NovelToon NovelToon
SISTEM IQ TAK TERBATAS

SISTEM IQ TAK TERBATAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Tommy Nugroho adalah siswa kelas 2 SMA yang harus tinggal kelas dan selalu menjadi bahan tertawaan karena nilai-nilainya yang hancur berantakan.

Kehidupannya yang menyedihkan dan penuh ejekan berubah drastis pada suatu malam ketika sebuah layar biru misterius muncul di kamarnya dan memberinya Sistem IQ Tak Terbatas.

Alih-alih memamerkan kejeniusan barunya yang kini mampu memecahkan masalah tersulit dalam hitungan detik, Tommy memilih untuk tetap berpura-pura menjadi murid bodoh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Suasana aula seketika menjadi hening dan mencekam.

Bahkan murid-murid pintar di barisan tribun terlihat mengerutkan dahi mereka kebingungan mendengar soal yang sangat abstrak itu.

"Waktu kalian tiga menit, dimulai dari sekarang!"

Srak! Srak! Srak!

Empat peserta lain langsung mengambil spidol dan menuliskan rumus-rumus panjang di papan tulis mereka dengan tergesa-gesa.

Hanya Tommy yang masih diam mematung menatap papan tulis kosong di depannya.

Otak IQ seratus sepuluhnya memproses soal itu hanya dalam waktu kurang dari dua detik.

"Jawabannya adalah nilai konstanta euler dibagi dua," batin Tommy menganalisis dengan sangat santai.

"Atau dalam angka desimal sederhana, nilainya adalah nol koma dua delapan."

Ia tahu jawabannya, tapi ia harus mengeksekusinya seperti seorang idiot yang kebetulan sedang sangat beruntung.

Tommy mengangkat tangannya yang gemetar dan mengambil spidol dari atas meja.

Trak!

Spidol itu sengaja ia jatuhkan ke lantai hingga menggelinding beberapa sentimeter.

Hahaha!

Tawa ejekan langsung pecah dari barisan tribun melihat kecerobohan Tommy yang terlihat sangat menyedihkan itu.

"Memegang spidol aja gak becus, gimana mau ngitung limit!" teriak Reno dari kejauhan.

Nadin menutup wajahnya dengan kedua tangan, merasa sangat malu berdiri di panggung yang sama dengan Tommy.

Tommy membungkuk memungut spidol itu dengan wajah yang ia buat memerah seperti tomat matang.

Ia membuka tutup spidol dan mulai menulis sesuatu di papan tulis.

Alih-alih menulis rumus deret probabilitas seperti peserta lain, Tommy justru menggambar sebuah lingkaran besar yang bentuknya tidak beraturan.

Kemudian di dalam lingkaran itu, ia menarik garis-garis silang yang terlihat seperti benang kusut hasil coretan anak taman kanak-kanak.

Para juri dan guru yang duduk di depan panggung mulai saling berbisik dengan dahi berkerut.

"Apa yang sedang digambar anak itu?" tanya Bu Rina kepada guru di sebelahnya.

"Entahlah, mungkin dia sudah stres karena tidak tahu jawabannya," jawab guru sejarah itu sambil menggeleng pelan.

Pak Darmawan yang melihat coretan benang kusut itu justru melebarkan matanya perlahan.

Sebagai guru matematika berpengalaman, mata Pak Darmawan menangkap sesuatu yang tidak masuk akal.

Garis-garis silang yang digambar Tommy itu bukanlah coretan asal-asalan.

Itu adalah visualisasi grafis dari kurva probabilitas kuadratik yang saling memotong tepat di titik nol koma dua delapan.

"Anak ini benar-benar monster," batin Pak Darmawan menelan ludah dengan susah payah.

Tommy tahu ia tidak bisa hanya menggambar kurva itu, ia harus menuliskan angka jawabannya.

Ia menatap papan tulisnya yang penuh coretan aneh itu dengan wajah pura-pura pusing.

"Aduh, pusing banget kepalaku," keluh Tommy dengan suara yang cukup keras agar terdengar oleh juri.

Ia memejamkan matanya, mengangkat spidolnya, dan mencoretkan angka asal di sudut kanan bawah papannya.

Angka nol.

Kemudian ia membuat sebuah titik koma kecil yang tidak rapi.

Lalu ia mencoretkan angka dua dan delapan dengan gaya tulisan yang sangat berantakan.

"Selesai, Bu, Pak," ucap Tommy sambil meletakkan spidolnya dan membalikkan badan dengan wajah pasrah.

Waktu tiga menit masih tersisa satu menit lagi, dan Tommy adalah peserta pertama yang meletakkan spidol.

Empat peserta lain, termasuk Reyhan si kakak kelas jenius, masih berkeringat dingin mencoba menjumlahkan deret pecahan di papan mereka.

"Waktu habis! Letakkan spidol kalian!" teriak kepala sekolah.

Semua peserta membalikkan papan tulis mereka menghadap ke arah juri.

Hanya Reyhan dan satu peserta lain yang berhasil menyelesaikan perhitungannya hingga akhir.

Pak Darmawan berdiri dari kursinya dan mulai memeriksa jawaban di papan tulis satu per satu.

Jawaban Reyhan adalah nol koma tiga puluh.

Jawaban peserta lain adalah nol koma lima belas.

Lalu tibalah giliran Pak Darmawan berdiri di depan papan tulis milik Tommy.

Semua murid di tribun menahan napas, bersiap untuk meledakkan tawa melihat coretan benang kusut yang dibuat oleh si bodoh.

Nadin menundukkan kepalanya, tidak sanggup melihat hasil memalukan dari teman sekelasnya itu.

"Tommy," panggil Pak Darmawan dengan suara pelan namun terdengar bergetar aneh.

"Iya, Pak, maaf kalau gambarnya jelek," jawab Tommy dengan suara memelas.

"Bisa kamu jelaskan bagaimana kamu mendapatkan angka nol koma dua puluh delapan ini?" tanya Pak Darmawan sambil menunjuk sudut papan tulis.

Tommy menggaruk belakang kepalanya dengan canggung.

"Itu tadi tangan saya kepeleset pas mau nulis angka satu, Pak," bohong Tommy dengan raut wajah sangat polos.

"Terus karena pusing lihat garis-garis kusut yang saya gambar itu, saya tebak aja pake tanggal lahir kucing saya tanggal dua puluh delapan."

Hening.

Aula itu benar-benar sunyi senyap seolah waktu sedang berhenti.

Alasan yang keluar dari mulut Tommy sangat konyol, bodoh, dan sama sekali tidak masuk akal.

Namun, Pak Darmawan menatap ke arah kepala sekolah dan guru penguji lainnya dengan wajah tegang.

"Bagaimana bisa sebuah kebetulan menjadi begitu akurat?" batin Pak Darmawan merinding ngeri melihat sandiwara sempurna muridnya ini.

"Jawaban yang benar untuk soal limit deret probabilitas ini," ucap Pak Darmawan memecah keheningan sambil mengambil mikrofon.

Guru itu menarik napas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya.

"Adalah nol koma dua puluh delapan."

Sorakan yang tadinya sudah berada di ujung tenggorokan para murid tribun seketika tertelan kembali.

Mata Bagas terbelalak sangat lebar hingga nyaris keluar dari kelopaknya.

Nadin mengangkat kepalanya dengan gerakan patah-patah, menatap Tommy dan papan tulis itu secara bergantian dengan mulut sedikit terbuka.

"A-apa?" gumam Nadin tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.

"Pemenang babak penentuan ini, sekaligus yang akan menjadi perwakilan utama sekolah kita, adalah Tommy dari kelas sebelas IPS dua," umumkan kepala sekolah yang juga masih terlihat kebingungan.

"Tunggu dulu, Pak!" teriak Reyhan dari atas panggung dengan wajah tidak terima.

Kakak kelas itu menunjuk tepat ke arah papan tulis Tommy yang penuh coretan aneh.

"Itu sama sekali tidak ada rumus matematikanya, Pak! Dia cuma menggambar benang kusut dan menebak angka secara asal!" protes Reyhan marah.

"Ini tidak adil, kompetisi akademik tidak boleh dimenangkan oleh orang yang cuma mengandalkan keberuntungan murni!"

Suasana aula mulai menjadi sedikit ricuh mendengar protes keras dari peserta unggulan tersebut.

Banyak murid di tribun yang ikut mengangguk setuju dengan pernyataan Reyhan.

"Iya, Pak, masa si bodoh menang karena hoki doang!" teriak Reno dari bangku penonton.

Kepala sekolah menatap Pak Darmawan untuk meminta penjelasan teknis.

Pak Darmawan tahu ia tidak bisa menjelaskan kurva geometris itu kepada mereka tanpa membongkar kedok jenius Tommy.

Guru matematika itu pun mengambil jalan tengah yang aman.

"Dalam aturan kompetisi, yang dinilai pada babak akhir adalah hasil mutlak," jawab Pak Darmawan tegas.

"Tidak peduli apakah dia menebak dari tanggal lahir kucingnya atau karena tangannya terpeleset, jawabannya seratus persen akurat dan itu tidak bisa diganggu gugat."

Reyhan menghentakkan kakinya dengan kesal dan membuang muka, merasa sangat terhina dikalahkan oleh hoki seorang idiot.

Nadin masih mematung menatap Tommy dari jarak dua meter.

"Tanggal lahir kucing?" batin Nadin dengan otak yang terasa ingin meledak menyatukan semua kebetulan gila ini.

"Ujian sejarah dapat enam puluh karena beruntung nebak, sekarang menang seleksi sekolah karena tanggal lahir kucing?"

Nadin menyipitkan matanya dengan sangat tajam ke arah Tommy.

Gadis itu tidak lagi percaya pada kata keberuntungan.

Di sebelahnya, Tommy memamerkan senyum canggung dan polos ke arah penonton sambil melambaikan tangan dengan gaya yang sedikit norak.

Ting!

Sebuah layar biru yang hanya bisa dilihat oleh Tommy tiba-tiba muncul di depannya.

[MISI MENDADAK SELESAI.]

[Evaluasi: Pengguna berhasil memenangkan seleksi secara mutlak dengan menciptakan ilusi keberuntungan tingkat dewa yang sempurna.]

[Mengirimkan hadiah...]

[IQ pengguna meningkat +3 poin.]

[Poin Sistem bertambah +25 PS.]

[IQ Saat Ini: 113 Kategori: Cerdas]

[Poin Sistem Saat Ini: 135 PS]

Tommy mengabaikan notifikasi itu dan melirik sekilas ke arah tribun, tepat ke arah Bagas yang sedang duduk dengan wajah merah padam menahan malu dan amarah.

"Ini baru permulaan, Bagas," bisik Tommy di dalam hatinya yang sangat dingin.

"Aku akan memanjat ke puncak paling tinggi menggunakan topeng kebodohan ini, lalu menginjak-injak harga diri kalian dari atas sana."

1
Night Watcher
ini outhor yg baik dan berfikiran maju, mau menerima kritik sekalipun pedas dgn lapang hati.
lanjut thor, tak sukreb deh outhor yg begini.
Nissa Safira: Waaaah makasih banyak kak 😭🙏
Seneng banget. Soalnya buat saya, pembaca yang mau komen pedes jujur itu berharga banget kak.
Kritik pedesnya kakak yang bikin novel ini bisa maju. Jadi jangan kapok komen pedes lagi ya kak!🥰🙏🙏
total 1 replies
Night Watcher
di bab² olympiade ini jujur sangat gak masuk akal, jd bikin bosen.
ini ajang olympiade, kenapa sempat terjadi perdebatan antara 2 peserta yg satu regu mewakili satu sekolah, tentang cara menjawab pertanyaan. ditambah setiap ahir jawapan ada kata "pak" dr tomi.
ini lebih cocok kalo di ajang diskusi di kelas.
Nissa Safira: Wah makasih banget kak udah jujur, ini masukan paling berharga buat saya 🙏
Bener kak, saya akui bab olimpiade ini memang agak maksa. Harusnya kan cerdas-cepat, Teng! Jawab! Teng! Jawab selesai, bukan malah debat satu regu di atas panggung 😅
Jujur niat saya pengen nunjukin kocaknya Tommy, tapi saya kebablasan naruh dramanya di tengah lomba, jadinya kesannya kayak diskusi kelas, bukan olimpiade kota. Maaf ya kak bikin bosen🙏🙏🙏
Makasih udah diingetin kak🤝🙏
total 1 replies
Night Watcher
mana ada diacara beginian peserta sempet bercakap² soal kecepatan ngitung...
Nissa Safira: HAHAHA bener banget kak 😅🙏
Iya kak kalau di olimpiade beneran mah, jangankan ngobrol, napas aja harus dihemat ya kak, waktunya mepet banget.
Itu aku sengaja lebay-in dikit kak biar dramanya dapet. Soalnya kalau aku tulis realnya:
Teng! Jawaban 8,55 jam. Benar.
Udah gitu doang, kan kempes kak gak ada greget keselnya si Leo 😂
Anggep aja itu adegan slow-motion ala film kak, di dunia nyata cuma 2 detik, tapi di novel aku lambatin biar pembaca bisa ngerasain Nadin yang otaknya udah mau meledak denger alesan ngawur Tommy.
Makasih koreksinya kak🤝🙏🙏
total 1 replies
Night Watcher
45 kyknya bukan ukuran kecil utk standar kaki org indo deh...
logis dikit kelesss..😇😇
Night Watcher
awas, ntar kepalanya melayang sendiri..🤭🤭🤭
Night Watcher
kok kakak kelas? kan sama² kls 12?
Night Watcher
tadi pas bell masuk, listrik padam. jd utk belnya mukul velg mobil yg digantung..🤭🤭🤭
Nissa Safira: WKWKWK IDE BAGUS KAK🤣🤣🤣
Kringgg! = bel listrik normal
Teng! Teng! Teng! = pas listrik padam, Pak Satpam mukul velg mobil yang digantung di pos satpam pake kunci inggris 😂
Makasih kak idenya! Mulai bab besok kalau ada tulisan Teng Teng Teng berarti di sekolah lagi mati lampu ya kak! Detailnya dapet banget!🤣🤣🤣
total 1 replies
Night Watcher
kadang "kringgg" kadang "teng tenggg"..🤭🤭
Nissa Safira: HAHAHA ketahuan deh 🤣 kamu udah jeli banget sih kak🤣🤣
Iya kak, itu aku yang typo pas nulis kebut-kebutan, kadang bel listrik tulisnya Kringgg! kadang bel manual tulisnya Teng Teng Teng! niatnya mau bedain bel kelas sama bel upacara, tapi malah jadi bikin bingung ya kak.
Makasih udah diingetin kak😅😅
total 1 replies
Night Watcher
duh... sayang banget, sistemnya masih manual.. gak matic ehh gak otomatis terpasang..🤭🤭
Nissa Safira: HAHAHA Iya kak, sengaja aku bikin sistemnya manual, gak matic🤣🤣
Kalau otomatis kepasang terus, Tommy jadi OP gak ada obat kak, 1 detik langsung dewa hacker. Gak seru dong, musuhnya belum sempet napas udah kalah😅
Jadi di novel ini sistemnya kayak alat tukang kak, dipasang kalau dibutuhin aja. Contohnya pas di warnet Berkah Net itu, dia aktifin Kriptografi Dasar dulu baru otaknya ngebut. Kalau dia lagi di kelas pura-pura bodoh, skillnya dia matiin biar akting begonya natural 100%.
Makanya Tommy harus mikir dulu "aku butuh skill apa nih buat lawan musuh ini?" bukan sistem yang mikirin buat dia. Biar kesannya dia yang ngendaliin sistem, bukan sistem yang ngendaliin dia💪🙏🙏
total 1 replies
Wega Luna
jujur otak aku emang GK ber-IQ 140 tapi pura pura bodoh itu keahlian ku🤣🤣🤣🤣🤣,jadi tahu mana yg bener bener baik atau gk🤣🤣🤣🤣lebih suka praktek langsung daripada teori, lanjutkan tom ,,,aku mendukungmu👍🤣🤣
Nissa Safira: HAHAHA kak ini komen paling jujur se-Indonesia! 🤣🤣🤣
Setuju banget kak, pura-pura bodoh itu skill dewa tau! Soalnya pas kita pura-pura bego, baru keliatan mana temen yang beneran baik kayak Nadin, mana yang toxic kayak Clarissa.
Tommy juga gitu kak, dia IQ 140 tapi sengaja jadi peringkat 31 biar bisa ngamatin semua. Orang pinter teori banyak, tapi yang jago praktek langsung di lapangan kayak kakak & Tommy itu yang paling bahaya 😎🙏🤣🤣
total 1 replies
Rifqy Channel
saya memohon kakak untuk bisa di publik Tommy itu supaya gak pura-pura bodoh lagi. biarkan untuk segera diungkapkan dan ikut serta Olimpiade dan juga ubah pura-pura nya. aku udah bosen kalo pura-pura terus. saya mau Tommy segera di ungkap aslinya😭🙏😭
Nissa Safira: Halo kak, terima kasih banyak udah baca sampai sejauh ini dan kasih masukan jujur! 🙏
Aku paham banget rasa bosennya kalau Tommy pura-pura terus. Justru itu yang mau aku bangun kak.
Kalau dia diungkap sekarang pas IQ 117, efeknya cuma "oh pinter". Tapi kalau dia diungkap nanti pas IQ 150+ di depan ribuan orang di Olimpiade kota, efeknya bakal "GILA MERINDING".
Aku lagi nabung rasa sakit hatinya biar nanti pas payback rasanya 10x lebih puas. Sabar sedikit lagi ya kak, panggung kota sudah dekat. Topengnya akan retak di sana🤣🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!