-nunjuk.
"HUWAAAA!" Siska menangis kencang, maskaranya luntur hitam ke pipi. "Saya dibilang badut! Saya mantan finalis Gadis Sampul, Pak! Saya tersinggung! Saya resign!"
Siska resign sebelum sempat mulai bekerja. Dia lari keluar sambil menutupi wajahnya.
"Dua gugur," Hara berkomentar santai sambil memakan keripik. "Saya bilang juga apa, Pak. Uang Bapak nggak laku di sini."
Cayvion menggeram frustasi. "Kandidat terakhir! Kalau yang ini gagal juga, aku potong gaji agennya!"
Masuklah kandidat ketiga. Namanya Dewi.
Kali ini beda. Dewil memakai rok pendek di atas lutut dan kemeja yang kancing atasnya sengaja dibuka satu. Wangi parfumnya menyengat satu ruangan.
Begitu masuk, matanya bukan tertuju pada Elio atau Elia, tapi langsung terkunci pada Cayvion.
"Selamat siang, Pak Cayvion," suaranya mendesah manja. Dia berjalan meliuk-liuk melewati anak-anak, langsung berdiri di samping sofa Cayvion. "Saya Bella. Saya sangat berpengalaman... mengurus kebutuhan rumah tangga. Apa saja yang Bapak butuhkan, saya siap 24 jam."
Cayvion mengerutkan kening, agak risih tapi mencoba profesional. "Bagaimana pengalaman kamu dengan balita tantrum?"
"Ah, gampang Pak," Bella malah duduk di lengan sofa Cayvion, tangannya dengan lancang menyentuh dasi Cayvion, merapikannya pelan. "Yang penting kan Papanya tenang dulu. Kalau Papanya stres, nanti anaknya ikutan stres. Jadi saya harus pastikan Papanya... rileks."
Jari Bella mulai merambat ke bahu Cayvion.
"Bapak ototnya kencang sekali ya. Pasti sering olahraga..."
Elio dan Elia saling pandang, lalu menatap ibunya. Mereka tahu sinyal bahaya.
Hara yang sejak tadi duduk diam memperhatikan, kini berdiri tegak. Keripik di tangannya diremas sampai hancur menjadi debu.
"Ehem!" dehem Hara keras.
Bella menoleh malas. "Ya? Bu Asisten butuh sesuatu? Tolong buatkan saya minum dong, haus nih habis interview."
"Minum?" Hara tersenyum miring, senyum yang membuat bulu kuduk Elio merinding.
Hara berjalan mendekat, lalu dengan gerakan cepat menepis tangan Bella yang masih nempel di bahu Cayvion.
PLAK!
Suara tepisan itu nyaring. Bella kaget setengah mati.
"Mbak Bella," suara Hara dingin, menusuk sampai ke tulang. "Anda melamar jadi Nanny atau jadi Lady Companion?"
"K-kamu kasar sekali! Saya kan cuma—"
"Cuma apa? Cuma mau menggatal?" potong Hara tajam. Dia menunjuk pintu keluar dengan telunjuknya. "Di sini tugas Anda itu cebokin anak, suapin makan, dan lari-lari ngejar mereka. Bukan elus-elus bahu suami orang. Anda salah alamat."
"Pak Cayvion! Lihat asisten Bapak ini!" adu Bella, mencoba merengek ke Cayvion.
"Dia bukan asisten. Dia istri saya. Nyonya rumah ini," jawab Cayvion datar, akhirnya bersuara. Dia menatap Bella dengan tatapan bosan. "Dan dia benar. Kamu terlalu bau parfum. Anak saya bisa asma. Keluar."
Wajah Bella memerah padam karena malu. Dia menghentakkan kakinya dan berjalan keluar dengan kesal. "Dasar keluarga aneh!"
Pintu tertutup. Hening sejenak.
Hara menghela napas panjang, merapikan kembali dasi Cayvion yang tadi disentuh Bella—tapi kali ini dengan gerakan kasar, seolah ingin mencekik suaminya.
"Lain kali kalau cari pengasuh, filter dulu otaknya, Pak. Jangan cuma lihat foto profilnya. Bapak mau cari pengasuh buat anak atau buat Bapak sendiri? Silahkan keluar sebelum saya panggil satpam buat seret Bapak sekalian ke kantor agen itu!"
Cayvion menatap Hara yang masih mengomel sambil merapikan kerah bajunya. Ada kilatan emosi di mata istrinya itu. Bukan cuma marah. Tapi sesuatu yang lain.
Sudut bibir Cayvion terangkat membentuk seringai tipis. Dia menangkap pergelangan tangan Hara.
"Kamu cemburu, Hara?"
Hara tersentak. Dia menarik tangannya, membuang muka. Jantungnya berdegup aneh, tapi gengsinya setinggi langit.
"Nggak," jawab Hara ketus, mengambil keranjang baju kotor. "Saya cuma nggak mau anak saya ketularan virus pelakor. Virus itu lebih bahaya dari cacar air. Minggir, saya mau nyuci."
aku juga suka wanita yg tegas dia tidak ningalin suaminya. tapi memberi pelajaran suaminya.
sukurinn kau cayvion di benci anakan mu sendiri