NovelToon NovelToon
MENGEJAR CINTA SANG ANTAGONIS

MENGEJAR CINTA SANG ANTAGONIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Gadis nakal / Time Travel / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Romansa / Reinkarnasi / Fantasi Wanita
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mellisa Gottardo

Elena, seorang gadis yang selalu kalah dan selalu di perlakukan tidak adil. Kini telah menemukan dunia baru, dengan tujuan hidup yang baru.

Mengejar cinta atau mencari harta? Elena akan melakukan keduanya sekaligus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellisa Gottardo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

hts?

Theor pergi menemui Daniel setelah melapor pada Kaisar. Karena pada kasus kali ini namanya terseret sebagai tertuduh, maka dia tidak bisa ikut serta dalam mengurus Isabella.

"Kenapa kau melakukan itu Theor?." Lirih Daniel.

"Lalu? menurut yang mulia saya harus melakukan apa, saya juga memiliki gadis yang perlu saya pikirkan perasaan nya." Ucap Theor datar.

"Kau bisa memberikan pengertian pada Elena setelah pesta, lihat sekarang Isabella harus di penjara hanya karena ingin hadir dalam pesta." Ucap Daniel.

"Anda melupakan begitu saja alasan saya sampai semarah ini yang mulia. Jika saja mantan kekasih anda tidak mengatakan hamil anak saya, mungkin saya tidak akan bertindak sejauh ini. Ini sudah menyangkut nama baik saya, membuat hubungan saya dengan gadis yang saya cintai merenggang. Apa anda melupakan itu?." Theor benar-benar dingin.

"Itu...... akhh, jadi untuk apa kau datang kesini?." Daniel tidak bisa melakukan pembelaan lagi.

"Saya ingin menegaskan, jika anda ikut campur dalam pengadilan kali ini. Maka saya akan mengundurkan diri dan bisa saja pemberontakan Utara akan terjadi." Ucap Theor mengancam.

"Kau mengancamku?." Daniel mendongak tidak percaya.

"Benar, saya menghormati anda karena silsilah keluarga. Tapi, saya bukan orang bodoh." Jujur Theor.

"Aku tidak bisa melakukan apapun karena pengadilan Isabella di urus langsung oleh Ayahku. Kau puas?." Daniel terlihat kesal.

"Saya harap anda benar-benar akan berhenti, karena jika anda berani ikut campur. Saya tidak akan tinggal diam, meskipun kau putra mahkota sekalipun." Ucap Theor dingin, lalu berbalik pergi.

Daniel mematung, pertama kali mata Theor yang berkilat dingin menatapnya begitu tajam. Dia merasakan firasat buruk, Daniel benar-benar sudah membuat singa mengamuk.

Theor pergi menuju mansion Duke untuk membujuk Elena, tapi sayangnya dia tidak diperbolehkan masuk. Theor ingin menyusup, tapi justru takut Elena akan semakin marah padanya.

Theor terdiam bersandar pada dinding gerbang mansion Duke. Karena sudah tidak tahan lagi, Theor memilih menyusup lewat balkon seperti sebelumnya dengan mudah.

tok..tok..tok..

Theor mengetuk jendela balkon pelan, tidak ada pergerakan apapun jadi Theor mengetuk secara berulang. Karena jendela balkon tidak kunjung terbuka, Theor terduduk lesu bersandar berharap Elena akan membuka balkon nantinya.

Elena yang sedang tidur siang dengan nyenyak sama sekali tidak tau jika ada yang mengetuk balkon. Liontin yang bergetar sedari tadi juga tidak membangunkan Elena, Elena benar-benar sedang sibuk bermimpi dengan indah.

Saat fajar mulai menghilang di gantikan langit gelap dengan cahaya bulan sabit. Elena terbangun dan melakukan aktifitas malam seperti biasa, dia bersiap untuk tidur lagi setelah Merida keluar dari kamarnya.

Tapi karena belum bisa tidur, Elena ingin menatap bulan dulu agar pikirannya tenang. Elena membuka jendela balkon, menemukan Theor sudah tertidur dalam posisi duduk di sana.

"Theor?." Kaget Elena.

Theor membuka matanya perlahan, matanya yang tajam seperti elang menatap Elena intens. Elena jadi merasa salting, dia ingin kembali masuk tapi Theor sudah duluan menahan jendela.

"Elena." Suara Theor yang serak sungguh menggugah selera.

"Apa yang kau lakukan disini? kalau Ayahku tau kau akan mendapat masalah." Ucap Elena marah.

"Aku hanya ingin melihatmu." Ucap Theor.

"Kau sudah melihatku sekarang." Ucap Elena.

"Elena... kau percaya padaku kan?." Lirih Theor, matanya terlihat penuh harap.

"Entahlah, memangnya hubungan kita berdua ini apa?." Elena memalingkan wajah.

"Apa maksudmu? aku berpikir kita sudah jauh lebih dekat." Theor tidak senang.

"Hanya sebatas itu, kita bukan sepasang kekasih. Aku tidak tau kau siapa dan seperti apa hidupmu, apa yang kau lakukan di Utara dan apakah rumor itu benar atau tidak. Aku tidak tau, bagaimana bisa aku percaya padamu jika selama ini saja kau tidak pernah mengatakan apapun tentang mu." Ucap Elena kesal.

"Aku pergi karena ada serangan monster." Theor tidak tau cara bercerita.

"Jangan membodohiku lagi Theor." Ucap Elena lirih.

Theor terdiam, menatap wajah Elena yang sendu lalu menatap kalung miliknya yang sampai saat ini masih di pakai oleh Elena. Theor tersenyum tipis, dia mencondongkan badannya ke depan agar bisa mendekat pada Elena.

tap

"Elena, menikah lah denganku dan ikut aku ke Utara. Di sana, kau akan menemukan jawaban yang kau inginkan. Aku benar-benar tidak melakukan apa yang wanita itu tuduhkan." Ucap Theor, menggenggam tangan halus Elena.

"Theor, kau sudah membuang kesempatan yang di berikan Ayahku." Elena tau Duke tidak akan merestui.

"Aku akan membujuk Duke." Theor tidak menyerah.

"Hentikan Theor, kalian hanya akan bertengkar dan membuatku pusing." Ucap Elena menarik tangannya.

Sratttt

Greb

Deg.

Elena mematung, dia tadinya hendak berbalik pergi tapi tangan panjang dan kekar Theor menarik dan mendekapnya dengan begitu erat. Elena di peluk Theor dari belakang, meksipun terhalang jendela balkon.

Suasana langsung hening, hanya deru nafas keduanya saja yang terdengar. Elena merasakan detak jantung Theor, nafas dingin Theor yang menerpa leher belakang nya. Itu terasa sangat geli dan membuat merindinggggg.

"Apa yang kau lakukan Theor." Lirih Elena.

"Kumohon... percayalah padaku Elena." Lirih Theor, suaranya begitu dekat di telinga Elena.

"Tidak seharusnya kau seenaknya menyentuh tubuh seorang gadis, ini tidak sopan." Ucap Elena.

"Aku tidak peduli." Theor sudah hilang akal.

"Apa kau hanya ingin aku percaya padamu?." Lirih Elena, mulai merasa kasihan.

"Ya.." Suara Theor terdengar sangat berharap.

"Baiklah, aku percaya padamu Theor. Tapi ini kesempatan terakhir untukmu." Elena mengalah.

"Terimakasih." Lirih Theor, mendekap Elena semakin erat.

Elena sangat berdebar, dia nyaris tidak bernafas karena salting. Keduanya diam dalam posisi itu cukup lama, hingga malam semakin larut dan penjaga mulai berpatroli di sekitar balkon.

"Lady Elena? apa itu anda?." Penjaga menatap tajam ke arah balkon.

gedubrak

"B-benar ini aku, aku sedang menatap bulan kenapa kau mengagetkanku huh?." Elena pura-pura kesal karena terkejut.

"Saya melihat bayangan hitam di sisi anda." Jujur si pengawal curiga.

"Oh ini, ini jubah milik Ayahku. Aku memakainya karena dingin." Elena menunjukan jubah milik Theor.

"Masuklah Lady, hari sudah malam dan penjagaan akan di perketat sesuai perintah Tuan Duke." Ucap pengawal itu masih memicing.

"tcih.... Iya-iya." Elena menutup jendela balkon dengan kesal.

Setelah jendela tertutup Elena langsung terduduk lemas, di sebelahnya Theor juga duduk dengan santai. Tadi Elena menarik Theor masuk ke belakang karena takut ketahuan, sekarang Elena jadi bingung karena Theor terjebak di kamarnya.

"Lihat, bagaimana sekarang?." Elena kesal.

"Aku akan pergi saat mereka lengah." Ucap Theor.

"Bisa-bisanya aku setenang ini masuk ke kamar seorang Lady, apa kau sudah sering melakukan nya?." Sinis Elena.

"Ini pertama kalinya, aku akan tetap duduk disini sampai saatnya aku menyelinap pergi. Tidurlah, aku tidak akan mendekat." Ucap Theor.

"Kau pikir aku akan percaya dengan otak laki-laki?." Elena sensi.

"Aku bersumpah." Theor sungguh-sungguh.

"Terserahlah, jika kau berani bergerak dari sana maka aku akan membencimu selamanya." Ancam Elena.

Theor hanya mengangguk, dia duduk dengan tenang menunggu situasi aman dan dia akan pergi. Sekitar 3 jam kemudian, situasi sudah lebih aman dan Theor hendak pergi. Sebelum pergi dia mendekat pada Elena dan menyelimuti Elena dengan jubahnya, itu akal-akalannya saja agar barang-barang pribadi miliknya ada pada Elena.

Sedangkan di penjara tepatnya di penjara katedral dimana Isabella di tahan saat ini. Seorang pendeta suci sedang bertemu dengan Isabella, mereka terlihat berbincang dengan serius.

1
Lilis Khotimah
kenapa harus jadi anak ayam sih Thor 🤣🤣🤣🤣🤣
Sribundanya Gifran
lanjut
Mellisa Gottardo: siaap🥰
total 1 replies
𓆩❤𓆪✿✧༺°◐ZN²◑°༻✧❀ଘ😇ଓ
/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Mellisa Gottardo: /Scowl/
total 1 replies
Alishe
bentar lg ayam pink🤣🤣🤣🤣
Alishe: saingan theor pilihan daddyhhh gue gpp biar makin kebakaran jenggot si kaku ini🤣🤣
total 2 replies
Alishe
ga guna u curiga udah telatttttt
Alishe
masi aja si ajim belain tu setan dihhh
Alishe
bukannya iya?? 🙄
Alishe
enak ga dituduh☺☺
Mellisa Gottardo: otw salam olahraga
total 1 replies
Alishe
nah ulet belbel mau ngapain lg itu ga boleh bgt org bahagia
Alishe
ahahaha percaya ga percaya laki w jg gini pas pdkt🤣🤣🤣
Mellisa Gottardo: awww sosweet
total 1 replies
Alishe
keselan gue perasaan🙄🙄🙄
Alishe
bener katarak ni org
Siti Aisyah
🤭🤭🤭
Mellisa Gottardo: /Drool/
total 1 replies
Yogi Muriani
ayam warna warni 🤣🤣suka-suka-suka👍
Mellisa Gottardo: hahahaha
total 1 replies
ᵉᶠ ↷✦; 𝓔 𝓵 𝓵 𝓮 ❞
ayam teletubbies dong mereka jadi nya, berpelukan
Mellisa Gottardo: hahaaha
total 1 replies
ᵉᶠ ↷✦; 𝓔 𝓵 𝓵 𝓮 ❞
sekutu isabelle ternyata orang yang tak di sangka²
ᵉᶠ ↷✦; 𝓔 𝓵 𝓵 𝓮 ❞
nah, baru tau takut. itu dia sifat nya orang sabar, sekali bertindak 1000 nyawa akan siap dicabik-cabik nya
Mellisa Gottardo: terharu yaw
total 1 replies
Kimyoonvi
harus bngt tiga anak ayam warna warni? 😭
Mellisa Gottardo: hahahah
total 1 replies
Evi Marena
ayam warna warni😂othorrrr the best sudah up 2part.....moga elena mau bantu mereka cari Isabella sang penipu ulung SM pendeta agung laknat😒
semangat othorrrr....moga sehat selalu 😘😘
Mellisa Gottardo: hahaha okee
total 1 replies
Alishe
puas satu puasss puas aja satuuuuu🤧🤧🤧
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!