Ia dikenal sebagai dosen yang tenang, rasional, dan tak pernah melanggar batas.
Sampai suatu hari, satu tatapan membuat seluruh prinsipnya runtuh.
Di ruang kelas yang seharusnya netral, hasrat tumbuh diam-diam tak pernah diucapkan, tapi terasa menyesakkan. Setiap pertemuan menjadi ujian antara etika dan keinginan, antara nalar dan sisi manusia yang paling rapuh.
Ini bukan kisah cinta.
Ini adalah cerita tentang batas yang perlahan retak dan harga mahal yang harus dibayar ketika hasrat tak lagi bisa dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Bertamu ke Sarang Singa Rodriguez
Malam itu, langit Jakarta tampak kelabu, seolah-olah mengerti ketegangan yang merambat di saraf Airin. Setelah acara makan siang keluarga di rumah Jordan yang penuh godaan itu, Jordan justru mengambil keputusan nekat. Alih-alih mengantar Airin kembali ke apartemennya yang jauh di Distrik Merpati, ia justru memutar arah mobilnya menuju kawasan Menteng, tempat di mana sebuah gerbang besi menjulang tinggi menutupi kemegahan mansion keluarga Rodriguez.
"Bapak maksudku, Jordan! Apa yang kamu lakukan? Kamu gila?" Airin hampir berteriak, suaranya yang lembut naik satu oktav karena panik. "Ayahku tidak akan suka melihatku pulang dengan seorang pria yang baru saja mengancam pengawalnya!"
Jordan memutar setir dengan santai, wajahnya tampak tenang seolah ia hanya sedang menuju minimarket. "Aku tidak suka sembunyi-sembunyi, Airin. Jika aku ingin memilikimu, aku harus menghadapi sumber kekuasaan yang menahanmu."
Mobil SUV hitam itu berhenti tepat di depan pintu utama yang dijaga ketat. Dua pengawal yang sama dengan yang ada di restoran tempo hari tampak siaga, namun saat melihat siapa yang keluar dari kursi kemudi, mereka ragu untuk bertindak kasar. Jordan berjalan memutar, membukakan pintu untuk Airin yang kakinya terasa seperti jeli.
Pintu jati besar itu terbuka. Di dalam ruang tamu yang bergaya klasik Eropa dengan langit-langit setinggi tujuh meter, berdirilah sepasang suami istri paruh baya yang memancarkan aura otoritas luar biasa. Tuan Rodriguez, dengan rambut yang mulai memutih namun tatapannya masih tajam seperti silet, dan Nyonya Rodriguez yang anggun dengan balutan sutra mahal.
Airin menunduk, bersiap untuk ledakan kemarahan. Namun, yang terjadi justru di luar dugaan.
"Jadi, ini pria yang membuat pengawalku pulang dengan tangan hampa?" Tuan Rodriguez bersuara. Suaranya berat, bergema di ruangan yang sunyi itu.
Jordan melangkah maju tanpa ragu, memberikan anggukan hormat yang tidak terkesan tunduk. "Jordan Abraham. Saya datang untuk mengantar putri Anda pulang, dan mungkin, menetap untuk makan malam jika Anda mengizinkan."
Nyonya Rodriguez tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat mirip dengan Airin. "Jordan Abraham dari Abraham Corp? Jehan sering bercerita tentang adiknya yang kaku ini. Masuklah, kebetulan makan malam hampir siap."
Airin tertegun. Ia menatap ayah dan ibunya dengan tatapan tidak percaya. Mengapa mereka begitu ramah? Jordan pun tidak melewatkan kesempatan itu. Ia menoleh ke arah Airin, memberikan senyum narsis yang seolah berkata, 'Lihat? Aku selalu menang'. Airin merinding melihat kepercayaan diri Jordan yang meluap-luap. Pria ini benar-benar tidak punya rasa takut.
Meja makan kayu jati panjang itu penuh dengan hidangan mewah. Airin duduk di antara ibunya dan Jordan, sementara Tuan Rodriguez berada di ujung meja sebagai kepala keluarga. Keheningan sempat menyelimuti ruangan sebelum Jordan meletakkan garpunya dan mulai melontarkan pertanyaan yang selama ini mengganjal di benaknya.
"Ada beberapa hal yang mengganggu pikiran saya, Tuan Rodriguez," buka Jordan dengan nada bicara yang sopan namun lugas, khas seorang CEO yang sedang melakukan audit. "Mengapa identitas Airin harus dirahasiakan sedemikian rupa dari publik? Dan mengapa seorang putri tunggal Rodriguez diizinkan tinggal di apartemen yang jaraknya empat puluh menit dari kampusnya, di daerah yang bahkan tidak memiliki sistem keamanan berlapis?"
Tuan Rodriguez menghentikan gerakannya memotong daging. Ia menatap istrinya sejenak, lalu beralih pada Jordan dengan tatapan yang sangat berwibawa.
"Dunia ini tidak seindah yang terlihat, Jordan," jawab Tuan Rodriguez tegas. "Keluarga Rodriguez memiliki banyak musuh di bidang industri. Merahasiakan identitas Airin adalah satu-satunya cara untuk menjamin dia bisa berjalan di trotoar tanpa harus takut diculik atau dijadikan alat pemerasan. Kami ingin dia punya masa muda yang normal, meski itu artinya dia harus hidup sebagai 'orang biasa' di kampus."
"Lalu soal apartemen itu?" kejar Jordan.
Nyonya Rodriguez menghela napas lembut, menatap Airin dengan kasih sayang. "Itu permintaan Airin sendiri, Jordan. Dia ingin membuktikan bahwa dia bisa hidup mandiri tanpa embel-embel nama ayahnya. Dia mencari tempat itu sendiri, mengurus semuanya sendiri."
"Mandiri?" Jordan melirik Airin yang sedang asyik menunduk menatap piringnya. "Dengan uang jajan yang masih dikirim secara rutin setiap bulan ke rekeningnya?"
Wajah Airin memerah. Ia merasa tertangkap basah. Tuan Rodriguez terkekeh kecil, sebuah suara yang jarang terdengar di rumah itu.
"Tentu saja. Saya tidak mungkin membiarkan putri saya kelaparan atau tinggal di tempat yang kumuh. Mandiri versinya adalah dia mencuci bajunya sendiri dan membersihkan apartemennya sendiri, tapi biaya hidup? Itu tetap tanggung jawab saya sebagai ayahnya," jelas Tuan Rodriguez.
Jordan manggut-manggut. Ia merasa jawaban itu cukup masuk akal, meski ia tetap menganggap lokasi apartemen Airin terlalu berisiko. "Mulai sekarang, keamanannya akan menjadi perhatian saya juga. Saya tidak suka miliki saya berada di tempat yang tidak terpantau."
"Milikmu?" Tuan Rodriguez mengangkat alis. "Kamu cukup berani mengklaim putriku di depanku, Anak Muda."
"Saya hanya menyatakan fakta," jawab Jordan tenang sambil meraih tangan Airin di atas meja dan mengecup punggung tangannya di hadapan kedua orang tua Airin.
Airin merasa ingin tenggelam ke bawah meja saat itu juga. Ia tidak percaya Jordan seberani itu bertindak lancang di depan ayahnya. Namun, ayahnya justru tidak marah. Tuan Rodriguez hanya menatap Jordan dengan pandangan menilai, seolah ia baru saja menemukan lawan yang sepadan untuk menjaga putrinya.
"Jika kamu ingin menjaganya, lakukan dengan benar. Jangan sampai aku mendengar dia menangis karena ulahmu," ancam Tuan Rodriguez dengan nada yang tidak main-main.
Jordan mengangguk mantap. "Anda punya kata-kata saya, Tuan."
Malam itu berakhir dengan pembicaraan bisnis yang berat antara kedua pria tersebut, sementara Airin dan ibunya hanya bisa menyimak. Airin menyadari satu hal: dunianya yang tenang kini telah hancur berkeping-keping karena badai bernama Jordan Abraham. Namun, di balik rasa takut dan malunya, ia merasa ada kenyamanan baru yang mulai tumbuh. Seseorang akhirnya tahu siapa dia yang sebenarnya, dan seseorang itu siap melawan dunia untuknya.