Di ambang kematian setelah dikhianati dan dikubur hidup-hidup, Leo Akira secara tidak sengaja meneteskan darahnya pada sepotong giok kuno yang ternyata menyimpan kekuatan primordial: Multiplikasi 1000× dan Ruang Penyimpanan Abadi. Apa pun yang dia sentuh dapat digandakan seribu kali lipat ke dalam ruang tak terbatas; siapa pun yang dia targetkan akan membuat Leo mendapatkan kemampuan orang itu—dengan kekuatan seribu kali lebih hebat.
Dari titik terendah, Leo bangkit dengan satu tujuan sederhana: menghancurkan orang yang menjatuhkannya dan menjadi orang terkaya di dunia. Tapi takdir membawanya lebih jauh. Dia tak hanya mengubah nasibnya, tetapi juga mengangkat peradaban manusia dari level teknologi rendah menuju Tingkat 1 Skala Kardashev, bahkan melampaui alam semesta yang dikenal.
Inilah kisah tentang seorang manusia yang menjadi entitas tak terkalahkan, penjaga umat manusia, dan pengembara di antara bintang-bintang dimulai dari satu tetes darah dan sepotong giok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aryaa_v2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reruntuhan Kapal Generasi dan Benteng Jiwa
Kapal generasi itu bukanlah reruntuhan. Itu adalah pengakuan.
Koordinat dari monumen menuntun Leo ke tepi galaksi, di mana bintang-bintang menyebar tipis dan kegelapan antar galaksi mulai merayap. Di sana, mengapung dalam keheningan abadi, ada kapal yang diberi nama "Dawn's Last Hope" menurut inskripsi yang hampir pudar di lambungnya. Panjangnya lebih dari seratus kilometer, berbentuk seperti kerang raksasa yang retak, dengan cangkang luar yang terbuat dari bahan seperti porselen dan logam organik yang telah memutih seperti tulang. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Tidak ada energi. Hanya kehampaan yang sangat dalam.
Tapi Leo, sekarang sebagai Planetary Core Tier 2 setelah mengintegrasikan pengalaman pertempuran bulan, merasakan lebih dari sekedar puing-puing. Ia merasakan luka. Bukan fisik, tapi psikis. Bekas luka di jaringan realitas. Kapal ini bukan hanya mati; ia telah diberhentikan, diinterupsi dalam tujuannya dengan kekejaman yang sangat presisi.
Ia mendekat, wilayahnya yang membentang lima ribu kilometer sekarang dengan mudah menyelimuti bangkai kapal. Tidak ada pertahanan. Tidak ada peringatan. Hanya sebuah pintu masuk besar yang terbuka, menganga seperti mulut yang membeku dalam jeritan terakhir.
Dia melayang masuk.
Interiornya adalah sebuah katedral yang hancur. Koridor-koridor lebar yang dulu pasti dipenuhi oleh kehidupan, sekarang tertutup oleh es kosmik dan mayat-mayat yang tersuspensi. Mereka bukan makhluk organik; mereka adalah konstruk biologis, manusia dengan kulit seperti marmer dan rambut seperti sutra logam, membeku dalam pose sehari-hari—seorang ibu merangkul anak, seorang insinyur menatap konsol, seorang penatua memandang ke arah "langit-langit" yang retak. Seluruh populasi, diawetkan dalam satu momen keputusasaan.
Mereka... lari dari sesuatu, pikirnya, dan pemikiran itu disertai dengan getaran kesedihan dari bagian dirinya yang terintegrasi. Membawa benih peradaban. Sebuah fragmen.
Dia merasakan tarikan di sini, lebih samar daripada di planet es, tapi ada. Fragmen ketiga ada di suatu tempat di jantung kapal.
Saat dia bergerak lebih dalam ke dalam kapal, ke ruang pusat yang kemungkinan adalah ruang komando, luka psikis itu menjadi lebih kuat. Di sini, dindingnya tidak retak oleh benturan, tapi terurai, seolah-olah hukum kohesi molekul telah dimatikan. Di tengah ruangan, ada sebuah singgasana. Dan di atas singgasana itu, duduk sebuah sosok.
Bukan mayat. Bukan konstruk.
Sebuah jiwa.
Bentuknya transparan, bercahaya dengan cahaya hijau pucat yang sama dengan Fragmen Jantung. Ia adalah humanoid dengan fitur lembut dan mata tertutup. Di dadanya, tertanam sebuah giok—Fragmen ketiga—tapi giok itu retak, dan cahayanya redup dan berkedip-kedip.
Jiwa itu membuka matanya. Mereka adalah kolam kesedihan dan kelelahan tanpa dasar.
"Kamu datang," suaranya terdengar di benak Leo, lembut dan aus. "Si Pembawa yang lain. Aku telah... menunggumu. Atau seseorang sepertimu. Untuk waktu yang sangat, sangat lama."
"Kamu siapa?" tanya Leo, mendekat dengan hati-hati. Dia bisa merasakan kekuatan yang sangat besar dari jiwa ini, tapi kekuatan itu sekarat, terkikis oleh waktu dan keputusasaan.
"Aku adalah Sybil. Penjaga terakhir dari Kapal Harapan Fajar. Dan... simbiosis yang gagal." Dia melihat ke giok yang retak di dadanya. "Kami menemukan salah satu Hati di perjalanan kami. Kami pikir itu adalah hadiah. Sebuah alat untuk membantu kami membangun dunia baru. Kami salah. Itu terlalu... lapar. Terlalu kuat. Aku mencoba untuk menyatu dengannya, untuk mengendalikannya, seperti yang dilakukan oleh leluhur kami yang tercerahkan. Tapi jiwaku... tidak cukup kuat. Ia mulai memakanku. Memakan mereka." Dia menggerakkan tangannya yang transparan ke arah koridor yang membeku. "Untuk menyelamatkan yang tersisa, aku menggunakan sisa kekuatanku untuk menghentikan waktu di dalam kapal, untuk membekukan mereka dalam momen itu, dan mengasingkan diriku di sini. Menjaga kelaparan fragmen ini agar tidak meledak dan menarik... mereka."
"Pengadilan," ucap Leo.
"Kamu tahu nama mereka. Maka kamu tahu mengapa kami melarikan diri. Kami adalah keturunan dari salah satu peradaban 'entitas cahaya' yang kamu temui dalam ingatan fragmen. Kami adalah sisa-sisanya. Dan kami sedang diburu." Sybil memandang Leo dengan penuh minat. "Tapi kamu... kamu berbeda. Kamu berhasil. Bagaimana?"
"Prinsip," jawab Leo sederhana. "Dan mungkin, keberuntungan. Aku memiliki sesuatu—seseorang—yang harus dilindungi sejak awal. Itu memberiku pijakan. Sebuah alasan untuk menolak dilahap sepenuhnya."
"Sebuah fondasi jiwa," bisik Sybil, penuh kagum. "Kami kehilangan itu. Kami terlalu fokus pada kelangsungan hidup fisik, pada teknologi. Jiwa kami menjadi... tipis. Rapuh." Dia menjangkau, tangan hantunya hampir menyentuh Leo. "Kamu bisa memperbaikinya. Kamu bisa mengambil fragmenku. Itu masih mengandung pengetahuan—bukan hanya ingatan, tapi metode. Cara leluhur kami untuk memperkuat jiwa, untuk mempersiapkan simbiosis. Cara mereka... berkomunikasi dengan yang lainnya."
"Yang lainnya? Simbiosis lain yang masih hidup?"
"Mungkin. Atau... sesuatu yang lebih. Ada sebuah tempat. Sebuah Sanctum. Tempat pertemuan terakhir dari Entitas Cahaya sebelum mereka tersebar. Koordinatnya ada dalam fragmen ini. Tapi aksesnya membutuhkan tiga fragmen yang aktif dan setidaknya satu simbiosis yang stabil." Cahaya Sybil semakin redup. "Ambil fragmenku, Leo. Lepaskan aku dari penjara ini. Dan gunakanlah untuk menemukan Sanctum. Mungkin... mungkin di sana kamu bisa menemukan jawaban untuk menghentikan Pengadilan. Atau setidaknya, menemukan persembunyian bagi mereka yang seperti kita."
Leo ragu. "Jika aku mengambilnya, apa yang akan terjadi padamu? Pada mereka?" Dia menunjuk ke koridor yang membeku.
"Aku akan... pergi. Akhirnya. Dan mereka... tanpa kekuatanku untuk menahan waktu, mereka akan berubah menjadi debu bersama kapal ini. Itu sudah lama seharusnya terjadi. Itu adalah kedamaian, bukan kematian." Dia tersenyum, sebuah ekspresi sedih yang indah. "Kami telah menunggu terlalu lama untuk akhir yang tenang."
Leo mengangguk, rasa hormat yang dalam menekan dadanya. Dia melangkah maju, menempatkan telapak tangannya yang bermarka giok di atas fragmen yang retak di dada Sybil. Gioknya sendiri berdenyup, merespons keberadaan saudaranya.
"Terima kasih," bisik Sybil, saat cahayanya mulai larut ke dalam fragmen. "Beritahu mereka... kami mencoba..."
Fragmen itu terlepas, bergabung dengan giok Leo dalam semburan cahaya hijau yang lembut. Retakannya menyatu. Pengetahuannya—metode kuno untuk penguatan jiwa dan koordinat Sanctum—mengalir ke dalam diri Leo.
Dan saat fragmen itu terpisah, cahaya terakhir Sybil padam. Jiwa yang lelah itu akhirnya beristirahat.
Kapal di sekelilingnya bergemuruh. Es mulai retak. Mayat-mayat yang membeku mulai berubah menjadi awan debu halus, satu per satu, seperti disapu oleh angin tak terlihat yang lembut. Seluruh bangkai kapal mulai bergerak, perlahan-lahan berputar, akhirnya menyerah pada entropi yang telah ditahannya selama ribuan tahun.
Leo berdiri di tengah-tengah pembubaran ini, merasakan kesedihan yang besar tetapi juga kelegaan. Dia telah memberikan akhir kepada para penjaga yang terlupakan.
Pengetahuan baru yang diperolehnya terbuka di benaknya seperti bunga. "Metode Pengerasan Jiwa" adalah serangkaian meditasi dan ritual energi yang dirancang untuk Mortal Soul, untuk membangun fondasi yang cukup kuat untuk menahan kelaparan Fragmen. Itu adalah jawaban untuk mencapai simbiosis stabil tanpa kehilangan diri. Dan koordinat Sanctum... menunjuk ke sebuah nebula hidup di jantung galaksi, sebuah tempat yang bahkan tidak terdaftar dalam peta Pengadilan.
Dia memiliki tujuan baru yang jelas. Tapi pertama-tama, dia harus menjadi lebih kuat. Planetary Core Tier 2 tidak akan cukup untuk menghadapi apa pun yang menunggu di Sanctum, atau untuk melawan Pengadilan berikutnya.
Dia melayang keluar dari kapal yang sekarat, kembali ke ruang hampa. Di tangannya, giok yang sekarang memiliki dua fragmen tambahan (satu dari planet es, satu dari Sybil) bersinar dengan cahaya hijau yang lebih kaya, dengan urat-urat emas dan perak yang berdenyup di dalamnya. Kekuatannya telah meningkat. Dia bisa merasakan kemampuan multiplikasinya sekarang bisa memanipulasi konsep yang lebih kompleks—bahkan mungkin sedikit mempengaruhi waktu dalam wilayahnya.
Tapi sebelum dia bisa merenungkan lebih jauh, sebuah sensasi akrab menusuk kesadarannya. Sebuah pemindaian.
Bukan dari Pengadilan. Ini lebih... primal. Lebih lapar.
Dan itu berasal dari koordinat Sanctum.
Seolah-olah dengan mengambil fragmen dan pengetahuan Sybil, dia telah menekan sebuah tombol, menyalakan sebuah suar di kegelapan. Dan sesuatu di Sanctum telah membangun.
Sebuah pesan, kasar dan penuh keinginan, datang melintasi jarak yang sangat jauh:
"FRAGMEN... BERGABUNG... SANCTUM... DATANG... ATAU... AKAN KAMI AMBIL..."
Itu bukan undangan. Itu adalah sebuah perintah. Atau sebuah ancaman.
Leo memandangi koordinat di pikirannya, lalu ke arah Bumi yang jauh. Dia telah berencana untuk kembali, untuk memeriksa Dr. Arif, untuk memastikan Bumi aman.
Tapi Sanctum memanggil. Dengan ancaman. Dan dengan janji jawaban.
Jika dia pergi ke sana, dia mungkin memasuki perangkap. Atau dia mungkin menemukan sekutu yang dia butuhkan.
Jika dia tidak pergi, apa pun yang ada di Sanctum mungkin datang kepadanya—atau lebih buruk, ke Bumi.
Dia tidak punya pilihan yang baik.
Tapi dia sudah terbiasa dengan itu.
Dengan tekad baru, dia mengatur koordinat ke arah nebula hidup di jantung galaksi. Perjalanan akan memakan waktu berminggu-minggu, bahkan dengan kecepatan Planetary Core-nya.
Dia akan menggunakan waktu itu untuk berlatih Metode Pengerasan Jiwa, untuk memperkuat jiwanya melampaui Tier 9 Mortal, untuk mempersiapkan apa pun yang menunggunya.
Dia adalah seorang pembawa fragmen, seorang simbiosis, seorang penjaga.
Dan sekarang, dia juga menjadi seorang peziarah, menuju tempat suci yang hilang, membawa harapan dan kelaparan dalam dirinya yang sama, tidak tahu apakah dia akan menemukan penyelamatan atau kebinasaan.
Kapal generasi Dawn's Last Hope akhirnya hancur menjadi awan debu yang indah di belakangnya, sebuah monumen akhir yang pantas untuk mereka yang berani bermimpi.
Dan Leo melesat maju, menuju jantung galaksi, menuju kebenaran yang mungkin akhirnya menjelaskan segalanya, atau menghancurkannya sepenuhnya.