Di balik suami yang posesif, menyimpan sebuah rahasia besar!
Alan akan selalu melempar benda-benda yang terdekat dengannya ketika ia kecewa dengan Nesa, ia memang tidak pernah memukul istrinya—pria itu akan menumpahkan kekesalannya pada barang-barang di rumahnya.
Nesa sebenarnya tidak tahan lagi, tapi hanya demi Ribi—putri semata wayangnya dirinya bersabar menghadapi perangai buruk suaminya yang tempra mental. Tapi bencana itu datang, saat Nesa mengetahui jika sang suami tidur dengan wanita lain hanya satu kalimat yang terucap.
"Mari kita cerai!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi wu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 27
Bagian 27
"Iyakah?" Nendra mencari alasan untuk menyangkal tuduhan Nesa. "Buktinya aku nerima kamu, Nes," imbuhnya lagi.
"Tapi bukannya awalnya mas Nendra nolak aku, ya?"
"Maaf waktu itu, kalau aku menyuruhmu melepaskan jilbabmu."
Nesa tersenyum mengangguk, namun melihat senyuman cerah yang terpancar dari wajah ayu Nesa membuat Nendra tanpa sengaja bergumam.
"Ayune! (Cantiknya!) "
Nesa yang sekelebat mendengar suara lirih menoleh ke arah Nendra. "Apa, Mas? Mas ngomong apa? Aku nggak dengar."
"Eh... enggak, Nes." Nendra nampak salah tingkah dengan ucapannya sendiri. Lalu berjalan kembali mengikuti wanita oriental tadi, masuk ke dalam kantor.
Akhirnya mereka berangkat menuju kabupaten Semarang, tepatnya di daerah gunung Ungaran. Di sana sangat banyak sekali tempat wisata—warga Semarang menghabiskan waktu akhir pekannya.
"Sambil piknik ya, Nes. Kamu pasti sudah lama nggak jalan-jalan di daerah sini, ya, kan?" pungkas lelaki yang berprofesi sebagai make up artist itu, disela-sela ia menyetir.
"Iya... terakhir sebelum menikah. Aku juga nggak pernah lewat di jalan tol ini," balas Nesa, melihat pemandangan jalan tol yang menyuguhkan keindahan di sisi kanan dan kiri.
"Besok kapan-kapan ajak anakmu main ke sini. Biar aku yang antar."
Mendengar ucapan Nendra membuat Nesa terkejut, sejak kapan pria ini tahu jika dirinya memiliki anak? Seingatnya ia tidak pernah menceritakan masalah pribadi kepada pria ini.
Nendra tersadar jika ucapannya sangat membuat Nesa terkejut. "Sorry, Nes. Adikku Indri telah menceritakan semuanya padaku, jika suami—bertindak kasar padamu selama kalian menjalankan mahligai rumah tangga. Maaf jika aku lancang," jelasnya, dia merasa tidak enak pada Nesa yang merasa tak nyaman.
"Pasti Salma yang cerita, ya, Mas? Nggak papa. Aku ngerti, pasti Mas Nendra pengen tahu semuanya tentang karyawan Mas."
"Syukurlah. Aku takut jika kamu beranggapan, jika aku terlalu menginvasi tanah pribadimu, Nes," jawabnya, sembari menghela napas lega.
Nesa hanya diam, membuang muka ke luar melihat pemandangan luar, Tiba-tiba Nendra membuka kaca mobilnya, membuat angin seketika masuk ke dalam mobil.
"Nah... begini, Nes. Biar kamu bisa rasain angin sepoi-sepoi dan pemandangan."
Tak lama mereka telah sampai di tempat wisata Umbul Sido Multi, yang berada di puncak gunung Ungaran. Di sana terdapat Vila pondok panorama, cafe, kolam renang, kebun mawar, dan berbagai permainan seperti outbond, kuda, ATV, camping ground, dan lain-lain. Harga tiket pun terbilang sangat terjangkau.
Nesa menghirup udara kuat-kuat saat sampai di tempat itu, udaranya sejuk dan sedikit berhawa dingin. Nesa lupa kapan terakhir kali ia pergi berwisata seperti ini, hingga ia mengingat Ribi, dan berjanji pada dirinya sendiri akan mengajak sang buah hati ke mari.
Klien Nendra menyewa salah satu kamar di pondok panorama, untuk tempat mereka merias wajah. Sementara sang photografer dan assistentnya sudah siap di tempat.
Nendra dan Nesa bersiap mendandani Klien tersebut, Nesa menangani mempelai wanita, sedangkan Nendra si pria sembari sesekali mengecek hasil riasan Nesa.
Klien Nendra sangat puas dengan hasil kerja Nesa, tak henti-hentinya ia menyanjung kinerja wanita itu.
"Nendra, kamu dapat perias bagus dari mana? Ngga medok, halus banget hasilnya," pungkas wanita itu, menatap bayang wajahnya di depan cermin.
"Aku nemu di suatu tempat, Ci'," jawabnya diikuti gelak tawa Nendra yang nampak juga begitu puas dengan Nesa.
Nesa hanya tersenyum menatap Citra, klien itu sering di sapa.
Lalu mereka mulai sesi pemotretan, di berbagai tempat salah satunya hamparan kebun mawar yang nampak indah dipandang.
Nesa dan Nedra duduk tak jauh dari tempat di mana Klien itu tengah menjalani pemotretan. Sembari membawa beauty case, jika dibutuhkan untuk sekedar touch up.
"Kamu bisa make up kaya begitu dari mana, Nes? Sekolah?" tanya Nendra membuka percakapan.
"Nggak, Mas. Otodidak, aku suka lihat konten Beauty Vlogger di Youtube, dan suka iseng-iseng make up diri sendiri," jelasnya.
"Tapi untuk kamu yang cuma belajar dari YouTube, kemampuan kamu udah bagus banget, loh, Nes."
Nesa nampak tersipu malu dengan ucapan Nendra. Namun tiba-tiba—
"Kamu yakin mau cerai, Nes?" Nendra merubah obrolan mereka menjadi topik pribadi.
"Maksud kamu?" Nesa sangat tidak suka jika seseorang yang baru dikenalnya melontarkan kalimat seperti ini, seolah ingin tahu tentang dirinya lebih dalam lagi.
"Buka gitu maksudku Nes! Maaf, lupakan saja apa yang aku katakan sama kamu," kilah pria itu.
Ada getaran Aneh saat Nendra tengah bersama Nesa, selama ini pria itu selalu sendiri, tidak pernah memiliki tambatan hati. Hingga semua orang menganggap Nendra penyuka sesama jenis.
suka bgt
mudah2 Han author nya GX lama2 up ny