NovelToon NovelToon
Aku Ingin Pulang

Aku Ingin Pulang

Status: tamat
Genre:Fantasi / Idola sekolah / BTS / Tamat
Popularitas:322
Nilai: 5
Nama Author: Senja Juliani Putri

Clara Nagendra, siswi berprestasi dengan senyum tempelan sempurna, hidup dalam rumah dingin yang hanya memuja adiknya, Thea. Di balik nilai 98 dan piala emas, ia menyembunyikan gagal ginjal kronis stadium 4 dalam diary biru lusuhnya. Hanya Nenek Kamila dan tiga sahabatnya yang melihat lukanya. Pertemuannya dengan Kim Seokjin, ketua geng motor yang ditakuti, mengubah segalanya. Dari musuh jadi rumah. Dari taman belakang yang bersih hingga janji rumah kecil bernomor 7 di Lembang, Clara akhirnya menemukan tempat pulang — bukan gedung, melainkan pelukan yang tidak menuntutnya sempurna. Sebuah kisah tentang luka yang tak terlihat, cinta yang menjadi tempat istirahat, dan rumah yang tertinggal namun tetap menyala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 — Satu Nama untuk Menyelamatkan Thea

Rumah Nagendra gak pernah sepanik ini sebelumnya.

Jam 2 pagi, Thea kejang. Bukan kejang yang kayak di sinetron gitu, tapi badannya tiba-tiba kaku, matanya naik ke atas. Mama Vania teriak sekenceng-kencengnya sampe tetangga sebelah bangun.

Papa Faizan langsung gendong Thea ke mobil. Nenek Kamila yang lagi sholat tahajud langsung beresin jilbab, ikut ke mobil. Clara yang baru aja ketiduran abis belajar, kebangun karena teriakan Mama, ikut lari keluar pake baju tidur.

Di IGD RS Harapan Bunda, dokter jaga langsung pasang infus ke Thea. Thea masih setengah sadar, pucet banget.

Mama Vania nangis sesenggukan di ruang tunggu. Papa Faizan mondar-mandir sambil nelponin dokter langganan keluarga.

Clara duduk di pojokan. Pake hoodie Seokjin yang kegedean, yang kemarin dipinjemin gara-gara Clara kedinginan di taman. Tangannya dingin. Bukan karena AC RS, tapi karena takut.

Nenek duduk di sebelah Clara. Megang tangan Clara.

"Nenek takut, Ra," bisik Nenek pelan.

Clara angguk. Dia juga takut. Tapi dia juga ngerasa deja vu. Bau RS ini sama kayak bau poli Nefrologi tempat dia kontrol tiap bulan.

Dua jam kemudian, dokter keluar. Dokter Hendra, dokter anak yang udah kenal keluarga Nagendra dari Thea kecil.

"Pak Faizan, Bu Vania, bisa ikut saya ke ruangan sebentar?"

Mama Papa langsung berdiri. Nenek sama Clara ikut berdiri, tapi dokter bilang, "Nenek sama kakaknya tunggu di sini dulu ya."

Mereka masuk ruangan dokter. Pintu ketutup.

Clara sama Nenek duduk lagi di ruang tunggu. Nenek komat-kamit doa. Clara mainin ujung hoodie Seokjin.

15 menit yang rasanya kayak 15 jam, Mama Papa keluar. Mukanya beda. Papa Faizan mukanya tegang banget. Mama Vania matanya bengkak abis nangis, tapi sekarang diem. Kayak orang syok.

Nenek langsung berdiri. "Gimana, Van? Thea gimana?"

Mama Vania duduk. Pelan.

"Dokter bilang... ginjal Thea udah rusak parah. Harus transplantasi. Kalau enggak, harus cuci darah seumur hidup."

Clara langsung tegak. Jantungnya loncat.

Transplantasi. Ginjal. Kata-kata yang udah dia denger sebulan lalu dari Dokter Maya, tapi buat dirinya sendiri. Sekarang buat Thea.

Papa Faizan jelasin dengan suara berat, "Dokter bilang penyakit Thea ini bawaan. Dari kecil emang ginjalnya lemah. Kemarin kejang itu karena racun di badannya udah numpuk. Jadi satu-satunya jalan biar Thea bisa hidup normal lagi itu cangkok ginjal. Transplantasi."

Nenek nutup mulut. "Ya Allah..."

Mama Vania nangis lagi. Pelan.

"Terus donornya dari mana, Van?" tanya Nenek.

Papa Faizan jawab, "Dokter bilang keluarga inti dulu yang dicek kecocokannya. Mama, Papa, sama... Clara."

Nama Clara disebut. Clara langsung ngerasa darahnya berhenti ngalir.

Mama Vania noleh ke Clara. Matanya yang tadi bengkak tiba-tiba nyala. Ada harapan di sana.

"Clara," kata Mama. Suaranya gemeter. "Kamu mau kan tes kecocokan? Kamu kan kakaknya. Golongan darah kamu sama kayak Thea, O. Kemarin pas donor darah sekolah kamu O kan?"

Clara bengong. Golongan darah O. Iya, dia O. Thea juga O. Dia inget pas donor darah bulan lalu, dia sempet donor.

Tapi dia juga inget, Dokter Maya bilang fungsi ginjalnya tinggal 20 persen. Stadium 4. Gimana bisa jadi donor kalau ginjalnya sendiri udah rusak?

"Ma, aku..." Clara mau ngomong, tapi suaranya hilang.

Papa Faizan nambahin, "Clara, ini buat adek kamu. Kalau kamu cocok, kamu bisa selamatin adek kamu. Dokter bilang kalau dari kakak kandung, kemungkinan cocoknya lebih tinggi."

Clara ngeliatin Papa. Papa yang biasanya dingin, sekarang ngeliatin Clara dengan harapan. Pertama kalinya Papa ngeliatin Clara kayak butuh Clara.

Mama Vania maju, megang tangan Clara.

"Clara, Mama mohon ya. Kamu tes dulu aja. Kalau cocok, kamu mau kan donor buat Thea? Cuma satu ginjal kok, katanya orang bisa hidup dengan satu ginjal. Kamu masih muda, kuat."

Satu ginjal. Orang bisa hidup dengan satu ginjal. Kata-kata itu kayak pisau buat Clara.

Dia cuma punya dua ginjal yang dua-duanya udah mau mati. Gimana mau ngasih satu?

Nenek yang dari tadi diem, ngeliatin Clara. Nenek liat muka Clara pucet. Lebih pucet dari Thea yang di dalem.

"Van, Faizan, jangan dipaksa dulu. Clara juga masih sekolah. Kasih dia waktu mikir," kata Nenek pelan.

"Tapi Ma, ini Thea butuh cepet. Dokter bilang makin cepet makin bagus," kata Mama.

Clara akhirnya angguk pelan. Angguk yang dipaksain.

"Iya, Ma. Aku... aku mau tes."

Mama Vania langsung meluk Clara. Pelukan pertama setelah berbulan-bulan. Tapi pelukannya bukan karena kangen Clara. Karena butuh ginjal Clara.

Clara dipeluk, tapi rasanya dingin.

Besoknya, satu keluarga Nagendra dateng ke RS buat tes kecocokan donor. Papa, Mama, Clara, Nenek juga ikut buat nemenin.

Di lab, mereka diambil darahnya satu-satu. Clara yang terakhir.

Pas giliran Clara, susternya bilang, "Mbak Clara, udah pernah cek fungsi ginjal belum?"

Clara kaget. "Belum, Sus. Kenapa?"

"Oh enggak, cuma nanya. Soalnya kalau mau donor kan ginjalnya harus sehat 100 persen. Jadi nanti dicek semua. Fungsi ginjal, jantung, semuanya."

Clara angguk. Tangan gemeter pas diambil darahnya. Lebih gemeter dari biasanya.

Abis tes, mereka disuruh pulang. Nunggu hasil 3 hari.

Tiga hari itu neraka buat Clara.

Di rumah, semua orang ngomongin Thea. "Thea harus transplantasi." "Semoga ada yang cocok." "Clara golongan darahnya sama, semoga cocok."

Gak ada yang nanya, "Clara gimana? Clara takut gak?"

Clara di kamar terus. Ngeliatin hasil lab lamanya. Yang dari Dokter Maya. Yang bilang stadium 4.

Kalau hasil tes donor keluar, pasti ketauan. Pasti ketauan kalau ginjalnya rusak. Pasti ketauan kalau dia bohong selama ini.

Dia chat Mutiara.

Clara: Mut, gue disuruh tes donor buat Thea.

Mutiara langsung bales cepet.

Mutiara: HA? Terus gimana? Kan ginjal lo juga rusak?

Clara: Iya. Makanya gue takut. Kalau hasilnya keluar, Mama Papa bakal tau gue sakit.

Mutiara: Terus lo mau gimana?

Clara: Gak tau, Mut. Gue pengen nolong Thea, tapi gimana caranya kalau gue sendiri aja butuh donor?

Mutiara gak bales lama. Terus nelpon.

"Ra, lo di rumah? Gue kesana ya."

Mutiara dateng sore itu. Bawa martabak. Nenek bukain pintu.

Di kamar Clara, Mutiara meluk Clara.

"Ra, lo harus jujur. Sekarang waktunya. Lo gak bisa nutupin lagi."

"Gue takut, Mut. Kalau Mama tau gue sakit juga, Mama bakal hancur. Thea butuh donor, gue juga butuh donor. Mama bisa gila."

"Justru karena itu lo harus jujur, Ra. Biar dokter yang jelasin. Bukan lo yang tiba-tiba donor terus pingsan di meja operasi."

Clara nangis. Pelan.

Malamnya, Seokjin chat.

Seokjin: Katanya Thea masuk RS lagi? Lo gimana?

Clara: Iya, Kak. Thea harus transplantasi ginjal. Gue disuruh tes donor.

Seokjin: Lo mau donor?

Clara lama balesnya.

Clara: Kalau cocok, gue mau. Dia adek gue.

Seokjin: Ra, lo sendiri gimana? Lo kan juga...

Seokjin berhenti ngetik. Dia tau Clara sakit, tapi gak tau separah apa. Clara belum pernah cerita stadium 4.

Clara: Gue gapapa, Kak.

Seokjin: Boong. Lo kalau boong hidungnya merah. Inget?

Clara ketawa kecil sambil nangis.

Tiga hari kemudian, hasil keluar.

Dokter Hendra manggil keluarga Nagendra lagi. Kali ini di ruangan yang lebih gede. Ada Dokter Maya juga di sana. Dokter ginjalnya Clara. Clara kaget liat Dokter Maya ada di sana.

"Pak Faizan, Bu Vania, ada yang perlu saya jelaskan soal hasil tes kecocokan donor," kata Dokter Hendra.

Mama Papa duduk. Clara duduk paling ujung. Nenek di sebelah Clara, megang tangan Clara erat.

"Untuk Pak Faizan, golongan darah B, tidak cocok dengan Thea yang O. Untuk Bu Vania, golongan darah A, juga tidak cocok."

Mama Papa angguk. Kecewa, tapi udah nebak.

"Untuk Clara..."

Dokter Hendra ngeliatin Dokter Maya. Dokter Maya maju.

"Clara adalah pasien saya juga," kata Dokter Maya pelan.

Satu ruangan langsung hening.

Mama Vania noleh ke Clara. Kaget. "Pasien? Pasien apa?"

Dokter Maya ngeluarin hasil lab Clara. Hasil lab yang sebulan lalu. Sama hasil tes donor yang baru.

"Clara mengalami gagal ginjal kronis stadium 4. Fungsi ginjalnya di bawah 20 persen. Dia sudah kontrol ke saya selama 3 bulan terakhir. Dia tidak bisa menjadi donor. Justru dia juga membutuhkan donor atau cuci darah dalam waktu dekat."

Plak.

Kayak bom meledak di ruangan itu.

Mama Vania bengong. Mulut kebuka. Ngeliatin Clara.

"Apa? Gagal ginjal? Clara? Sejak kapan?"

Papa Faizan juga bengong. Mukanya pucat.

Clara nunduk. Gak berani ngeliat Mama.

Nenek yang megang tangan Clara makin erat. Nenek nangis pelan.

"Jadi selama ini... kamu sakit?" tanya Mama Vania, suaranya gemeter. Bukan marah. Kaget.

Clara angguk pelan. Air mata netes.

"Iya, Ma. Maaf aku gak bilang."

Mama Vania berdiri. Jalan ke arah Clara. Clara takut dimarahin.

Tapi Mama malah... diem. Gak bisa ngomong. Cuma ngeliatin Clara yang pucet, yang selama ini dimarahin karena nilai 98, yang disuruh bikin bubur jam 5 pagi, yang disuruh jangan bikin masalah.

Papa Faizan yang pertama ngomong.

"Kenapa gak bilang dari dulu, Clara?"

Clara nangis. "Aku takut, Pah. Thea sakit, Mama Papa fokus ke Thea. Aku takut kalau aku bilang aku sakit juga, Mama Papa tambah pusing. Aku takut dibilang drama."

Dokter Maya nambahin, "Clara minta saya jangan bilang ke orang tua dulu. Dia minta waktu seminggu. Tapi kondisinya memang tidak memungkinkan jadi donor. Bahkan, dia yang butuh perhatian medis serius."

Mama Vania akhirnya nangis. Kenceng. Duduk di lantai. Peluk lutut.

"Ya Allah... anak saya dua-duanya sakit ginjal..."

Ruangan itu jadi berantakan. Nenek nangis, Mama nangis, Papa diem dengan muka menyesal.

Cuma Clara yang duduk diem. Nangis pelan. Akhirnya rahasianya kebongkar. Bukan dengan cara yang dia mau, tapi kebongkar juga.

Di luar ruangan, Mutiara sama Seokjin nunggu. Mutiara yang ngabarin Seokjin kalau hasil tes keluar hari ini.

Seokjin mondar-mandir. Gelisah.

Pas pintu ruangan kebuka, Nenek keluar sambil nangis. Ngeliat Mutiara sama Seokjin.

"Nenek, gimana?" tanya Mutiara.

Nenek meluk Mutiara. "Clara... Clara juga sakit ginjal, Mut. Parah."

Seokjin yang denger langsung lemes. Duduk di kursi tunggu. Mukanya pucet.

"Stadium 4, Jin," bisik Mutiara pelan ke Seokjin.

Seokjin nutup muka pake tangan. Selama ini Clara bilang gapapa, ternyata separah ini.

Di dalem ruangan, Clara masih nunduk. Mama Vania masih nangis di lantai.

Papa Faizan akhirnya jalan ke arah Clara. Jongkok di depan Clara.

"Clara... Papa minta maaf."

Clara ngeliatin Papa. Pertama kalinya Papa minta maaf.

"Papa selama ini cuma fokus ke Thea. Papa gak tau kamu sakit separah ini. Maafin Papa ya."

Clara nangis makin kenceng. Dipeluk Papa. Pelukan pertama dari Papa setelah bertahun-tahun.

Mama Vania juga merangkak, meluk Clara dari samping. Meluk dua anaknya yang sakit.

Nenek nangis di pojokan.

Di ruangan itu, akhirnya untuk pertama kalinya, Clara gak jadi invisible. Semua orang liat dia. Tapi bukan karena nilai 100. Karena dia sakit.

Dan di luar ruangan, Seokjin masih duduk. Nungguin Clara keluar. Nungguin buat jadi rumah Clara pulang, kalau dunia kerasa terlalu berat hari ini.

Karena hari ini, dunia Clara beneran runtuh. Sekali lagi.

1
yonggi🐱
/Drool/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!