JUARA 2 KONTES BERTEMA BERBAGI CINTA
NOTE : Ide kisah ini berdasar pengalaman author sendiri yang dikembangkan sebagus mungkin.
Season 1 :
Perjuangan seorang wanita cantik bernama Sena yang berusaha menggapai cinta sang suami, Regan Anggara. Regan merupakan mantan dosen killernya yang harus menikah dengannya akibat perjodohan. Sudah 2 tahun hubungan pernikahan mereka namun Sena tak membuahkan hasil untuk mengambil hati dari sang suami, namun alangkah terkejutnya saat Sena memergoki sang suami yang tengah mesum dengan rekan kerjanya. Hati Sena mendadak sakit, pantas saja selama ini tak mau menyentuhnya, rupanya Regan sudah mempunyai wanita lain dan mengaku sudah menikah sirih dengan Maya dan kini tengah mengandung anak dari Regan. Parahnya, orang tua Regan yang selama ini baik dengan Sena ikut menyembunyikan rahasia itu.
Dan jangan lupakan Devan! Pria duda yang selalu ada untuk Sena bahkan siap menjadi suami baru untuk Sena.
Season 2 :
Ketika semuanya tak bisa ia gapai. Dia hanya bisa berusaha untuk tegar. Lika-liku kehidupan ini membuatnya menjadi sangat kuat.
Sena dan Devan berjuang keras untuk mendapatkan momongan.
Namun...... semuanya tak semudah itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ria Mariana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 : Janda muda 2
Dear diary...
Entah berapa kali aku menulis sebuah kesedihanku di sini. Aku sudah mendapatkan surat undangan di pengadilan dan tentunya dia pun sama. Luka selama 2 tahun 2 bulan ini akan berakhir di pengadilan. Status jandaku akan terbuka lebar dan mengepakkan sayapnya. Di umur yang ke 28 tahun ini aku mendapat gelar janda.
Bapak juga sudah dalam proses dan akan divonis esok hari, Pak Bram sudah tidak ingin meneruskan kasus itu lagi namun istrinya mungkin sakit hati denganku dan melampiaskan ke Bapak. Aku harap Bapak bisa cepat keluar dari penjara dan bisa bertemu denganku lagi.
Dear diary, aku ingin semuanya berjalan dengan semestinya. Aku bisa hidup bahagia menjadi wanita karir seperti impian Bapak.
____________________
"Woy, melamun saja. Ayo pulang!" ucap Gladis.
"Kau duluan saja deh."
Arsinta ikut merapikan barang-barangnya namun tak berselang lama kemudian ponselnya pun berbunyi. "Hallo, Sayang. Ah iya, kau menunggu di samping? Oke, aku akan ke sana."
Arsinta mematikan ponselnya. "Kak Sena, aku pulang dulu ya. Terima kasih atas hari ini."
Sena mengangguk. "Tadi pacarmu? Enak sekali ya punya pacar yang mau antar jemput."
Arsinta tersenyum kecil. "Pacarku memang baik, aku selalu diutamakan."
Sena tertawa kecil membuat Arsinta heran. "Baguslah! Oke, sampai jumpa besok."
Setelah Arsinta keluar dari ruangan itu, Sena segera mematikan komputernya. Beberapa pegawai laki-laki nampak mengintipnya dari jendela. Setelah selesai Sena segera keluar dari ruangannya. Walau hari sudah sore namun Sena masih tampak segar."
"Senarita?" seorang pria memanggilnya. "Nanti malam ada acara?"
Sena menggelengkan kepalanya.
"Mau makan malam denganku?" tanya pria yang berbeda divisi itu.
Tiba-tiba Devan merangkul Sena dari belakang membuat pria itu terkejut apalagi Sena juga tak kalah terkejutnya. Pria itu segera pergi sedangkan Sena melepas rangkulan Devan.
"Pak, jangan begini dong! Pak Devan statusnya masih menjadi suami dari Bu Winda."
Devan tersenyum kecil, proses perceraiannya juga akan digelar sebentar lagi, Devan akan mendapat gelar duda tampan beranak satu. Hak asuh tentunya akan diberikan padanya bukan Winda karena Winda sendiripun sudah tidak mau mengurus Kia.
"Papa...." Kia datang berlarian lalu memeluk Papanya.
Gadis kecil itu sudah memakai pakaian santainya dan berkepang dua. "Pa, janji 'kan makan bareng Tante Sena?"
Sena terkejut lalu menatap Devan.
"Tanya saja dengan orangnya sendiri!" pinta Devan sambil menatap Sena.
"Tante, ayolah! Kita makan bareng."
Sena berpikir sejenak, setelah ini dia tidak ada kepentingan lain memutuskan untuk mau makan bersama dengan mereka. Kia sangat senang, ia memeluk Sena dengan erat membuat beberapa pegawai melihatnya. Mereka lalu berangkat bersama-sama namun Sena tetap naik sepeda motornya. Rambutnya ia ikat rapi supaya tidak rusak. Mobil Devan mengikuti motor Sena dari belakang, Sena yang akan menentukan ingin makan apa.
Di mobil lain nampak Regan dan Arsinta berada di dalamnya, Regan melihat kepergian Sena dengan diikuti oleh Devan. Arsinta melihat tangan kakak sepupunya itu mencengkeram kemudi.
"Kak Sena lebih cantik dari pada Kak Maya, Kakak menyesal 'kan akan kehilangannya?" tanya Arsinta.
"Diam! Aku tidak butuh komentarmu. Oh ya, jadi Devan semakin intens mendekati Sena di kantor?"
Arsinta mengangguk. "Kak Regan harus berjanji akan memberikanku nilai A!"
"Selesaikan tugasmu dulu baru bisa dapat nilai A dariku," ucap Regan.
Regan mengemudikan mobilnya menuju kontrakan Maya, sebentar lagi mereka juga akan pindah ke rumah Maya yang baru selesai diperbaiki. Arsinta hanya menatap kakak sepupunya dengan heran, kenapa orang secantik Sena malah diselingkuhi? Maya memang cantik namun dulu Arsinta pernah mendengar rumor jika Maya menjalin hubungan dengan dosen lain yang kini sudah keluar.
"Kakak cinta dengan Kak Maya?" tanya Arsinta.
"Hem."
"Yakin?"
"Jika kau berisik maka aku akan menurunkanmu di sini."
Arsinta menggeleng, ia mengunci mulutnya, terkadang sang kakak memang sangat menyebalkan tapi lebih anehnya lagi saat Sena tidak tahu jika Arsinta adalah keponakan dari Bram. Arsinta orang yang sangat sibuk, selain berkuliah dia juga menjadi model.
"Oh ya, kau temani Maya dulu. Aku ingin ke suatu tempat."
"Ke mana?"
"Bukan urusanmu."
Setelah sampai di tempat Maya, Regan tak ikut masuk, dia segera menuju ke suatu tempat namun bukan menghampiri Sena. Ponselnya terus berbunyi namun dia tak mengangkatnya dan memilih fokus menyetir. Sesampainya di sana, di sebuah apartemen mewah, Regan masuk ke gedung itu sambil melihat situasi, setelah aman ia segera masuk ke lift dan menuju ke suatu tempat.
Setelah pintu lift terbuka, Regan masuk ke salah satu apartemen dan di sana sudah terdapat seorang wanita bermain dengan anak kecil berusia 1 tahun.
"Sayang?" Wanita itu memeluk Regan dengan erat.
"Papa..." Balita berusia 1 tahun itu dengan jelas memanggil Regan dengan sebutan Papa.
Regan tersenyum, dia memeluk anak kecil itu. "Papa rindu denganmu."
"Regan, sampai kapan kita terus begini? Kami hidup secara sembunyi dari keluargamu. Aku sangat bosan menunggumu yang bahkan tidak setiap hari datang," ucap Zara.
Regan menghela nafas panjang, Zara adalah wanita yang harusnya Regan nikahi namun orang tuanya tidak setuju karena Zara malah mengandung anak dengan pria lain dan Regan memilih menikahi Sena hanya untuk pembalasan dendam.
"Apa 2 wanita saja tidak cukup? Kau malah menambah lagi dengan kedatangan Maya bahkan sampai hamil anakmu."
Regan mengusap wajahnya kasar, ia tak menyangka akan menjadi seperti ini. Regan terjebak oleh 3 wanita sekaligus namun saat ini dia menyadari jika hanya ingin bersama Sena.
"Aku akan menunggu sampai anak Maya lahir lalu kubuktikan jika itu bukanlah anakku!" ucap Regan, dia terus menghela nafas memikirkan Sena. "Sena malah menggungat cerai namun kupastikan setelah bercerai denganku dia tidak akan dimiliki orang lain," sambung Regan.
Regan berdiri, ia mengambil obat anti depresannya, akhir-akhir ini dia meminum itu karena jiwanya sedang terganggu. Zara menggengam tangan Regan, ia menatap pria yang sangat dia cintai walau kini sepertinya tidak bisa ia dapatkan cinta lagi.
"Aku sudah ada bukti jika Maya menjebakmu di malam itu namun kau harus memperbolehkanku keluar dari kandang ini," ucap Zara.
"Baiklah, aku serahkan padamu," jawab Regan.
**
Palu sudah terketuk oleh hakim, Regan dan Sena resmi bercerai walau membutuhkan waktu perceraian selama 2 bulan. Rambut Sena semakin panjang dan cantik, ia bahkan begitu terawat membuat Regan sangat menyesal telah bercerai dengannya. Bapak sudah berada di dalam penjara dan tidak bisa hadir dalam perceraian putrinya, Sena tak masalah, setelah ini dia bisa menjenguk sang Bapak yang mungkin sudah merindukannya.
Bram menghampiri Sena, ia memeluk erat menantunya itu. Bram meminta maaf karena membuat Sena terjebak dalam situasi ini.
"Kita masih bisa bertemu 'kan?" tanya Bram.
"Papa aneh sekali, kita 'kan satu perusahaan."
"Tapi kau sudah berada di lantai lain. Selamat atas terpilihnya kau menjadi sekertaris."
Sena tersenyum senang, ia memeluk lagi orang yang sudah ia anggap sebagai papanya sendiri. Sena tak lupa menyalami istri Bram, Intan masih saja tak menyukai Sena sedangkan Maya hanya diam saja. Sena tersenyum kecil saat Intan mengacuhkannya, kini Sena menatap Regan yang sudah menjadi mantan suaminya.
"Kak Re, hiduplah bahagia dengan Maya! Beberapa bulan lagi kalian akan menjadi orang tua," ucap Sena.
Sena melirik wanita memangku anak kecil yang sedari tadi duduk di paling belakang. Sena lalu membisikan sesuatu pada telinga Regan. "Wanita yang ada di pojok sana adalah mantan kekasihmu yang kau sembunyikan dari semua orang 'kan? Aku sudah tahu jawabannya saat 2 tahun ini kau mencampakanku, penyebabnya adalah wanita itu dan bukan Maya. Oh ya, bagaimana jika Maya sampai tahu kalau suami kesayangannya masih memiliki wanita lain?" Sena tersenyum sinis, ia mundur lalu menjabat tangan Regan.
"Kau memang aktor yang luar biasa, Kak Regan."
"Senarita, semua ini belum berakhir. Aku pastikan kau tidak akan bahagia."
Sena tertawa kecil. "Hahaha... lakukan sesukamu! Kau sudah bukan lagi suamiku."