Diceraikan karena alasan mandul, padahal 3 tahun pernikahan ia menjadi istri yang diabaikan oleh suaminya sendiri. Malam sebelum ia meninggalkan Mansion kediaman Maximillian, Raina diam-diam menjebak suaminya, Cassion Zayn Maximillian untuk menghabiskan malam bersama. Lalu setelahnya ia menghilang begitu saja tanpa jejak sedikitpun.
Namun, 8 tahun kemudian… tepat di acara pernikahan Cassion dengan teman masa kecilnya, Laura Fernandez. Raina kembali membawa sepasang anak kembar, Sean dan Shia untuk mendapatkan hak kedua anak itu sebagai pewaris keluarga Maximillian.
Dan sejak saat itu, kediaman Maximillian tidak pernah bisa tenang lagi. Raina yang tidak lagi penurut, ditambah dengan kedua anak kembarnya yang tak kenal takut. Ibu dan anak kembar itu menuntut banyak hal yang sudah 8 tahun sudah mereka lewatkan begitu saja. Dendam dan hutang mereka perhitungkan dengan baik.
Akankah Raina dan kedua anak kembarnya berhasil membalaskan dendam serta mendapatkan hak mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Dia Berubah
Pria itu tidak menjawab, ia hanya menarik Raina berjalan untuk mengikutinya. Sedangkan Raina terus berusaha memberontak agar melepaskan diri dari genggaman Sion. Namun, siapa sangka genggaman pria itu cukup kuat, meski begitu tidak terasa menyakitkan untuknya.
"Hei!" Raina terpaksa mengikutinya. "Sion, kau mau membawaku ke mana?"
Tetap tidak ada jawaban, mereka menaiki tangga. Satu lantai, kemudian melewati lorong panjang. Lorong panjang yang terasa sangat tidak asing, yaitu lorong yang mengarah pada kamar Sion berada.
Raina mulai merasa tidak nyaman. "Sion..."
Pria itu terus berjalan. Sampai akhirnya sebuah pintu besar terbuka. Kamar utama, kamar yang pernah satu kali Raina kunjungi sekaligus kamar yang menjadi saksi betapa bergairahnya malam itu.
Raina langsung membeku ketika kenangan itu kembali. Malam itu, lebih tepatnya malam delapan tahun lalu. Malam terakhir sebelum semuanya berubah. Malam ketika pernikahan mereka yang telah berakhir justru meninggalkan dua kehidupan baru di dalam rahimnya, Sean dan juga Shia. Jantung Raina berdegup begitu cepat ketika Sion menutup pintu.
Klik.
Raina mundur selangkah. "Sion..."
Pria itu berbalik dan saat itu juga Raina menelan ludah. "Kalau kau membawaku ke sini karena—"
"Karena apa?"
Raina terdiam saat Sion menatapnya lama. Kemudian dia berjalan perlahan mendekati Raina yang membuat wanita itu spontan menahan napas. Namun, rupanya Sion malah berjalan melewatinya dan duduk di sofa.
"Duduk."
Raina mengerutkan kening. "Apa?"
"Duduk."
Nada suaranya tenang. Bukan nada seorang pria yang sedang menggoda, bukan pula nada seseorang yang sedang marah. Raina akhirnya duduk di kursi yang berseberangan dengannya.
Sion menyandarkan punggungnya, tatapannya tajam seraya berkata, "Aku ingin bertanya."
Raina masih terdiam berusaha menetralkan degup jantungnya yang masih berdebar sangat keras. Salahkan saja Sion yang membuatnya berpikir bahwa pria itu ingin mengulang kejadian malam itu, proses membuat Sean dan Shia.
"Delapan tahun lalu…"
Seketika raut wajah Raina perlahan berubah, sebab ia tidak menyangka bahwa Sion membawanya ke kamar pribadinya hanya untuk membahas tentang kejadian delapan tahun yang lalu. Dan sialnya, lagi-lagi Raina berpikir bahwa Sion mungkin akan membahas tentang ia yang menjebaknya dengan obat saat itu.
"Setelah kita bercerai." Sion berhenti sejenak. "Setelah kau meninggalkan mansion ini…"
“Sial, apa Sion ingin menginterogasi aku tentang malam itu?Atau dia ingin membuat perhitungan denganku? Sean, Shia cepat tolong Mamah kalian ini,” ucapnya dalam hati.
Entah mengapa Sion terlihat ragu untuk mengatakannya, hal itu membuat Raina semakin berpikir bahwa dugaannya benar. Sion ingin menginterogasi tentang kejadian malam itu, tentang alasan maupun tujuan ia melakukan itu. Jujur saja, Raina belum siap dan bahkan belum memikirkan jawabannya. Karena ide gila itu muncul begitu saja saat ia dipaksa untuk bercerai dan meninggalkan Mansion.
Tangannya mengepal. "Siapa yang memburumu?"
Pertanyaan itu seketika membuat Raina menatapnya tak percaya. Siapa sangka apa yang Sion tanyakan berbeda jauh dengan apa yang ia pikirkan sejak tadi. Sontak membuat Raina menjadi salah tingkah sendiri, karena dirinya telah berpikir terlalu jauh tentang pria dihadapannya itu. Ia sepertinya lupa bahwa Sion bukan tipe pria yang seperti itu, membahas hal yang menurutnya tidak penting.
Melihat Raina yang hanya terdiam, Sion pun melanjutkan. "Aku ingin tahu apa yang terjadi."
"Kenapa?"
"Karena aku baru tahu kau tidak pergi begitu saja."
Raina tidak menjawab, sontak membuat Sion mencondongkan tubuhnya sedikit. "Selama delapan tahun aku berpikir kau meninggalkanku karena membenciku. Aku bahkan terus mencarimu sampai detik ini. Namun, dengan semua koneksi dan sumber daya yang aku miliki… tidak ada satupun jejak yang bisa aku temukan tentangmu."
Raina menundukkan pandangan. Sebab ia sungguh tidak menyangka kalau Sion benar-benar terus mencarinya selama ini. Ia pikir Ryland berbohong padanya tentang kabar bahwa Sion melakukan pencarian secara besar-besaran hanya untuk mencarinya. Raina pikir setelah perceraian itu, Sion akan segera melupakannya dan memulai hidup baru dengan Laura ataupun wanita lain.
“Dia benar-benar mencariku? Untuk apa? Bukankah perceraian itu adalah keinginannya? Apa karena dia ketagihan karena malam itu?” Pikir Raina dalam hati.
"Ternyata kau pergi karena ada seseorang yang memburumu. Apakah karena itu kau menghapus setiap jejakmu, hingga aku tak bisa menemukannya?” ujar Sion, tapi tetap tidak ada jawaban.
"Siapa?" Namun, tetap hening… Raina sama sekali tidak mau membuka mulutnya.
"Raina."
Wanita itu mengangkat wajahnya dan tersenyum tipis. Sebuah senyum yang justru membuat Sion semakin tidak mengerti. "Kau ingin tahu?"
"Ya."
"Kalau begitu cari tahu sendiri."
Alis Sion berkerut. "Apa?"
Raina berdiri, lalu berjalan beberapa langkah seraya berkata, "Kau mendengar ku, bukan?"
Sion ikut berdiri. "Raina."
"Kau ingin tahu siapa yang memburuku?" Raina lalu berbalik, tatapannya menantang. "maka gunakan kemampuan dan semua koneksimu itu untuk menemukannya."
“Dia benar-benar telah berubah?” batin Sion.
Sion terdiam, sebab ia tidak menyangka bahwa wanita yang dulu bahkan tidak berani menatap matanya secara langsung saat ini berubah total. Raina tidak hanya berani menatapnya, tetapi juga berani melawan semua ucapannya. Raina benar-benar kembali dengan sosok yang jauh berbeda dari Raina yang dulu masih ia ingat.
"Kau adalah Cassion Zayn Maximillian." Raina tersenyum dingin. "Ketua mafia yang katanya paling ditakuti di negara ini."
Tatapan Sion semakin tajam. Jelas sekali kalau Raina sedang meremehkan kekuasaan dan kekuatan yang ia miliki. Sungguh, Sion tidak menyangka bahwa perubahan Raina akan sejauh ini. Namun, jujur saja Raina yang sekarang malah semakin menarik dibandingkan Raina yang dulu.
"Orang-orang takut hanya karena mendengar namamu." Raina melangkah mendekat. "Jadi kenapa sekarang kau bertanya kepadaku?"
Sion masih tidak menjawab. Ia memilih diam dan terus memperhatikan sosok Raina sekarang yang behasil membuatnya terus perpaku padanya. Namun, sepertinya Raina masih tidak menyadari arti tatapan yang sedang Sion tunjukan saat ini.
"Kalau benar kau sekuat yang mereka katakan..." Raina berhenti tepat di hadapannya. "... maka cari tahu sendiri."
Suasana kamar mendadak begitu sunyi. Sion menatap wanita itu cukup lama. Tidak ada rasa takut di mata Raina, tapi yang ada hanya tantangan. Sion mengembuskan napas pelan.
"Jadi kau tidak akan memberitahuku?"
"Tidak."
"Kenapa?"
"Karena aku ingin tahu seberapa jauh kemampuanmu." Raina berbalik dan berniat meninggalkan kamar itu.
Namun suara Sion menghentikannya. "Bagaimana kalau aku menemukan jawabannya?"
Raina berhenti di depan pintu. "Kalau begitu..." Dia menoleh. "...kau akan tahu sendiri kenapa aku memilih pergi dan menghilang sampai kau tidak bisa menemukannya."
Sion memicingkan mata. "Dan kalau orang yang memburumu ternyata masih ada?"
Raina terdiam beberapa saat, lalu menjawab, “Dia memang masih ada, karena itulah aku kembali padamu sekarang.”
Bersambung ….