Luna meninggal tepat di usianya yang masih tergolong muda, percintaan juga kehidupan yang tak pernah memihaknya membuatnya jatuh terperangkap semakin dalam pada dusta.
Tidak ada yang berjalan baik dalam kehidupannya, namun sebuah keajaiban membuatnya memiliki satu kesempatan untuk mengulang segala hal dan merubahnya menjadi lebih baik.
"Aku.... aku masih hidup?" ucap Luna dengan raut wajah yang tak percaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon senja liana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Kediaman Rumah tua
Lucas yang sudah berhasil dengan tugas yang diberikan oleh Razan nampak melangkahkan kakinya dengan bangga. Sepertinya Lucas benar-benar telah mendapatkan sosok tipuan yang mirip dengan Rania, dimana sosok itu di hasilkan dari proses editing dan juga hasil dari tangan make up artis profesional.
"Pa... Papa dimana? Yuhuuuuu..." pekik Lucas berulang kali begitu tidak mendapati Razan di ruangannya.
"Tak perlu teriak-teriak begitu.. Papa di sini, ada apa sih sebenarnya?" tanya Razan yang terlihat melangkahkan kakinya dari arah kamar mandi.
Mendapat pertanyaan tersebut tidak langsung Lucas jawab, melainkan ia melangkahkan kakinya mendekat ke arah Razan kemudian memberikannya sesuatu.
"Foto? Untuk ap.... Rania? Bagaimana bisa kamu mendapatkannya?" ucap Razan yang terkejut dengan hasil foto yang diberikan oleh Lucas.
"Jika hanya sebuah foto seperti ini, Lucas gampang saja mendapatkannya Pa. Tapi yang jadi masalah di sini adalah jika Sagara ataupun Aditama benar-benar percaya akan foto ini, kita tidak akan pernah bisa membuktikan keberadaannya. Foto ini hanyalah sebuah tipuan untuk ayah dan anak itu, jika keduanya benar-benar melakukan pencarian kita akan tamat." ucap Lucas memberikan peringatan kepada Razan akan masalah yang mungkin saja timbul nantinya.
"Mengapa hanya sebuah tipuan foto? Kamu tidak bisa mencari yang serupa untuk bermain peran?" tanya Razan dengan kesal.
"Papa kira mencari orang yang mirip sama dengan mencari sebuah boneka? Yang benar saja, tidak ada orang yang benar-benar mirip Pa... kecuali kita melakukan operasi plastik dan secara khusus meminta wajah tertentu kepada sang dokter!" ucap Lucas asbun karena kesal dengan Razan yang tak pernah bisa puas dengan hasil kerjanya.
"Nah... ide itu boleh juga, mengapa kamu tidak melakukannya?" ucap Razan yang tentu saja membuat Lucas menatap tak percaya ke arahnya.
"Jangan gila deh Pa! Papa pikir operasi plastik bisa instan dan langsung jadi? Semuanya perlu waktu dan itu memakan waktu hingga berbulan-bulan lamanya. Apa semua itu akan keburu? Yang benar saja deh!" ucap Lucas dengan nada yang kesal.
"Nah itu tahu, maka dari itu puter otak dong cari cara gimana ceritanya agar semuanya tampak sungguhan. Jadi kan kita gak perlu takut jika sewaktu-waktu Sagara dan juga Aditama menanyakan keberadaannya." ucap Razan dengan santai sambil mendudukkan tubuhnya di kursi kerjanya kemudian meminum secangkir teh dengan santai.
"Pa....." ucap Lucas hendak kembali protes namun langsung dipotong oleh Razan.
"Tidak ada sanggahan, Papa memberikan mu waktu sampai besok...segera lakukan dan segera berikan progresnya." ucap Razan tak menginginkan sanggahan.
"Tapi Pa...." sanggah Lucas kembali tapi sama sekali tak mendapat jawaban apapun dari Razan.
"...."
****
"Mama.... ini benar-benar Mama..." ucap Sagara yang lantas terkejut begitu mendapati pesan singkat tersebut.
Tanpa membuang waktu lagi Sagara yang mengetahui jika yang di foto tersebut adalah mamanya yaitu Rania, ia lantas langsung menelpon nomor yang baru saja mengirim pesan singkat tersebut di mana pengirim pesan tersebut adalah Razan.
"Halo Sagara... Bagaimana? Apakah kamu sekarang sudah percaya dengan perkataan Kakek?" ucap sebuah suara begitu panggilan telponnya terhubung.
"Kakek ku mohon katakan dimana keberadaan Mama saat ini?" ucap Sagara dengan nada yang meminta.
"Jangan terburu-buru Sagara, kamu ingat bukan apa yang Kakek minta sebagai imbalannya?" ucap Razan dengan nada yang begitu santai seakan-akan seperti meremehkannya.
"Aku tidak bisa melakukannya Kek, lagi pula ini hanya sebuah foto bisa jadi Kakek memalsukan segalanya." ucap Sagara berusaha meyakinkan diri jika semuanya hanyalah tipuan.
"Terserah apa katamu, yang jelas hanya itu yang Kakek inginkan... Asalkan kamu mau maka Kakek akan memberitahumu." ucap Razan dengan santai.
"Tapi Kek...." ucap Sagara namun terhenti dengan seketika.
"Aku beri kamu waktu sampai besok, pikirkan baik-baik lalu berikan keputusan mu esok." ucap Razan pada akhirnya sebelum menutup panggilan telponnya begitu saja.
Sagara terdiam di tempatnya, entah keputusan apa yang harus ia ambil kini. Namun yang jelas Aditama juga harus mengetahuinya.
Sagara bangkit dari tempat duduknya kemudian bergegas pergi untuk menuju ke rumah orang tuanya.
"Tuan berkasnya..." ucap Fahri yang melihat Sagara hendak beranjak dari kantor.
"Taruh saja di meja ku, aku akan melihatnya nanti!" ucap Sagara sambil terus mengambil langkah kaki berlalu pergi dari kantornya.
***
Kediaman Aditama
Mobil yang dikendarai oleh Sagara sampai di Kediaman Aditama tepat setengah jam kemudian. Dengan langkah kaki yang bergegas Sagara membawa langkah kakinya masuk dan mencari keberadaan Aditama.
"Eh Den muda, tumben hari ini pulang?" ucap Laksmi begitu melihat kedatangan Sagara baru saja.
"Papa ada Bi?" tanya Sagara dengan raut wajah penasaran.
"Emmm ada kok Den, cuman...." ucap Laksmi terhenti yang lantas membuat Sagara mengernyit karenanya.
"Cuman apa?" tanya Sagara dengan penasaran.
"Anu Den, entah apa yang sedang terjadi pada Tuan... Sedari tadi siang Tuan berada di ruang kerjanya belum keluar sama sekali, sepertinya Tuan tengah minum-minum soalnya dari pintu masuk seperti ke cium bau alkohol dan asap rokok yang membumbung tinggi, Bibi khawatir terjadi sesuatu sama Tuan Den...." ucap Laksmi dengan nada penuh ke khawatiran.
Mendengar hal tersebut membuat Sagara langsung mengambil langkah kaki besar menuju ke arah ruang kerja Aditama. Entah apa yang terjadi, namun ini baru pertama kali terjadi atau yang mungkin diketahui oleh Sagara lebih tepatnya.
.
.
.
Krietttt
Perlahan Sagara mulai membuka pintu ruang kerja milik Aditama. Suasana ruangan tersebut sangat hening dengan posisi lampu yang dimatikan membuat Sagara lantas mengernyit sambil mencari keberadaan Aditama. Hingga kemudian ketika langkah kakinya masuk, Sagara menemukan Aditama tengah duduk di lantai sambil menatapi foto Rania Mamanya dengan tatapan kosong nan sendu, beberapa botol alkohol terlihat berserakan di lantai membuat Sagara lantas terdiam di tempatnya sejenak.
"Papa..." ucap Sagara lirih sambil menatap ke arah Aditama dengan tatapan yang berkaca-kaca.
***
Keesokan harinya
Hari ini adalah ulang tahun Sagara dan kali ini Luna sudah menyiapkan kejutan sepesial untuk Pria itu.
Raut wajah bahagia nan berbinar terlihat jelas di wajah Luna ketika menatapi setiap foto kenangan dirinya dan juga Sagara yang tergantung di sebuah pohon.
"Aku tidak sabar menunggu kedatangan Sagara..." ucap Luna dalam hati.
Sampai kemudian suara bariton seorang Pria yang tak asing di pendengarannya lantas menggema di telinganya.
"Lun ....." panggil Sagara dengan nada yang lirih.
"Selamat ulang tahun Sagara Razan Aditama.... Surprise......" teriak Luna sambil berlarian mendekat ke arah Sagara kala itu, hanya saja anehnya sama sekali tidak ada raut bahagia pada wajah Sagara, melainkan manik mata yang sendu dengan wajah yang datar.
"Ada apa?" tanya Luna kemudian dengan raut wajah penasaran.
"Mari kita akhiri semuanya..." ucap Sagara yang tentu saja membuat Luna bertanya-tanya.
"Maksudnya?" ucap Luna tak mengerti.
"Mari kita akhiri semuanya karena aku memilih untuk menikah dengan Elika!"
Bersambung