NovelToon NovelToon
Cloudet : Kenangan Masa Lalu Sang Hellhound

Cloudet : Kenangan Masa Lalu Sang Hellhound

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Romansa Fantasi / Cinta Terlarang / Obsesi / Perperangan / Dark Romance
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: HOPEN

Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu, hingga Calix sangat menyayangi Cloudet dengan obsesi menyimpang. Hingga dia rela bersekutu dengan kegelapan agar tidak satupun yang dapat merebut Cloudet darinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HOPEN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Season 2 : Paman Ular

Langkah kuda yang berderap di atas jalanan setapak menuju gerbang utama mansion Grozen terdengar seperti genderang perang bagi Calix.

Meskipun ia berada di dalam kereta kuda mewah bersama keluarga Grozen, kegelisahan di dadanya tidak kunjung padam.

Begitu kereta berhenti dengan sempurna, Calix tidak menunggu pelayan membukakan pintu, ia melompat turun dengan gerakan yang terlalu tangkas bagi seseorang yang baru menempuh perjalanan jauh.

Jover, ayah kandung Calix, turun dengan wibawa yang sedingin es. Wajahnya yang kaku tidak menunjukkan kelelahan sedikit pun, matanya yang tajam sempat melirik putra sulungnya yang tampak seperti orang yang baru saja lolos dari kebakaran.

Baginya, kecemasan Calix adalah pemandangan yang tidak efisien, namun ia membiarkannya.

Di belakang mereka, Irina keluar dari kereta sembari mendekap Edeline kecil yang terlelap dalam balutan kain sutra. Ia sempat menangkap raut wajah Calix yang pucat pasi dan segera meledak dalam tawa kecil yang merdu.

"Calix, astaga, tarik napasmu pelan-pelan,"

goda Irina dengan senyum jenaka.

“Mansion ini masih berdiri tegak, tidak ada asap hitam yang keluar dari atap, dan pilar-pilarnya masih utuh. Kau terlihat seperti akan menghadapi eksekusi mati daripada bertemu adikmu sendiri."

Calix tidak menyahut.

Baginya, kesunyian mansion adalah pertanda buruk. Di dalam kepalanya, imajinasi liar tentang Cloudet yang hilang atau diculik oleh makhluk hutan masih menari-nari.

Ia adalah putra kandung Jover dan Calona—darah hellhound murni mengalir di nadinya, membawa insting pelindung yang terkadang melampaui logika manusia.

Meski ia sangat menghormati Roland dan Irina sebagai penguasa rumah ini, fokus hidupnya adalah satu-satunya.

Tanpa basa-basi, Calix melesat masuk ke dalam mansion, mengabaikan sapaan para pelayan yang berbaris di aula. Ia berlari menaiki tangga marmer, langkah sepatunya bergema keras di lorong-lorong sunyi.

Tujuannya hanya satu: kamar Cloudet di sayap kanan.

BRAK!

Ia membuka pintu kamar itu dengan sedikit tenaga berlebih. Napasnya tersengal, matanya menyapu setiap sudut ruangan dengan liar.

Di sana, di tengah tumpukan bantal besar, Cloudet sedang duduk dengan tenang. Gadis kecil itu sedang berusaha memasangkan pita merah pada boneka beruangnya, tampak sangat damai seolah dunia tidak pernah memiliki masalah.

"Cloudet!"

Seru Calix, suaranya parau antara lega dan ingin marah.

Cloudet menoleh, mata kuning keemasannya berbinar saat melihat kakaknya.

“Kakak!"

serunya riang sembari melompat dari kasur dan berlari memeluk kaki Calix.

Calix segera berlutut, mencengkeram bahu adiknya dan memutar tubuh kecil itu ke kiri dan ke kanan, memeriksa setiap inci kulitnya dengan teliti.

“Kau tidak apa-apa? Kau tidak terluka? Kau tidak pergi ke hutan lagi, kan? Katakan padaku kau tidak mencoba memakan tanaman beracun!"

Cloudet hanya terkekeh, tangannya yang mungil mencoba merapikan rambut Calix yang berantakan karena angin perjalanan.

“Aku baik-baik saja, Kakak. Aku hanya... bermain sebentar."

Namun, saat Calix menarik napas dalam untuk menenangkan jantungnya, indra penciuman hellhound-nya menangkap sesuatu.

Ada aroma yang samar, namun sangat spesifik yang menempel pada gaun Cloudet. Itu bukan aroma vanilla dari dapur, bukan pula aroma mawar dari taman Irina.

Itu adalah aroma dingin, lembap, dan sedikit berbau musk—aroma sisik reptil yang sangat ia kenali.

Mata Calix menyipit tajam.

“Cloudet... kenapa kau berbau seperti ular?"

Cloudet terdiam sejenak, bibirnya membentuk senyum polos yang paling mencurigakan yang pernah dilihat Calix.

“Mungkin ular itu yang berbau sepertiku, Kak,"

jawabnya dengan logika yang memutar balik fakta.

Calix berlutut di atas karpet beludru, matanya yang tajam mengunci setiap gerak-gerik Cloudet.

Kecemasan yang sedari tadi membuncah di dadanya seolah menemukan muaranya saat ia melihat sesuatu yang asing di pergelangan tangan kecil adiknya.

Sebuah gelang manik kayu yang tampak sederhana namun memancarkan pendaran sihir kuno yang halus, manik kayu cendana hitam yang hanya tumbuh di jantung terdalam Hutan Scotra.

Darah Calix mendingin. Ia mengenali pola ukiran pada manik itu. Itu adalah artefak milik Kael, sang Raja Ular. Sebuah benda yang tidak mungkin diberikan secara cuma-cuma kecuali jika terjadi sesuatu yang sangat luar biasa di dalam hutan itu.

"Cloudet,"

suara Calix merendah, bukan karena marah, melainkan karena rasa frustrasi yang meluap. Ia memijit pelipisnya yang berdenyut kencang.

"Kael... pria ular itu. Apa yang dia lakukan padamu?"

Ia ingin sekali meledak, ingin sekali membakar seluruh hutan itu sekarang juga, namun ia menahan diri. Ia menyadari bahwa ini adalah konsekuensi dari sifat alami hellhound yang mengalir di darah mereka.

Cloudet sedang berada dalam fase pertumbuhan di mana rasa penasarannya melampaui batas insting bertahan hidup. Baginya, dunia luar bukanlah ancaman, melainkan taman bermain yang penuh dengan teka-teki.

Melihat wajah kakaknya yang tampak sangat tertekan, Cloudet hanya memiringkan kepalanya, jemari mungilnya memutar-mutar manik gelang itu dengan santai.

"Paman Ular hanya memberikan ini agar aku tidak menangis lagi, Kak,"

ucapnya polos.

Calix menghela napas panjang, sebuah desahan yang sarat akan kekalahan. Ia menjangkau ke depan, mengangkat tubuh mungil Cloudet ke dalam gendongannya yang kokoh.

Ia membenamkan wajahnya di leher Cloudet, menghirup aroma adiknya yang kini tercampur dengan bau hutan yang lembap, lalu mencium pipinya dengan gemas hingga Cloudet menggeliat dan tertawa geli karena terkena napas hangat Calix.

"Kau benar-benar akan membuatku mati muda karena serangan jantung,"

gumam Calix di sela tawa adiknya.

Ia membawa Cloudet menuju kursi malas di sudut kamar, mendudukkannya di pangkuan sembari mulai mengelus punggungnya dengan gerakan ritmis.

Calix tahu cara terbaik untuk mendapatkan kebenaran dari Cloudet bukanlah dengan interogasi kasar, melainkan dengan memancingnya bercerita sebelum tidur.

Dalam kondisi setengah mengantuk, pertahanan Cloudet akan runtuh, dan ia akan menumpahkan setiap detail kejadian tanpa ada yang ditutupi.

"Ayo, ceritakan pada kakak,"

bisik Calix lembut, suaranya kini tenang namun penuh selidik.

“Mulai dari saat kau menginjakkan kaki di tanah Scotra, sampai kau mendapatkan gelang ini. Ceritakan semuanya, dan jangan ada yang dilewatkan."

Cloudet mulai berkisah dengan suara yang perlahan meredup seiring rasa kantuk yang menyerang.

Ia bercerita tentang para peri yang lucu, tentang bagaimana ia merasa bosan di mansion, dan tentu saja, tentang bagian di mana ia "mencolek" Kael hingga pria itu jatuh pingsan.

Calix mendengarkan dengan saksama, telinganya menangkap setiap fluktuasi nada suara Cloudet.

Matanya yang kuning keemasan menyipit tajam saat Cloudet menceritakan bagaimana Kael menggendongnya dan menimangnya dengan kaku. Ada rasa cemburu yang aneh muncul di dada Calix, namun ia lebih fokus mencari tanda-tanda apakah Kael melakukan sesuatu yang menyakiti fisik atau mental adiknya.

Hingga akhirnya, napas Cloudet menjadi teratur dan berat. Ia tertidur lelap di pelukan Calix, tangannya masih menggenggam erat ujung jubah kakaknya.

Calix memandangi wajah tidur Cloudet yang tenang selama beberapa saat. Senyum tipis namun dingin terukir di bibirnya. Ia meletakkan Cloudet ke tempat tidur dengan sangat hati-hati, menyelimutinya hingga ke dagu, lalu mengecup keningnya sekali lagi.

Begitu ia melangkah keluar dari kamar dan menutup pintu dengan perlahan, ekspresi hangat di wajah Calix menghilang seketika. Auranya berubah menjadi sangat tajam, dan suhu udara di lorong mansion itu mendadak naik beberapa derajat.

"Paman Ular, ya?"

gumam Calix sembari menatap ke arah cakrawala di mana Hutan Scotra berdiri dalam kegelapan malam.

“Jika ada satu bagian saja dari ceritanya yang menunjukkan kau menyentuh kulitnya dengan niat buruk, kau akan tahu mengapa mereka menyebut kami sebagai api yang tak pernah padam."

Ia mulai berjalan menuju balkon, bersiap untuk melakukan kunjungan "balasan" ke Scotra malam itu juga.

...----------------...

Malam di Hutan Scotra tidak pernah benar-benar sunyi. Bunyi serangga malam yang ritmis berpadu dengan desis angin yang melewati celah-celah dahan purba, menciptakan simfoni yang mencekam bagi siapapun yang tidak memiliki urusan di sana.

Namun, bagi Calix, hutan ini hanyalah latar belakang dari amarah yang sedang ia tekan di bawah permukaan kulitnya.

Langkah kakinya meninggalkan jejak abu yang masih membara di atas rumput yang lembap. Ia tidak perlu mencari; aroma sihir reptil yang dingin menuntunnya langsung ke tepian danau kristal yang airnya memantulkan cahaya bulan perak.

Di sana, Kael tampak sangat santai, terlalu santai untuk seseorang yang baru saja menculik (atau diculik oleh) seorang anak kecil.

Pria ular itu duduk di atas batu besar, membelakangi kegelapan air, seolah-olah dia memang sedang menunggu kedatangan badai bernama Calix.

Tanpa sepatah kata pun, Calix merogoh sakunya. Dengan gerakan sentakan pergelangan tangan yang penuh tenaga, ia melemparkan gelang manik kayu cendana itu tepat ke arah Kael.

Plak!

Kael menangkapnya dengan refleks kilat, jemarinya yang panjang mengatup pada manik-manik tersebut. Ia menunduk melihat benda itu, lalu terkekeh rendah, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan sisik di atas sutra.

"Begitu cepat kau mengembalikannya?"

Kael memutar-mutar gelang itu di telunjuknya.

"Aku memberikan itu sebagai tanda perdamaian, atau mungkin biaya kompensasi untuk gendang telingaku yang hampir pecah."

Calix berdiri di tepi bayangan pohon, matanya yang kuning menyala terang di tengah kegelapan, memancarkan aura predator yang siap menerkam.

“Aku tidak butuh tanda perdamaianmu, Kael. Dan adikku tidak butuh perlindungan dari artefak terkutuk milik ular busuk sepertimu."

"Ah, Calix... kau selalu saja berlebihan,"

Kael melompat turun dari batunya, berjalan mendekat dengan keanggunan yang licin.

“Aku tidak menyakitinya sedikit pun. Dia kembali padamu dalam keadaan utuh, tanpa kurang satu helai rambut pun. Lagi pula, bukan aku yang menculiknya. Dia sendiri yang berlari ke jantung hutanku, seolah-olah tempat ini adalah taman bermain pribadinya."

Calix mendengus, namun ketegangan di bahunya sedikit mengendur. Ia datang ke sini bukan untuk benar-benar membakar hutan, meskipun keinginan itu ada melainkan untuk melepas sisa-sisa kegilaan yang ia rasakan selama di pesisir selatan.

Menghadapi Kael selalu menjadi cara yang efektif untuk menyalurkan emosi, karena reptil ini adalah satu-satunya makhluk yang cukup tangguh sekaligus cukup menyebalkan untuk menjadi lawan bicaranya.

"Hei!"

Calix melangkah maju, suaranya naik satu oktav penuh kejengkelan.

“Ceritakan padaku, apa yang sebenarnya kau lakukan sampai dia menangis sehebat itu? Aku bisa merasakan resonansinya sampai ke ujung mansion. Kau tidak mencoba memakannya, kan?"

Mendengar pertanyaan itu, tawa Kael meledak secara spontan. Ia menyisir rambut hitam kehijauannya ke belakang, wajahnya menampakkan ekspresi antara geli dan trauma yang mendalam.

"Aku memakannya? Calix, kau harusnya lebih mengkhawatirkan keselamatanku daripada keselamatan monster kecilmu itu,"

ucap Kael sembari memegangi hidungnya yang secara psikologis masih terasa berdenyut.

“Kau tidak tahu bagaimana rasanya harus menghadapi frekuensi suara yang bisa meruntuhkan gunung. Aku tidak melakukan apa-apa! Dia menangis hanya karena aku sedikit menolak untuk dipeluk. Oke, mungkin aku sedikit kasar saat mencoba melepaskannya."

Kael kemudian menatap Calix dengan tatapan penuh simpati yang dibuat-buat.

“Sungguh, aku baru menyadari sekarang betapa malangnya hidupmu. Aku tidak tahu bagaimana kau bisa bertahan selama ini dengan suara tangisannya dan sifat 'aktif'-nya yang mengerikan itu. Adik kecilmu yang manis itu benar-benar makhluk paling merepotkan."

Calix terdiam, lalu sebuah senyum miring yang langka muncul di bibirnya. Ia menyilangkan tangan di dada, merasa sedikit menang karena setidaknya Kael juga menderita.

“Dia memang merepotkan. Tapi dia adalah Hellhound-ku. Jika kau tidak ingin berurusan dengannya lagi, saranku adalah... pasang pagar yang lebih tinggi di hutanmu ini, Kael."

"Pagar tidak akan berguna untuknya,"

sahut Kael sembari melemparkan kembali gelang itu ke arah Calix.

“Simpan saja. Anggap itu pengingat bahwa lain kali dia datang, aku akan bersembunyi di dasar danau paling dalam."

Bersambung

1
Im_Uras
🙏🙏
Im_Uras
😍😍😍
Anonymous
bagus
Anonymous
/Facepalm//Slight//Sneer/
Anonymous
yg🤭/Slight/
Anonymous
vshsii
Anonymous
hs
Anonymous
👍👍👍👍
Anonymous
👍
/Sob/ sedihnya
izin aku post di status /Pray/
Im_Uras
🤭🤭
Im_Uras
😍
💕𝓴𝓪𝓼𝔂𝓬𝓱𝓪𝓷❀ ⃟⃟ˢᵏ
lucu itu.. namanya juga masih masa pertumbuhan🤭🙏
💕𝓴𝓪𝓼𝔂𝓬𝓱𝓪𝓷❀ ⃟⃟ˢᵏ
wah.. pasti cakep banget
j_ryuka
namanya juga anak-anak
Tulisan_nic
ikut aku aja cloudet
Tulisan_nic
unyu banget,🫣
chrisytells
Kalau nggak keras, bukan kepala namanya 🤭😄
chrisytells
Udah otot kawat, tulang besi dari sononya nih si Cloudet
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!