Novel ini adalah sekuel dari novel yang berjudul: Dinikahi Sang Duda Kaya yang sudah tamat sebelumnya.
Alea Ardiman, "The Smiling Shark" yang jenius namun anti-cinta, harus berurusan dengan dr. Rigel Kalandra setelah jatuh pingsan. Rigel, dokter bedah saraf yang dingin, adalah satu-satunya pria yang berani membanting laptop kerja Alea dan mengabaikan ancaman kekayaannya.
"Simpan uang Anda, Nona Alea. Di ruangan ini, detak jantung Anda lebih penting daripada Indeks Harga Saham Gabungan."
Alea merasa tertantang, tanpa menyadari bahwa Rigel sebenarnya adalah pewaris tunggal konglomerat farmasi sekaligus "Investor Paus" yang diam-diam melindungi perusahaannya. Ketika Ratu Saham yang angkuh bertemu Dokter Sultan yang diam-diam bucin, siapakah yang akan jatuh cinta duluan di bawah pengawasan ketat Papa Gavin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Pasien Bandel
"Sialan. Sinyal di kamar VVIP macam apa ini? Muternya lebih lama dari komedi putar!"
Alea menggerutu kesal sambil mengetuk-ngetuk layar ponsel Zahra yang berhasil dia "pinjam paksa" sebelum asistennya itu disuruh pergi membeli makanan. Layar ponsel itu menampilkan lingkaran loading yang tak berujung. Grafik saham yang ingin dia pantau macet total.
"Ini pasti konspirasi si Dokter Kulkas itu. Dia pasti pasang jammer sinyal di kamar ini biar gue mati bosan," tuduh Alea sembarangan.
Dia melirik ke arah pintu. Sepi. Suster jaga baru saja keluar lima menit yang lalu. Arka sedang ke kantin cari gorengan. Ini kesempatan emas.
Alea turun dari ranjang pasien dengan hati-hati. Dia menyambar cardigan panjang miliknya untuk menutupi baju pasien rumah sakit yang kedodoran dan jelek itu. Dengan gerakan pelan tapi pasti, dia menyeret tiang infusnya yang berroda.
"Oke, Alea. Misi penyelamatan aset dimulai," gumamnya pada diri sendiri.
Tujuannya jelas: Kafe di lobi rumah sakit. Di sana pasti ada WiFi kencang dan kopi hitam yang dia butuhkan untuk menjernihkan otak. Persetan dengan lambung.
Alea menyelinap keluar kamar, menunduk menyusuri lorong VIP yang sepi, lalu masuk ke lift barang agar tidak berpapasan dengan dokter. Sesampainya di lobi, aroma biji kopi yang dipanggang langsung menyapa hidungnya. Surga.
Dia berjalan cepat—secepat orang yang menyeret tiang infus bisa berjalan—menuju konter pemesanan.
"Mbak, double espresso satu. Sama password WiFi-nya apa?" pesan Alea cepat sambil menoleh ke kanan-kiri, waspada seperti buronan polisi.
Barista di depannya menatap Alea ragu. Dia melihat wajah pucat Alea, gelang pasien di tangan, dan tiang infus di sebelahnya.
"Maaf, Kak... yakin mau espresso? Kakak pasien kan?" tanya barista itu sopan.
"Banyak tanya deh. Saya bayar, bukan minta gratis. Cepetan, saya lagi buru-buru," desak Alea sambil mengeluarkan lembaran uang seratus ribu dari saku cardigan-nya.
Barista itu menghela napas, akhirnya mulai mengetik pesanan di mesin kasir. Alea tersenyum puas. Kemenangan sudah di depan mata.
Namun, belum sempat struk keluar, sebuah tangan besar dengan jam tangan chronograph mahal terulur dari belakang bahu Alea, meletakkan kartu akses dokter di atas meja kasir.
"Batalkan pesanannya," suara bariton yang dingin dan familiar terdengar tepat di telinga Alea. "Ganti dengan air mineral hangat."
Alea membeku. Bulu kuduknya meremang.
Dia menoleh patah-patah.
Rigel Kalandra berdiri menjulang di belakangnya. Wajahnya datar, tapi matanya menyipit tajam di balik kacamata minusnya. Dia tidak memakai jas putih kebesarannya, hanya kemeja biru tua yang lengan bajunya digulung sampai siku, memperlihatkan urat-urat tangan yang maskulin.
"Kamu lagi?!" pekik Alea, mundur selangkah hingga punggungnya menabrak etalase kue. "Ngapain kamu di sini? Kamu nguntit saya ya?!"
"Saya dokter, Alea. Ini rumah sakit tempat saya kerja. Wajar saya ada di sini," jawab Rigel tenang, lalu menatap barista yang bengong. "Mbak, jangan kasih kopi. Lambungnya lagi luka. Kalau dia minum itu, Mbak mau tanggung jawab kalau dia muntah darah di sini?"
Barista itu langsung pucat dan menggeleng panik. "Ehh... nggak, Dok. Maaf, Kak, nggak jadi ya kopinya."
"Heh! Nggak bisa gitu dong! Hak asasi saya mau minum apa!" protes Alea tak terima. "Rigel! Minggir! Saya butuh WiFi!"
"WiFi ada di kamar," sahut Rigel singkat.
"Lemot! Nggak bisa buat load grafik real time!"
"Bagus. Biar kamu istirahat."
"Saya nggak butuh istirahat! Saya butuh koneksi!" Alea mencoba berkelit lewat sisi kiri Rigel, tapi Rigel menggeser tubuhnya menghalangi. Alea coba ke kanan, Rigel menghadang lagi.
Mereka berdua malah terlihat seperti sedang berdansa aneh di depan kasir. Beberapa pengunjung kafe dan keluarga pasien mulai menoleh dan berbisik-bisik. Ada yang merekam diam-diam.
"Alea, balik ke kamar. Sekarang," perintah Rigel, nadanya mulai rendah berbahaya.
"Nggak mau! Kamu siapa ngatur-ngatur? Suami bukan, pacar bukan!" Alea keras kepala, memeluk tiang infusnya erat-erat seolah itu senjata. "Saya mau duduk di sini, pakai WiFi sini. Kamu pergi sana urusin pasien lain!"
Rigel memijat pelipisnya. Menghadapi Alea ternyata lebih melelahkan daripada operasi bedah saraf selama sepuluh jam. Wanita ini benar-benar definisi batu karang.
"Oke. Kamu nggak mau jalan sendiri?" tanya Rigel retoris.
"Nggak!"
"Baik."
Tanpa aba-aba, Rigel maju selangkah, menepis tangan Alea dari tiang infus, lalu menunduk.
"Eh? Eh? Apaan nih?!" Alea panik saat merasakan tubuhnya melayang.
Dalam satu gerakan cepat, Rigel mengangkat tubuh Alea. Tangan kanannya menopang punggung, tangan kirinya di bawah lutut. Bridal style.
"RIGEL! TURUNIN!" jerit Alea histeris, kakinya menendang-nendang udara. "Gila ya?! Banyak orang! Malu!"
"Makanya diam," Rigel tidak peduli. Dia berjalan santai keluar dari kafe sambil menggendong Alea seolah wanita itu seringan kapas. Tiang infusnya dia seret dengan satu jari tangan kanan yang juga menopang punggung Alea. Multitasking level dewa.
"Lepasin! Saya bisa jalan sendiri!" Alea memukul dada bidang Rigel dengan kepalan tangannya. Keras. Tapi Rigel bergeming, dadanya sekeras besi.
"Terlambat. Tawaran jalan kaki sudah hangus," jawab Rigel santai, melewati lobi yang ramai.
Semua mata tertuju pada mereka. Pasien, suster, satpam, semua menonton adegan drama korea live action itu. Alea merasa wajahnya panas luar biasa. Harga dirinya sebagai CEO yang ditakuti hancur lebur. Dia menyembunyikan wajahnya di dada Rigel karena malu.
"Dokter Rigel... itu Bu Alea?" sapa seorang suster yang lewat di lorong lift.
"Iya. Pasien bandel. Biasa, mau kabur," jawab Rigel santai tanpa berhenti berjalan.
Alea mencubit lengan Rigel sekuat tenaga. "Diem! Jangan nyebar gosip!"
Rigel membawa Alea masuk ke dalam lift khusus staf medis. Pintu lift tertutup, mengurung mereka berdua dalam ruang sempit yang sunyi.
Napas Alea masih memburu karena emosi dan malu. Dia mendongak, menatap rahang tegas Rigel dari jarak sedekat ini.
Tiba-tiba, Alea menyadari sesuatu.
Wangi.
Tubuh Rigel wangi sekali. Bukan wangi parfum menyengat, tapi wangi citrus segar bercampur aroma antiseptik yang samar dan... sesuatu yang maskulin. Wangi yang menenangkan sekaligus memabukkan.
Jantung Alea yang tadinya berdetak kencang karena marah, kini berdetak dengan ritme yang berbeda. Lebih cepat, tapi aneh. Dia bisa merasakan detak jantung Rigel yang tenang di balik kemejanya.
Posisi mereka sangat intim. Wajah Alea sejajar dengan leher Rigel.
Rigel menunduk sedikit, menatap mata Alea yang mendadak diam.
"Kenapa diam? Baterai ngomelnya habis?" tanya Rigel.
"Berisik," gumam Alea, memalingkan wajah. "Turunin. Udah di lift."
"Nanggung. Sampai kasur," tolak Rigel.
Pintu lift terbuka di lantai VVIP. Rigel melangkah keluar, masuk ke kamar rawat inap Alea, dan berjalan menuju ranjang.
Dia menurunkan Alea perlahan. Bukan dilempar, tapi diletakkan dengan cukup hati-hati meski wajahnya tetap datar.
Alea segera mundur ke kepala ranjang, menarik selimut menutupi kakinya, mencoba membangun benteng pertahanan. Jantungnya masih berdegup kencang tak karuan.
Rigel tidak langsung menjauh. Dia menumpukan kedua tangannya di sisi kiri dan kanan tubuh Alea, mengurung wanita itu lagi di sandaran ranjang. Dia menatap Alea dalam-dalam.
"Dengar, Nona Alea," bisik Rigel, suaranya serak dan rendah, membuat bulu roma di leher Alea berdiri. "Saya tidak punya banyak kesabaran buat main kucing-kucingan."
Alea menelan ludah. Jarak wajah mereka hanya tinggal beberapa senti. Dia bisa merasakan napas hangat Rigel menerpa bibirnya.
"Ka-kamu mau apa?" tanya Alea gugup, keberaniannya menguap entah ke mana.
Rigel mendekatkan bibirnya ke telinga Alea.
"Kalau kamu coba kabur sekali lagi..." bisik Rigel penuh penekanan. "Jangan bikin saya borgol kamu di ranjang ini. Paham?"
aya Aya wae nich dokter satu......
Alea di tantangin......
papa jual......Alea beli....