NovelToon NovelToon
MODEL RAHASIA TEMAN KAKAK

MODEL RAHASIA TEMAN KAKAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Hayden menghentikan langkahnya tepat di tepi podium. Tatapannya menelusuri tiap lekuk tubuh Aluna. Pria itu mengulurkan tangannya, seolah-olah hendak membenarkan letak kain selendang yang tersingkap di atas paha Aluna.

Namun, gerakan jemari Hayden tidak berhenti di sana. Jemarinya yang dingin dan kasar bergeser perlahan, sengaja menyapu permukaan kulit halus Aluna, bergerak semakin naik menyentuh area yang tertutup selendang putih tipis itu.

Sentuhan asing dan lancang itu seketika meletupkan amarah Aluna.

"Jangan sentuh!"

Aluna menepis tangan Hayden dengan kibasan keras. Dalam sekejap, gadis itu menarik kain selendang untuk menutupi dadanya, merapatkan kedua kakinya, dan mundur ke sudut podium. Matanya yang sembab menatap Hayden dengan kilatan amarah yang membara.

"Jaga tanganmu, Hayden!" bentak Aluna dengan suara bergetar hebat, napasnya memburu cepat oleh kombinasi rasa takut dan murka. "Aku di sini cuma jadi model lukisanmu! Aku menjual posisiku sebagai model untuk melunasi _

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1.

Lampu spotlight panggung festival lukis privat itu terasa membakar kulit Aluna. Udara dingin dari AC sentral sama sekali tak mampu meredam rasa panas yang menjalar hingga ke wajahnya. Berdiri di atas podium kecil berselimut kain beludru, Aluna mencengkeram erat pinggiran gaun satin merah hatinya.

​Gaun itu memiliki potongan dada yang terlalu rendah dan punggung yang terbuka bebas—sesuatu yang tak pernah terbayangkan akan melekat di tubuhnya. Puluhan pasang mata pria kelas menengah atas melayangkan pandangan penuh selera, jemari mereka menari di atas kanvas, mengabadikan setiap jengkal lekuk tubuh dan ketakutan yang berusaha ia sembunyikan.

​Aluna menahan napas. Tenggorokannya tercekat, matanya panas menahan panas air mata yang siap tumpah.

​"Model di panggung, tolong senyumnya diperlebar sedikit! Ekspresimu terlalu tegang!" seru panitia acara dari sudut ruangan dengan nada mengintimidasi.

​Aluna memejamkan mata sejenak. Senyum? Bagaimana mungkin aku tersenyum di saat seluruh hidupku sedang hancur? batinnya menjerit.

​Namun, ia butuh uang itu. Ia butuh rupiah demi rupiah malam ini untuk membayar selang-selang yang menyambung nyawa kakaknya.

​Demi memaksa bibirnya melengkung, Aluna terpaksa memutar ingatan. Ia melarikan pikirannya jauh dari ruangan pengap penuh aroma cat minyak ini, kembali ke sebuah dapur sederhana beraroma nasi goreng hangat.

​"Aluna, bangun! Nasi gorengnya nanti dingin!" suara berat yang sangat familier itu bergema lembut.

​Aluna melangkah keluar kamar dengan mata masih menyipit, mengenakan piyama beruang kegemarannya. Di depan kompor, Romeo—kakak kandungnya—masih mengenakan seragam pabrik yang siap berangkat. Tangan Romeo cekatan membalik telur mata sapi, lalu menatanya rapi di atas piring Aluna.

​"Kak Romeo... Aluna masih mengantuk," racau Aluna manja, menyandarkan kepalanya ke lengan Romeo yang kekar.

​Romeo terkekeh pelan, mengusap lembut rambut adiknya. "Sudah bangun, ayo cepat sarapan. Kakak harus berangkat lebih cepat hari ini."

​"Maafkan Aluna kak, karena Aluna kakak harus bekerja keras di pabrik setiap hari. Kakak capek..."

​"Capek Kakak hilang kalau lihat kamu kuliah yang benar," ujar Romeo tulus, menatap Aluna penuh kasih sayang. "Uang tabungan untuk kuliahmu sudah Kakak amankan. Kakak yang bekerja, tugas Aluna cuma belajar dan jadi adik yang manis. Paham?"

​Aluna tersenyum lebar saat itu, memeluk erat pinggang kakaknya yang berbau keringat dan minyak mesin pabrik. Kasih sayang Romeo adalah benteng terkuat yang melindunginya dari kejamnya dunia.

​Ingatan akan senyuman dan kehangatan Romeo membuat bibir Aluna yang gemetar perlahan terangkat. Ia tersenyum. Bukan senyum palsu untuk para pelukis, melainkan senyuman manis yang ia persembahkan untuk ingatan tentang kakaknya. Wajahnya yang semula tegang mendadak bercahaya, memancarkan pesona kepolosan yang memikat semua orang di ruangan itu.

​Kecuali satu orang.

​Di barisan ketiga, seorang pria bergeming. Ia tidak menggoreskan kuasnya sama sekali. Tatapan matanya yang tajam dan dingin menusuk lurus ke arah Aluna, penuh dengan intrik ketidaksukaan yang tak disembunyikan.

​Aluna mengenali tatapan itu. Pria itu adalah Hayen Mahendra.

​Beberapa minggu yang lalu, seorang pria asing datang ke rumah mereka. Penampilannya sangat kontras dengan lingkungan perumahan sederhana tempat Aluna dan Romeo tinggal. Rambut pria itu dicat pirang berantakan, mengenakan jaket kulit lusuh, dan pergelangan tangannya dipenuhi gelang tali bertumpuk.

​"Ini Hayden, Aluna. Teman Kakak, baru pulang dari luar negeri," kenal Romeo hari itu.

​Aluna saat itu bersembunyi di balik punggung Romeo, menatap Hayden dengan pandangan takut. Penampilan Hayden seperti anak jalanan yang berbahaya, meskipun belakangan Aluna tahu pria itu adalah putra tunggal dari pemilik Mahendra Group yang memilih kabur dari kekayaan organisasinya demi menjadi seniman jalanan.

​Hayden saat itu hanya mendengus melihat Aluna yang bergelayut manja di tangan Romeo.

​"Kamu terlalu memanjakannya, Romeo," ucap Hayden dingin tanpa basa-basi. "Dia bukan lagi anak kecil. Sikap manja dan perlakuanmu yang seperti ini cuma bakal bikin dia mati berdiri kalau harus menghadapi dunia luar yang kejam."

​"Dia adikku satu-satunya, Hayden. Aku berjanji pada orang tuaku untuk menjaganya," jawab Romeo tegas saat itu, membela Aluna.

*

​Kembali ke panggung festival, mata Aluna dan Hayden saling mengunci. Meski saling mengenali, keduanya memilih bungkam. Hayden tetap menatap Aluna dengan cemoohan terselubung, sementara Aluna berusaha keras mengalihkan pandangannya, menahan rasa malu karena bertatap mata dengan teman kakaknya dalam kondisi nyaris telanjang seperti ini.

​Dua jam yang menyiksa itu akhirnya usai. Panitia mengumumkan acara selesai. Aluna terburu-buru turun dari panggung, berjalan cepat menuju area belakang panggung untuk mengambil pakaian gantinya.

​Namun, sebelum ia sempat menyentuh gagang pintu ruang ganti, sebuah cengkeraman kasar di pergelangan tangannya menghentikan langkahnya. Body pria itu menariknya kencang ke lorong samping yang sepi dan remang.

​"Lepas!" pekik Aluna kaget.

​Tangan Hayden menghempaskan lengan Aluna hingga gadis itu tersudut ke dinding dingin. Hayden berdiri menjulang di hadapannya, menyilangkan dada dengan pandangan menghina.

​"Hebat sekali, Sang Putri," ejek Hayden, suaranya berbisik namun tajam menusuk. "Ternyata begini caramu mencari uang? Menjual lekuk tubuhmu di depan puluhan pria lapar yang memegang kuas?"

​Aluna memegangi dadanya yang terbuka, menunduk dalam-dalam. "Ini... ini bukan urusanmu, Hayden."

​"Bukan urusanku?" Hayden tertawa sinis, tawa yang penuh rasa jijik. "Kamu tahu betapa berdarah-darahnya Romeo bekerja di pabrik orang tuaku demi memberimu makan dan pakaian yang layak? Dia membanting tulang tiap hari supaya kamu bisa hidup terhormat! Dan sekarang, kamu malah berdiri di atas panggung itu, menggunakan gaun murahan, jadi tontonan pria-pria berkantong tebal?"

​Aluna mengepalkan tangannya rapat-rapat. Lidahnya kelu. Kata-kata Hayden terasa seperti sembilu yang mengoyak dadanya.

​"Aku selalu tahu kamu itu gadis bermanja yang tidak berguna," lanjut Hayden tanpa ampun, melangkah makin mendekat hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa senti. "Tapi aku tidak menyangka kamu serendah ini, Aluna."

​Aluna tetap diam, menahan diri untuk tidak membalas. Ia merapatkan giginya, menerima seluruh makian itu karena tahu betapa buruknya penampilannya malam ini di mata sahabat kakaknya.

​Melihat Aluna yang hanya diam, sudut bibir Hayden terangkat membentuk senyuman miring yang penuh ancaman. Pria itu merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel pintar.

​"Mungkin aku harus mengambil foto dirimu dengan gaun menjijikkan ini sekarang," bisik Hayden dingin, jemarinya mengusap layar ponsel. "Lalu akan kukirimkan langsung pada Romeo. Biar dia lihat sendiri, seperti apa 'putri kecil' yang selama ini dia banggakan dan dia manjakan."

​Kata-kata itu menjadi batas akhir pertahanan Aluna.

​Ancaman itu menghancurkan tembok ketahanan yang dibangunnya sejak awal acara. Rasa takut, malu, lelah, dan rasa sakit yang terpendam membuncah seketika. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya pecah, mengalir deras membasahi pipinya yang terpulas make-up tebal.

​Aluna menepis ponsel di tangan Hayden hingga hampir terjatuh. Ia menatap lurus ke dalam mata Hayden dengan pandangan hancur sekaligus penuh keberanian yang tak pernah Hayden lihat sebelumnya.

​"Kirim! Kirim sekarang juga, Hayden!" jerit Aluna dengan suara bergetar berselimut tangis.

​Hayden tertegun, sedikit terkejut dengan reaksi histeris gadis yang ia sangka penakut itu.

​"Kirim foto ini ke Kak Romeo! Telepon dia! Katakan pada kak Romeo, bahwa adiknya menjual tubuhnya!" Aluna mencengkeram kerah jaket kulit Hayden dengan tangan gemetar, terisak parah. "Kau tahu apa, Hayden? Kak Romeo tidak akan pernah membalas pesanmu! Dia tidak akan pernah bisa mengangkat teleponmu!"

​Hayden mengerutkan keningnya, kebingungan mulai mengikis rasa sinis di wajahnya. "Apa maksudmu?"

​"Kak Romeo terbaring lemah di ruang ICU rumah sakit!" teriak Aluna di tengah tangisnya yang pecah. "Dia koma! Dia butuh operasi besar detik ini juga!"

​Napas Aluna memburu, dadanya naik turun menahan beban yang teramat berat. Cengkeramannya di kerah jaket Hayden perlahan melemah.

​"Kami tidak punya uang, Hayden... Tabungan pendidikanku sudah habis untuk biaya awal penanganan," bisik Aluna lirih, tubuhnya perlahan meluruh ke lantai, berlutut dalam balutan gaun cantiknya yang kini terasa begitu menyedihkan. "Aku tidak punya siapa-siapa lagi. Jadi katakan padaku... kalau aku tidak berdiri di panggung ini malam ini, dengan cara apa lagi aku bisa menyelamatkan nyawa kakakku?"

​Ruangan lorong sepi itu seketika hening. Hanya terdengar suara isak tangis Aluna yang memilu, memecah kesombongan dan prasangka buruk di dalam diri Hayden Mahendra.

*

*

*

1
Mita Paramita
🔥🔥🔥
Mia Camelia
Hayden makin gak bisa melepaskan Aluna nih🤭
𝐀⃝🥀Weny
baru aja baca, udah disuguhin Bombay banyak sama othor😭
Mia Camelia
siap thor 😁penasaran nih visual ny gimana😂
diga pues
+21☻️☻️☻️
diga pues
☻️☻️☻️
diga pues
serigala☻️
diga pues
ugh☻️
Mia Camelia
hayden obsesif banget ini mah ke aluna🤭
sukaa banget nih sama modelan ky hayden 😁
diga pues
ugh🌚
Ita Putri
haduuhh
bahaya Aluna
sudah dong Hayden kasihan aluna
Mia Camelia
lanjut thor😁
Mita Paramita
Thor nih novelnya sampai tamat kn? gak kayak novel kemarin yang dihapus? padahal lagi seru cerita ny
Mita Paramita: siap Thor 🔥🔥🔥🔥
semangat Thor 🔥🔥🔥
total 2 replies
Mia Camelia
seru banget thor😁😁😁
MissSHalalalal: terimakasih kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!