Fajar cuma pegawai biasa yang nekat menulis surat cinta buat sekretaris direktur. Sayangnya, amplop merah muda itu malah nyasar ke meja Kirana, Direktur muda yang dingin dan anti-romansa.
Satu kesalahan pengiriman membuat mereka berdua berhadapan. Fajar panik setengah mati. Kirana justru mulai mempertanyakan sesuatu yang selama ini dia abaikan.
Apakah satu surat yang salah kirim bisa mengubah segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: Penemuan Fatal
Fajar melangkah masuk ke dalam ruang kerja barunya, sebuah ruangan eksklusif yang sengaja disiapkan untuk posisinya sebagai Kepala Tim Proyek Khusus. Begitu tubuhnya melewati ambang pintu, ia langsung menutup dan memutar kunci hingga terdengar bunyi klik ganda yang solid. Di ekosistem beracun seperti PT Arunika Jaya, dinding pun bisa memiliki telinga, dan Fajar tidak mau mengambil risiko ada mata-mata amatir yang mengintip pekerjaannya.
Di atas meja kerja berbahan kayu mahoni yang luas itu, tumpukan berkas sudah menantinya bagaikan medan perang baru. Di sebelah kiri, bertumpuk map-map tebal berlogo divisi R&D yang berisi spesifikasi teknis. Sementara di sebelah kanan, tergeletak dokumen laporan anggaran dari Manajer Keuangan yang baru saja ia taklukkan beberapa saat lalu.
"Hmm... Jadi ini dokumen-dokumen sakti yang katanya bakal mengubah masa depan perusahaan, ya?" gumam Fajar sinis. Ia melepas jas kerjanya dan menyampirkannya sembarangan di sandaran kursi.
Ia menarik kursi tersebut, duduk tegap menghadap meja, dan langsung menyalakan laptopnya. Layar menyala terang, memantulkan cahaya pada wajahnya yang perlahan berubah serius, melepaskan mode santainya. Jari-jari Fajar mulai menari lincah di atas keyboard, memasukkan data fisik ke dalam sistem untuk membandingkan angka dan fakta.
Fokus pertamanya jatuh pada lampiran cetak biru rancangan proyek "Chip". Fajar memperbesar skema perangkat keras dan struktur logika di layar. Namun, alih-alih takjub dengan inovasi yang digadang-gadang tersebut, keningnya justru berkerut semakin dalam. Mata tajamnya menyapu setiap garis rancangan dan spesifikasi komponen.
Otaknya yang terbiasa membedah masalah rumit memproses informasi itu dengan kecepatan luar biasa. Hanya dalam hitungan belasan menit, ilusi kehebatan proyek itu hancur berantakan di kepalanya. Teknologi chip ini sama sekali tidak revolusioner. Sebaliknya, arsitekturnya cacat dan sangat usang. Komponennya memakan daya terlalu besar dan memiliki celah malfungsi yang fatal. Jika barang ini dipaksa masuk tahap produksi massal, mustahil bisa laku di pasaran. Ini murni proyek rongsokan yang dibalut presentasi mewah.
Fajar menyandarkan punggungnya ke kursi, mengetuk-ngetukkan buku jarinya ke atas meja dengan ritme pelan. Ada potongan puzzle yang sangat salah di sini.
"Kenapa Pak Ardi yang terkenal sangat perfeksionis, perhitungan, dan arogan itu mau mengeluarkan dana gila-gilaan demi membiayai proyek rongsokan begini?" bisiknya pada diri sendiri, menatap tajam ke arah tumpukan dokumen di depannya.
"Bentar, kalau teknologinya cuma sekelas barang rongsokan... gue coba cek data keuangannya," gumam Fajar menggeser kursornya ke folder dokumen anggaran.
Begitu deretan angka itu muncul di layar, mata tajam Fajar langsung menyipit. Ia menghitung cepat dalam kepala, membandingkan estimasi biaya asli komponen murahan itu dengan dana operasional yang baru saja cair.
"Anjir, kenapa dananya cuma sisa segini di pembukuan? Selisihnya gila-gilaan. Dibawa lari ke mana duit raksasa ini?"
Suasana ruangan terasa makin dingin. Fajar mencondongkan tubuhnya ke depan, mengetik cepat di atas keyboard layaknya seorang peretas yang sedang memburu mangsa. Ia melacak nomor seri anggaran, mengecek silang nama-nama vendor atau perusahaan penyuplai yang disewa oleh PT Arunika Jaya.
Hasilnya membuat Fajar mendecih pelan. Sebagian besar uang operasional itu tidak pernah dipakai untuk membeli alat, melainkan ditransfer secara berkala ke beberapa "perusahaan cangkang"—perusahaan fiktif yang sengaja dibuat di luar negeri hanya untuk menampung uang kotor.
"Kenapa dia melakukan ini? Pasti ada kaitannya sama agenda tersembunyinya. Coba gue telusuri lebih dalam lagi," batin Fajar.
Fajar membongkar satu per satu riwayat transaksi digital tersebut, meretas masuk ke lapisan data yang lebih dalam. Dan di sanalah ia menemukan hal yang sama sekali tak terduga. Di dalam salah satu dokumen transfer luar negeri yang disamarkan, tercetak jelas satu nama penerima.
Aditya.
Napas Fajar tertahan sejenak. "Apa? Kenapa nama samaran CEO ada di sini?"
Otaknya langsung menyambungkan semua benang merah. Pak Ardi menyamar menjadi Aditya, membuat proyek "Chip" palsu ini untuk menyedot kas perusahaan, lalu mengalirkan dananya ke rekening identitas samarannya di luar negeri.
"Hmm... bentar. Jadi proyek tiga minggu ini cuma murni pengalihan isu?" Fajar mengusap wajahnya kasar. "Gila... kenapa sih dia ngelakuin kejahatan serumit ini padahal udah tua bangka? Haa... kurang kaya apa coba dia sampai harus merampok perusahaannya sendiri?"
Fajar menyandarkan punggungnya, menatap layar dengan tatapan dingin. Jebakan tiga minggu ini dirancang bukan agar ia dan Kirana berhasil, melainkan agar mereka berdua menjadi kambing hitam saat proyek "Chip" ini meledak sebagai skandal kegagalan.
"Haa... gue simpan dulu aja semua bukti ini," gumam Fajar pelan.
Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah flashdisk hitam terenkripsi miliknya, dan menancapkannya ke sisi laptop. Ia memindahkan semua cetak biru cacat, bukti transfer fiktif, dan dokumen bernama Aditya itu ke dalamnya.
Sembari menunggu progress bar di layarnya mencapai seratus persen, Fajar meraih ponsel di atas meja untuk mengalihkan pikiran sejenak. Namun, belum sempat layarnya menyala, suara ketukan pelan dari arah pintu memecah keheningan.
Tok... tok... tok.
Fajar mengerutkan kening. Ia bangkit, berjalan mendekati pintu, dan memutar kuncinya. Saat pintu terbuka, ketegangan di wajahnya langsung menguap tak berbekas.
Berdiri di hadapannya adalah Kirana. Sang Direktur Marketing itu menunduk malu-malu, kedua tangannya memegang sebuah cangkir keramik yang masih mengepulkan asap tipis.
"Ini, Fajar... aku buatkan kopi buatmu," ucap Kirana lembut.
Senyum jahil khas Fajar seketika kembali terukir di wajahnya. Ia mengambil alih cangkir hangat itu. "Terima kasih, Bu Direktur. Repot-repot amat turun tangan sendiri."
"Ehhmm... iya," Kirana memalingkan wajah, menyembunyikan pipinya yang memerah, lalu mengintip sedikit ke arah meja kerja. "Gimana? Udah selesai memilah datanya?"
Fajar menatap mata Kirana. Rahasia yang baru saja ia temukan terlalu gelap dan menghancurkan. Ia tidak mungkin memberitahu Kirana sekarang bahwa ayah kandung gadis ini sedang merencanakan kejahatan besar dan menjadikan mereka berdua tumbal. Belum saatnya.
"Udah..." jawab Fajar dengan nada seringan mungkin, tangannya terulur mengelus lengan Kirana pelan. "Tapi hasil risetku ini bakal bikin kamu jantungan saking kacaunya. Jadi, nanti saja aku ceritain pelan-pelan pas kita lagi santai, ya?"
"Oke," angguk Kirana patuh tanpa curiga sedikit pun.
Fajar menuntun Kirana masuk, lalu mendudukkan dirinya di sofa ruangan. Sambil menatap kekasihnya yang kini menemaninya, Fajar menyesap kopi buatannya perlahan. Rasanya manis dan hangat. Di luar sana, badai konspirasi tengah bersiap menghantam mereka, namun Fajar bersumpah dalam hati: selama ia masih bernapas, tak akan ada satu pun rencana tua bangka itu yang bisa melukai Kirana.