NovelToon NovelToon
Satu Rumah Dua Asing: Pernikahan Tanpa Suara

Satu Rumah Dua Asing: Pernikahan Tanpa Suara

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Pernikahan rahasia / Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak / Konflik etika
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Di kantor, dia adalah Arash, CEO dingin yang tak tersentuh. Aku hanyalah Raisa, staf administrasi yang bahkan tak berani menatap matanya. Namun di balik pintu apartemen mewah itu, kami adalah suami istri yang terikat sumpah di atas kertas.

Kami berbagi atap, tapi tidak berbagi rasa. Kami berbagi meja makan, tapi hanya keheningan yang tersaji. Aturannya sederhana: Jangan ada yang tahu, jangan ada yang jatuh cinta, dan jangan pernah melewati batas kamar masing-masing.

Tapi bagaimana jika rahasia ini mulai mencekikku? Saat dia menatapku dengan kebencian di depan orang lain, namun memelukku dengan keraguan saat malam tiba. Apakah ini pernikahan untuk menyelamatkan masa depan, atau sekadar penjara yang kubangun sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Konflik Pagi Hari

Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah gorden blackout yang tidak tertutup rapat, menciptakan garis cahaya linear yang membelah kegelapan kamar utama. Suara pendingin ruangan yang mendengung halus menjadi satu-satunya melodi di ruangan itu, sampai sebuah gerakan kecil di balik selimut sutra abu-abu mulai memecah keheningan.

Raisa perlahan membuka matanya. Indra penciumannya adalah yang pertama kali terbangun, menangkap aroma sandalwood yang hangat, bercampur dengan aroma sabun pria yang maskulin dan menenangkan. Ia merasa sangat nyaman—suatu kenyamanan yang belum pernah ia rasakan selama tiga bulan terakhir tinggal di apartemen ini.

Tangannya melingkar erat pada sesuatu yang empuk namun kokoh, dan kakinya terasa terjalin dengan sesuatu yang hangat di balik selimut.

"Enggh ...." Raisa bergumam kecil, mengeratkan pelukannya pada apa yang ia pikir adalah guling pembatas yang diletakkan Arash semalam.

Namun, saat kesadarannya mulai terkumpul sepenuhnya, ia menyadari sesuatu yang salah. Guling itu tidak biasanya berdenyut. Dan guling itu ... tidak memiliki tekstur kulit yang halus serta hangat.

Raisa membelalakkan matanya. Jantungnya seolah berhenti berdetak selama satu detik sebelum kemudian berpacu seperti genderang perang. Di depan wajahnya—hanya berjarak beberapa inci—adalah dada bidang yang terbungkus kaos hitam tipis. Tangannya bukan memeluk guling, melainkan melingkar di pinggang Arash, sementara guling pembatas itu sudah tergeletak mengenaskan di lantai, entah sejak kapan ia tendang.

Lebih parah lagi, kaki Raisa berada di atas kaki Arash, dan kepalanya hampir tenggelam di ceruk leher pria itu. Ia telah melewati garis batas sejauh hampir setengah meter.

Raisa membeku. Ia tidak berani bernapas, apalagi bergerak. Ia menatap ke atas, ke arah wajah Arash yang masih terlelap. Dalam tidurnya, ekspresi Arash tidak sedingin biasanya. Alisnya yang tebal tidak berkerut, dan bibirnya yang sering mengeluarkan kata-kata sarkas itu tampak sedikit terbuka, menciptakan kesan yang ... manusiawi.

"Oh, Tuhan ... tamatlah riwayatku," batin Raisa menjerit.

Ia mencoba menarik tangannya secara perlahan, sangat perlahan, seolah-olah ia sedang mencoba menjinakkan bom waktu. Namun, baru saja jemarinya bergeser satu sentimeter, sebuah tangan besar tiba-tiba bergerak. Arash tidak bangun, namun dalam tidurnya, ia justru mengeratkan dekapannya, menarik pinggang Raisa hingga tubuh mereka menempel tanpa celah.

Raisa terkesiap, napasnya tertahan di tenggorokan. "Arash ..." bisiknya lirih, berharap pria itu tidak bangun namun juga memohon agar ia dilepaskan.

Detik berikutnya, kelopak mata Arash bergerak. Perlahan, iris gelap yang tajam itu terbuka. Awalnya tampak linglung karena sisa tidur, namun hanya butuh dua detik bagi Arash untuk menyadari situasi yang terjadi. Matanya seketika menajam, dan suhu di ruangan itu seolah turun secara drastis dalam sekejap.

Arash tidak langsung melepaskan pelukannya. Ia justru menatap Raisa dengan pandangan yang sulit diartikan—sebuah campuran antara keterkejutan yang ia tekan dalam-dalam dan amarah yang mulai membara.

"Jadi," suara Arash terdengar serak khas orang baru bangun tidur, namun nada sarkasnya tetap setajam biasanya. "Apakah ini bagian dari strategimu untuk mendapatkan 'bonus' lebih awal, Raisa?"

Raisa segera melepaskan diri dengan gerakan panik, nyaris terjatuh dari pinggiran tempat tidur jika Arash tidak refleks menangkap sikunya. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, wajahnya merah padam seperti udang rebus.

"Aku ... aku tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi! Gulingnya jatuh dan aku tidak sadar!" bela Raisa, suaranya bergetar hebat.

Arash duduk tegak, merapikan rambutnya yang berantakan dengan jari-jarinya. Ia melirik guling di lantai, lalu menatap Raisa dengan pandangan menghina. "Guling itu tidak jatuh sendiri, Raisa. Kau yang menendangnya seolah-olah guling itu adalah penghalang impianmu untuk mendekatiku."

Arash beranjak dari tempat tidur, berdiri menjulang di samping Raisa yang masih meringkuk ketakutan. Ia merapikan kaosnya yang sedikit lecek akibat pelukan Raisa tadi. "Ingat aturan nomor satu semalam? Satu inci kau melewati batas, aku akan menendangmu keluar. Dan pagi ini, kau tidak hanya melewati batas, kau mencoba menjadikanku bantal gulingmu."

"Itu kecelakaan! Aku sedang tidur, Arash!" teriak Raisa, berusaha mengumpulkan harga dirinya yang sudah hancur lebur di lantai kamar itu.

Arash membungkuk, menaruh kedua tangannya di atas kasur, mengurung Raisa di antara lengannya. Ia mendekatkan wajahnya, membuat Raisa bisa mencium aroma napasnya yang masih segar meski baru bangun tidur.

"Jika aku tidak tahu lebih baik, aku akan mengira kau sedang mencoba merayuku agar aku melupakan kesalahan laporanmu kemarin," bisik Arash dengan nada yang sangat rendah dan mencekam. "Dengar. Jangan pernah biarkan tubuhmu menyentuhku lagi dalam keadaan tidur maupun bangun. Kau hanyalah investasi, bukan istri sungguhan. Mengerti?"

Raisa memalingkan wajah, matanya berkaca-kaca karena penghinaan yang terus-menerus ia terima. "Aku mengerti. Tidak perlu diingatkan setiap detik."

Arash menegakkan tubuhnya kembali, kembali ke mode bos yang dingin dan tidak tersentuh. "Bagus. Sekarang keluar dari tempat tidur itu. Kau punya waktu lima belas menit untuk mandi dan bersiap. Jika kau terlambat sedetik pun di meja makan, aku akan berangkat tanpamu dan kau silakan berjalan kaki ke kantor."

Arash melangkah menuju kamar mandi tanpa menoleh lagi, menutup pintunya dengan bunyi dentum yang tegas.

Raisa terduduk lemas di atas kasur yang masih hangat. Ia menatap tangannya yang tadi melingkar di pinggang Arash, merasa jijik pada dirinya sendiri karena sempat merasa nyaman di sana. Ia segera turun dari kasur, memungut guling di lantai dan melemparkannya kembali ke tengah kasur sebagai tanda bahwa ia akan membangun benteng yang lebih tinggi malam ini.

"Kau benar, Arash," gumam Raisa pada ruangan yang kosong. "Dunia ini kejam, dan kau adalah pemimpinnya."

Ia segera meraih pakaian kerjanya, bersiap menghadapi hari yang berat di kantor, di mana ia harus kembali menjadi bayangan bagi pria yang baru saja membagi panas tubuh dengannya di bawah satu selimut yang sama.

***

Ban mobil sedan hitam itu menderu halus di atas lantai beton basement apartemen yang masih menyisakan hawa lembap sisa hujan semalam. Arash sudah duduk di kursi kemudi, tangannya yang mengenakan jam tangan mewah mencengkeram setir dengan posisi pukul sepuluh dan dua, menunjukkan ketidaksabaran yang nyata. Mesin mobil menderu rendah, seolah mendesak waktu untuk segera bergerak.

Raisa datang dengan langkah terburu-buru, napasnya sedikit tersengal. Ia mengenakan blazer cokelat muda yang senada dengan rok span-nya, mencoba memberikan kesan profesional meski matanya masih menyisakan sedikit sembap akibat kurang tidur. Di tangan kirinya, ia mendekap sebuah kotak bekal plastik berwarna bening yang di dalamnya terlihat potongan sandwich rapi dengan isian telur, selada, dan daging asap yang tampak masih segar.

Begitu Raisa masuk ke kursi penumpang dan menutup pintu, aroma roti panggang yang mentega dan gurih langsung memenuhi kabin mobil yang biasanya hanya berbau parfum kayu-kayuan milik Arash.

Arash tidak langsung menjalankan mobil. Ia melirik kotak bekal di pangkuan Raisa dengan dahi berkerut tajam. "Apa itu?" tanyanya, suaranya dingin dan datar, seolah kotak bekal itu adalah barang selundupan berbahaya.

Raisa sedikit ragu, jemarinya meremas pinggiran kotak itu. "Ini ... untukmu. Tadi aku sempat membuatnya saat kau masih di kamar mandi. Kau tidak sempat sarapan di meja makan tadi, dan aku tahu rapat pagi ini akan berlangsung sangat lama."

Arash tertegun selama sepersekian detik. Matanya menatap potongan sandwich yang disusun begitu simetris, seolah Raisa membuatnya dengan penuh pertimbangan. Ada sedikit kilatan terpukau yang melintas di iris gelapnya—sesuatu yang langka dan tertutup begitu cepat hingga Raisa hampir tidak menyadarinya. Arash tidak menyangka bahwa di tengah perlakuannya yang kasar pagi tadi, wanita ini masih memikirkan perutnya.

Namun, keterpukauan itu hanyalah retakan kecil pada dinding es yang langsung ia tambal kembali dengan kesombongan.

Arash menarik napas panjang, lalu membuangnya dengan desisan sarkas. "Kau pikir dengan sepotong roti rendahan ini, kau bisa membeli harga diriku?" Arash berujar sambil memutar kemudi dengan gerakan kasar, melajukan mobil keluar dari area parkir.

Raisa tersentak, kepalanya menoleh ke arah Arash dengan tatapan tak percaya. "Membeli harga diri? Aku hanya membuatkanmu sarapan, Arash!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!