Pernikahan Zoya Ravendra dan Kalandra Dirgantara adalah perjodohan mutlak tanpa tanggal kadaluarsa. Bagi Kalandra, Kepala Unit Reskrim yang ditakuti, Zoya hanyalah istri pendiam yang membebani karena selalu mengurung diri di kamar.
Namun, pandangan itu hancur saat kasus pembunuhan berantai "The Puppeteer" menemui jalan buntu. Zoya tiba-tiba muncul di TKP, menerobos garis polisi dengan tatapan datar dan berkata:
"Singkirkan tangan kotormu dari leher korban, Komandan. Dia tidak dicekik. Ada residu sianida di kuku jari manisnya dan lebam mayat ini dimanipulasi."
Hanya dalam lima menit, Zoya memecahkan teka-teki itu. Kalandra terlambat menyadari bahwa istri yang ia abaikan ternyata adalah "The Scalpel," legenda forensik dunia. Kini, Kalandra tidak hanya harus memburu pembunuh, tapi juga mengejar cinta istrinya yang hatinya lebih sulit diotopsi daripada mayat manapun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Pemecatan Sinta
.Sinta kembali ke ruang rapat dengan langkah gontai. Wajahnya yang tadi pucat kini terlihat sedikit kehijauan. Bedaknya luntur di sekitar dahi, dan bau minyak kayu putih menguar tajam dari tubuhnya, mencoba menutupi bau tidak sedap sisa insiden memalukan di toilet tadi.
Dia berdiri di depan meja Jenderal Bramantyo, menunduk dalam-dalam. Kakinya masih gemetar sisa mulas yang luar biasa.
"Maaf... maafkan saya, Jenderal," cicit Sinta dengan suara parau. "Sepertinya saya keracunan makanan kantin tadi pagi. Perut saya melilit parah, saya jadi tidak fokus dan..."
"Bukan kantin," potong sebuah suara tenang dari ujung meja.
Sinta menoleh kaget. Zoya masih duduk di sana, menyilangkan kaki dengan santai, menatapnya dengan senyum tipis yang mengerikan.
"Jangan fitnah ibu kantin, Sinta. Kasihan beliau jualan jujur," lanjut Zoya sambil memutar pulpen di jarinya. "Kamu sakit perut karena minum kopi buatanmu sendiri. Kopi yang seharusnya untuk aku."
Sinta melotot. "M-maksud Ibu apa?"
"Susu kental manis di laci mejamu itu sudah terbuka tiga hari, kan? Baunya sudah asam karena bakteri," jelas Zoya datar. "Tadi saat kamu lengah mengambil tisu, dengan sedikit kecepatan tangan, aku menukar gelas kita. Jadi, yang minum susu basi bercampur bakteri Lactobacillus jahat itu kamu, bukan aku."
Keheningan menyelimuti ruangan. Kalandra yang duduk di sebelah Zoya menegang. Jenderal Bramantyo meletakkan kacamatanya perlahan di meja, tatapannya berubah tajam.
"Sinta," suara Kalandra terdengar rendah namun berbahaya. "Kamu sengaja kasih istri saya minuman basi?"
"Eng... enggak, Ndan! Sumpah!" Sinta panik, tangannya melambai-lambai. "Saya... saya lupa kalau susunya sudah lama! Saya nggak ada niat jahat!"
"Bohong," sela Zoya lagi. " Itu namanya percobaan mencelakai orang lain dengan perencanaan. Di dalam kantor polisi pula. Cerdas sekali."
Wajah Sinta merah padam. Dia terpojok. Dia baru saja dijebak oleh targetnya sendiri.
"Cukup!" bentak Jenderal Bram. "Sinta, kamu saya skors karena kelalaian fatal dan perilaku memalukan ini!"
"Tunggu dulu, Jenderal. Belum selesai," suara pintu terbuka memotong amarah Jenderal.
Raka masuk dengan napas terengah-engah. Dia membawa sebuah map merah berlogo Dokkes Polri. Wajah Raka serius, tidak ada senyum jahil seperti biasanya. Dia langsung menghampiri Kalandra dan menyerahkan map itu.
"Izin, Ndan. Hasil laboratorium dari Dokkes sudah keluar," lapor Raka tegas.
Sinta mengerutkan kening bingung. "Hasil lab? Lab apa?"
Kalandra membuka map itu dengan kasar. Dia menatap Sinta dengan tatapan membunuh.
"Ingat perintah saya setelah keributan di lobi beberapa hari yang lalu?" tanya Kalandra dingin. "Saat Zoya bilang kamu terlihat seperti pecandu, kamu menyangkal keras, kan? Saya perintahkan kamu lapor ke Dokkes untuk tes urin dadakan supaya kamu bisa membuktikan kamu bersih sebelum ikut rapat ini. Kamu ingat?"
Sinta mengangguk ragu. "I-iya, Ndan. Saya sudah tes. Saya kan bersih! Saya cuma minum vitamin dan suplemen diet!"
Sinta merasa aman. Dia yakin dia bukan pemakai narkoba suntik atau hisap. Dia hanya minum pil pelangsing mahal dari reseller impor.
Kalandra melempar map itu ke hadapan Sinta. Kertas-kertas berhamburan di lantai.
"Kalau begitu baca sendiri kebodohanmu!" bentak Kalandra. Suaranya menggelegar memenuhi ruangan, membuat semua orang tersentak.
Sinta memungut kertas itu dengan tangan gemetar hebat. Matanya tertuju pada tulisan tebal berwarna merah: POSITIF METAMFETAMIN.
"P-positif?" Sinta menggeleng panik, matanya terbelalak horor. "Nggak mungkin! Ini pasti tertukar! Saya nggak pernah nyabu, Ndan! Demi Tuhan!"
"Hasil lab tidak pernah bohong, Sinta. Dan Zoya juga tidak pernah salah diagnosis," sela Kalandra tajam.
Zoya mencondongkan tubuhnya sedikit, menatap Sinta dengan tatapan iba yang menyakitkan. "Obat diet 'ajaib' yang kamu beli di pasar gelap itu... kamu pikir kenapa bisa bikin kurus cepat dan menekan lapar seharian? Karena produsennya mencampur sabu-sabu dosis rendah. Itu sebabnya tanganmu tremor, pupilmu lebar, dan emosimu meledak-ledak. Kamu pecandu tanpa sadar, Sinta."
"Itu... itu cuma obat kurus..." Sinta terisak, lututnya lemas hingga dia terduduk di lantai. Dunianya runtuh. Kariernya hancur hanya karena dia ingin terlihat cantik di depan Kalandra.
Kalandra berdiri perlahan. Dia berjalan mendekati Sinta yang bersimpuh. Tidak ada belas kasihan di wajah sang Komandan. Hanya ada kejijikan.
"Menyabotase data penyidikan, mencoba meracuni istri atasan, dan sekarang terbukti mengonsumsi zat psikotropika," desis Kalandra tajam. Dia membungkuk, tangannya menyentuh lencana kepolisian yang tersemat di seragam Sinta.
"Jangan, Ndan... tolong, Ndan... saya korban..." Sinta memohon, mencoba menahan tangan Kalandra.
Sreets!
Dengan satu tarikan kasar, Kalandra merobek lencana itu dari seragam Sinta. Bunyi kain yang sobek terdengar ngilu di ruangan yang sunyi itu.
"Kamu bukan korban. Kamu polisi bodoh yang tidak tahu hukum," ucap Kalandra dingin, melempar lencana itu ke tong sampah di sudut ruangan. "Mulai detik ini, kamu dipecat tidak hormat. Kamu mencoreng nama baik satuan saya."
"Raka! Panggil Propam! Seret dia ke sel tahanan khusus untuk pemeriksaan narkoba lebih lanjut!" perintah Kalandra tanpa menoleh lagi.
Dua petugas Propam bertubuh tegap langsung masuk, menyeret Sinta agar berdiri. Sinta memberontak, berteriak histeris, air mata dan ingusnya bercampur merusak riasan wajahnya.
"Ini gara-gara kamu!" teriak Sinta sambil menunjuk-nunjuk Zoya saat diseret keluar. "Wanita ular! Kamu yang hancurin hidup aku! Awas kamu, Zoya! Awaaaas!"
Zoya sama sekali tidak terlihat takut. Dia merogoh saku celananya, mengeluarkan sebutir permen mint. Dengan santai, dia membuka bungkusnya. Kresek.
Saat Sinta melewati kursinya sambil meraung-raung, Zoya hanya melambaikan tangan kecil sambil memasukkan permen ke mulut.
"Dah, Sinta," ucap Zoya santai, suaranya renyah di antara teriakan Sinta. "Jangan lupa minta oralit di sel ya. Biar nggak dehidrasi habis mencret."
Pintu ruang rapat tertutup, memotong teriakan Sinta. Keheningan kembali menyelimuti ruangan.
Jenderal Bramantyo menghela napas panjang, lalu menatap Zoya dan Kalandra bergantian. "Baiklah. Satu hama sudah bersih. Sekarang, Zoya... lanjutkan penjelasanmu soal simpul tali itu. Kita tidak punya banyak waktu."
Zoya tersenyum manis, mengunyah permennya. "Dengan senang hati, Jenderal."