NovelToon NovelToon
Handsome Ghost

Handsome Ghost

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Beda Dunia / Romantis / Hantu / Mata Batin / Komedi
Popularitas:179
Nilai: 5
Nama Author: Queena lu

Kiara Selia tidak pernah percaya hal-hal berbau mistis. Hidupnya sederhana: sekolah, pulang, main game online di ponsel, lalu mengeluh soal hidup seperti remaja normal lainnya.
Sampai suatu sore di sebuah taman kota.
Saat sedang fokus menyelesaikan match game online, Kiara terganggu oleh seorang pemuda yang mondar-mandir tak jelas di depannya. Gerakannya gelisah, ekspresinya kosong, seperti orang yang kehilangan arah. Karena kesal dan tanpa berpikir panjang, Kiara menegurnya.
Dan sejak saat itu, hidupnya tidak pernah kembali normal.
Pemuda itu bukan manusia.
Sejak teguran itu, Kiara mendadak bisa melihat makhluk yang seharusnya tak terlihat, termasuk si pemuda bermata biru langit yang kini menatapnya dengan ekspresi terkejut… sekaligus penuh harapan.
Menyadari bahwa Kiara adalah satu-satunya orang yang bisa melihat dan mendengarnya, sosok hantu itu mulai mengikuti Kiara ke mana pun ia pergi. Dengan cara yang tidak selalu halus, sering mengagetkan, dan kadang memalukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queena lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10. Potongan Puzzle

Selesai sarapan, suasana rumah kembali seperti pagi biasa. Bu Rina sibuk membereskan piring. Rafa masih menggerutu soal kantuk. Aditya sudah terlihat jauh lebih segar, seperti orang yang tidak menyadari bahwa dengkurannya hampir membuat satu anak kelas lima mengalami krisis emosional.

“Aku antar kamu ke sekolah, Kiara,” kata Aditya sambil meraih kunci motor. “Sekalian pemanasan.”

“Tidak usah,” jawab Kiara cepat. “Aku bawa motor sendiri.”

Aditya mengangkat alis. “Masih ngambek?”

“Bukan,” jawab Kiara datar. “Lebih praktis.”

Rafa langsung menyela, “Kak, anterin aku aja. Daripada kamu bikin Kak Kiara tambah jutek.”

Aditya tertawa. “Deal. Kamu naik motor gede hari ini.”

Rafa bersorak kecil.

Kiara sudah meraih tasnya. “Aku berangkat dulu.”

Bu Rina menoleh. “Hati-hati di jalan.”

“Iya, Bu.”

Saat Kiara melangkah keluar rumah, Sky melayang di sampingnya, tangan transparannya diselipkan ke saku hoodie seolah itu kebiasaan yang masih ia bawa dari saat masih hidup.

“Kamu masih kepikiran soal tadi malam,” komentar Sky.

“Sulit nggak kepikiran,” jawab Kiara. “Kalau memang ada sesuatu yang bisa meniru, berarti rumahku bukan cuma dilewatin hantu. Tapi sesuatu yang… lebih pintar.”

Sky menyeringai tipis. “Kedengarannya kamu mulai seperti detektif.”

“Aku cuma nggak suka hal yang nggak masuk akal berkeliaran tanpa izin.”

Sky tertawa kecil. “Itu sangat kamu.”

Kiara menyalakan motor. Sebelum pergi, ia sempat melirik ke arah Aditya dan Rafa yang juga bersiap di depan rumah.

Aditya melambaikan tangan. “Hati-hati, kecil.”

“Jangan panggil aku kecil,” balas Kiara ketus.

Aditya hanya tertawa.

Di jalan, Kiara berusaha memaksa pikirannya fokus ke hal lain. Sekolah. Tugas. Hal-hal normal. Bukan sosok peniru. Bukan bayangan yang berdiri di dapurnya tengah malam.

“Aku nggak mau terjebak di kepalaku sendiri,” gumam Kiara.

Sky mengangguk. “Makanya kita cari petunjuk nyata.”

“Taman itu,” kata Kiara. “Yang kamu ingat.”

Sky mengangguk lebih serius. “Setelah pulang sekolah. Kita cari.”

“Kalau itu benar-benar tempat yang penting, mungkin ada sesuatu di sana,” lanjut Kiara. “Entah saksi. Entah petunjuk. Entah apa pun yang bisa nyambung ke kematian kamu.”

Sky terdiam sejenak. “Aku harap.”

Nada suaranya membuat Kiara sedikit melambatkan motor.

“Kamu takut?” tanya Kiara.

Sky mengangkat bahu. “Bukan takut. Lebih ke… takut kalau jawabannya nggak seindah yang aku harapkan.”

Kiara tidak menjawab. Ia paham perasaan itu lebih dari yang ia mau akui.

Di sekolah, Kiara langsung menuju kelas. Suasana masih ramai. Beberapa teman mengobrol, ada yang tertawa, ada yang sibuk membuka buku.

Kiara duduk di kursinya, tepat di samping Nayla.

“Pagi,” sapa Nayla sambil tersenyum.

“Pagi.”

Kiara meletakkan tasnya, lalu secara refleks melirik ke kursi Bima.

Kosong.

Alis Kiara sedikit berkerut.

“Bima belum datang?” tanya Kiara.

Nayla menggeleng. “Nggak. Dia nggak masuk hari ini.”

“Hah? Kenapa?”

Nayla mengecilkan suara. “Katanya sakit.”

“Sakit apa?”

Nayla mengangkat bahu. “Nggak tahu. Mamanya nggak jelasin. Cuma bilang Bima lagi nggak enak badan.”

Kiara menatap kursi kosong itu lebih lama dari yang seharusnya.

Sky yang berdiri di dekat jendela kelas ikut menoleh ke arah kursi Bima.

“Ini aneh,” bisik Sky.

“Kenapa?” balas Kiara pelan, tanpa menoleh.

“Kemarin dia kelihatan baik-baik saja. Keliatan capek, iya. Tapi bukan tipe yang langsung tumbang,” jawab Sky.

Kiara mengangguk. “Dan mengingat ada hantu genit yang nempel ke dia…”

Sky meringis. “Jangan ingatkan aku.”

Nayla memperhatikan ekspresi Kiara. “Kamu kelihatan khawatir.”

“Sedikit,” jawab Kiara jujur. “Soalnya kemarin dia kelihatan aneh.”

“Aneh gimana?” tanya Nayla penasaran.

Kiara ragu sejenak. “Capek. Kayak kurang tidur. Dan… murung.”

Nayla mengangguk pelan. “Iya sih. Akhir-akhir ini dia sering kelihatan nggak fokus.”

Pelajaran dimulai. Guru masuk. Papan tulis penuh dengan tulisan. Suara penjelasan mengisi kelas.

Tapi fokus Kiara tidak sepenuhnya di sana.

Pikirannya melayang ke Bima.

Ke sosok peniru.

Ke taman dalam ingatan Sky.

Sky melayang mendekat ke mejanya. “Aku punya firasat,” bisik Sky.

“Apa?”

“Sesuatu yang meniru itu mungkin nggak cuma muncul di rumah kamu,” kata Sky pelan. “Kalau benar dia bisa pakai wajah orang hidup… berarti dia bisa ada di mana saja.”

Jari Kiara mengepal pelan di bawah meja.

“Kamu pikir itu ada hubungannya dengan Bima?”

Sky tidak langsung menjawab.

“Aku nggak mau nuduh,” kata Sky akhirnya. “Tapi terlalu banyak hal aneh yang terjadi di waktu yang terlalu dekat.”

Kiara menghela napas pelan. “Aku benci kalau kamu benar.”

“Aku juga.”

Bel istirahat berbunyi. Kelas langsung sedikit lebih ramai.

Nayla merapikan bukunya. “Aku mau ke kantin. Kamu ikut?”

“Sebentar,” jawab Kiara. “Aku mau kirim pesan ke Bima dulu.”

Nayla mengangguk.

Kiara mengambil ponselnya. Mengetik pesan singkat.

Bim, kamu kenapa? Semoga cepat sembuh ya.

Pesan terkirim.

Beberapa menit berlalu.

Tidak ada balasan.

Sky memperhatikan layar ponsel Kiara. “Mungkin dia tidur.”

“Atau…”

“Atau ada sesuatu yang bikin dia nggak bisa balas,” sambung Sky pelan.

Kiara mengunci layar. “Oke. Kita nggak boleh lompat ke kesimpulan.”

“Tapi kita juga nggak boleh tutup mata,” balas Sky.

Kiara mengangguk.

Sepanjang hari, rasa gelisah itu tidak benar-benar hilang.

Setiap Kiara melihat kursi kosong Bima, perasaannya semakin tidak enak.

Dan setiap ia mengingat sosok di dapur tadi malam, bulu kuduknya kembali berdiri.

Saat jam pulang semakin dekat, Sky muncul lagi di sampingnya dengan ekspresi penuh tekad.

“Setelah ini,” kata Sky, “kita ke taman itu.”

Kiara mengangguk. “Apa pun yang ada di sana, kita hadapi.”

Sky tersenyum kecil. “Kamu sadar kan, hidupmu sekarang jauh dari kata normal.”

Kiara mendengus. “Sejak aku bisa lihat kamu, normal sudah jadi konsep yang lucu.”

Sky tertawa.

Tapi di balik tawa itu, ada sesuatu yang lebih berat.

Karena jauh di dalam diri Kiara, ada firasat yang tidak bisa ia abaikan.

Bima sakit.

Sosok peniru muncul.

Dan ingatan Sky mulai menguat.

Semua seperti potongan puzzle yang perlahan bergerak mendekat.

Dan Kiara merasa....

Hari ini mungkin bukan tentang sekolah.

Hari ini adalah awal dari sesuatu yang akan menyeret mereka lebih dalam.

Ke masa lalu Sky.

Ke rahasia yang belum terungkap.

Dan mungkin....

Ke sesuatu yang tidak seharusnya pernah meniru wajah manusia.

1
kikyoooo
wah semangat! yuk saling support kak🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!