Sekar Arum, gadis desa Plumbon, memiliki cinta yang tak biasa: wayang kulit. Ia rela begadang demi menyaksikan setiap pertunjukan, mengabaikan cemoohan teman-temannya. Baginya, wayang adalah jendela menuju dunia nilai dan kearifan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam yang Kacau
Mentari mulai tenggelam, mewarnai langit dengan warna oranye dan ungu. Sekar Arum berangkat menuju lapangan desa tempat hajatan akan diselenggarakan. Ia ditemani oleh Bapak, Ibu, dan Lintang.
Di sepanjang perjalanan, Sekar Arum berusaha untuk menenangkan dirinya. Ia menarik napas dalam-dalam dan mengingat semua latihan yang telah ia lakukan bersama Mas Indra. Ia bertekad untuk memberikan penampilan yang terbaik.
Sesampainya di lapangan, Sekar Arum terpukau dengan keramaian yang ada. Lampu-lampu berwarna-warni menghiasi panggung dan stand-stand makanan. Orang-orang berdatangan dari berbagai penjuru desa.
"Wah, rame banget ya, Kar," kata Lintang, kagum.
"Iya, Lin. Aku jadi semakin gugup," jawab Sekar Arum, merasa tegang.
"Jangan gugup, Kar. Kamu pasti bisa!" kata Ibu, memberikan semangat.
Sekar Arum tersenyum dan memeluk Ibunya. Ia merasa lebih tenang setelah mendapatkan dukungan dari keluarganya.
Mereka menuju ke belakang panggung tempat para pengisi acara bersiap-siap. Sekar Arum melihat beberapa penyanyi campursari lain yang sedang berdandan dan berlatih vokal. Ia merasa minder karena mereka terlihat lebih berpengalaman dan profesional.
"Tenang, Kar. Kamu juga nggak kalah kok," bisik Lintang, melihat raut wajah Sekar Arum yang khawatir.
Sekar Arum mengangguk dan mencoba untuk percaya diri. Ia mencari tempat untuk meletakkan tas yang berisi kostum dan perlengkapan make-up.
Setelah menemukan tempat yang aman, Sekar Arum membuka tasnya dan terkejut. Kostum yang sudah ia siapkan dengan susah payah robek di beberapa bagian. Payet-payet bergelantungan dan benang-benang berjuntai.
"Ya Tuhan! Siapa yang melakukan ini?" seru Sekar Arum, panik.
Lintang, Bapak, dan Ibu terkejut dan mendekati Sekar Arum. Mereka melihat kostum yang rusak dengan tatapan tidak percaya.
"Astaghfirullah! Kok bisa begini, Kar?" tanya Ibu, kaget.
"Aku juga nggak tahu, Bu. Tadi pas aku simpan di tas, kostum ini masih baik-baik saja," jawab Sekar Arum, menangis.
Bapak mencoba menenangkan Sekar Arum. "Sudah, Nak. Jangan menangis. Kita cari cara untuk memperbaiki kostum ini," kata Bapak, bijak.
Namun, Sekar Arum semakin panik karena waktu penampilannya semakin dekat. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
Tiba-tiba, seorang panitia datang menghampiri mereka.
"Mbak Sekar, sudah siap belum? Sebentar lagi giliran Mbak untuk tampil," kata panitia itu, buru-buru.
Sekar Arum semakin panik. Ia menatap keluarganya dengan tatapan putus asa.
"Aku tidak tahu harus apa, Bapak, Ibu," ujar Sekar Arum, menangis tersedu-sedu. Ia merasa impiannya untuk tampil di hajatan desa hancur berantakan.
Lintang dengan cepat menenangkan Sekar Arum. "Kar, jangan menyerah! Kita pasti bisa mengatasi ini," kata Lintang, penuh semangat. Ia mencoba menilai kerusakan pada kostum Sekar Arum.
Bapak berusaha untuk mencari solusi. "Mungkin ada tukang jahit di sekitar sini yang bisa kita mintai bantuan," kata Bapak, berpikir keras.
Namun, Ibu menyadari sesuatu yang lebih buruk. "Sebentar, Nak. Ibu kok tidak lihat CD iringan musikmu di dalam tas?" tanya Ibu, khawatir.
Sekar Arum terkejut dan menggeledah tasnya kembali. Ia tidak menemukan CD yang berisi lagu yang akan ia bawakan.
"Ya ampun! CD-nya hilang! Siapa yang mengambilnya?" teriak Sekar Arum, semakin panik.
Tanpa CD, Sekar Arum tidak bisa tampil. Ia merasa seperti terjatuh ke dalam jurang yang dalam. Ia tidak tahu harus berbuat apa.
Panitia yang menunggu di depan mereka mulai tidak sabar. "Mbak Sekar, kok belum siap juga? Waktunya sudah mepet nih," kata panitia itu, menekan.
Sekar Arum menangis semakin keras. Ia merasa terpojok dan tidak berdaya.
"Maaf, Mas. Sepertinya, anak saya tidak bisa tampil malam ini," kata Bapak, pasrah.
Panitia itu terkejut. "Lho, kok bisa begitu, Pak? Ini kan sudah dijadwalkan dari jauh-jauh hari," kata panitia itu, kecewa.
"Ada sedikit masalah dengan kostum dan iringan musiknya," jelas Bapak, singkat.
Panitia itu menghela napas. "Ya sudah, Pak. Tapi, tolong beritahu kami secepatnya ya, biar kami bisa mengatur ulang susunan acara," kata panitia itu, lalu pergi.
Setelah panitia itu pergi, Sekar Arum terisak sendirian di pojok ruangan. Ia merasa gagal dan malu. Ia tidak bisa memenuhi harapan keluarganya dan masyarakat desa.
Tiba-tiba, Lintang mendekati Sekar Arum dan memeluknya dengan erat.
"Kar, jangan sedih terus. Aku yakin, ada hikmah di balik kejadian ini," kata Lintang, menenangkan.
"Hikmah apa, Lin? Aku sudah kehilangan semuanya," jawab Sekar Arum, pesimis.
"Siapa tahu, dengan kejadian ini, kamu bisa bertemu dengan orang yang lebih hebat dan mendapatkan kesempatan yang lebih besar," kata Lintang, penuh harapan.
"Maksudmu?" tanya Sekar Arum, bingung.
"Ingat Dalang A yang mau datang ke hajatan ini? Siapa tahu, dia melihat kejadian ini dan tertarik untuk membantumu," jelas Lintang.
Sekar Arum terdiam sejenak. Ia mencoba untuk mencari hikmah di balik kejadian yang menimpanya. Ia berpikir bahwa mungkin Lintang ada benarnya. Mungkin ini adalah cara Tuhan untuk membuka jalan baginya menuju kesuksesan.
Namun, di tengah kesedihannya, Sekar Arum merasa ada sesuatu yang aneh. Ia merasa seperti ada seseorang yang sengaja melakukan sabotase terhadap dirinya.
Siapa orang itu? Dan apa motifnya?
Tiba-tiba, lampu di panggung padam dan suasana menjadi gelap gulita. Teriakan kepanikan terdengar dari arah penonton.
"Ada apa ini? Kenapa mati lampu?" tanya seseorang dengan nada bingung.
"Mungkin ada konsleting listrik," jawab yang lain.
Di tengah kegelapan dan kebisingan, Sekar Arum merasa semakin takut dan tidak berdaya. Ia berpegangan erat pada Bapak, Ibu, dan Lintang.
Tiba-tiba, seseorang menarik tangannya dengan kasar.
"Ikut aku!" bisik orang itu dengan suara yang serak.
Sekar Arum berusaha untuk melepaskan tangannya, tetapi cengkeraman orang itu terlalu kuat. Ia berteriak minta tolong, tetapi suaranya tenggelam di tengah kebisingan.
Orang itu menarik Sekar Arum menjauh dari keluarganya dan membawanya ke tempat yang gelap dan sepi. Sekar Arum merasa sangat takut dan khawatir. Ia tidak tahu siapa orang ini dan apa yang akan dia lakukan padanya.
Setelah berjalan cukup jauh, orang itu berhenti di depan sebuah pintu. Ia membuka pintu itu dan mendorong Sekar Arum masuk ke dalam ruangan.
Sekar Arum terjatuh ke lantai dengan keras. Ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya. ,Ia berusaha untuk bangun, tetapi kakinya terasa lemas.
Orang itu masuk ke dalam ruangan dan menutup pintu dengan keras. Sekar Arum melihat wajah orang itu di bawah cahaya remang-remang. Ia terkejut karena mengenal orang itu.
"Kamu?" kata Sekar Arum, tidak percaya.
Orang itu tersenyum sinis. "Ya, ini aku. Kamu tidak menyangka kan?" kata orang itu dengan nada mengejek.
Sekar Arum mencoba untuk mengingat apa kesalahannya kepada orang ini. Ia tidak ingat pernah berbuat jahat kepada siapapun.
"Kenapa kamu melakukan ini? Apa salahku?" tanya Sekar Arum, ketakutan.
Orang itu tertawa dengan keras. "Salahmu? Salahmu adalah kamu terlalu percaya diri dan bermimpi terlalu tinggi. Kamu pikir kamu bisa menjadi penyanyi terkenal? Kamu salah besar!" kata orang itu dengan penuh kebencian.
Sekar Arum mulai mengerti motif orang ini. Orang ini cemburu dengan bakat dan potensi yang dimiliki oleh Sekar Arum. Orang ini ingin menghancurkan impian Sekar Arum dan membuatnya menderita.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*