"Di tempat di mana es tidak pernah mencair dan badai salju menjadi kawan setia, hadirlah ia—sebuah binar yang tak sengaja menyapa. Mampukah setitik cahaya kecil menghangatkan hati yang sudah lama membeku di ujung dunia? Karena terkadang, kutub yang paling dingin bukanlah tentang tempat, melainkan tentang jiwa yang kehilangan arah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Khitbah di Balik Menara Kuno
Satu Kata, Berjuta Makna
Di antara debu kitab dan aroma kopi,
Dua janji terpatri dalam senyapnya hari.
Bukan lagi tentang teori yang kita bedah,
Tapi tentang langkah yang tak lagi terbelah.
Kau tertunduk, menyimpan rona yang merambat,
Menanti takdir yang datang dengan khidmat.
Dan ketika bibirmu mengucap satu kata,
Seluruh Kairo seolah ikut bersukacita.
Keheningan di sudut perpustakaan itu terasa begitu pekat. Bungah yang duduk beberapa meja di belakang mereka sampai berhenti membalik halaman kitabnya, takut suara kertas akan merusak momen sakral tersebut. Ia menatap punggung kakaknya yang tegak, lalu beralih pada Mbak Khadijah yang masih menunduk dalam, jemarinya memainkan ujung jilbab hijaunya dengan gugup.
Mas Azam menunggu dengan sabar. Ia tidak mendesak, tidak pula mengalihkan pandangan. Baginya, jawaban Khadijah adalah penentu apakah sebelas tahun pengembaraannya di Mesir akan ditutup dengan kado terindah dari Allah atau hanya sekadar gelar akademik di belakang namanya.
Setelah beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam, Khadijah akhirnya mengangkat wajahnya. Ada binar yang jujur di matanya, sebuah kombinasi antara rasa malu dan ketetapan hati.
"Mas Azam," suara Khadijah lembut namun terdengar sangat yakin. "Saya bukan tipe orang yang suka menggantungkan urusan. Ayah saya selalu berpesan, jika ada laki-laki baik yang datang dengan niat yang benar, maka tidak ada alasan untuk menolak kecuali karena kurangnya iman."
Khadijah menghela napas pelan, mencoba menenangkan debar di dadanya. "Saya sudah mendengar banyak tentang Mas dari para asatidz di sini. Dan setelah diskusi beberapa kali ini, saya rasa... saya tidak menemukan alasan untuk berkata tidak."
Deg.
Mas Azam memejamkan mata sejenak, mengucap hamdalah dalam hati yang paling dalam.
"Jadi... Mbak setuju jika saya menghubungi Abah di Jawa?" tanya Mas Azam memastikan, suaranya sedikit bergetar karena haru.
Khadijah mengangguk pelan, sebuah senyuman tulus terukir di wajahnya. "Nggih, Mas. Silakan bicara dengan Abah. Jika Abah merestui, maka saya pun akan tunduk pada restu beliau. Saya rasa, ilmu kita akan jauh lebih berkah jika kita pelajari bersama dalam satu atap yang halal."
Bungah yang sejak tadi menahan napas, tiba-tiba tak bisa menahan diri lagi. Ia refleks berdiri dan menghampiri meja mereka dengan mata yang berbinar-binar bahagia.
"Alhamdulillah! Mas Azam! Mbak Khadijah!" seru Bungah pelan namun penuh penekanan. "Akhirnya Bungah bakal punya mbak ipar dokter! Mas Azam, jangan melamun terus, cepat telepon Bapak di rumah biar segera disiapkan rombongan ke Jawa Tengah!"
Mas Azam tertawa, kali ini tawa yang benar-benar lepas dari beban. Ia menatap adiknya dengan rasa syukur. "Adek ini... selalu saja yang paling semangat. Sabar, kita harus tetap pakai prosedur yang benar."
Khadijah ikut terkekeh melihat tingkah polos Bungah. "Bungah, terima kasih ya. Kalau bukan karena 'tabrakan' dan bantuan detektif cadar ini, mungkin Mas Azam masih akan terus sembunyi di balik tumpukan kitabnya."
"Sama-sama, Mbak! Nanti kalau sudah nikah, jangan lupa ajari Bungah cara merawat wajah ya, biar makin cantik buat Kak... eh, buat masa depan Bungah nanti,"
canda Bungah yang membuat suasana semakin cair.
Sore itu, saat mereka keluar dari perpustakaan, langit Kairo berwarna jingga keunguan. Angin sepoi-sepoi membawa aroma melati dari taman-taman kota. Mas Azam berjalan dengan langkah yang jauh lebih ringan.
"Adek," panggil Mas Azam saat Khadijah sudah berpamitan pulang ke asramanya.
"Ya, Mas?"
"Terima kasih sudah menjagaku di sini. Sekarang, Mas merasa punya alasan lebih kuat untuk segera membawamu pulang dengan sukses. Mas ingin melihatmu wisuda, lalu kita pulang bersama-sama. Mas dengan Khadijah, dan kamu... dengan penunggumu di Jawa Timur itu."
Bungah merangkul lengan kakaknya erat-erat. "Nggih, Mas. Kita sukses bareng-bareng di sini ya. Kairo saksi perjuangan kita, dan Jawa adalah pelabuhan cinta kita."
Malam itu, Mas Azam benar-benar menelepon ayahnya di Indonesia. Berita tentang rencana khitbah itu menyebar cepat sampai ke telinga Gus Zidan melalui jaringan pesantren. Di ribuan kilometer jauhnya, Zidan tersenyum mendengar kabar itu. Ia tahu, langkah Mas Azam akan mempermudah jalannya juga untuk menjemput sang Mentari Kecilnya nanti.