“Aku hanya pengganti, bukan?” Suara Yura bergetar, namun matanya tak lagi memohon.
Arga Lingga Pradipta tak menjawab. Sejak awal, pernikahan itu memang tak pernah tentang cinta. Yura hanyalah bayangan dari wanita lain, dinikahi karena wajah, dipertahankan karena kesepakatan.
Empat tahun hidup sebagai istri tanpa nama, satu malam hampir mengakhiri segalanya. Saat kontrak pernikahan tinggal menghitung bulan dan wanita yang dicintai Arga kembali, Yura memilih berhenti terluka.
“Aku tak butuh cintamu,” katanya pelan.
“Aku hanya ingin kau menyesal.”
Saat tunangan asli kembali dan kontrak tinggal hitungan bulan, Yura bukan lagi istri yang patuh. Diam-diam, ia bangkit sebagai musuh paling berbahaya bagi keluarga Pradipta.
Bagaimana kisahnya? Yuk, simak di sini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Dua hari kemudian, Hans kembali berdiri di ruang praktik dokter keluarga Wijaya. Ruangan itu terasa lebih sempit dari biasanya, atau mungkin dadanya yang kini terasa sesak. Hanya ia seorang yang tahu tentang tes DNA ini tidak ayahnya, tidak ibunya, bahkan tidak Putri. Semua ia lakukan diam-diam, seperti seorang pengecut yang takut pada kebenaran, namun juga tak sanggup lagi hidup dalam keraguan.
Dokter itu menyerahkan sebuah map cokelat dengan ekspresi serius.
“Hasilnya sudah keluar, Tuan Hans.”
Tangan Hans sedikit bergetar saat menerima map itu. Ia menarik napas panjang sebelum membukanya, namun udara seolah berhenti mengalir ke paru-parunya ketika matanya menangkap barisan kalimat di lembar hasil pemeriksaan tersebut.
Subjek bernama Yura adalah anak kandung Tuan dan Nyonya Wijaya.
Napas Hans tercekat. Dunia seakan runtuh tepat di bawah kakinya.
“Tidak mungkin…” gumamnya lirih, meski bukti di tangannya tak memberi ruang untuk menyangkal.
Yura, gadis yang selama ini berdiri di luar garis keluarga, gadis yang kerap diperlakukan seperti orang asing ternyata adalah darah daging orang tuanya sendiri. Adik kandungnya. Bukan Putri bukan gadis yang selama ini ia lindungi, bela, dan tempatkan di posisi istimewa.
Jantung Hans berdegup kencang, memukul-mukul dadanya dengan keras. Perasaannya campur aduk, terkejut, marah, bersalah, dan takut. Takut pada apa yang akan terjadi jika kebenaran ini terbongkar.
Tiba-tiba ponselnya berdering, memecah keheningan yang mencekam. Nama Shasmita muncul di layar. Hans menatap layar itu beberapa detik sebelum akhirnya menjawab.
“Hans,” suara Shasmita terdengar penuh kepuasan.
“Aku sudah mengurus semuanya. Tanggal sepuluh Oktober nanti, pengumuman pertunangan kita akan dibuat resmi dan dipublikasikan besar-besaran.”
Hans terdiam, jemarinya menggenggam hasil tes DNA itu semakin erat.
“Dengan begitu,” lanjut Shasmita dingin, hampir terdengar kejam, “Arga akan benar-benar hancur. Dia akan tahu bahwa perempuan yang mati-matian dia bela, perempuan yang dia lindungi dari semua orang … memilih lelaki lain untuk dicintai.”
Hans menutup matanya.
Di satu sisi, ada kebenaran yang menghantamnya tanpa ampun, tentang darah, keluarga, dan kesalahan besar yang selama ini mereka lakukan.
Begitu keluar dari rumah sakit, ia langsung menghubungi asistennya tanpa basa-basi. Suaranya dingin, jauh dari Hans yang biasa dikenal tenang dan rasional.
“Batalkan seluruh kontrak kerja sama antara keluarga Wijaya dan Pradipta. Tanpa pengecualian.”
Di seberang telepon, asistennya terdiam sesaat.
[Seluruhnya, Tuan? Itu termasuk proyek properti, ekspor baja, dan investasi joint venture?]
“Semua,” jawab Hans tegas. “Mulai hari ini. Dan pastikan kabarnya sampai ke meja Arga secepat mungkin.”
Telepon ditutup.
Hans menatap lurus ke depan, rahangnya mengeras. Ini bukan sekadar bisnis. Ini hukuman. Ini balasan atas apa yang Arga lakukan pada Yura atas penghinaan, pembuangan, dan perlakuan seolah Yura tak lebih dari barang pengganti.
Sementara itu, di kantor pusat Pradipta Group, suasana berubah kacau dalam hitungan menit.
Arga menerima laporan itu seperti disambar petir di siang bolong.
“Apa maksudmu … dibatalkan semua?” suara Arga meninggi.
“Keluarga Wijaya adalah mitra strategis kita! Mereka tak bisa semena-mena!”
Namun, sekretarisnya hanya bisa menunduk gugup.
“Surat resmi sudah masuk, Tuan. Semua proyek dihentikan sepihak … efektif per hari ini.”
Wajah Arga memucat.
Tangannya gemetar saat ia meraih ponsel dan langsung menghubungi Hans. Nada sambung terdengar, sekali, dua kali dan lalu terputus.
Arga mencoba lagi.
“Brengsek!” Arga membanting ponselnya ke meja.
Ia berdiri dari kursinya, napasnya memburu, emosi bercampur panik. Tanpa kerja sama Wijaya, Pradipta Group akan kehilangan lebih dari separuh pendanaan dan jalur distribusi utama. Saham bisa anjlok. Bank akan menarik kepercayaan. Investor akan kabur.
“Ini tidak masuk akal…” gumamnya histeris. “Hans tidak mungkin melakukan ini tanpa alasan.”
Arga kembali menekan nomor Hans, kali ini hampir berteriak ke ponsel meski tak ada yang mengangkat.
“Hans! Angkat teleponmu! Kita bisa bicara baik-baik!”
Sore itu terasa terlalu tenang bagi Yura.
Ia duduk santai di teras rumah, kaki disilangkan, iPad bertengger di pangkuannya. Angin sore mengusap rambutnya pelan, membawa aroma tanah basah sisa hujan siang tadi. Di layar iPad, satu berita terus berputar di berbagai portal bisnis:
“Kerja Sama Pradipta dan Wijaya Resmi Diputus. Saham Pradipta Anjlok Drastis.”
Yura tersenyum kecil.
“Dunia orang kaya memang aneh,” gumamnya ringan, seolah tak ada hubungannya dengan kekacauan itu. “Hari ini berjabat tangan, besok saling menjatuhkan.”
Ia menggeser layar, hendak menutup berita, ketika suara gerbang rumah terbuka memecah ketenangan sore.
Yura mendongak.
Sebuah mobil hitam masuk perlahan dan berhenti tepat di depan teras. Mesin dimatikan dan pintu terbuka.
Sky turun dari balik pintu mobil itu.
Pria itu berdiri tegak, rapi seperti biasa, jas kasual abu-abu muda, kemeja putih tanpa dasi. Di tangannya, seikat mawar merah segar mencolok di antara warna senja yang lembut.
Alis Yura langsung berkerut.
“Dia lagi…” gumamnya nyaris tak terdengar.
Sky melangkah mendekat dengan senyum tipis yang sulit ditebak, tatapan matanya lurus ke arah Yura tanpa ragu, tanpa sungkan.
“Selamat sore, Yura,” ucapnya lembut, seolah mereka adalah dua orang yang sedang berkencan, bukan hubungan penuh kecurigaan.
Yura menutup iPad dan meletakkannya di meja kecil di samping kursi. Tatapannya naik, datar, waspada.
“Apa urusanmu datang ke sini, Tuan Sky?” tanyanya dingin. “Dan sejak kapan kamu bebas keluar masuk rumah orang tanpa izin?”
Sky berhenti di anak tangga teras, mengangkat sedikit bunga mawar itu.
“Untukmu,” katanya singkat. “Aku hanya ingin bicara. Sebagai pria … bukan sebagai kakak Shasmita, bukan bagian dari keluarga Pradipta karena aku memang bukan bagian keluarga itu.”
Yura mendengus pelan.
“Dengan mawar merah?” nada suaranya sinis. “Kamu salah alamat kalau ingin memainkan peran pria romantis.”
Sky tersenyum, kali ini sedikit lebih serius.
“Aku tidak datang untuk bermain peran. Aku datang karena aku tahu hari ini bukan hari biasa bagimu.”
Kening Yura semakin mengernyit.
“Maksudmu?”
Sky melirik sekilas ke iPad yang masih menampilkan judul berita besar itu, lalu kembali menatap Yura.
“Pradipta runtuh. Wijaya yang menjatuhkan. Dan kamu … berada tepat di tengah-tengahnya.”
Udara sore mendadak terasa lebih berat. Yura berdiri dari kursinya, menyilangkan tangan di dada.
“Hati-hati bicara, Tuan Sky. Aku tidak suka orang merasa tahu segalanya tentang hidupku.”
Sky melangkah satu langkah lebih dekat, suaranya tetap rendah namun jelas.
“Aku tidak menghakimi. Aku hanya ingin memastikan satu hal.”
Ia mengangkat wajahnya sedikit, menatap Yura dalam-dalam.
“Apapun yang akan terjadi setelah ini aku ingin berada di pihakmu.”
Yura menatap mawar merah di tangan Sky, lalu ke wajah pria itu. Senyum tipis muncul di bibirnya, ambigu, sulit ditebak apakah itu ejekan atau peringatan.
“Masalahnya, Sky,” kata Yura pelan, “berada di pihakku … tidak pernah aman.”
"Menikahlah denganku," kata Sky yakin.
Yura tertawa kecil. Bukan tawa bahagia melainkan tawa tipis, dingin, dan penuh ejekan.
“Menikah?” ulangnya pelan, seolah kata itu asing di lidahnya. “Kamu terlalu percaya diri, Tuan Sky.”
Sky tidak tersenyum. Ia justru melangkah lebih dekat, jarak mereka kini hanya dipisahkan satu anak tangga. Tangannya yang memegang mawar sedikit mengencang.
“Menikahlah denganku,” ulang Sky, suaranya mantap. “Kamu akan bahagia.”
Yura mendongak, menatapnya tajam.
“Apa jaminannya?” tanyanya. “Apa jaminan menikah denganmu membuat aku bahagia?”
Tanpa ragu, Sky menjawab, suaranya rendah namun tegas.
“Nyawaku untukmu.”
Kalimat itu membuat Yura terdiam sesaat. Angin sore berhembus, menggerakkan ujung rambutnya. Namun wajahnya tetap tak menunjukkan keterkejutan hanya kalkulasi.
“Apa pun yang kau inginkan,” lanjut Sky, “aku bisa memberikannya.”
Yura menatapnya lebih lama. Lalu bibirnya melengkung, kali ini bukan senyum pura-pura, melainkan senyum berbahaya.
“Baik,” katanya pelan. “Kalau begitu dengar baik-baik.”
Sky menunggu.
“Aku ingin kau memberi pelajaran pada Putri,” ucap Yura tanpa ragu. “Adik angkat Tuan Hans. Gadis manja yang hidupnya terlalu sempurna dan terlalu kebal dari konsekuensi.”
Tatapan Sky mengeras.
“Kau tahu siapa dia?”
“Kamu pasti ingat,” jawab Yura ringan. “Dan aku tahu satu hal lagi ... Nona Shasmita adalah tunangan rahasia Tuan Hans.”
Untuk pertama kalinya, Sky terdiam cukup lama. Yura melangkah turun satu anak tangga, kini posisi mereka sejajar.
“Jadi sebelum kamu menjawab,” lanjut Yura, “pikirkan baik-baik. Putri adalah bagian dari keluarga Wijaya. Shasmita terikat dengan Hans. Dan permainan ini … akan menyeret banyak orang.”
Sky menatap Yura tanpa berkedip. Lalu, dengan suara tenang namun penuh tekad, ia berkata,
“Aku bersedia.”
Yura menyipitkan mata.
“Tak peduli siapa tunangan Nona Shasmita?”
“Tak peduli,” jawab Sky singkat. “Jika Putri harus jatuh agar kamu berdiri lebih tinggi, maka biarlah.”
Hening kembali menyelimuti teras rumah itu.
Yura tersenyum perlahan, senyum yang kali ini benar-benar tulus, namun mengandung racun.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “selamat datang di hidupku, Tuan Sky.”
Ia melirik mawar merah di tangan Sky.
“Dan satu hal,” tambahnya. “Begitu kamu melangkah lebih jauh … tidak ada jalan mundur.”
Sky mengulurkan mawar itu.
“Aku tidak pernah berniat mundur sejak memilihmu.”
Jujur, baru kali ini, saya baca tanpa Skip ❤️😃😘
Jalan ceritanya sederhana tanpa banyak Drama yang bikin nampol😩🤣🤣🤣
Ceritanya bagus, karakter Yura bukan wanita lemah, lebay, plin plan, manja / jadi Goblok karna bucin. 👍👍
😭 kali ini bikin Arga + Putri menyesal sampai berdarah darah 😡
Harusnya kalau memang pemeran wanita nya pintar, uang 100M tidak ada artinya. Tapi ya gitu lah.. Terserah Author aja.. 😃
Palingan saya bacanya banyak di Skip aja.. 🙄🤔
apa yg di cari Yura selain donor untuk ayah nya sedangkan sebagai lartika dia org berpengaruh+ bergelimpangan
Karya Abian yng mana yak ?? 🙏
endingnya hepi semua
terima kasih