Senja, seorang Arsitek berbakat dengan karier gemilang di Bali, memilih melepaskan proyektor dan penggarisnya demi sebuah janji suci. Ia jatuh cinta pada Rangga, mantan pengamen jalanan yang ia temui di tikungan parkir kantornya.
Demi "merajakan" sang suami, Senja resign dari firma arsitek, menguras tabungan untuk memodali karier Rangga menjadi DJ, hingga rela belajar memasak demi memanjakan lidah suaminya. Bagi Senja, rumah pribadinya adalah istana tempat ia mengabdi sepenuhnya.
Namun, saat Rangga mulai sukses dan dipuja banyak orang, dia lupa siapa yang membangun panggungnya. Rumah hanya dijadikan tempat "numpang makan" dan ganti baju, sementara hatinya jajan di kamar hotel setiap luar kota.
Senja tidak akan menangis bombay. Jika Rangga hanya butuh pelayanan gratis tanpa kesetiaan, dia salah alamat. Senja siap menendang benalu itu dari rumahnya!
"Aku istrimu, Mas. Bukan Warteg tempatmu numpang makan saat lapar, lalu kau tinggalkan setelah kenyang!"
Jam update:07:00-12:00-20:00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Reruntuhan yang Bersih
Malam pertama setelah pengusiran Rangga berlalu dengan keheningan yang sangat asing di rumah itu. Tidak ada lagi suara dentuman bass dari studio depan, tidak ada lagi aroma rokok yang menempel di sofa, dan yang paling penting, tidak ada lagi beban di pundak Senja untuk melayani pria yang tidak tahu terima kasih.
...----------------...
Pagi ini, Senja bangun dengan perasaan ringan. Ia tidak lagi memakai daster kusamnya. Ia mengenakan celana kain berpotongan tegas dan kemeja biru muda yang disetrika rapi. Rambutnya disanggul modern, menampakkan leher jenjang dan anting-anting perak yang dulu jarang ia pakai karena takut terlihat "terlalu dominan" di depan suaminya.
Senja berjalan ke arah dapur. Ia membuka lemari es yang penuh dengan bahan makanan premium yang kemarin ia beli. Kali ini, ia memasak bukan karena permintaan siapa-siapa. Ia memasak untuk dirinya sendiri dan untuk Ibu.
"Nduk, kamu yakin dengan semua ini?" tanya Ibu Senja yang tiba-tiba muncul di ambang pintu dapur. Wajah Ibunya tampak tenang, seolah sudah menduga hari ini akan datang.
Senja menoleh, tersenyum tulus. "Yakin, Bu. Senja sudah memberikan kesempatan setahun lebih. Senja sudah membiayai mimpinya sampai menguras tabungan sendiri. Tapi kalau hasilnya malah dikhianati dan dianggap cuma 'warteg', Senja nggak bisa tinggal diam."
Ibu Senja mendekat, mengusap bahu Senja. "Ibu bangga kamu sudah kembali jadi Senja yang dulu. Arsitek yang tegas, bukan pengabdi yang buta. Tapi, apa kamu nggak takut dia bakal datang lagi buat minta maaf?"
"Dia boleh datang, Bu. Tapi kunci rumah ini sudah Senja ganti. Dan hati Senja... sudah nggak ada ruang lagi untuk renovasi pria seperti dia."
Sementara itu, di sebuah kos-kosan sempit di pinggiran kota, Rangga terbangun dengan suara berisik dari knalpot motor tetangga. Ia meraba sisi tempat tidurnya, berharap menemukan sprei sutra yang halus, tapi yang ia temukan hanyalah kasur busa tipis yang bau apek.
Rangga mendengus kesal. Perutnya keroncongan. Ia secara refleks berteriak, "Ja! Sarapannya mana? Laper nih!"
Keheningan yang menjawab teriakannya langsung menyadarkannya. Rangga bukan lagi berada di rumah mewah Senja. Tidak ada lagi Senja yang akan membawakannya kopi hitam manis dan nasi goreng spesial. Di sampingnya hanya ada tas ransel berisi baju-baju batik dan kemeja mahal pemberian Senja yang sekarang terasa seperti ejekan.
Rangga merogoh sakunya. Ia hanya punya sisa uang beberapa ratus ribu rupiah—hasil sisa tips manggungnya yang belum sempat ia belikan minuman untuk selingkuhannya.
"Sialan! Senja bener-bener tega," maki Rangga sambil mencoba menelepon wanita simpanannya.
📞"Halo, Sayang... aku boleh ke apartemen mu nggak? Aku lagi ada masalah sama Senja," ucap Rangga dengan suara yang dilembutkan saat telepon diangkat.
Tapi, jawaban di seberang sana tidak sesuai harapan.
📞"Mas Rangga? Maaf ya, aku lagi sibuk ada pemotretan. Lagian aku dengar alat DJ-mu ditarik ya? Kamu nggak jadi manggung di Club X minggu depan? Kalau kamu nggak ada jadwal, ya mending kita nggak usah ketemu dulu deh. Aku butuh cowok yang stabil, Mas."
Klik. Telepon dimatikan sepihak.
Rangga tertegun. Ia baru sadar bahwa wanita-wanita yang mengerubunginya selama ini bukan karena mereka cinta pada "Rangga", melainkan pada "DJ Rangga" yang terlihat kaya, wangi, dan punya fasilitas mewah. Tanpa Senja di belakangnya, Rangga hanyalah seorang pengamen jalanan yang tidak punya panggung.
Dua minggu kemudian, Senja kembali ke kantor firma arsiteknya. Ia langsung mendapatkan proyek besar: merestorasi sebuah bangunan tua di pusat kota untuk dijadikan galeri seni kontemporer. Pekerjaan ini benar-benar mengembalikan gairah hidupnya. Ia kembali memegang penggaris, memutar maket, dan berdebat dengan kontraktor.
Suatu sore, saat Senja sedang meninjau lokasi proyek yang berdebu, ia melihat sosok pria yang sangat ia kenal berdiri di depan pagar seng proyek.
Rangga di sana. Penampilannya kucel. Kemeja mahalnya tampak lecek dan tidak disetrika. Ia terlihat kurus dan matanya cekung. Begitu melihat Senja keluar dengan helm proyek berwarna putih, Rangga langsung menghampirinya.
"Senja! Tolong, Ja... kita bicara sebentar," cegat Rangga dengan wajah memelas.
"Tolong, kasih aku kesempatan, Ja."
"Sekali ini aja, aku mohon, Ja."
Senja melepaskan helmnya, menatap Rangga seolah-olah pria itu hanyalah debu yang menempel di sepatunya. "Mau bicara apa lagi, Mas? Urusan kita sebentar selesai di pengadilan agama minggu depan."
"Ja, aku minta maaf. Aku khilaf. Perempuan itu cuma main-main, Ja. Aku sadar sekarang, cuma kamu yang tulus. Tolong kasih aku kesempatan sekali lagi. Aku nggak bisa hidup tanpa kamu. Aku kangen masakanmu, kangen rumah kita..."
"Aku benar-benar kangen kebersamaan kita,Ja."
Senja tertawa kecil, tawa yang membuat Rangga merinding. "Kangen masakanku atau kangen fasilitas gratisanku, Mas? Kangen rumahku atau kangen tidur enak tanpa perlu bayar cicilan?"
"Enggak, Ja! Aku beneran cinta sama kamu!"
"Cinta itu bukan cuma kata-kata di atas panggung, Mas. Cinta itu fondasi. Dan kamu sudah menghancurkan fondasi itu sampai ke akar-akarnya," Senja melangkah maju, memperpendek jarak.
"Kamu bilang aku 'warteg', kan? Nah, sekarang kamu lihat sendiri. Warteg yang kamu hina itu sudah berubah jadi gedung tinggi yang nggak akan sanggup kamu masuki. Bahkan sebagai tukang parkir sekalipun, aku nggak akan pekerjakan kamu lagi."
Senja mengeluarkan dompetnya. Ia mengambil lembaran uang dua ribu rupiah, lalu menyelipkannya di kantong kemeja Rangga yang kumal.
"Ini buat ongkos pulang. Jangan datang lagi ke sini. Kamu mengganggu pemandangan proyek saya."
Rangga hanya bisa terpaku saat Senja kembali mengenakan helmnya dan berjalan masuk ke area proyek tanpa menoleh sedikit pun. Para pekerja bangunan di sana menatap Rangga dengan pandangan merendahkan.
Senja berdiri di lantai dua bangunan yang sedang ia kerjakan. Ia menatap ke arah jalan raya. Ia merasa sangat merdeka. Senja menyadari satu hal penting: ia adalah arsitek bagi hidupnya sendiri. Jika ada bagian dari hidupnya yang rusak dan beracun, ia tidak perlu memperbaikinya terus-menerus. Terkadang, merobohkan semuanya dan membangun yang baru adalah satu-satunya jalan menuju ketenangan.
"Wartegnya sudah benar-benar tutup, Mas Rangga," bisik Senja pada angin sore. "Dan sekarang, aku sedang membangun istanaku sendiri. Istana yang pintunya terkunci rapat untuk pria parasit seperti kamu."
Senja kembali ke meja kerjanya, mengambil pensil, dan mulai menggambar garis tegas di atas kertas kalkir. Garis itu lurus, kokoh, dan tidak lagi goyah karena perasaan iba yang salah. Ia adalah Senja Amara, arsitek yang akhirnya berhasil mendesain kebahagiaannya sendiri.
ksh pelajaran aja buat rangga
dh stadium akut😭
saking bucinnya ke mas dj dj
wkwk doni mulutnya minta disambelin🤣
wwk jdi gembel lg kamu😆
kasian senja😭