Matahari sore di Desa Sukamaju sedang terik-teriknya, namun tidak sepanas suasana hati Gus Hilman. Pemuda berusia 22 tahun itu baru saja turun dari mobil, merapikan sarung instan dan kemeja kokonya yang wangi setrikaan. Ia baru tiga hari kembali dari Jakarta untuk mengelola pesantren kecil milik kakeknya di ujung desa.
"Gus Hilman!"
Suara cempreng itu memecah ketenangan. Hilman menghela napas panjang tanpa menoleh. Ia sudah tahu siapa pemilik suara itu. Keyla. Anak tunggal Pak Lurah yang menurut desas-desus warga adalah "ujian berjalan" bagi kaum pria di sana.
Keyla datang dengan motor matic-nya, berhenti tepat di depan Hilman hingga debu jalanan terbang mengenai sepatu kulit sang Gus. Gadis 17 tahun itu turun dengan gaya menantang. Ia mengenakan tank top merah ketat yang memperlihatkan bahu mulusnya, dipadu dengan celana jins pendek di atas lutut. Rambutnya yang dicat cokelat dibiarkan tergerai, basah oleh keringat yang membuatnya tampak semakin... mencolok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 23
Sore harinya, sekitar pukul empat, suara gemuruh guntur mulai terdengar bersahut-sahutan. Tak lama kemudian, hujan turun sangat deras, seolah-olah langit sedang menumpahkan seluruh isinya ke bumi pesantren.
Di tengah guyuran hujan itu, tampak seorang gadis muda dengan gamis lebar dan cadar hitam berlari kecil menuju teras kediaman utama. Bajunya sedikit basah terkena tempias. Ia adalah Sarah, adik bungsu Gus Hilman yang baru saja selesai menunaikan shalat Ashar berjamaah di masjid.
Begitu masuk ke rumah, Sarah melihat kakaknya, Hilman, sudah rapi dan sedang membantu Nayla berdiri pelan-pelan dari sofa. Nayla tampak sudah memakai kerudungnya kembali, bersiap untuk pulang.
"Lho, Mas Hilman sama Mbak Nayla mau ke mana? Ini hujannya deres banget lho," tanya Sarah dengan suara lembut khasnya.
"Rencananya mau pulang ke rumah Ayah, Dek. Takut Ayah sama Bunda nungguin," jawab Hilman sambil tetap memegangi lengan Nayla.
Nayla mencoba melangkah satu kali, tapi wajahnya langsung mengernyit. "Aduh..." ringisnya pelan. Rasa perih di bawah sana ternyata belum benar-benar hilang meski sudah minum jamu Umi Sarah.
Sarah yang melihat kakak iparnya kesulitan berjalan, segera menghampiri. "Mbak Nayla, jalannya jangan dipaksa dulu. Lihat tuh, di luar petirnya ngeri. Mending nginap sini dulu saja, Mbak. Sarah temenin di sini, daripada nanti Mbak kedinginan di jalan, apalagi kondisi Mbak lagi... kurang fit," ucap Sarah penuh pengertian.
Nayla menatap Hilman, matanya seolah memohon. Sebenarnya ia memang masih malas untuk bergerak banyak. "Gimana, Mas? Sarah bener, hujannya ngeri banget."
Hilman menghela napas, ia menatap ke luar jendela yang sudah tertutup kabut hujan. "Ya sudah, kita nginap di sini lagi semalam. Mas akan telepon Ayah dan Bunda supaya mereka tidak khawatir."
"Alhamdulillah. Ya sudah, Mbak Nayla duduk lagi ya. Sarah ambilkan teh anget dulu," ucap Sarah riang.
Nayla kembali duduk dengan sangat hati-hati. Saat Sarah sudah menjauh ke dapur, Nayla menarik ujung baju koko Hilman. "Mas... kok aku deg-degan ya? Sarah itu sholehah banget, pakai cadar lagi. Aku jadi merasa kayak remahan rengginang di samping dia."
Hilman duduk di samping Nayla, ia merangkul pundak istrinya. "Jangan bicara begitu. Sarah ya Sarah, kamu ya kamu. Mas mencintaimu apa adanya, Nay. Tapi kalau kamu mau belajar pelan-pelan jadi lebih baik, Mas akan sangat senang membimbingmu."
"Tapi Mas... Sarah tadi bilang kondisi aku 'kurang fit'. Dia tahu ya kalau kita semalam itu... anu?" bisik Nayla sambil menyembunyikan wajahnya di dada Hilman karena malu.
Hilman berdehem keras, wajahnya kembali memerah. "Sarah itu sudah dewasa, Nay. Dia pasti paham kalau pengantin baru jalannya aneh itu karena apa. Makanya, kamu jangan pecicilan dulu."
Nayla terkekeh manja, ia melingkarkan lengannya di perut Hilman. "Berarti malam ini kita lanjut istirahat, atau Mas mau bikin ronde kedua buat tim sepak bola kita?"
"Nayla!" tegur Hilman sambil mencubit hidung istrinya gemas. "Istirahat. Mas nggak mau besok pagi kamu harus digendong keliling pesantren gara-gara nggak bisa jalan sama sekali."
Suasana santai itu tiba-tiba pecah. DUARRR!!! Suara petir yang sangat keras menggelegar tepat di atas atap pesantren, disusul kilatan cahaya yang menyambar lewat jendela.
"ASTAJIM! LAILAHAILALLAH!" teriak Nayla histeris. Karena saking kagetnya, ia refleks meloncat ke arah Hilman. Tanpa memedulikan rasa perih di tubuhnya, ia langsung melingkarkan kaki dan tangannya di tubuh sang suami, memeluk leher Hilman erat-erat seolah sedang mencari perlindungan nyawa.
Hilman yang juga kaget hampir saja terjungkal ke belakang karena serangan mendadak istrinya. "Astagfirullah, Nay! Iya, tenang... cuma petir," ucap Hilman sambil berusaha menyeimbangkan duduknya dan mendekap punggung Nayla agar tidak terjatuh.
Tepat saat itu, Sarah muncul dari arah dapur membawa nampan berisi tiga cangkir teh hangat. Ia sempat mematung melihat pemandangan di depannya: Kakak iparnya sedang "nemplok" erat di tubuh abangnya seperti koala..
"Mbak Nayla... ini tehnya," ucap Sarah pelan, berusaha menahan tawa di balik cadarnya sambil meletakkan nampan itu dengan hati-hati di meja.
Belum sempat Nayla turun dari pelukan Hilman, pintu kamar utama terbuka lebar. Umi Sarah dan Abah Kiai lari keluar dengan wajah cemas karena mendengar teriakan Nayla yang begitu kencang.
"Ada apa?! Ada apa?! Siapa yang teriak?" tanya Abah Kiai panik sambil memegang tasbihnya.
Umi Sarah berhenti melangkah dan langsung menutup mulutnya dengan tangan saat melihat posisi Nayla dan Hilman. "Ya Allah, Nduk Nayla... Umi kira ada apa, ternyata kaget suara petir ya?"
Nayla yang baru sadar kalau dirinya sedang ditonton oleh mertua, kakek, dan adik iparnya, langsung merasa malu luar biasa. Ia perlahan merosot turun dari tubuh Hilman, tapi tetap memegang erat lengan suaminya. Wajahnya merah padam sampai ke ubun-ubun.
"Maaf... maaf Abah, Umi... Nayla kaget banget, suaranya kayak bom," cicit Nayla sambil menunduk dalam.
Abah Kiai terkekeh geli, ketegangannya langsung hilang. "Lha wong petir itu suaranya alam, Nduk. Tapi baguslah, kalau kaget larinya ke suami, bukan ke jalanan."
"Sudah-sudah, ayo duduk semua. Sarah, terima kasih tehnya," kata Umi Sarah sambil duduk di kursi seberang. "Hilman, kamu ini gimana, istrinya ketakutan bukannya ditenangkan malah dibiarkan malu begitu."
Hilman hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Tadi Hilman juga kaget, Umi. Nayla loncatnya cepat sekali, Masih untung Hilman nggak terjengkang."
Sarah memberikan satu cangkir ke Nayla. "Ini Mbak, diminum dulu biar tenang. Masih bergetar itu tangannya."
Nayla menyeruput teh itu dengan tangan gemetar. Ia melirik Hilman yang sekarang malah balik menggenggam tangannya di bawah meja untuk memberi ketenangan. Sifat hyper-nya mulai muncul lagi karena merasa aman. Ia berbisik pelan ke Hilman, "Mas... nanti malam kalau ada petir lagi, aku boleh loncat lagi kan? Tapi jangan di depan Umi ya..."
Hilman hanya bisa geleng-geleng kepala, menahan senyum di tengah badai hujan yang semakin riuh di luar.