NovelToon NovelToon
Tangis Digerbang Pesantren

Tangis Digerbang Pesantren

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: eka sundari

Seorang anak perempuan bernama Aira harus menelan kenyataan pahit saat orang tuanya memutuskan untuk memasukkannya ke pesantren. Di usianya yang masih belia, ia belum siap berpisah dari rumah, dari kenyamanan, dan dari kasih sayang yang selama ini selalu dekat.
Hari pertama di pesantren menjadi awal dari luka yang tak terlihat. Di balik seragam rapi dansenyum yang dipaksakan, Aira menyimpan tangis yang ia pendam setiap malam. Rasa rindu, kesepian, dan ketakutan perlahan menggerogoti hatinya. Ia bahkan sempat berpikir untuk menyerah dan pulang.
Namun, di tengah air mata itu, Aira mulai menemukan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya—ketenangan dalam doa, kekuatan dalam ilmu, dan arti dari sebuah perjuangan. Ia belajar bahwa tidak semua perpisahan adalah kehilangan, dan tidak semua tangisan adalah kelemahan.Perjalanan Aira di pesantren bukan hanya tentang menuntut menuntut ilmu, tetapi tentang menemukan jati diri, menguatkan hati,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka sundari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

larangan pertama

Lilin di tengah ruangan berkedip pelan tertiup angin malam dari celah ventilasi. Cahaya kuningnya memantul redup di wajah Ukhty Inggit. Tidak ada lagi raut ketakutan yang sengaja diciptakan, tapi wibawa yang terpancar dari sosoknya malam itu benar-benar membuat ruangan di lantai tiga Pustaka Lama terasa menghening total.

Ukhty Inggit memperbaiki posisi duduknya. Tatapannya lurus, dingin, dan tenang—sebuah ketegasan khas bagian Keamanan yang tidak dibuat-buat, namun sama sekali tidak menyimpan kekasaran.

"Aira..." suara Ukhty Inggit mengalun berat, datar, tapi memenjarakan perhatian.

Aira yang tadinya masih menunduk, refleks meremas ujung mukenanya. "I-iya, Ukhty?"

"Ukhty mau kamu dengar ini baik-baik," lanjut Ukhty Inggit tanpa mengubah intonasi suaranya yang tenang namun menusuk. "Di pondok ini, tugas Keamanan bukan cuma menangkap santri yang terlambat shalat atau kabur lewat pagar belakang. Tugas paling berat kami adalah menjaga kehormatan kalian... termasuk kamu."

Ukhty Inggit menyandarkan punggungnya tegak lurus. Sorot matanya menatap tepat ke arah mata bulat Aira.

"Seharian ini, dari mulai kamu berdiri canggung di panggung aula tadi pagi sampai panggung perkenalan selesai malam ini... Ukhty berdiri di sudut area aula. Tugas Ukhty mengawasi. Dan kamu tahu apa yang Ukhty lihat?"

Aira menggeleng pelan, bibirnya terkunci.

"Wajahmu itu, Aira..." tutur Ukhty Inggit datar, namun tiap kata yang keluar seperti ketukan palu yang mantap. "Kamu punya paras yang bersih, mata bulat, dan wajah polos yang gampang sekali menarik perhatian. Tapi di pesantren ini, kepolosan dan kecantikan yang tidak kamu bentengi bisa jadi ujian paling besar buat dirimu sendiri."

Ukhty Inggit mengetuk pelan meja kayu di depannya. "Dari seberang kain pembatas tadi malam, ada banyak mata santri putra yang mencuri pandang ke arahmu. Ada yang sengaja berdiri di dekat sound system, ada yang berbisik sama temannya cuma buat melihat kamu tertawa sama Nazwa. Kamu mungkin tidak sadar, tapi mata-mata itu melihat."

Pipi Aira seketika terasa panas. Ia menunduk semakin dalam, merutuki dirinya sendiri yang sama sekali tak menyadari situasi tersebut.

"Makanya Ukhty bawa kamu ke sini," sambung Ukhty Inggit. Nadanya masih dingin, namun kini terselip getaran rasa peduli yang dalam—seperti seorang kakak senior yang tidak ingin adiknya tergelincir. "Ukhty mau tegaskan satu hal yang paling mendasar. Di pesantren Man Ana ini, ada banyak pelanggaran. Tapi ada satu pelanggaran yang paling fatal, yang hukumannya tidak cuma memalukan diri sendiri, tapi meremukkan hati orang yang paling menyayangimu."

Ukhty Inggit jeda sejenak. Keheningan malam seolah menanti kata berikutnya.

"Pacaran," bisik Ukhty Inggit, dingin namun tegas. "Surat-suratan, nitip salam lewat mukena, lirik-lirikan di jalan, sampai hubungan diam-diam. Jangan pernah... sekali pun kamu coba-coba menyentuh hal itu."

Aira mendongak pelan. Di bawah pendar lilin, ia melihat mata Ukhty Inggit yang begitu jernih dan serius.

"Kamu masih sangat kecil, Aira. Langkahmu di sini baru dimulai," kata Ukhty Inggit, kali ini suaranya sedikit melunak, menyisakan kehangatan yang tertahan. "Baru tadi pagi kamu menangis sesenggukan karena kangen rumah, kan? Kamu ingat bagaimana tatapan Ayahmu waktu melepaskanmu di gerbang belakang kemarin sore?"

Seketika, bayangan Ayah yang tersenyum tegar sambil mengusap kepalanya sebelum naik ke mobil berputar jelas di ingatan Aira. Dadanya mendadak sesak.

"Orang tuamu di rumah itu bekerja keras, Aira," lanjut Ukhty Inggit, tatapannya tak beralih sedikit pun. "Mereka mengirim kamu ke sini, menitipkan kamu pada Kyai dan Ustazah, bukan supaya kamu main-main hati atau sibuk mengurus rasa kagum laki-laki. Mereka menitipkan kamu dengan doa yang tidak pernah putus di setiap sujud malam mereka, supaya kamu jadi anak yang solehah... yang bisa menjaga kehormatan dirimu sendiri."

Satu tetes air mata hangat lolos menyusuri pipi Aira, jatuh menembus kain mukena putih di pangkuannya.

"Kasihan orang tuamu kalau sampai mendengar kabar burung atau pelanggaran tentang anaknya di pondok," bisik Ukhty Inggit. Wibawanya tetap terjaga, namun nada suaranya kini sarat akan penjiwaan yang jujur. "Rasa sakit hati mereka... jauh lebih berat daripada rasa kangenmu pada rumah."

Ukhty Inggit mengulurkan tangannya pelan, menepuk bahu mungil Aira dua kali—sebuah gestur langka dari seorang pengurus Keamanan.

"Ukhty menyampaikan ini bukan karena Ukhty benci atau mau membatasi ruang gerakmu. Tapi karena Ukhty sayang. Ukhty tidak mau kepolosan dan kecantikan yang Allah kasih ke kamu justru jadi jalan yang menjatuhkanmu. Paham, Aira?"

Aira mengusap air matanya dengan ujung lengan gamis. Ia menatap Ukhty Inggit dengan dada yang berdesir hangat—bukan lagi karena takut, melainkan karena rasa hormat dan kesadaran yang mendalam.

"Paham, Ukhty..." jawab Aira dengan suara yang bergetar namun mantap. "Aira janji... Aira nggak akan pernah pacaran. Aira ke sini mau belajar... mau bikin Ayah sama Ibu bangga."

Ukhty Inggit mengangguk pelan. Selarik senyum tipis—hampir tak terlihat—terlukis di sudut bibirnya yang biasa kaku.

"Pegang janji itu," pungkas Ukhty Inggit seraya berdiri tegak kembali, mengembalikan wibawanya sebagai pengurus OPPK. "Sekarang, usap air matamu. Kembali ke Kamar Khadijah, dan tidurlah. Esok hari perjuanganmu yang sebenarnya di pesantren ini baru saja dimulai."

Langkah kaki Aira terasa agak berat saat menyusuri lorong asrama yang mulai temaram. Pikirannya masih dipenuhi bayang-bayang nasihat tegas dari Ukhty Inggit di pustaka lama tadi. Ketika jemari mungilnya perlahan mendorong pintu kayu Kamar Khadijah, bunyi berderit halus menyambutnya.

Langkah Aira seketika terhenti di ambang pintu. Perasaan canggung tiba-tiba menyergap dada.

Di sudut ruangan, di atas ranjangnya, Ukhty Maya sedang duduk bersila sambil merapikan lipatan mukena. Suasana kamar sudah lengang; anak-anak baru lainnya sudah terlelap dipeluk lelah setelah riuhnya acara malam perkenalan. Begitu mendengar langkah Aira, Ukhty Maya mendongak. Senyum hangatnya yang khas seketika menyapa.

"Baru selesai, Aira?" suara Ukhty Maya mengalun sangat lembut, memecah kecanggokan yang sempat membeku di udara.

Aira mengangguk pelan sambil melangkah masuk, menundukkan kepala. Ia menutup pintu sesenyap mungkin, lalu berjalan perlahan mendekati ranjangnya sendiri yang bersebelahan dengan tempat Ukhty Maya duduk.

"I-iya, Ukhty..." bisik Aira seraya meletakkan mukenanya di tepi kasur. Ia merasa serba salah, takut jika Ukhty Maya berpikir ia sengaja keluyuran malam-malam atau telah melakukan kesalahan besar hingga dipanggil bagian Keamanan.

melihat Aira yang berdiri kaku dengan ujung jari saling bertaut gelisah, Ukhty Maya menepuk sisi ranjang di sampingnya pelan. "Sini, duduk dekat Ukhty."

Aira menurut. Ia duduk perlahan di tepi kasur, matanya yang bulat menatap lantai semen kamar yang dingin.

Ukhty Maya mengamati wajah santri barunya itu lekat-lekat. Ia melihat sisa jejak air mata yang masih membayang samar di pipi Aira, berpadu dengan raut wajah yang diliputi rasa cemas. Dengan perlahan, Ukhty Maya merengkuh bahu mungil Aira, mengusapnya penuh kehangatan seorang kakak.

"Ukhty Inggit bicarakan soal apa di pustaka?" tanya Ukhty Maya lembut, tanpa nada mengintimidasi sedikit pun.

Aira menggigit bibir bawahnya, ragu sejenak sebelum akhirnya memberanikan diri mendongak menatap mata Ukhty Maya yang teduh.

"Ukhty Inggit... tadi bilang... Aira nggak boleh pacaran, Ukhty," tutur Aira jujur, suaranya polos namun bergetar. "Ukhty Inggit bilang banyak santri putra yang ngeliatin Aira pas di aula tadi... Aira takut, Ukhty. Aira nggak ada maksud apa-apa... Aira cuma mau belajar di sini..."

ukhti Maya terdiam sejenak.....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!