Tommy Nugroho adalah siswa kelas 2 SMA yang harus tinggal kelas dan selalu menjadi bahan tertawaan karena nilai-nilainya yang hancur berantakan.
Kehidupannya yang menyedihkan dan penuh ejekan berubah drastis pada suatu malam ketika sebuah layar biru misterius muncul di kamarnya dan memberinya Sistem IQ Tak Terbatas.
Alih-alih memamerkan kejeniusan barunya yang kini mampu memecahkan masalah tersulit dalam hitungan detik, Tommy memilih untuk tetap berpura-pura menjadi murid bodoh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Suasana aula seketika menjadi hening dan mencekam.
Bahkan murid-murid pintar di barisan tribun terlihat mengerutkan dahi mereka kebingungan mendengar soal yang sangat abstrak itu.
"Waktu kalian tiga menit, dimulai dari sekarang!"
Srak! Srak! Srak!
Empat peserta lain langsung mengambil spidol dan menuliskan rumus-rumus panjang di papan tulis mereka dengan tergesa-gesa.
Hanya Tommy yang masih diam mematung menatap papan tulis kosong di depannya.
Otak IQ seratus sepuluhnya memproses soal itu hanya dalam waktu kurang dari dua detik.
"Jawabannya adalah nilai konstanta euler dibagi dua," batin Tommy menganalisis dengan sangat santai.
"Atau dalam angka desimal sederhana, nilainya adalah nol koma dua delapan."
Ia tahu jawabannya, tapi ia harus mengeksekusinya seperti seorang idiot yang kebetulan sedang sangat beruntung.
Tommy mengangkat tangannya yang gemetar dan mengambil spidol dari atas meja.
Trak!
Spidol itu sengaja ia jatuhkan ke lantai hingga menggelinding beberapa sentimeter.
Hahaha!
Tawa ejekan langsung pecah dari barisan tribun melihat kecerobohan Tommy yang terlihat sangat menyedihkan itu.
"Memegang spidol aja gak becus, gimana mau ngitung limit!" teriak Reno dari kejauhan.
Nadin menutup wajahnya dengan kedua tangan, merasa sangat malu berdiri di panggung yang sama dengan Tommy.
Tommy membungkuk memungut spidol itu dengan wajah yang ia buat memerah seperti tomat matang.
Ia membuka tutup spidol dan mulai menulis sesuatu di papan tulis.
Alih-alih menulis rumus deret probabilitas seperti peserta lain, Tommy justru menggambar sebuah lingkaran besar yang bentuknya tidak beraturan.
Kemudian di dalam lingkaran itu, ia menarik garis-garis silang yang terlihat seperti benang kusut hasil coretan anak taman kanak-kanak.
Para juri dan guru yang duduk di depan panggung mulai saling berbisik dengan dahi berkerut.
"Apa yang sedang digambar anak itu?" tanya Bu Rina kepada guru di sebelahnya.
"Entahlah, mungkin dia sudah stres karena tidak tahu jawabannya," jawab guru sejarah itu sambil menggeleng pelan.
Pak Darmawan yang melihat coretan benang kusut itu justru melebarkan matanya perlahan.
Sebagai guru matematika berpengalaman, mata Pak Darmawan menangkap sesuatu yang tidak masuk akal.
Garis-garis silang yang digambar Tommy itu bukanlah coretan asal-asalan.
Itu adalah visualisasi grafis dari kurva probabilitas kuadratik yang saling memotong tepat di titik nol koma dua delapan.
"Anak ini benar-benar monster," batin Pak Darmawan menelan ludah dengan susah payah.
Tommy tahu ia tidak bisa hanya menggambar kurva itu, ia harus menuliskan angka jawabannya.
Ia menatap papan tulisnya yang penuh coretan aneh itu dengan wajah pura-pura pusing.
"Aduh, pusing banget kepalaku," keluh Tommy dengan suara yang cukup keras agar terdengar oleh juri.
Ia memejamkan matanya, mengangkat spidolnya, dan mencoretkan angka asal di sudut kanan bawah papannya.
Angka nol.
Kemudian ia membuat sebuah titik koma kecil yang tidak rapi.
Lalu ia mencoretkan angka dua dan delapan dengan gaya tulisan yang sangat berantakan.
"Selesai, Bu, Pak," ucap Tommy sambil meletakkan spidolnya dan membalikkan badan dengan wajah pasrah.
Waktu tiga menit masih tersisa satu menit lagi, dan Tommy adalah peserta pertama yang meletakkan spidol.
Empat peserta lain, termasuk Reyhan si kakak kelas jenius, masih berkeringat dingin mencoba menjumlahkan deret pecahan di papan mereka.
"Waktu habis! Letakkan spidol kalian!" teriak kepala sekolah.
Semua peserta membalikkan papan tulis mereka menghadap ke arah juri.
Hanya Reyhan dan satu peserta lain yang berhasil menyelesaikan perhitungannya hingga akhir.
Pak Darmawan berdiri dari kursinya dan mulai memeriksa jawaban di papan tulis satu per satu.
Jawaban Reyhan adalah nol koma tiga puluh.
Jawaban peserta lain adalah nol koma lima belas.
Lalu tibalah giliran Pak Darmawan berdiri di depan papan tulis milik Tommy.
Semua murid di tribun menahan napas, bersiap untuk meledakkan tawa melihat coretan benang kusut yang dibuat oleh si bodoh.
Nadin menundukkan kepalanya, tidak sanggup melihat hasil memalukan dari teman sekelasnya itu.
"Tommy," panggil Pak Darmawan dengan suara pelan namun terdengar bergetar aneh.
"Iya, Pak, maaf kalau gambarnya jelek," jawab Tommy dengan suara memelas.
"Bisa kamu jelaskan bagaimana kamu mendapatkan angka nol koma dua puluh delapan ini?" tanya Pak Darmawan sambil menunjuk sudut papan tulis.
Tommy menggaruk belakang kepalanya dengan canggung.
"Itu tadi tangan saya kepeleset pas mau nulis angka satu, Pak," bohong Tommy dengan raut wajah sangat polos.
"Terus karena pusing lihat garis-garis kusut yang saya gambar itu, saya tebak aja pake tanggal lahir kucing saya tanggal dua puluh delapan."
Hening.
Aula itu benar-benar sunyi senyap seolah waktu sedang berhenti.
Alasan yang keluar dari mulut Tommy sangat konyol, bodoh, dan sama sekali tidak masuk akal.
Namun, Pak Darmawan menatap ke arah kepala sekolah dan guru penguji lainnya dengan wajah tegang.
"Bagaimana bisa sebuah kebetulan menjadi begitu akurat?" batin Pak Darmawan merinding ngeri melihat sandiwara sempurna muridnya ini.
"Jawaban yang benar untuk soal limit deret probabilitas ini," ucap Pak Darmawan memecah keheningan sambil mengambil mikrofon.
Guru itu menarik napas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Adalah nol koma dua puluh delapan."
Sorakan yang tadinya sudah berada di ujung tenggorokan para murid tribun seketika tertelan kembali.
Mata Bagas terbelalak sangat lebar hingga nyaris keluar dari kelopaknya.
Nadin mengangkat kepalanya dengan gerakan patah-patah, menatap Tommy dan papan tulis itu secara bergantian dengan mulut sedikit terbuka.
"A-apa?" gumam Nadin tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.
"Pemenang babak penentuan ini, sekaligus yang akan menjadi perwakilan utama sekolah kita, adalah Tommy dari kelas sebelas IPS dua," umumkan kepala sekolah yang juga masih terlihat kebingungan.
"Tunggu dulu, Pak!" teriak Reyhan dari atas panggung dengan wajah tidak terima.
Kakak kelas itu menunjuk tepat ke arah papan tulis Tommy yang penuh coretan aneh.
"Itu sama sekali tidak ada rumus matematikanya, Pak! Dia cuma menggambar benang kusut dan menebak angka secara asal!" protes Reyhan marah.
"Ini tidak adil, kompetisi akademik tidak boleh dimenangkan oleh orang yang cuma mengandalkan keberuntungan murni!"
Suasana aula mulai menjadi sedikit ricuh mendengar protes keras dari peserta unggulan tersebut.
Banyak murid di tribun yang ikut mengangguk setuju dengan pernyataan Reyhan.
"Iya, Pak, masa si bodoh menang karena hoki doang!" teriak Reno dari bangku penonton.
Kepala sekolah menatap Pak Darmawan untuk meminta penjelasan teknis.
Pak Darmawan tahu ia tidak bisa menjelaskan kurva geometris itu kepada mereka tanpa membongkar kedok jenius Tommy.
Guru matematika itu pun mengambil jalan tengah yang aman.
"Dalam aturan kompetisi, yang dinilai pada babak akhir adalah hasil mutlak," jawab Pak Darmawan tegas.
"Tidak peduli apakah dia menebak dari tanggal lahir kucingnya atau karena tangannya terpeleset, jawabannya seratus persen akurat dan itu tidak bisa diganggu gugat."
Reyhan menghentakkan kakinya dengan kesal dan membuang muka, merasa sangat terhina dikalahkan oleh hoki seorang idiot.
Nadin masih mematung menatap Tommy dari jarak dua meter.
"Tanggal lahir kucing?" batin Nadin dengan otak yang terasa ingin meledak menyatukan semua kebetulan gila ini.
"Ujian sejarah dapat enam puluh karena beruntung nebak, sekarang menang seleksi sekolah karena tanggal lahir kucing?"
Nadin menyipitkan matanya dengan sangat tajam ke arah Tommy.
Gadis itu tidak lagi percaya pada kata keberuntungan.
Di sebelahnya, Tommy memamerkan senyum canggung dan polos ke arah penonton sambil melambaikan tangan dengan gaya yang sedikit norak.
Ting!
Sebuah layar biru yang hanya bisa dilihat oleh Tommy tiba-tiba muncul di depannya.
[MISI MENDADAK SELESAI.]
[Evaluasi: Pengguna berhasil memenangkan seleksi secara mutlak dengan menciptakan ilusi keberuntungan tingkat dewa yang sempurna.]
[Mengirimkan hadiah...]
[IQ pengguna meningkat +3 poin.]
[Poin Sistem bertambah +25 PS.]
[IQ Saat Ini: 113 Kategori: Cerdas]
[Poin Sistem Saat Ini: 135 PS]
Tommy mengabaikan notifikasi itu dan melirik sekilas ke arah tribun, tepat ke arah Bagas yang sedang duduk dengan wajah merah padam menahan malu dan amarah.
"Ini baru permulaan, Bagas," bisik Tommy di dalam hatinya yang sangat dingin.
"Aku akan memanjat ke puncak paling tinggi menggunakan topeng kebodohan ini, lalu menginjak-injak harga diri kalian dari atas sana."
lanjut thor, tak sukreb deh outhor yg begini.
ini ajang olympiade, kenapa sempat terjadi perdebatan antara 2 peserta yg satu regu mewakili satu sekolah, tentang cara menjawab pertanyaan. ditambah setiap ahir jawapan ada kata "pak" dr tomi.
ini lebih cocok kalo di ajang diskusi di kelas.
logis dikit kelesss..😇😇