NovelToon NovelToon
Mendadak Menikah

Mendadak Menikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Billa Hamkah

Reyhan Ilham, cowok 19 tahun yang sekarang sedang sibuk bekerja menjadi pramuniaga minimarket, suka nongkrong di bengkel teman karena hobi mekanik, sayangnya gak lanjut kuliah karena tidak ada uang.

Suatu hari pergi liburan ke Bandung ke rumah temannya, tapi saat datang dengan status bujang tapi saat pulang malah berstatus menikah. Kok, bisa? Rey saja tidak mengerti kenapa? Kehidupan dia saja sebelumnya sudah pas-pasan, eh ditambah sekarang harus memberi makan satu orang lagi, semakin kekurangan uang dia.

Bagaimana sih, rasanya menjadi Reyhan, tiba-tiba mempunyai seorang istri saat masih muda dan melarat? Apakah pernikahan dia akan langgeng atau berhenti di tengah ja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ayo Buat Bayi!

##

"Assalamualaikum ...." kata Rey dan Ayana bersamaan.

"Aku deg-degan serius," bisik Ayana, sebanyak apapun kata motivasi dari Reyhan, rasanya percuma lagi saat sudah di depan pintu karena dia merasa takut lagi.

Reyhan mengelus jari Ayana yang berada dalam genggamannya. "Gak papa, ada aku. Semua akan aman."

"Semoga aj--"

"Waalaikumsalam, masuk!" Terdengar suara bapak menyahut.

Sekali lagi, Rey mengangguk kembali meyakinkan Ayana jika semua akan baik-baik saja. "Ayo!"

Ayana mengangguk, terpaksa mengikuti langkah Reyhan masuk ke dalam sebuah rumah. Masa dia mau pulang lagi, kan?

"Jadi, kalian mau apa datang ke sini?" tanya Ibu Reyhan yang akhirnya ikut duduk bergabung di sofa usang ruang tamu setelah harus menunggu setengah jam.

"Bu!" tegur bapak atap sikap judes istrinya.

"Oya, memangnya Ibu salah Pak, nanya begitu? Mereka menikah diam-diam, sekarang mereka mau apa lagi datang kemari?"

"Iya, tapi bagaimanapun Reyhan tetap anak kita. Jadi, sekarang kita dengarkan apa maksud kedatangan Reyhan dan istrinya datang sekarang. Rey, ayo bicara!"

Reyhan menghela napas berat. "Seperti kata Bapak, sekarang Rey datang ke sini dengan ditemani seorang istri. Sekali lagi, Rey minta maaf karena pernikahan Rey yang tiba-tiba dan gak undang kalian, situasi saat itu gak memungkinkan. Rey juga minta maaf, jika baru bawa istri Rey datang ke sini sekarang."

"Semua sudah terjadi, kita sebagai orangtua sudah tugasnya mendoakan anak yang terbaik. Bapak doakan semoga rumah tangga kalian sakinah, mawadah, warahmah kedepannya. Sekarang, yang lalu biarlah berlalu. Fokus kita bukan masa lalu lagi, tapi masa sekarang dan masa depan." Bapak menghela napas, kemudian melihat Ayana. "Selamat datang di keluarga kami, Nak. Sekarang, kamu sudah menjadi mantu keluarga ini."

Ayana tersenyum, dia merasa terharu. "Terimakasih Bapak."

Dia sungguh tak menyangka, respon bapak akan sebaik ini. Walaupun, respon dari ibu mertuanya terlihat sangat jelas tak suka. Wajar, orangtua mana yang tak marah jika anaknya menikah diam-diam.

"Selesai, kan? Ibu pergi."

"Ibu?" panggil bapak yang diabaikan oleh ibu. Beliau sudah berlalu masuk ke dalam kamar.

Rey mendesah, dia sudah menduga akan mendapatkan penolakan ini,  hatinya sudah siap karena memang sudah terlalu sering melihat raut kecewa ibunya kepada dia sedari dulu. Tapi Ayana, bagaimana dengan gadis itu? Rey menoleh untuk melihatnya, gadis itu tertunduk dengan raut wajah terlihat sedih.

"Gak papa. Inget apa yang aku bilang tadi." Rey menggenggam tangan Ayana membuat gadis itu mendongak. Tak lama, mereka berdua tersenyum seolah saling menguatkan dan memberitahu jika mereka bisa melewati ini bersama.

"Maafin ibu yah Nak, dia hanya butuh waktu. Rey anak pertama kami, seorang ibu pasti mempunyai imajinasi pernikahan anaknya ingin dirayakan seperti apa. Nanti, lama-lama ibu juga bisa menerima. Selamat datang di keluarga kami yang serba kekurangan ini," kata bapak sambil tersenyum, membuat Ayana merasa kembali tenang. "Maaf yah, Bapak tinggal kerja lagi. Betah-betah di sini, kalau perlu menginap."

"Tidur dimana Pak, kalau kita nginep?" Rey bertanya keluhannya.

Bapak tersenyum canggung. "Iya Bapak lupa Rey, kamu gak punya kamar. Tapi kan bisa tidur sama Rima?"

"Kita suami istri, masa pisah kamar?"  Rey cemberut, membuat Ayana malu.

"Apaan, sih?" bisik Ayana benar-benar tak habis pikir, cowok itu hanya tersenyum jahil.

"Loh, memang suami istri harus sekamar terus, Rey? Enggak lah, bapak sama ibu juga sering pisah kamar."

Reyhan tertawa mengejek. "Itu karena Bapak diusir ibu dari kamar karena ngasih uang sedikit."

"Kamu ini!" Bapak melotot, terlihat malu kepada Ayana. "Oh iya, kalian langsung berencana untuk mempunyai anak?"

Ayana menggeleng cepat. "Enggak Pak, kita masih terlalu muda juga."

"Pakai penghalang?" tanya bapak lagi membuat Ayana canggung.

Ayana melirik Reyhan, cowok itu hanya tersenyum mengejek. "Iy--iya Pak."

"Penghalang apaan? Dijeblos gue aja belum," bisik Reyhan yang tentunya hanya bisa didengar oleh Ayana.

Bapak mengangguk setuju. "Itu lebih baik. Bapak tidak melarang tapi sebaiknya memang ditunda dulu. Kalian masih muda, masih jauh dari kata mapan. Mempunyai anak itu tidak mudah karena kalian sudah harus mempunyai tanggung jawab baru."

"Iya Pak, kita juga menunda karena hal itu semua. Iya kan, Rey?" tanya Ayana meminta persetujuan Reyhan.  Cowok itu hanya diam, sampai harus membuat Ayana mencubit pahanya.

"Aw!" Reyhan melihat Ayana yang melotot ke arahnya. "Iya, Pak."

"Ya sudah, kalau begitu Bapak pamit kerja dulu."

"Iya Pak," jawab mereka bersamaan.

Setelah bapak benar-benar sudah pergi, Reyhan dan Ayana sama-sama terdiam, seolah pikiran mereka sudah penuh oleh banyak hal.

"Jadi pengaman apa yang kita pakai, Sayang?" tanya Reyhan setelah sekian lama tapi hanya untuk meledek Ayana.

Ayana menoleh, melihat Reyhan sedang menaikan alisnya usil. Rasanya, ingin dia geplak kepala lelaki itu dengan mangkok seperti biasanya. Sayang sekali, saat ini mereka sedang tidak di kosan.

"Kondom, kan? Atau kamu suntik KB atau apalah itu?" Sudah jelas, Rayhan tidak akan menyerah dengan mudah untuk menggoda Ayana walaupun sudah diberikan tatapan maut.

Ayana hanya menghela napas berat, kemudian berdiri. "Gak jelas. Mending, ayo antar aku mau liat kamar kamu yang mana?"

"Kamar?" Reyhan menaikan alisnya bingung. "Kamar apaan?"

"Kamar masa kecil kamu lah," jawab Ayana gregetan. "Aku mau lihat selera kamar kamu kaya gimana dulu?"

Reyhan tertawa. "Di sini."

"Hah, apaan?" Ayana terlihat bingung saat melihat Reyhan menunjuk tempatnya duduk.

Reyhan kembali tertawa melihat gadis itu yang ternyata belum sadar bahwa semiskin apa suaminya ini.

"Ruang tamu ini adalah kamar aku, Ay," jawab Reyhan sambil terkekeh. "Iya, memang semiskin ini aku sampai gak punya kamar. Aku sama dua adik cowokku tidur di sini."

Ayana terlihat bingung, kemudian wajahnya kembali tenang, mengangguk paham untuk kembali duduk. "Aku ngerti."

Reyhan tertawa ngakak. "Ngerti apaan?"

Ayana melirik sekitar, kemudian berbisik di samping telinga Reyhan. "Kalau suamiku emang semiskin itu."

"Sekarang, kamu udah menjadi mantu miskin keluarga ini loh," bisik Reyhan juga di telinga Ayana.

Cup

Sebelum menjauhkan wajah, Reyhan mengecup bibir Ayana membuat gadis itu terlihat syok melihat sekitar karena takut ada orang yang lihat karena ini bukan di kosan mereka.

"Rey, ini bukan di kosan!"

Reyhan terkekeh. "Iya, emang kenapa?"

Cowok itu terlihat santai, sudah bersandar di sofa. "Santai aja, ketahuan paling dikawinin."

Ayana mengernyit, kemudian memukul paha lelaki itu keras. "Heh, kita udah nikah!"

Reyhan cengengesan. "Nikah sama kawin beda loh, Ay." Lelaki itu menaik turunkan alisnya menggoda lagi.

Ayana terlihat bingung, kemudian kesal setelah paham. "Ih, apa sih? Masih kecil kita itu. Gak usah ngomong gituan."

"Hah, kecil apanya? Anak SD aja udah bisa bikin anak, apalagi aku. Udah siap nih, produksi."

"Geli banget. Omongannya gitu mulu. Dasar mesum!" Ayana terlihat kesal, gadis itu berdiri. "Gak mau deket-deket sama orang mesum. Rey, kamar mandinya dimana?"

"Itu dari dapur masuk aja, nanti di sana ada kamar mandi," jawab lelaki itu masih cengengesan.

Tanpa menjawab Reyhan, Ayana sudah berjalan masuk ke arah dapur. Setelah kepergian Ayana, lelaki itu masih cengengesan. Entah kenapa dia sangat suka menggoda Ayana. Dia tidak seserius itu untuk membahas hubungan dewasa seperti itu, dia hanya suka menggoda Ayana karena wajah malu dan kesalnya itu terlihat lucu.

Tapi kalau Ayana mau memberikan hal itu, Reyhan sih siap saja tidak akan menolak. Kalau gadis tidak mau, ya sudah dia tidak mau memaksa karena otak dia sudah penuh dengan banyak hal, jadi hal seperti itu bukan hal utama yang selalu dia pikirkan. Benar kata Ayana, mereka masih muda tapi hanya dipaksa dewasa oleh sebuah tanggungjawab sebuah pernikahan sebelum waktunya.

Walau sekarang Reyhan sudah tidak canggung untuk mencium gadis itu, tapi terkadang dia memang hanya hubungan mereka sebagai orang berpacaran. Tahap awal dari sebuah hubungan. Mereka memang membutuhkan hubungan tahap perkenalan ini, bukan?

"Kak Rai! Bawa apa?"

Reyhan tertawa melihat adik bungsunya masuk ke dalam rumah dengan badan penuh dengan lumpur.

"Habis ngapain kamu? Bajak sawah?"

"Aku habis adu jotos sama si Kadrun di sawah pak haji Mamat," jawab Rai menggebu-gebu sembari melangkah menghampiri Reyhan.

"Hah, siapa si Kadrun?" Reyhan bingung, kemudian panik melihat setiap langkah Rai di lantai menjadi kotor. "Diem disitu, cuci dulu di luar nanti ibu marah. Kotor itu!"

"Itu anak haji Mamat, sombong banget gayanya punya mama baru aja belagu. Aku juga bisa minta bapak buat punya mama baru yang lebih muda dari mamanya si Kadrun!" Rai terlihat emosi menggebu-gebu.

"Haji Mamat nikah lagi? Mamanya si Kadrun jadi berapa?" Reyhan syok, perasaan baru beberapa bulan lalu dia mendengar haji itu menikah dengan gadis berumur 25 tahun. Padahal itu pernikahan ke 4, jika Reyhan tidak salah. Masa sih sudah menikah lagi?

"UMI Ami, bunda Ijem, mami Lola, mama Suminah, terus Mom Beah terus yang baru kemarin onta Siska," jawab Rai sambil menghitung dengan jarinya.

Reyhan syok, kemudian dia bertepuk tangan merasa kagum. "Hebat sekali. Itu onta Siska siapa? beneran dipanggil onta?"

"Itu temannya kak Rima loh kak Rey, masa lupa, sekarang dia udah jadi onta. Onta itu panggilan mama dalam bahasa orang bule," jawab Rai yang sekarang sudah duduk di bawah sambil ngemil jajanan yang dibawa Reyhan tadi. "Ini Kakak yang bawa?"

Reyhan mengangguk. "Iya, makan aja, eh ... udah dimakan, yah." Reyhan kemudian terlihat kembali syok lagi. "Jangan bilang itu Siska yang masih sekolah? Gila, haji Mamat sudah ditahap menikahi anak di bawah umur. Kalah gue!"

Rai tidak merespon, masih asyik makan jajanan. Reyhan tadi lupa tidak sempat membahas oleh-oleh ini dengan orangtuanya karena terlalu fokus untuk disidang.

"Rai, itu tuh dipanggil aunty kali bukan onta," ujar Rey tiba-tiba ingat. "Kenapa kamu tiba-tiba kesel dan mau bapak nikah lagi?"

"Karena ibu sudah tua. Aku juga mau punya mama muda seperti si Kadrun," jawab Rai masih terlihat kesal.

Reyhan ngakak. "Habis kamu kalau ngomong gitu di depan ibu, bisa dijewer kamu."

"Apa, Kak?"

Reyhan menggeleng. "Enggak, makan aja. Nanti minta ke bapaknya pas ada ibu yah, ngomongnya!"

Rai mengangguk semangat. "Iya, nanti mau mintanya yang lebih muda dari onta Siska, ibu sudah tua dan tidak bisa dibanggakan lagi. Malu aku punya ibu tua, sekarang sudah trend punya mama muda."

Reyhan hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil ngakak, kemudian memberikan dua jempolnya kepada adiknya itu. Terserah lah, sudah tidak bisa diselamatkan lagi adik nakalnya ini yang selalu membuat ulah. Dia sudah lelah memberikan nasihat baik kepada Rai, nyatanya adiknya ini makin lama makin berulah yang aneh-aneh seperti ini. Biarlah saja nanti dia pasti dimarahi oleh ibu.

"Rey?"

Reyhan melihat Ayana yang baru keluar dari dapur. Lama sekali gadis itu, apa dia baru saja buang air besar.

"Adik kamu?" Ayana bertanya pelan yang dianggguki pelan. "Habis perang di mana dia?"

Reyhan kembali ngakak. "Di sawah dengan temannya karena iri mau mama muda."

"Hah? Apaan?" Ayana terlihat bingung.

Reyhan masih ngakak. "Gak ngerti. Tingkah anak ini emang aneh."

Ayana terlihat mendekati Rai yang sedang asyik makan jajanan yang ke 4, karena sudah ada tiga kantong yang sudah habis. Terserah lah, Reyhan sudah menyerah melihatnya.

"Hello," sapa Ayana berusaha terdengar ramah.

Rai mengangkat wajahnya. "Oh, Kakak istrinya Kak Rey, kan?"

Ayana tersenyum, kemudian mengangguk. "Iya, kamu Rai, kan? Lucu banget."

"Aku gak lucu, tapi ganteng," bantah Rai lucu dengan muka cemongnya yang penuh lumpur.

Ini Reyhan kenapa tidak menyuruh adiknya bersih-bersih, sih?

Ayana tersenyum. "Iya, kamu ganteng banget."

Rai tersenyum bangga. "Iya, aku emang paling ganteng di rumah ini."

Reyhan yang mendengarnya mengangguk saja. "Iyain saja, paling sebentar lagi sudah dipukul ibu karena udah buat rumah kotor."

"Gak akan. Aku kan anak kesayangan ibu," jawab Rai sombong. "Kak, kapan punya adek bayi? Si Adam temenku kakaknya udah punya adek bayi lucu. Aku juga mau!"

"Hah?" Ayana terlihat syok.

"Tadi katanya mau mama muda, sekarang mau punya adek bayi. Kamu mah, segala mau terus." Reyhan sudah tidak habis pikir dengan permintaan adiknya itu.

"Kenapa? Kan kalian udah nikah, harusnya punya adek bayi juga. Kan, orang nikah bisa buat adek bayi. Aku juga kalau juga mau nikah, biar bisa punya adek bayi."

"Ya Salam!" Reyhan frustrasi. "Udah biarin Ay, dia sudah beda aliran tidak bisa diselamatkan."

"Adek bayinya bisa gak Kak, udah ada besok?" tanya Rai ke Ayana, seolah mengabaikan Reyhan.

Ayana tertawa canggung. "Kakak gak tahu so--"

"Rai! Kenapa kamu kotor gitu? Rumah  Ibu jadi kotor! Habis ngapain kamu bisa kotor begitu?" teriak ibu baru keluar dari kamar terlihat syok melihat kondisi anak bungsunya. "Ayo, ke kamar mandi kamu bersih-bersih!"

"Ah, ibu mah teriak-teriak mulu, berisik! Ah, pokoknya aku mau mama muda yang gak teriak-teriak kaya ibu," jawab Rai kesal, kemudian berjalan menghentakkan kakinya ke arah dapur. Kemudian, melihat Ayana lagi. "Besok, adek bayinya harus udah ada yah, Kak!"

"Ayo, jalannya cepet!" Ibu sudah menjewer telinga Rai membawanya masuk dapur, membuat anak itu berteriak. "Ibu jahat, sakit. Pokoknya mau mama muda!"

"Dasar anak nakal!"

"Ay?" panggil Reyhan membuat Ayana melihat ke arahnya.

"Apa?"

"Ayo, buat adek bayi!"

Ayana mencubit paha Reyhan, wajahnya terlihat kesal tapi malu-malu juga. Reyhan hanya tertawa melihatnya.

##

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!