Arhan Hamid harus belajar kehilangan, padahal ia belum pernah siap.
Satu kalimat dari dokter meruntuhkan seluruh dunianya — usia Anya, istrinya, tinggal 30 hari. Karena kanker.
Sejak hari itu, Arhan memilih memikul semuanya sendirian. Di depan Anya, ia tetap menjadi suami yang utuh. Yang tertawa paling keras, yang membuatkan teh paling hangat, yang mencintai lebih dari separuh jiwanya sendiri.
Padahal di dalam dadanya, ia hancur pelan-pelan.
Ia menutupi air mata dengan tawa. Menutupi takut dengan doa-doa yang ia bisikkan diam-diam setiap malam.
Mampukah Arhan tetap kuat ketika waktu terus menghitung mundur?
Dan di antara 30 hari yang tersisa, mungkinkah semesta masih menyisakan satu keajaiban untuk mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idents, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Di luar rumah, terdengar suara mobil berhenti. Ban berdecit pelan di atas jalan yang masih lembap.
Arhan dan Pak Hendra telah pulang. Perjalanan singkat dari kedai kopi itu terasa lama bagi keduanya.
Suara pintu mobil yang tertutup terdengar dua kali, disusul langkah kaki yang mendekat ke teras. Dari dalam, Anya masih berjongkok di lantai, memunguti pecahan kaca dengan ujung jarinya yang hati-hati. Ibu Soraya di sebelahnya menahan ujung karpet yang basah.
Arhan masuk lebih dulu. Jaketnya masih ia tenteng, bau kopi masih menempel samar di bajunya.
Langkahnya cepat, tapi kemudian terhenti tepat di ambang ruang tengah yang mengarah ke dapur. Matanya menangkap pemandangan yang tidak ia duga. Lantai yang biasanya rapi kini basah, pecahan kaca berserakan, air menggenang di karpet tipis, dan dua perempuan yang paling ia sayangi membungkuk sibuk di sana.
"An, kenapa? Kok berantakan?" tanya Arhan, suaranya setengah kaget setengah khawatir.
Anya tidak berani menatap Arhan. Kepalanya tetap menunduk, tangannya masih memunguti pecahan vas. Bahunya sedikit mengecil.
"Ini Han... Vas nya pecah. Aku nggak sengaja," jawab Anya pelan.
Nada suaranya hampir berbisik. Ada rasa bersalah yang jelas di sana, seperti anak kecil yang takut dimarahi, takut merepotkan.
Arhan segera menghampiri. Ia berjongkok di sebelah Anya, meraih pergelangan tangannya dengan lembut. Kulit Anya dingin, mungkin karena terlalu lama memegangi kaca vas yang basah.
"Udah, nggak apa-apa," kata Arhan. "Aku aja yang beresin. Kamu jangan pegang kacanya, nanti luka."
Ia lalu menoleh ke Ibu Soraya yang masih berjongkok di sisi lain.
"Mama nggak usah bantu, Ma. Mama duduk aja," kata Arhan.
Soraya tersenyum, senyum yang mencoba menenangkan.
"Nggak apa-apa, Han. Mama nggak ngerasa direpotin kok," kata Soraya.
Suara Soraya lembut, tapi matanya melirik ke arah pintu, seolah memberi isyarat bahwa ada hal lain yang ingin ia hindari.
Saat itu Pak Hendra baru saja masuk, setelah memarkirkan mobilnya di depan. Langkahnya lebih pelan dari Arhan. Ia melepas sandalnya di teras, lalu masuk ke dalam.
Dari ruang tengah, ia melihat keramaian kecil di dapur.
"Ada apa ini?" tanya Pak Hendra.
Soraya langsung menjawab, cepat dan ringan.
"Nggak, Pa. Ini cuman vas aja pecah," kata Soraya.
Arhan yang sudah mengambil sapu kecil dan serokan menoleh ke arah Pak Hendra. Ia mengangkat tangannya sedikit, menahan langkah mertuanya agar tidak mendekat ke area pecahan kaca itu.
"Jangan dulu ke sini, Pa, nanti pecahan vas nya keinjek sama Papa," kata Arhan sambil terus membersihkan lantai dapur itu.
Pak Hendra berhenti di tempat. Ia mengangguk, mengerti. Matanya menatap Soraya sebentar. Ada tatapan yang hanya dimengerti oleh mereka berdua, tatapan yang sudah puluhan tahun dibangun.
Pak Hendra menarik napas panjang.
"Bu, kita pulang dulu. Ayah... Ayah ada urusan di kantor," ajak Pak Hendra kepada Soraya. Suaranya dibuat sesantai mungkin, tapi ada getar yang ia tahan.
Anya yang masih berjongkok langsung menoleh.
"Kok udah pulang lagi sih?" timpal Anya. Nada suaranya kecewa, seperti tidak rela.
Soraya mengangguk, seolah dia sudah mengerti ajakan suaminya itu. Ia menepuk pelan punggung Anya, lalu menoleh ke Anya dan Arhan.
"Maaf ya Arhan, Anya. Mama pulang dulu, nggak apa-apa kan Mama nggak bantuin?" tanya Soraya.
Arhan mencoba tersenyum. Senyum yang ia usahakan terlihat wajar, meski matanya masih menyimpan lelah dari percakapan di mobil tadi.
"Nggak apa-apa, Ma. Mama seharusnya nggak harus bantu-bantu. Ada Arhan kok, Ma," kata Arhan.
Soraya berdiri, merapikan roknya yang sedikit basah karena air vas. Ia menatap rumah kecil itu sekali lagi, menatap putrinya dan menantunya yang sedang berjongkok di lantai.
"Yaudah, Mama sama Papa pulang dulu ya, jaga diri kalian baik-baik," kata Soraya.
Pak Hendra pun ikut bicara, mencoba mencairkan suasana yang sempat tegang.
"Han, Papa pulang ya. Anya, kamu harus banyak istirahat. Jangan nyusahin Arhan," kata Pak Hendra. Nadanya sedikit bercanda, khas seorang ayah yang ingin anaknya tidak terlalu kepikiran.
Anya yang tadinya menunduk langsung mengerucutkan bibirnya.
"Ih, Papa," ketus Anya, tapi dengan nada manja.
Arhan terkekeh kecil mendengar itu. Suara kekehannya pendek, tapi cukup untuk membuat Anya sedikit tersenyum.
"Iya Pa, makasih. Hati-hati di jalan, Maaf aku nggak nganterin ke depan," lanjut Arhan sambil beres-beres. Tangannya masih memunguti pecahan kaca yang lebih besar dan memasukkannya ke dalam koran bekas.
Pak Hendra dan Ibu Soraya pun keluar rumah. Langkah mereka beriringan menuju pagar.
Di dalam, Anya dan Arhan masih di lantai. Terdengar suara mobil di luar rumah Arhan dan Anya dinyalakan. Suara mesin tua itu agak berat di awal, lalu stabil.
Lalu suara mobil itu pun menjauh. Pelan-pelan menghilang di ujung gang.
Rumah kembali hening. Hening yang berbeda dari sebelumnya, hening yang menyisakan banyak hal yang belum terucapkan.
Hanya tinggal suara sapu kecil yang digerakkan Arhan di atas lantai. Ia menyapu sisa-sisa air dan pecahan halus dengan hati-hati. Anya duduk di kursi dekat meja, memperhatikan suaminya. Kakinya sengaja ia angkat sedikit agar tidak terkena kaca.
"Udah, Han, biarin aja," kata Anya pelan.
"Nggak apa-apa, sebentar lagi selesai," jawab Arhan tanpa menoleh. Gerakannya telaten, tidak terburu-buru.
Setelah beberapa menit, lantai akhirnya bersih. Arhan membuang koran berisi pecahan kaca ke tempat sampah di luar, lalu kembali dengan kain pel. Ia mengelap sisa air yang masih membekas di karpet tipis.
Lily putih yang tadi tergeletak kotor kini sudah ia angkat dan letakkan di atas meja. Kelopaknya agak memar, beberapa helai terlepas, tapi masih putih.
Anya menatap bunga itu. Ada rasa bersalah yang masih menggantung di wajahnya.
"Maaf ya, Han. Padahal kamu udah ambilkan vas itu, udah kamu bersihkan juga," kata Anya.
Arhan menoleh, lalu duduk di kursi di depan Anya. Ia meraih tangan Anya, menggenggamnya.
"Vas bisa dibeli lagi, An. Yang penting kamu nggak kenapa-napa," kata Arhan.
Anya mengangguk pelan, tapi matanya masih berkaca-kaca.
Sore di luar sudah mulai turun. Langit berubah jingga pucat, angin masuk lewat celah pintu membawa hawa sejuk. Cahaya masuk lewat jendela, jatuh di meja tempat lily putih itu berada. Rumah terasa sepi lagi, seperti sebelum orang tua Anya datang.
Arhan menatap Anya cukup lama. Ada sesuatu yang ingin ia katakan sejak dari mobil, sesuatu yang terus ia simpan sejak kata keajaiban itu diucapkan Pak Hendra di dalam sedan yang sempit dan penuh kopi itu.
Napasnya ia atur pelan.
"Sayang," kata Arhan, suaranya lebih pelan dari biasanya. "Aku... Aku ingin bicara sesuatu sama kamu."